Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
107


__ADS_3

Setelah membagikan buku raport, misa langsung kembali ke kantor nya untuk membereskan meja nya karena akan libur panjang.


Setelah nya, Misa dan cesa langsung bergegas untuk menuju rumah sakit tempat bibi ita di rawat.


Kini kedua nya sedang berjalan menuju tempat parkiran mobil, dan ketika misa melewati tempat kejadian egi dan pak dani berkelahi, seketika terlintas gambaran2 singkat di otak misa, sehingga membuat misa limbung dan memegangi kepala nya karena terasa sakit.


Kenapa kepala ku sakit. Tadi ingatan apa. Seperti nya telah terjadi sesuatu di sekitar sini sebelum nya.


Cesa yang melihat misa memegangi kepala nya dan mengernyit menahan sakit segera merangkulkan tangan nya di pinggang misa.


"Nona apakah ada yang sakit?" tanya cesa khawatir.


Misa menoleh pada cesa di samping nya lalu menggelengkan kepala nya pelan.


"Tidak ada cesa, sebaiknya kita cepat menjenguk bibi ku agar tidak ke sore an jika pulang nanti," tutur misa yang di angguki oleh cesa.


Cesa masih setia merangkulkan tangan nya di pinggang misa, karena melihat kondisi misa seperti nya sedang lemah.


Misa dan cesa memasuki mobil dan kini mobil itu melaju meninggalkan pelataran parkir sekolah dan berjalan di jalanan besar.


"Cesa," panggil misa.


"Iya nona," balas cesa.


"Apakah pak dani dan egi pernah berkelahi?" tanya misa untuk memastikan kilasan gambaran di otak nya tadi.


Cesa tampak tegang dengan pertanyaan nya misa. Sebab dia sudah di peringatkan oleh tuan nya, untuk tidak menceritakan kejadian perkelahian dani dan egi karena itu penyebab trauma misa kembali kambuh.


"Tidak pernah nona," jawab bohong cesa dan untuk menghindari agar tidak bersitatap dengan misa cesa fokus melihat ke jalanan depan.


Misa menghela napas nya pelan.

__ADS_1


"Tapi seperti nya pernah terjadi. Jika tidak gambaran2 apa tadi yang muncul di otak ku. Apa mungkin aku hanya berhalusinasi," gumam misa pelan namun masih terdengar oleh cesa.


Misa menoleh ke samping jendela dan memandangi pohon pohon yang berjejer di jalan yang di lewati nya.


Maaf nona, tp ini untuk kebaikan nona.


------------------


Mobil yang di tumpangi misa kini telah memasuki area parkiran rumah sakit jaya abadi.


Cesa memarkirkan mobil di antara dua mobil yang sudah bertengger terlebih dahulu. Misa keluar dari mobil, setelah cesa membuka kan pintu nya. Lalu kedua nya berjalan menuju tempat rawat inap para pasien.


Misa dan cesa berjalan beriringan melewati lorong2 rumah sakit untuk menuju kamar inap bibi ita di rawat.


Langkah kaki misa terhenti di depan pintu kamar inap mawar no.12 lalu misa mendorong pintu nya dan masuk ke dalam nya. Sedang cesa memilih duduk di kursi tunggu yang berada di luar kamar.


"Assalamualaikum bibi," ucap misa setelah masuk ke dalam kamar.


Misa tersenyum karena bibi nya banyak yang menemani, yaitu selain anak anak nya bibi juga ada anak anak panti, yang ikut menjenguk bibi ita. Karena bi ita di tempatkan di kamar VIP jadi ruangan kamar nya cukup luas, sehingga banyak nya orang yang masuk ke dalam kamar pun tidak masalah dan tidak akan pengap.


"Neng," panggil bi ita berseri melihat misa menjenguk nya lagi.


Misa menghampiri bibi ita dan duduk di kursi yang tersedia di pinggir ranjang.


"Yang lain nya, karena sudah melihat keadaan bibi ita. Di bolehkan pulang dahulu yah adek adek," tegas bagas asisten bi ita pada anak anak panti.


Dan seketika semua anak anak panti menyalami misa dan bi ita lalu keluar dari kamar untuk pulang.


"Seperti nya kami juga akan pulang dulu yaa bunda. Nanti sore kami akan kemari lagi. Maaf di tinggal ya neng misa," ucap salah satu anak bi ita yang sedari tadi berdiri mengamati.


"Iya, tidak apa apa kak," balas misa karena semua anak anak bi ita umur nya di atas misa dan sudah ada yang menikah.

__ADS_1


Ke tiga anak bi ita menyalami ibunda nya dan misa, lalu keluar kamar meninggalkan tiga orang di ruangan kamar itu.


Seketika suasana ruangan menjadi hening hanya bunyi detik jam dinding yang terdengar menggema di ruangan.


"Neng, ada yang ingin bibi bicarakan tentang masalah panti," ucap serius bi ita sambil memegang lengan misa yang berada di pangkuan misa.


"Ada apa bi, bicaralah." Balas misa dengan tatapan hangat.


"Bibi kan sudah tua, dan mungkin bibi akan cepat di panggil pulang oleh Allah karena usia bibi sudah tidak muda lagi. Bibi hanya memikirkan bagaimana nasib panti panti nya punya bunda nya neng, sedang neng masih saja tidak mau meneruskan untuk mengurus nya. Bagaimana apakah neng akan mau mengurus nya, kasihan anak anak dan para jompo bila panti tidak ada yang memegang nya secara amanah," tutur bi ane panjang.


Misa menghela napas nya pelan lalu menatap bi ita dengan sungguh sungguh.


"Bibi, sebenarnya misa pengen meneruskan untuk mengurus panti2 nya bunda. Namun, misa sudah terlanjur jatuh hati pada profesi misa sebagai pengajar anak sekolah. Bagaimana jika panti panti itu, di pegang oleh orang kepercayaan nya bibi yang bisa memegang amanah yang kuat. Misa yakin pilihan bibi pasti yang terbaik. Dan insyaAllah misa pun akan sesekali mengunjungi panti2 itu bi, apa bibi tidak keberatan," tutur misa dengan nada tenang.


Bi ita sejenak menatap kedua sorot mata misa. Lalu akhirnya mengangguk mengiyakan.


"Baiklah, jika itu keputusan neng. Bibi akan memegang amanah ini, sampai bibi akhirnya bisa menemukan pengganti bibi, yang jauh lebih amanah," ucap bi ita mantap.


Misa tersenyum lalu merangkul bi ita untuk di peluk nya,


"terimakasih. Bibi selalu mengerti misa," gumam misa.


Bi ita mengangguk pelan dalam pelukan misa.


"Bagaimana keadaan nya bibi sekarang. Dan apa kata dokter tentang kondisi bibi?" tanya misa setelah melepaskan pelukan nya.


"Alhamdulillah neng, maag bibi hanya sedang kambuh saja dan harus di rawat inap. Mungkin besok juga sudah di bolehkan pulang," jawab bi ita sambil mengusap usap punggung tangan misa.


"Syukurlah jika begitu, misa seneng denger nya. jaga kesehatan ya bi. jangan terlalu kecapean. karena jika bibi sakit misa akan ikutan sakit, dan sedih." Balas misa lalu tersenyum.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2