Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
142


__ADS_3

Setelah melakukan pemeriksaan USG kini mereka sedang berjalan sambil sesekali mengobrol membahas mengenai kehamilan. Arga dan misa berjalan berdampingan dengan arga merangkul bahu misa dan yang lain nya mengikuti kedua nya dari belakang.


"Suamiku, kata dokter meriska, kita bisa melakukan USG kembali untuk melihat perkembangan bayi kita beberapa minggu ke depan," ucap Misa mendongak menoleh ke arah arga yang berada di samping nya.


"Lakukan seminggu sekali," jawab Arga.


"Sebulan saja, seminggu itu terlalu cepat," sela Misa.


"Seminggu Romisaa," tegas Arga.


"Baiklah, 4 minggu sekali."


Arga mengusap puncuk kepala Misa. "Romisa 4 minggu sama saja sebulan. Tidak, tetap seminggu sekali," tegasnya lagi.


Misa menghela napas pelan. "3 minggu. Gimana?" tanya Misa.


"Seminggu," kekeh Arga.


"Baiklah, gini aja kita ambil tengah nya 2 minggu sekali," ucap Misa lagi yang tidak mau kalah.


Arga menoleh pada misa, lalu mengangguk pelan mengiyakan.


" 2 minggu sekali. Tidak buruk juga," ucap Arga lalu mengecup sekilas puncuk kepala misa dan merapatkan kembali tubuh nya dengan merangkul bahu misa.


Sedangkan sedari tadi dokter meriska memperhatikan kedua nya dari belakang semakin iri melihat misa di perlakukan seperti itu oleh arga. Dan ada senyuman terselubung di bibir meriska merencanakan sesuatu.


"Aaaa..." teriak dokter Meriska pura pura kesandung oleh kaki nya sendiri dan terhuyung ke depan agar bisa di tangkap oleh Arga.


Arga dan misa seketika berbalik.


Mata misa membelalak lebar, melihat dokter meriska berpegangan pada lengan arga dengan jarak yang sangat dekat dan sambil menatap arga. Sedang arga mengkerutkan dahi nya menatap tajam ke arah meriska.


Ya tuhaan. Kenapa hatiku rasa nya sakit sekali melihat dia berpegangan tangan dan sangat dekat dengan wanita lain di depan ku. Dan melihat tatapan dokter meriska seperti nya sangat terpesona oleh dia.


"Dokter hati hati," celetuk asisten Tina yang ada di dekat misa memutus tatapan dokter meriska pada arga.


"Eh, maaf tuan Arga," dokter Meriska salah tingkah dan membenarkan posisi nya untuk berdiri tegak, lalu dengan malu malu menatap arga kembali. sedang Arga masih berdiri dan menatap nya dengan tatapan tajam.


Misa menggenggam kuat tangannya kesal dan mengkeratkan gigi geram.


"Ekhem... cesa antar saya ke kamar," pinta Misa pada cesa yang berada di belakang dokter meriska.


"Baik nona," langsung berjalan maju ke arah misa.


Arga menoleh pada misa yang ada di samping nya, dan hendak menyentuh bahu misa, namun misa keburu berbalik dan melangkah pergi bersama cesa.


"Romisa..." panggil Arga, namun misa pura pura tidak mendengar dan melangkah menjauh dari arga.


Arga kembali melirik dokter meriska dan memberi nya tatapan yang sangat tajam.


"Anda berani menyentuh saya hah! Tang..." tegas Arga dengan nada cukup tinggi.


Sekertaris Tang yang semula berada di belakang menyaksikan semua nya terlonjak.


"Iya tuan," jawab nya.


"Urus wanita ini. Aku tak ingin melihatnya lagi," titah Arga menatap jijik pada meriska lalu berbalik meninggalkan mereka bertiga.


Sepeninggalan Arga.


Meriska tampak gemetar namun ada rasa puas dalam hati nya, karena berhasil membuat hubungan misa dan arga cukup renggang.


"Dokter meriska," panggil Tang dengan nada tegas.


Meriska berbalik dan memasang senyuman manisnya. "Iya sekertaris Tang," ucapnya.

__ADS_1


"Hebat juga anda nona meriska," ucap Tang dan menatap tajam sambil tersenyum mengejek.


Meriska mengernyit heran dan membalas nya dengan senyuman. "Memang saya selalu paling hebat tuan," balas nya.


Tang mendengus. "Anda sudah berani merencanakan sesuatu. Hingga membuat nona kami salah paham. Saya tahu rencana anda. saya memperhatikan nya di belakang, anda sengaja menjatuhkan diri anda ke depan hanya ingin mendapat pelukan dari tuan kan. Hah, sangat murahan sekali trik mu nona meriska," tutur Tang dengan nada tajam.


Seketika sekujur tubuh meriska mulai bergetar mendengar penuturan Tang. Ternyata dia memperhatikannya pikir meriska.


Melihat lawan bicara nya tampak ketakutan, sekertaris Tang maju satu langkah dan menyeringai puas.


"Memang salah, saya telah menyetujui anda sebagai dokter pribadi nona. Saya melihat profil anda memang benar sedari dulu anda telah menyukai tuan dan ingin mengincar nya. Tp pikir saya anda tidak akan sampai melampaui batasan nya hingga ke tahap seperti ini," tutur Tang kembali masih dengan nada tajam nya.


Meriska semakin gemetar dan kaku ketika Tang menatap nya dengan tatapan membunuh. Sialan dia sudah tahu rencanaku umpat meriska dalam hati nya.


Sekertaris Tang tersenyum miring seakan tahu yang di pikirkan meriska. "Ekhem.. tidak ada yang tidak saya ketahui mengenai orang orang yang akan dekat dengan tuan dan nona kami. Sampai informasi sangat rahasia pun anda sembunyikan di dalam pikiran anda saya sudah mengetahui nya terlebih dahulu," tutur Tang. Kemudian kembali menetralkan sikap nya namun masih menatap ke arah meriska.


Meriska menatap Tang dengan tatapan geram berkilatan emosi. Namun meriska tidak bisa berkata karena suara nya seakan akan tercekat di dalam tenggorokan nya.


benar dengan rumor jika sekertaris nya ini lebih kejam dari tuan nya. sial, kenapa aku tidak hati hati umpat meriska dalam hati.


Melihat meriska semakin terpojok Tang merasa puas. "Sebaiknya anda kembali sekarang ke rumah. Dan lihatlah hadiah dari tuan di rumah. Terimakasih Atas kerja keras anda. Semoga anda puas dengan hadiahnya,"ucap Tang dingin lalu menyeringai misterius.


Sekertaris Tang melangkah pergi meninggalkan meriska dan asisten tina.


"Dokter tidak apa apa?" tanya asisten Tina sambil memegang lengan meriska.


Meriska melirik tina dan menggeleng pelan. Karena tubuh nya gemetar meriska, merosot ke bawah lemas memikirkan nasib nya. Meriska paham dengan maksud hadiah yang di katakan Tang, yang merupakan kehancuran untuk nya nanti, ada rasa penyesalan dalam hati nya karena telah lancang berbuat sejauh itu, padahal dia sudah tahu jika berhadapan dengan arga putra taruhan nya adalah hidup dan karir nya.


-------------


Arga memasuki kamar yang mendapati Misa tengah berdiri di luar balkon memandangi taman anggrek.


Cesa yang berdiri tidak jauh dari misa. Menunduk hormat ketika melihat arga memasuki kamar.


Arga menempelkan telunjuk di bibir nya sambil menatap ke arah cesa untuk memberinya isyarat agar tidak bersuara.


"Memang benar semua laki laki itu sama. Menyebalkan, baru di goda gitu aja langsung klepek-klepek tuh, dasar cowo mata ranjang.. cowo genit..huh," gerutu Misa karena masih terbayang dengan adegan meriska memegang lengan arga dengan posisi yang dekat.


Sedang arga yang sudah berada di belakang misa. Mendengar gerutuan misa menahan senyuman nya.


Apa dia cemburu terhadap wanita itu. apa itu artinya aku sudah ada tertanam di hati nya.


"Awas saja kalau balik ke kamar, tak ku pites pites tuh lengan nya biar tau rasa. Dasar cowo playboy," gerutu Misa lagi yang belum menyadari kehadiran arga di belakang nya.


Arga menahan tawa, mendengar cerocosan misa yang menurutnya menggemaskan.


"Cesa, kunci pintu kamar. Aku tak ingin melihat wajah nya. Hatiku masih sebal padanya," titah Misa tanpa menoleh ke belakang.


Tidak mendengar jawaban dari cesa dan langkah kaki cesa, alis misa terangkat sebelah.


"Cesa, kenapa kamu diam saja? Kamu jangan membuat ku sebal juga," cerocos Misa masih dengan nada kesal namun tidak menoleh ke belakang.


Masih tidak mendengar lagi jawaban dari cesa. Misa menghembuskan napas kesal.


"Cesa..sudahkah kamu kun..ci.." ucap Misa menggantung, karena misa membalikkan badan nya dan terpaku ditempatnya, mendapati arga sudah berdiri menyender di pintu geser di hadapan nya yang tidak jauh dari misa.


Sejak kapan dia ada di situ. Apakah dia mendengar semua nya. Ya tuhaan bagaimana ini.


Arga maju beberapa langkah untuk mendekati misa yang masih berdiri kaku dan menatap nya.


"Romisa... aku sudah ada di hadapan mu. Kamu mau apakan aku, tadi katanya kalau nggak salah akan di pites pites, apa itu pites pites romisa?" ucap Arga mencodongkan tubuhnya agar bisa mensejajari wajah misa.


Sial ternyata dia mendengar nya.


Misa menunduk gugup lalu kembali menatap arga. "Eh, suamiku kapan kamu masuk? Kok aku nggak dengar langkah kaki mu," ucap Misa mengalihkan topik.

__ADS_1


Arga tersenyum kecil. "Sejak kamu menjelek jelekkan suamimu," balas Arga.


Aduh bagaimana ini. Tp Seharusnya kan aku yang marah padanya kenapa situasi nya kebalik begini.


Misa balas menatap arga menantang. "Kenapa! Suamiku merasa tersinggung, memang jelas kamu seperti itu kan, buktinya aku melihatnya tadi," tutur Misa dengan nada menantang.


Arga terkekeh lalu mencubit ujung hidung misa. "Romisa... kejadian tadi itu tidak sengaja, jadi jangan cemburu begitu," ucapnya.


Pipi Misa merona lalu misa mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Huh, siapa juga yang cemburu. Mau pegang pegangan, mau peluk pelukan sama wanita lain juga aku tidak akan peduli," ketus Misa lalu membalikkan badan nya membelakangi arga.


"Benarkah kau tidak akan cemburu?" tanya Arga menggoda misa dan mencolek pipi berisi misa.


Misa membuang muka ke arah lain. "Nggak akan," jawab ketus misa.


Arga memeluk misa dari belakang lalu menaruh dagu nya di bahu misa. "Romisa... aku senang melihat mu seperti ini," ucap Arga pelan.


Misa mengedikkan bahu nya mencoba memberontak dari pelukan arga. "Cih! Aku kesal kau malah berkata senang," decih Misa sebal.


Arga semakin mempererat pelukan nya. "Romisa..." gumam Arga menundukkan kepala nya ke ceruk leher misa.


Misa kembali mengedikkan bahu nya risih. "Apa? Jangan begitu," jawab Misa judes.


Arga semakin terkekeh dengan sikap misa lalu arga menciumi pipi misa beberapa kali.


"Romisa aku sudah menjadi milik mu. Jadi tidak akan ada wanita lain yang berani menyentuh ku lagi, kau jangan cemas romisa," tutur Arga mencoba menenangkan misa yang masih memasang raut wajah kesal.


Aku tidak akan tergoda oleh rayuan mu singaa.. awas saja jika ku melihat mu melakukan hal lebih dengan wanita lain. Detik itu juga aku akan kabur dan meminta cerai padamu.


Melihat misa tidak merespon ucapan nya dan hanya terdiam dan menatap lurus ke arah lain. Arga mencolek pipi misa. "Romisa... Apakah kau masih marah?" tanya nya.


Misa masih menatap lurus dan dengan bibir rapat nya namun pikiran nya sudah melayang entah kemana.


Sepertinya memakan es cream rasa durian enak dech. Duh bikin ngiler hanya membayangkan nya saja.


"Romisa.." panggil Arga namun misa tidak merespon karena asyik dengan pikiran nya.


Apalagi es cream nya di kasih krim cokelat yang banyak tp sepertinya es cream melon paling enak dech... duh jadi bingung durian apa melon yah. durian apa melon..


"Romisa..." panggil Arga melambaikan sebelah tangan nya di wajah misa.


"Duriaan," celetuk Misa tersadar dengan lamunan nya.


Ternyata dia tidak mendengarkan ucapan ku, ada apa dengan nya gumam arga dalam hati.


"Otakmu sedang memikirkan apa, romisa?" tanya Arga heran.


Misa melepaskan pelukan arga di perutnya lalu membalikkan tubuh nya.


"Aku ingin makan es cream, dengan dua rasa," ucap Misa tersenyum ceria.


Arga mengernyitkan alis nya. "Kenapa tiba tiba romisa? Ini sudah hampir menjelang malam. Tidak baik romisa," tegas Arga.


"Tp aku pengen makan es cream sekarang, suamiku," kekeh Misa.


Arga menghela napas pelan. "Baiklah, kau mau rasa apa?"


"Durian dan melon kasih toping cokelat di atas nya," pinta Misa semangat.


"Baiklah, aku suruh bi ane antarkan kemari. Kau tunggulah di sini," mengusap lembut puncuk kepala Misa.


Misa mengangguk semangat dan berjalan ke arah sofa tv sambil bersenandung ceria.


Sedang arga yang melihat perubahan sikap misa tersenyum dan menggelengkan kepala nya. "Cepat sekali dia berubah sikap. Dan akhir akhir ini sikap syila berpindah pada nya," gumam Arga lalu berjalan keluar kamar untuk menuju dapur.

__ADS_1


Dan cesa melihat tuan nya keluar kamar. Kembali masuk ke dalam kamar untuk menemani misa.


BERSAMBUNG...


__ADS_2