Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
44


__ADS_3

"Baiklah, Hendri kembali lagi ke bangku kamu, dan silahkan ada yang maju lagi?" tanya Misa setelah melihat Hendri kembali dan duduk di bangku nya.


"Saya Bu." Celetuk Ito mengangkat sebelah tangan.


Misa mengangguk kecil. "Baiklah ito silahkan maju ke depan."


Ito keluar dari meja, ia melangkah maju ke arah depan kelas lalu berdiri tepat di tengah-tengah menghadap para murid.


"Langsung mulai bacakan Ito, puisi mu," titah Misa.


"Baik Bu." Ito mulai membuka buku nya, sejenak ia melirik ke arah Misa kemudian kembali menatap buku yang di pegangnya.


Dan membacakan judul nya. "Bayangan Bu Misa," ucap Ito membacakan judul puisi.


"Woy, kok ada Bu Misa nya sih? Lo mau baca puisi apa mau mengungkap kan isi hati lo?" Celetuk Hendri.


"Kedua-dua nya," jawab acuh Ito.


"Sudah semuanya, dengarkan dulu. Bacakan Ito isi puisinya," titah Misa yang di balas anggukkan kepala dari murid pria itu.


Ito menghela napas pelan, ia mulai membacakan isi dalam puisi tersebut.


BAYANGAN BU MISA


Setiap hari mulai gelap, bayanganmu selalu hadir tak pernah absen.


Saat mati lampu yang ku ingat hanya bayangan wajahmu.


Saat makan, jalan, bicara, bahkan tidur pun kau selalu hadir dalam otak ku.


Pernah, disaat aku bermimpi buruk.


Bayangan mu menemani ku dalam kegigilan takut.


Hingga ku berpikir, dan bertanya-tanya... Kenapa Bu Misa selalu menggentayangi otak ku?


Ito menutup buku nya, menatap lurus ke depan.


"Pendek bener puisi mu, Ito," ucap salah satu murid.


"Yaa, gak apa-apa lah yang penting ada," jawab Ito.


"Enak bener lo, nyamain Bu Misa sama arwah gentayangan." Celetuk Hendri.


"Habisnya bayangan nya itu loh, bikin gua nggak bisa melakukan aktivitas apapun karena dimana-mana ada Bu Misa," balas Ito dengan gaya dramatis.


"Ckckck... kasian lo ito cinta bertepuk sebelah tangan tapi tetap di gentayangin bayangan wajahnya." Celoteh salah satu murid perempuan merasa simpati.


Prok...prok.

__ADS_1


Misa bertepuk tangan dengan keras untuk menghentikan perbincangan mereka yang mulai ngelantur lagi. "Sudah, sudah cukup obrolannya. Dan Ito puisi mu juga bagus, masih menggunakan gaya puisi modern, dan silahkan Ito kembali lagi ke meja mu."


"Baik Bu." Ito melangkah menuju meja nya.


"Itulah para murid, puisi hasil karya teman kelas kalian. Waktunya masih ada 15 menit lagi menuju bell habis pelajaran. Adakah satu lagi yang akan membacakan hasil karya nya di depan? Dan untuk yang lainnya kita lanjutkan minggu depan. Ada lagi yang mau maju ke depan?" tanya Misa mengedarkan pandangan pada wajah anak didiknya.


Egi mengangkat sebelah tangan tanpa mengeluarkan suara. Seketika semua pasang mata yang berada di kelas langsung menoleh dan menatapnya.


"Egi mau maju ke depan?" tanya Misa.


Egi mengangguk kan kepala.


"Silahkan maju ke depan."


Pria tampan itu, keluar dari area meja lalu berjalan


menuju ke depan kelas.


"Silahkan bacakan puisi mu, Egi." Instruski Misa setelah melihat Egi berdiri di depan kelas.


Egi mengangguk kecil, ia membuka buku nya. Sejenak ia menghela napas pelan sebelum membuka bibirnya. Kemudian ia mulai membacakan judul puisi tersebut.


"Aku dan hatiku," ucap Egi lalu melirik Misa.


Para murid pun tidak ada yang berani mengoreksi atau mengungkap kan pendapat nya ketika Egi membacakan judul puisi. Hanya tatapan dengan bibir bungkam mereka.


Egi mulai membacakan puisi nya dengan suara yang seolah-olah itu adalah ungkapan perasaannya yang nyata terjadi dengan sesekali melirik Misa.


AKU DAN HATIKU


Aku berdiri melihat mu tanpa bisa menyentuh.


Karena...


Bukan untuk ku.


Kau melebarkan senyuman bahagia.


Bukan untuk ku.


Kau memberikan kata pemanis jiwa.


Bukan untuk ku.


Kau memasang wajah cerah secerah mentari.


Bukan untuk ku.


Kau melangkah mendekat dengan semua semangat itu.

__ADS_1


Karena aku...


Hanya bisa menyaksikan


Tanpa bisa menyentuh.


Hanya bisa mendengarkan


Tanpa bisa bersilat lidah pemanis.


Itulah aku, perasaan yang ku nikmati, saat ini, saat itu, dan entah sampai kapan rasa menyiksa ini ada.


Cinta ini begitu menyiksa


Namun begitu nikmat juga


Hingga tersadar, aku hanya bisa berharap bukan berhadap.


Setelah membaca bait terakhir dari puisi itu. Egi menutup bukunya sembari menatap tak terbaca pada gadis cantik yang berdiri tidak jauh darinya.


Misa tertegun menatap diam. Sepertinya nih anak lagi jatuh cinta. Mendengar puisi nya dalam banget. Tapi emang cinta seperti itukah rasa nya sampe bilang menyiksa segala?


"Dalem bener puisi mu Egi, itu menggambarkan perasaan ku terhadap Bu Misa," ucap Hendri memecah keheningan di kelas.


"Hebat lo, bisa juga bikin puisi tentang cinta. Gua aja yang saking bingungnya untuk mengungkap kan perasaan gua buat Bu Misa, malah di samain sama hantu gentayangan," curhat Ito tentang puisi nya.


"Lo sih, kurang dalem tuh cinta nya," celetuk murid lain.


"Eh, btw, si Egi lagi jatuh cinta tuh... bikin puisi seperti itu," celetuk murid lain yang di balas tatapan dingin oleh pria yang jadi bahan pembicaraan, membuat murid tersebut seketika menunduk takut.


Misa menghembuska napas panjang. Menatap para muridnya. "Baiklah, anak-anak sepertinya bell istirahat sudah berbunyi." Kemudian ia melirik pada anak didiknya yang masih berdiri di depan kelas. "Egi kembali lagi ke meja mu."


Egi melangkah tanpa bicara atau pun anggukkan kepala. Dia kembali bergabung bersama para murid, dan duduk di bangkunya.


Misa merapihkan buku ajar di atas meja. "Baiklah kelas hari ini sampai di sini... untuk yang belum membacakan puisi, minggu depan di lanjutkan lagi ... Assalamualaikum," ucapnya lalu melangkah menuju pintu keluar.


"Walaikumsalam," balas serempak para murid.


Misa keluar dari ruang kelas yang langsung di sambut oleh Cesa di luar telah menunggu.


"Sudah lama nunggu nya Cesa?" tanya Misa yang sudah di hadapan Cesa.


"Nggak Bu Misa."


Misa berbelok, berjalan pelan. "Baiklah, yuk kita ke kantin, tapi saya nyimpen buku ajar dulu ke kantor."


Cesa mengangguk tipis, ikut mengimbangi langkah kaki Misa.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2