Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
54


__ADS_3

Di Meja Makan.


Tidak ada perbincangan di antara nya hanya suara garfu dan sendok saling berdenting mewakili keheningan. Mereka memilih fokus pada makanan masing-masing.


Namun Ketika makanan di piring Misa tinggal sedikit lagi, Arga menaruh sepotong daging steak yang sudah di potong kecil ke dalam piring, begitu pun Egi ikut menaruhkan sepotong daging ikan tuna ke dalam piring.


Setelahnya kedua pria itu saling tatap menatap tajam, entah apa yang mereka bicarakan lewat tatapannya itu.


Sementara Misa menatap terlongo pada piringnya yang sudah terisi penuh oleh makanan.


"Wah Kakak pada memberikan daging pada Kakak Ipar. Syila juga ah... Syila kasih daging ikan salmon deh." Meletakkan sepotong daging ikan ke piring Misa. "Di makan yaa Kakak ipar biar sehat."


"Eh." Misa melirik Syila dengan gerakan kaku kepalanya tertunduk kembali, menatap bengong pada piring.


Kenapa mereka semua menaruh di piring ku? Perut kecil ku tidak akan muat, emang aku karung harus makan segini banyaknya.


"Suamiku. Aku... aku udah kenyang."


Arga mengalihkan pandangan tajam nya dari Egi. Dia menoleh ke arah suara, seketika sorot matanya meredup hangat.


Mengusap puncuk kepala. "Habiskan." Ucapnya tegas.


Misa mendesah sebal, masih menatap piringnya. Habiskan gimana? Perut ku tidak akan muat.. tapi jika tidak aku makan akan mubazir. Dosa dong misa menyianyiakan makanan.


"Habiskan Kakak ipar... biar kuat seperti Syila. Lihat otot Syila gede kan?" Celoteh Asyila sambil memperlihatkan lengan atas yang langsing.


Misa tersenyum mendengar celotehan Syila, ia menyendok makanan dan menyuapkannya ke mulut.


Gadis cantik itu melirik piring Arga yang masih banyak dan baru di makan sekitar beberapa suapan saja. Dari tadi dia makan apa? Piringnya masih penuh.


Tiba-tiba Sekertaris Tang datang ke ruang makan dan berbisik pelan ke telinga Arga.


Arga menatap Misa sejenak. Lalu...


Sreet.


Dia bangkit dari duduknya namun...


Grep.


Misa dengan refleks memegang lengan kekar Arga sehingga membuat Arga menoleh dan menatap tak terbaca. Misa masih belum sadar jika ia memegang lengan pria itu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Arga.


"Suamiku, baru makan beberapa sendok. Apa tidak lapar?" tanya Misa gugup.


Arga melirik piringnya sekilas lalu mengusap puncuk kepala Misa dengan tangannya yang bebas.


Misa tersadar dengan pegangan tangannya di tangan Arga. "Ma...af suamiku." Ucap Misa tersipu canggung sambil melepaskan pegangannya.


Arga tersenyum. "Tunggu... hanya sebentar." Ujarnya bangkit keluar area meja, lalu berjalan keluar ruang makan.


"Aiih ciee Kakak ipar perhatian banget sih sama Kak Arga, sampe ngingetin supaya makanannya di habiskan." Syila menggoda Misa yang sedang memerah tersipu malu.


Kakak mengingatkannya karena takut dia sakit Syila. Nanti kalau dia sakit siapa lagi yang repot.


"Sudah seharusnya Syila sebagai seorang istri mengingatkan."


Sedangkan Egi masih menatap Misa dengan tatapan tak terbaca.


Dan tidak lama kemudian Arga kembali lagi ke meja makan duduk di kursinya.


Dia tersenyum ke arah gadis cantik di sampingnya dan melirik makanan di piring Misa yang masih penuh.


"Makanlah."


Beberapa saat kemudian.


Arga bangkit dari duduknya setelah menghabiskan makanan di piringnya.


Dia mengusap kepala Misa. "Habiskan, dan jika sudah mengantuk tidurlah," titah Arga sebelum dirinya melangkah menjauh dari ruang makan yang menyisakan Misa dan kedua adiknya.


"Syila juga udah habis dan kenyang nih... Syila duluan ya Kakak ipar. Ingat habiskan Kakak ipar kata suami." Goda Syila sambil lalu meninggalkan Misa dan Egi yang masih di meja makan.


Misa menghela napas pelan, sembari menyendokkan makanan ke mulut.


Sedangkan Egi senang menjadi pengamat Misa. Padahal makanan di piringnya sudah kosong namun ia tidak menyianyiakan kesempatan itu untuk duduk berdua bersama Misa, sehingga Egi sengaja mengambil satu potong daging steak seakan pura-pura sedang makan


Misa menoleh ke arah Egi dan melirik piring.


"Egi belum selesai makan?"


"Iya." Jawab singkat Egi yang di balas anggukkan kepala dari Misa.

__ADS_1


Misa kembali fokus pada makanan nya, tanpa berniat mengobrol.


"Bu Misa."


"Iya Egi." Jawab Misa.


"Apa Bu Misa pernah merasakan jatuh cinta?" tanya Egi dengan pandangan menatap lekat.


Alis Misa berkerut. "Cinta?" Celetuknya, lalu menggeleng pelan.


"Kenapa? Apa Egi sedang jatuh cinta?" tanya Misa di sela mengunyah makanan.


"Iya." Jawab singkat Egi dan masih mengamati gerak-gerik Misa, sedangkan yang di tatap tampak acuh tak acuh fokus pada makanan.


"Saya tidak tahu itu cinta. Dan seperti apa penggambarannya, jadi jika Egi ingin nasehat tentang cinta pintalah nasehat pada teman Egi yang berpengalaman." Ujar Misa jujur.


"Egi tidak perlu nasehat Bu Misa, yang perlu nasehat itu adalah Bu Misa," ucap Egi membuat Misa menghentikan pergerakan tangan nya yang sedang menyendok makanan.


"Kenapa saya?" Dengan alis berkerut heran.


"Karena Bu Misa tidak tahu itu cinta, sehingga Bu Misa tidak bisa mengartikan orang sekeliling yang benar mencintai. Dan satu hal lagi yang terpenting adalah... ketika hati Bu Misa harus memilih di antara orang yang mencintai. Namun Bu Misa sendiri tidak bisa memahami isi hati sendiri, itu akan berakibat fatal untuk Bu Misa juga yang lainnya." Jelas Egi penuh arti dari ucapannya.


Misa tertegun mengaduk makanannya. Sepertinya si egi benar lagi kasmaran sampe memahami segitunya. Memang aku tidak tahu cinta itu apa, tapi bukan berarti aku buta dengan menilai orang yang menyayangi di sekitar ku.


Gadis cantik itu menghela napas pelan lalu memasukkan satu sendok terakhir dari piringnya ke mulut.


"Egi... Saya tidak paham apa yang di bicarakan, tapi makanan saya sudah habis. Saya ke kamar duluan yaa. Habiskan makanan mu Egi," ucap Misa setelah minum dan bangkit dari duduknya.


"Bu Misa." Panggil Egi menghentikan pergerakan Misa yang sudah melangkah beberapa langkah.


"Iya Egi." Sahut Misa tanpa menoleh.


"Egi... Egi sayang sama Bu Misa." Ucapnya jelas.


Sayang? Wajar lah dia sayang padaku sedang aku disini statusnya sebagai Kakak ipar nya.


Misa membalikkan tubuh nya, menatap pria tampan itu.


"Sudah sewajarnya seorang adik menyayangi sang Kakak nya juga seorang murid menyayangi guru nya," ucap Misa lalu kembali berbalik berlalu meninggalkan pria itu yang masih beku di tempatnya.


Egi tersenyum kecut nan pahit dengan kepala tertunduk lesu. Aku menyayangi mu sebagai wanita dan pria, bukan sebagai Kakak beradik, juga bukan sebagai guru dan murid.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2