
"Suamiku..aku ingin makan itu. Bisakah berhenti sebentar?" pinta Misa menunjuk sebuah kedai bakso di pinggir jalan.
Alis Arga terangkat sebelah melihat kedai yang sangat ramai dengan pembeli.
"Romisa..kita bisa menyuruh salah satu koki di rumah untuk membuatnya," ucap Arga menolak halus.
"Tp aku pengen makan bakso itu sekarang. Bolehkan suamiku," kekeh Misa.
"Tidak Romisa," tegas Arga.
Misa melepaskan pelukannya di perut Arga lalu membuang muka sebal.
Arga menghela napas panjang dan melambatkan laju motor. "Romisa.." panggil Arga sambil menarik sebelah tangan Misa dan mengusap punggung tangan Misa yang terbungkus sarung tangan.
Namun Misa tidak menjawab panggilan Arga.
"Baiklah, kita akan makan makanan itu," ucap Arga membuat Misa kembali melingkarkan tangannya di perut Arga dan mendekatkan kepala nya ke kepala Arga.
"Benarkah suamiku," girang Misa yang di balas Anggukkan kepala oleh Arga.
"Namun nanti di rumah saja kita memakan nya," ucap Arga membuat Misa kembali mencebikkan bibir nya sebal.
"Tapi suamiku.." sela Misa namun Arga dengan cepat menyanggah ucapan Misa.
"Romisa..tidak lihatkah orang orang yang mengantri di sana begitu banyak, mau duduk di mana kita nanti nya. Jadi tidak apakah kita akan memesan dan memakan nya di rumah saja," tutur Arga membuat Misa melirik Arga yang masih menolehkan kepala ke Misa.
"Baiklah suamiku.. di rumah saja," jawab Misa mengiyakan.
Arga tersenyum lalu kembali melajukan motor nya dengan kecepatan sedang. Dan Misa mengeratkan pelukan di perut Arga dengan kepala menyender ke punggung Arga.
---------
Motor yang di tumpangi Misa sudah memasuki gerbang utama rumah Arga dan terparkir di depan teras rumah.
"Romisa.." panggil Arga pada Misa yang sudah tertidur memeluk nya dengan kepala menyender di punggung Arga.
Namun Misa tidak menjawab malah semakin mempererat pelukannya di perut Arga.
Arga menghela napas panjang lalu mengusap lembut punggung tangan Misa yang masih terbungkus sarung tangan.
"Romisa..kita sudah sampai rumah. Bangunlah," ucap Arga sambil menolehkan kepala nya ke belakang.
"Heemmm..." igau Misa dan kembali mencari posisi nyaman dari pelukan dan punggung Arga.
Arga tetap menolehkan kepala nya dan ada senyuman di bibir nya.
Tidak berselang beberapa menit, mobil yang di kendarai Sekertaris Tang terparkir di samping motor Arga. Lalu keluarlah Tang dan Cesa dari dalam mobil menghampiri Arga dan Misa yang masih duduk di atas motor.
"Tuan," ucap Tang yang sudah berdiri di samping motor.
Arga menatap Tang lalu melirik Cesa yang berdiri di samping Tang.
"Kau, bisakah pegang Romisa sebentar," titah nya pada Cesa.
"Baik tuan," jawab Cesa lalu Cesa melepaskan helm di kepala Misa dan memberikannya ke Sekertaris Tang.
Arga dengan gerakan sangat ke hati hatian melepaskan pelukan tangan Misa di perut nya. Dan Cesa dengan sigap merangkul tubuh Misa dan menghalau nya ke pelukan Cesa namun Misa masih terduduk di jok motor dengan mata terpejam nya. Setelah pelukan Misa terlepas, Arga turun dari motor.
Lalu Arga melepaskan masker, kaca mata, syal dan sarung tangan yang menempel di wajah dan tangan Misa dan memberikannya pada Tang. Setelahnya Arga mengambil alih tubuh Misa dari pelukan Cesa.
"Lepaskan tangan mu dari tubuh Romisa," titah Arga pada Cesa.
Cesa melepaskan pegangan tangannya di kedua pundak Misa setelah Arga mengambil alih memeluk tubuh Misa.
Arga mengangkat tubuh Misa dan menggendongnya ala bridal style. "Romisa..kenapa kau sampai ketiduran di motor dan tidur mu nyenyak sekali," ucap Arga sambil melangkah ke dalam rumah meninggalkan Cesa dan Tang yang masih berdiri di teras rumah mematung menatap kedua nya.
Arga berjalan menyusuri setiap ruangan melewati para Pelayan yang sedang sibuk untuk mempersiapkan acara tasyakuran karena acara nya akan di adakan malam ini. Dan ketika Arga berada di depan pintu kamar nya, Arga berpapasan dengan Egi yang baru keluar kamar. Sejenak kedua nya saling tatap menatap tajam.
"Kakak...Misa," ucap Egi melihat misa tertidur dalam gendongan Arga.
Arga tersenyum miring. "Kenapa..kau iri hah," tegas Arga tajam.
"Benar aku sangat iri terhadap kakak. Kenapa bukan Egi yang ada di posisi kakak, sebagai suami nya Misa," ucap Egi membuat Arga geram.
Arga berdecih dan tersenyum mengejek. "Cih! Sudahlah Egi bukannya kau sudah mengaku kalah dan kita sudah sepakati perjanjian. Ingat akibatnya jika kau tidak bisa memenuhi syarat yang kakak ajukan," tegas Arga dan hendak melangkah ke dalam ruangan kamar yang sudah di buka kan pintu nya oleh salah satu penjaga rumah.
"Kakak," panggil Egi menghentikan langkah kaki Arga.
Arga menoleh dan menatap tajam ke arah Egi.
"Memang aku mengaku kalah jika untuk merebut Misa dari mu. Tp aku menerima persyaratan yang kakak ajukan. Dan semua itu aku lakukan Karena aku tidak ingin jauh dari Misa," ucap Egi membuat Arga mengkeratkan gigi nya geram.
__ADS_1
Arga tersenyum miring. "Terserah kau. Asal kau jangan berbuat lebih terhadap istriku," tegas Arga.
"Tenang saja kakak. Aku bukan seperti dani dan aku tahu kebahagiaan Misa itu dimana," jawab Egi lalu melangkah pergi.
"Cih! Dasar adik bodoh," gumam Arga dan memasuki ruangan kamar nya lalu berjalan melewati pintu kembar.
Arga menurunkan Misa dan merebahkannya ke atas kasur dengan gerakan pelan dan hati hati. Lalu Arga menyelimuti tubuh Misa.
"Romisa..sepertinya kegiatan mu hari ini membuatmu kelelahan sehingga kau tertidur pulas begini," ucap Arga lalu mengecup lembut kening Misa.
Arga mengusap lembut pipi Misa lalu berbalik dan hendak melangkah pergi.
"Bakso sapii...lezatnyaa," igau Misa pelan sambil menggerakkan gigi nya yang seakan sedang mengunyah makanan.
Mendengar igauan Misa. Arga kembali berbalik dan menatap Misa. "Apa segitunya kau ingin makan bakso, Romisa " ucap Arga lalu tersenyum.
"Bakso..aku mau..bakso.." igau Misa kembali di sela pejaman mata nya.
Arga tertawa pelan lalu Arga menunduk dan mengecup sebelah pipi Misa beberapa kali. "Tunggulah, aku akan suruh koki buatkan bakso untuk mu. Sekarang kau tidurlah yang nyenyak romisa," ucap Arga tersenyum lalu berbalik menuju pintu kembar meninggalkan Misa yang tertidur pulas yang masih mengigau nama bakso dari bibir mungil Misa.
Arga keluar kamar dan menyuruh para koki menyiapkan makanan yang di inginkan Misa yaitu bakso sapi. Setelahnya Arga menghampiri Sekertaris Tang yang tampak sibuk dengan ponsel nya.
"Kapan acara di mulai nya Tang?" tanya Arga berdiri di hadapan Tang dengan kedua lengan terlipat di depan dada.
Tang menoleh. "Selesai shalat isya Tuan," jawab Tang.
Arga mengangguk mengiyakan. "Kau sudah siapkan perias terbaik busana muslimah untuk Romisa?" tanya nya.
"Sudah Tuan, dan habis magrib sudah ada di sini," ucapnya yang di balas anggukkan kepala lagi oleh Arga.
"Baiklah, aku akan mandi dan siap siap. Kau suruh salah satu Pelayan antarkan makanan pesanan Romisa ke kamar," ucap Arga.
"Baik tuan," balas Tang.
Arga berlalu menuju kamarnya untuk membersihkan diri nya. Sedang Misa masih tertidur lelap.
------
Penciuman Misa menghirup aroma wangi di kamar nya membuat Misa mau tidak mau mengerjapkan mata nya perlahan dan menggeliatkan tubuh nya ke kiri dan ke kanan lalu membuka mata nya menatap lurus.
Arga yang sudah berpakaian dengan baju santai tersenyum ke arah Misa yang baru bangun tidur.
"Bangunlah..magrib setengah jam lagi," ucap Arga sambil melihat Misa yang masih terbaring di atas kasur tp sudah membuka kan mata nya.
Hidungku tidak akan salah. Ini aroma bakso...wangi nya sangat menggoda, dimana bakso itu.
Arga seakan tahu apa yang di cari dan di pikirkan Misa, Arga terkekeh pelan lalu berjalan ke arah meja sofa ruangan agar Misa bisa melihat bakso di atas meja.
"Romisa..." panggil Arga yang sudah terduduk di atas sofa.
Misa menoleh ke arah Arga dan seketika tatapan nya langsung terarah ke nampan yang ada di atas meja dekat sofa yang di duduki Arga.
Benar itu bakso nya...waaah dari aroma dan penampilan nya saja sudah sangat menggoda sekali bagaimana jika rasa nya pasti sangat lezat.
"Kemarilah.." titah Arga menepuk sebelah sofa yang di duduki nya.
Dengan senang hati Misa turun dari ranjang dan menghampiri Arga lalu duduk di sebelah nya.
"Suamiku..kau memesannya?" tanya Misa dengan senyuman senang.
Arga mengusap puncuk kepala Misa. "Iya. Makanlah bukannya kau menginginkan nya," ucap Arga.
Misa mengangguk semangat. "Terimakasih suamiku," ucap Misa lalu mengambil mangkuk yang berisi bakso berukuran besar yang ada di atas nampan kecil. Misa turun dari sofa dan duduk di atas karpet lalu menarik mangkuk bakso ke hadapannya.
Arga mengusap kembali puncuk kepala Misa. "Makanlah yang banyak, dan setelahnya kamu siap siap untuk acara di rumah nanti malam," ucap Arga membuat Misa menghentikan pergerakan tangannya yang sedang mengaduk kuah bakso.
Misa menoleh ke belakang ke arah Arga yang duduk di sofa. "Acara apa suamiku?" tanya nya heran.
"Kau juga akan tahu. Nanti akan ada perias kau menurut saja terhadapnya," ucap Arga membuat Misa semakin bingung.
Perias...acara. akan ada apa sebenarnya, apa ada acara pertunangan atau apa yah. Tp kalau pertunangan mana mungkin sedang egi belum bisa move on, syila masih kecil...ah sudahlah turuti saja misaa perintah s singa..yang penting baksoo ku.
Arga tersenyum lalu mengecup puncuk kepala Misa. "Jangan banyak berpikir, habiskan saja makanan mu," titah nya.
"Iya suamiku. Apa suamiku mau?" tanya Misa.
Arga menggeleng kecil. "Tidak," jawabnya singkat.
Ya sudah jika tidak mau. Lagian aku juga tidak mau berbagi soalnya rasa nya sangat lezat sekali beda dengan bakso yang biasa aku beli.
Misa memakan bakso nya dengan sangat lahap. Sedang Arga yang memperhatikan Misa, tersenyum dan sesekali mengusap lembut bibir Misa yang basah akibat kuah bakso.
__ADS_1
--------
Setelah memakan bakso, Misa langsung membersihkan diri dan melaksanakan shalat magrib, sedang Arga sudah keluar kamar sejak Misa memasuki kamar mandi, dan tidak berselang lama Adzan Isya berkumandang bertepatan dengan kedatangan seseorang wanita paruh baya dengan beberapa wanita sebaya nya. Masuk ke dalam kamar Misa dan menunggu Misa keluar dari mushola karena Misa masih berada di dalam mushola sedang melaksanakan Shalat Isya.
Tidak berselang lama, Misa keluar mushola yang langsung di kejutkan dengan adanya beberapa orang berjejer di dalam kamar.
Siapa mereka...kenapa bisa masuk kemari.
"Selamat malam Nona. Kami adalah perias yang di tugaskan untuk merias Nona," ucap wanita paruh baya mewakili berbicara pada Misa.
Jadi ini maksud s singaa itu..hah, baiklah.
Misa mengangguk pelan dan menghampiri wanita paruh baya tersebut.
"Perkenalkan nama saya Tita, boleh Nona memanggil saya dengan sebutan bi Tita," ucapnya lagi sambil tersenyum ke Misa.
Misa membalas senyuman bi Tita. "Iya bi," jawab Misa kikuk.
Setelah sesi perkenalan bi Tita langsung menggiring Misa agar duduk di meja rias dan mulai melakukan tugas nya untuk merias Misa secantik mungkin di bantu oleh asisten nya. sedang sebagian orang menyiapkan baju busana muslim yang indah dan anggun untuk di pakai Misa.
"Bi sebenarnya akan ada acara apa, kenapa saya harus di rias begini?" tanya Misa yang sedang di rias oleh bi Tita.
"Maaf Nona, saya tidak tahu. Karena tugas saya hanya mengatur penampilan Nona," jawabnya sambil menempelkan make up ke wajah Misa.
Hmm..kenapa s singa harus menyembunyikan nya dari ku sih. sampai sampai bi Tita juga di tutup mulut nya agar tidak memberitahukan padaku. hah..sudahlah turuti saja misa.
Singkat beberapa menit, Misa telah selesai di make up dan menggunakan busana muslimah berwarna biru muda dengan model burkat di penuhi beberapa mutiara di bagian atas dan rok yang mengembang menjuntai sampai ke mata kaki, sehingga sangat cantik di padukan dengan make up natural yang di pakai di wajah misa. Bi Tita yang melihat hasil kerja nya sempurna di tubuh Misa tersenyum senang dan memuji kecantikan Misa.
Arga memasuki kamar nya yang langsung di sambut para perias Misa. mereka menunduk hormat ketika Arga memasuki kamar.
"Dimana Romisa?" tanya Arga karena tidak mendapati Misa dalam pandangannya.
"Nona di ruang ganti Tuan," jawab salah satu asisten perias.
Arga berjalan ke arah ruang ganti.
Ceklek... pintu ruang ganti terbuka dan memunculkan Misa yang sudah cantik dan rapih keluar dari dalam.
Langkah kaki Arga terhenti dan terpaku tidak berkedip memandang penampilan Misa yang menurutnya sangat cantik. sedang Misa yang di pandang seperti itu oleh Arga memunduk malu.
Kenapa dia memandang ku seperti itu, apa aku terlihat jelek atau aneh?.
Para perias Misa yang seakan mengerti situasi nya. mereka menunduk hormat lalu berlalu meninggalkan Misa dan Arga di kamar.
Sepeninggalan mereka. Misa berjalan mendekati Arga yang masih berdiri mematung memandangnya.
"Suamiku..apakah acara nya sudah akan di mulai?" tanya Misa setelah diri nya berada di hadapan Arga.
Arga mengerjapkan mata nya beberapa kali.
"Ekhem..i...ya," jawab Arga gelagapan lalu menunduk melihat Misa.
Misa tersenyum manis membuat Arga merona melihat senyuman Misa. "Mari kita keluar suamiku," ucap Misa.
Arga menangkup kedua sisi wajah Misa lalu mengecup kening Misa. "Melihat mu seperti ini, membuat ku ingin menyembunyikan mu dan mengurung mu, Romisa," ucap Arga menatap teduh ke Misa.
"Suamiku, jika kau menyembunyikan ku bagaimana dengan orang orang nanti akan mempertanyakan keberadaan ku?" tutur Misa pelan.
Arga mengecup sekilas bibir Misa. "Sepertinya aku harus rela berbagi kecantikan mu dengan para tamu," ucap Arga membuat misa terkekeh pelan.
"Jika sudah rela, mari kita keluar suamiku," ajak Misa.
Arga memeluk Misa sejenak lalu mengangguk mengiyakan. dan Arga menggiring Misa untuk keluar kamar bersama nya menuju ruang tamu yang sudah ramai dan penuh dengan orang orang terdekat Misa.
Ketika Misa sudah melewati beberapa lorong dan ruangan, telinga Misa mendengar ramai nya orang orang yang bercengkrama di ruang utama. Dan kini kaki Misa menapak memasuki ruang utama dan berdiri di ambang pintu. Mata amisa berbinar bahagia dan haru karena melihat orang orang yang di rindukannya berkumpul, bercengkrama ria di sana.
Misa melirik Arga yang berada di samping nya.
"Suamiku..terimakasih," ucap Misa dengan senyuman senang.
Arga mengusap puncuk kepala Misa. "Temuilah mereka romisa, di ruang khusus wanita sebelah kiri," titah Arga.
Misa mengangguk paham lalu mengecup sebelah pipi Arga dan berlalu meninggalkan Arga yang berdiri kaku. Arga menyentuh pipi nya yang di kecup Misa lalu tersenyum. "Bahagia mu juga bahagia ku Romisa," gumam Arga.
"Tuan," ucap Sekertaris Tang yang sudah berdiri di samping Arga.
Arga beralih menatap Tang dan membiarkan Tang meneruskan ucapan nya.
"Tuan, pak Ustadz sudah duduk di tempatnya untuk memulai pengajian," ucap Tang.
"Baiklah," jawab Arga dan berjalan untuk ikut berkumpul ke ruang utama mengikuti pengajian sedang Sekertaris Tang mengekori dari belakang Arga.
__ADS_1
BERSAMBUNG...