
Dokter kevin datang ke rumah arga dengan mata masih terlihat sayu akibat tidur pulas nya terganggu. Karena bi ane menelpon nya di tengah malam dan mengatakan bahwa tuan nya sakit.
Kini dokter kevin memasuki kamar arga yang langsung di sambut wajah garang nya arga.
"Hey bukan nya kau sedang sakit, kenapa kau melihat ku seperti itu?" Tanya dokter kevin yang sudah berdiri di samping ranjang arga.
"Istriku yang sakit. Dan kenapa kau tidak membawa asisten perempuan mu itu," seloroh arga.
Dokter kevin terkekeh, "aku tidak tahu jika istri mu yang sakit. Karena bi ane hanya bilang agar aku segera kemari," ucap nya jujur.
"Lihat lah istriku. Sakit apa dia," tanya arga melepaskan misa dalam pelukan nya yang memejamkan mata dan masih mengernyit menahan rasa sakit.
Lalu membaringkan misa di samping nya.
Dokter kevin menghampiri ke sisi ranjang misa dan hendak meraih pergelangan tangan misa untuk memeriksa nya.
"Hey, kau mau menyentuh istriku." Bentak arga.
Dokter kevin menoleh pada arga.
"Kalau aku tidak menyentuh nya bagaimana aku akan memeriksa nya," balas nya.
"Kau kan dokter. Lihat lah saja dengan keadaan nya sekarang tp jangan menyentuh nya," tegas arga.
Dokter kevin menggelengkan kepala nya.
"Aku perlu menyentuh nya tuan arga putra. Untuk memastikan kondisi fisik nya," bantah kevin dan hendak meraih lengan misa lagi.
Arga bangkit dari tiduran nya lalu menarik stetoskop yang menggantung di leher kevin,
"pakai earpieces nya di telinga mu. biar Aku yang akan mengarahkan bell nya pada bagian yang kau suruh. Cepat!!" Titah arga.
Arga.. arga... kenapa kau seperti ini. Aku tidak menyangka jika kau akan seperti ini.
__ADS_1
Dokter kevin memasangakan earpieces stetoskop nya pada telinga nya lalu menunjuk bagian bagian pada tubuh misa, seperti bagian dada, bagian leher, bagian perut atas dan perut bawah nya misa untuk arga menempeli bell stetoskop nya.
"Kau yang benar menempelkan nya. Aku tidak mendengarkan jelas bunyi nya," tukas kevin memastikan.
"Ini sudah benar kevin, cepatlah yang mana lagi harus ku tunjuk kan pada mu," ucap arga mulai kesal.
"Ikatkan manset tensi meter ini juga tempelkan bell nya pada bagian itu. Aku ingin mengecek darah nya," titah kevin lagi menunjuk bagian mana yang akan di periksa nya.
Dan selama itu juga arga dengan telaten menuruti apa yang di tunjuk kevin dan menempeli nya dengan bell stetoskop. Arga juga menunjuk kan dan mematuhi apa yang di pinta kevin untuk di perlihat kan nya tanpa harus kevin menyentuh nya.
Haha.. baru kali ini aku yang jadi perintah kan kau arga. Dan kau dengan nurut nya menerima perintah ku. Benar benar nona romisa ini sudah menjinak kan seorang batu karang.
Dokter kevin mengernyit heran.
Seperti nya nona meminum obat percepat haid di lihat dari sorot mata dan pergelangan tangan nya sih seperti nya begitu. Meskipun aku bukan dokter bagian nya tp aku tahu itu.
"Sudahkah?" Tanya arga setelah melihat kevin melepaskan yang mengait di telinga nya.
Misa yang di sela meram ayam nya membuka kan mata dan memperhatikan kedua pria yang tampak saling diskusi dengan berbisik bisik.
Apa yang mereka bisik kan. Duh, perut ku kenapa sakit lagi setelah lumayan mereda.
Setelah dokter kevin membisikkan sesuatu di telinga arga.
Arga tampak tersenyum senang.
"Baiklah, tinggalkan obat nya dan kau boleh pulang," titah arga mengusir kevin.
"Hey, kau mengusir ku!!" Seloroh kevin lalu mengeluarkan satu kotak tablet obat pereda nyeri dan meletak kan nya di atas nakas.
"Baiklah aku pulang, dan nona romisa semoga lekas sembuh. Selamat malam," tutur kevin dan tersenyum ke arah misa yang tampak sayu mata nya karena tengah di ambang kantuk nya.
Misa hanya membalas nya dengan anggukkan pelan kepala nya.
__ADS_1
"Cepat kau pulang kevin," teriak arga.
Dasar arga ternyata begini kelakuan nya jika sedang di landa asmara.
Kevin terkekeh dan akhirnya berjalan keluar kamar arga.
"Baiklah...baiklah tuan arga putra saya pulang dulu. Selamat malam," ucap kevin sebelum benar benar hilang dari kamar arga.
Setelah kepergian kevin arga menghampiri misa kembali dan tidur menyamping ke arah nya.
"Romisa, apakah masih sakit?" Tanya nya sambil mengusap lembut wajah misa.
Misa mengangguk kepala nya pelan. Karena rasa nya lemas dan pusing sehingga sudah tidak ada tenaga lagi untuk mengobrol. Dan hanya bisa menahan rasa sakit nya namun sudah tidak seperti waktu pertama bangun tidur rasa nyeri yang di rasakan nya.
Arga membuka kan kerudung misa lalu mengambil kan air hangat yang ada di atas nakas.
"Minumlah terlebih dahulu obat pereda nyeri nya," titah arga lalu mengangkat tubuh misa setengah terbaring agar bisa meminum obat nya.
Misa hanya menurut lalu setelah nya. Kembali terbaring.
Arga menarik misa agar tidur menyamping membelakangi nya lalu arga merapatkan diri nya pada tubuh misa. Tangan arga masuk menyelusup ke dalam baju piama misa lalu mengusap usap perut bagian bawah pusar misa dengan sangat lembut.
Eh apa yang di lakukan s singaa.. tapi aku tidak bisa menolak nya karena badan ku rasa nya sudah lemas akibat rasa nyeri ini.
"Tidurlah romisa," ucap arga pelan di telinga misa lalu mengecup tengkuk leher misa.
Arga masih setia mengusap lembut di perut misa yang sakit.
Singaa kenapa di saat seperti ini kau masih bisa bersikap mesum. Tp usapan nya cukup nyaman dan rasa nyeri pun berangsur mereda.
Setelah beberapa waktu kemudian kedua nya tertidur kembali menuju alam mimpi yang sempat tertunda. Dengan arga memeluk misa dan misa berbalik menghadap ke arga.
BERSAMBUNG...
__ADS_1