Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
48


__ADS_3

Hari minggu telah tiba.


Di hari libur ini, Misa masih di sibukkan dengan memeriksa hasil kerja anak didiknya di dalam kamar. Sementara Arga sudah biasa mengerjakan pekerjaan kantor di ruangan kerja bersama sekertaris Tang.


"Hoaam... duh mata ku udah mulai ngantuk kayak nya, mending aku buat teh jahe dulu deh," gumam Misa menggeliatkan tubuh, lalu bangkit dari duduknya berjalan keluar kamar.


Setelah sampai di lantai dasar, ia melangkah ke arah dapur.


Di dapur para koki sedang di sibukkan oleh alat masak untuk menyiapkan makan siang. Misa di sambut oleh bi Ane yang sedang mengamati pekerjaan para koki.


"Nona Romisa, ada yang bisa saya bantu?" tanya Bi Ane menunduk hormat lalu menatap gadis cantik tersebut.


"Saya pengen teh jahe Bi. Bisakah salah satu koki membuatkannya?" Pinta Misa dengan suara pelan.


Mengangguk kecil. "Tentu saja Nona, silahkan tunggu di meja makan, biar saya antarkan."


Misa mengangguk kan kepala, kemudian beerbalik berjalan ke arah meja makan dan duduk di kursi yang sudah di tarik olehnya.


"Kakak ipaar... Syila kangen!" Suara cempreng Asyila yang langsung memeluk Misa dari arah belakang.


Misa tersenyum memegang lengan yang melingkar di bahunya. "Iya Syila, kakak juga. Ada apa kenapa wajah mu cemberut seperti itu?" tanyanya saat melirik wajah Syila yang tertekuk muram.


"Syila bosen, Kakak ipar kita main ke depan yuk. Di halaman depan," pinta Syila manja.


Misa menganggukkan kepala nya sambil mengusap kepala Syila. "Boleh."


"Yeaay asyik...," pelukan di bahu Misa terlepas, gadis cantik itu tersenyum girang. "Ya sudah Syila panggil Kak Egi juga ah. Biar Kak Egi di jadiin pengamen di sana." Sambungnya sambil lalu berlari menjauh


Alia Misa mengernyit bingung. "Pengamen?" Gumamnya pelan.


Bi Ane datang membawakan nampan berisi segelas cangkir teh jahe.


"Nona Romisa teh nya," ucap Bi Ane sambil meletakkan cangkir teh ke hadapan Misa.


Misa tersenyum. "Makasih Bi."


Dia meminum teh jahe dan pada saat pandangannya menunduk ia tak sengaja melirik keranjang buah di hadapannya yang berada di tengah-tengah meja makan.


Misa meletakkan kembali cangkir teh. "Bi buah-buahan ini saya bawa untuk di makan bersama Syila boleh tidak?"


"Tentu saja boleh Nona, mau saya kupas kan buah nya?" tanya Bi Ane menawarkan.


"Tidak usah Bi, biar saya saja yang kupas. Siapkan piring garfu dan pisau kupas saja." Ujar Misa, kemudian kembali meminum teh nya.


"Oh, dan air putih nya Bi." Sambung Misa setelah meletakkan cangkir.

__ADS_1


"Baik Nona, mau di makan di mana Nona?" Tanya bi Ane karena heran harus menyiapkan itu semua.


"Mau di halaman depan. Bisakah salah satu pelayan membawakan semua ini ke sana Bi?" Pinta Misa menatap harap.


"Tentu saja Nona, saya akan menyiapkan keperluan di halaman depan."


"Terimakasih Bi." Ucap Misa lalu tersenyum.


Bi Ane menunduk hormat, kemudian berbalik meninggalkan Misa sendirian.


Syila sudah datang kembali sembari berteriak dengan girang menghampiri Misa.


"Kakak ipar ayok, kesana. Pengamennya sudah jalan. Syila juga bawa buku komik dan buku lirik lagu." Ajak Syila kembali berhambur memeluk Misa dari belakang.


"Ayok Syila." Misa mengangguk tersenyum lalu bangkit dari duduk nya.


Misa dan Syila berjalan bergandengan tangan menuju halaman depan rumah.


Sesampainya di halaman depan rumah.


Tampak di halaman depan rumah itu, sudah ada Egi menunggu di gazebo transparan tidak ada dinding yang menutupi hanya beberapa pilar kecil di sekelilingnya sedang atap nya terbuat dari bahan


semen membentuk kubah.


Egi terduduk di atas karpet yang di bentangkan menjadi alas dan ada sebuah gitar di pangkuannya.


Misa melirik pada sekeranjang buah berukuran besar ada berbagai macam buah-buahan dan ada minuman di teko kaca lengkap dengan gelas sudah tersedia di nampan besar.


"Kak Egi cepat mainkan gitar nya, nanti Syila yang nyanyi," titah Syila duduk di tengah-tengah antara Misa dan Egi.


Treng... treng.


Egi mulai memetik senar gitar. Sedang Misa sudah mengambil sebutir apel merah untuk di kupas nya.


"Kakak kenapa lagu nya yang ini kan syila susah nyanyiinnya?" tanya Syila mendengar petikan gitar yang di mainkan Egi.


"Nyanyikan saja, ikuti nada yang Kakak petik," ucap Egi, sambil melirik Misa yang tampak sibuk


mengupas buah apel.


"Baiklah Syila nyanyikan yaah, Kakak ipar nggak ikut nyanyi?" tanya Syila yang mendapati gelengan kepala dari yang di tanya.


"Nggak bisa." Misa menunjukkan buah apel yang sedang di kupas.


"Ya sudah Syila yang nyanyi, Kakak ipar duduknya di sini dong biar deket." Menunjuk tempat duduk yang membelakangi rumah Arga dan menghadap ke kedua adik iparnya. Sehingga tampak Misa di tengah-tengah ke duanya.

__ADS_1


Misa menurut pindah duduk nya.


"Cepat lah nyanyi Syila, Kakal ingin dengar suara indah mu," ucap Misa mengusap puncuk kepala Syila.


Egi mulai memetik kembali senar gitar yang menciptakan alunan nada indah dan Syila mulai mengimbangi petikan gitar nya dengan suara.


Judika Cinta Terpendam


Aku tak kuasa didekatmu


Aku tak bisa sembunyikan hatiku


Terlalu lama aku pendam


Terlalu jauh aku merasakan


Mencintaimu tanpa kau tahu itu.


Kini kau tahu segalanya


Tentang rasaku ku kan siap terima.


Apapun yang akan terjadi


Cukup hanya sekali kukatakan


Aku cinta, cinta sampai mati.


Dan kutunggu hingga akhir waktu mengambil cintamu.


Terlalu lama aku pendam


Terlalu jauh aku merasakan


Mencintaimu tanpa kau tahu itu.


Terlalu lama aku pendam


Terlalu jauh aku merasakan


Mencintaimu, menginginkanmu tanpa kau tahu itu.


Syila menyanyikan lagu judika cinta terpendam dengan suara yang indah dan merdu.


Misa menatap heran ke arah Egi dengan alis sedikit berkerut. Kemarin puisi cinta sekarang lagu nya juga. Sepertinya si Egi benar sedang jatuh cinta tapi cinta yang menyiksa... kasihan sekali anak ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2