Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
30


__ADS_3

"Bu Misa," panggil seseorang yang Misa sangat kenal dari arah belakang.


Misa menghentikan langkah kakinya yang saat ini ia sedang berjalan di koridor melewati beberapa kelas.


"Assalamualaikum," salam Pak Dani yang sudah berdiri di hadapan Misa.


"Walaikumsalam," jawab Misa menundukkan pandangan.


"Alhamdulillah, Bu Misa kembali lagi sekolah, bu Misa kemana saja? Kemarin saya dan bu Rina berkunjung ke rumah bu Misa, tapi kata ibu-ibu penjaga rumah itu bilang bu Misa sudah tinggal di rumah baru," tanya Pak Dani dengan tatapan menyipit menyelidik.


Huft.. Misa menghela napas pelan. Pasti akan tiba juga mereka pertanyakan soal ini kepada ku.


Lalu ia mendongakkan kepalanya mengulas senyuman tenang. "Saya sudah beli rumah baru Pak," bohong Misa.


Pak Dani masih menatap menyelidik. "Kenapa Bu Misa tidak bilang pada saya, dan kapan pindahnya?"


Misa masih mengulas senyuman namun kepaksa. Kenapa juga aku harus bilang pada mu?


"Itu tidak ada urusannya mengenai masalah pribadi saya. Saya permisi dulu Pak, sudah waktunya saya mengajar, Assalamualaikum," pamit Misa, lalu ia berbalik melangkah pergi tanpa mendengar jawaban salam dari Pak Dani.


"Walaikumsalam." Pak Dani mematung memandang kepergian Misa. Kenapa kamu selalu dingin terhadap ku?


Di Kantor Guru.


Gadis mungil itu sampai di kantor guru, ia melangkah mendekat ke arah mejanya. Di atas meja itu telah penuh dengan bunga mawar merah, setumpuk amplop surat, juga bungkusan kado yang berukuran besar, kecil.


Misa menghela napas panjang. Kemudian ia melirik meja Rina yang kosong bersih, yang sepertinya sahabatnya itu sudah pergi mengajar.


Dia menyimpan tas selempang ke atas kursi lalu mengambil buku ajar dan berbalik melangkah keluar ruangan.


Misa berjalan melewati beberapa kelas yang sedang belajar, memang dia datang ke sekolah hari ini cukup terlambat karena selain berkunjung menemui ayah putra juga dia harus berjalan kaki terlebih dahulu setelah diri nya di turunkan di pertigaan tadi.


Di Ruang Kelas.


Misa memasuki ruangan kelas yang tampak gaduh, ramai oleh celotehan para murid. Begitu kakinya melangkah masuk seketika suasana dalam kelas menjadi hening dan tenang.


"Assalamualaikum, pagi anak-anak," sapa Misa.


"Walaikumsalam," serempak para murid.


Misa berjalan ke arah meja yang berada di sudut ruangan, dia menaruh buku yang di bawa ke atas meja dan menatap para muridnya.


"Maafkan ibu sedikit terlambat datang. Apakah kalian memafkannya dengan ikhlas?" tanya Misa di akhiri senyuman tulus.


"Tidak apa-apa bu, buat ibu apa sih yang nggak ikhlas ito kasih, hati dan jantung ini saja jika ibu memintanya, ito ikhlas berikan," celetuk salah satu murid penggombal yang biasa menggombali Misa.


"Mati dong lo kalau jantung lo kasih ke bu Misa," sahut teman sebangkunya Hendrik.


"Lo nggak bisa mengartikan rasa cinta ya."


"Boro-boro mengartikan cinta mengartikan rumus phytagoras saja rambut gue udah kebakaran," ucapnya dengan memegang ujung rambut di kepala.


Dan terjadilah saling debat dua murid tersebut.


Brak.

__ADS_1


Misa menggebrak meja cukup keras, membuat keduanya seketika diam dan suasana kelas menjadi hening.


"Ekhem... baiklah dari pada bicara kalian tambah ngelantur ibu langsung mulai pelajarannya saja," interupsi Misa.


"Bu kemarin kemana? Kenapa ibu tidak ada? Aku rindu berat tau bu, dua hari nggak bertemu ibu," celoteh salah satu murid laki-laki yang berada di jajaran belakang.


"Cielaah, kayak bang dilan aja rindu berat, tapi bener juga yah Ibu kemarin nggak kelihatan," sahut murid cewek.


"Ibu ada urusan, sudah cukup celotehnya yaa, sekarang waktunya belajar nanti lagi cuhatnya," ucap Misa yang di balas anggukkan juga desahan malas dari para murid.


Misa menggelengkan kepala beberapa kali, mengambil buku ajar dan melangkah ke arah papan tulis. Dia mulai menuliskan sesuatu di papan tulis, dengan di selingi penjelasan dengan apa yang di tulisnya. Para murid menyimak dengan seksama apa yang di jelaskan menciptakan suasana tenang.


Sedang dari bangku paling pojok di ruangan kelas itu. Egi selalu mengamati gerak-gerik gadis mungil di depan kelas yang sedang menjelaskan pelajaran.


*****


Teng...Teng...


Bell waktu istirahat berbunyi lima belas menit lalu. Misa sudah berjalan di koridor kelas untuk menuju ruang guru, namun saat ia berjalan tampak para murid menyapa mengkerubunginya. Mereka tampak mengucapkan selamat hari guru sembari memberikan hadiah, padahal hari guru sudah lewat satu hari.


Sehingga dipelukan Misa sudah di penuhi bunga mawar juga kado yang berukuran kecil, ia tampak kewalahan membawanya.


Salah satu murid laki-laki di antaranya mendekat. "Bu Misa, boleh Egi bantu." Egi menengadahkan kedua tangannya untuk membantu membawakan sebagian kotak kado yang ada di pelukannya.


Misa melirik ragu sejenak, yang akhirnya mengangguk sambil memberikan sebagian kotak kado kepada pria tampan itu. "Boleh."


Kemudian keduanya melangkahkan kembali kakinya di koridor yang hendak menuju kantor guru.


"Egi nggak ke kantin?" tanya Misa melirik pria di sampingnya.


Anak ini masih sama juteknya.


Misa memilih terdiam tidak bertanya lagi. Sampai keduanya di kantor guru yang langsung di sambut oleh suara cemprengan.


"Misaa...," teriak Rina sampai membuat heboh para guru lainnya menoleh ke arahnya.


Misa berjalan ke arah meja nya. "Rina, jangan teriak seperti itu, lihatlah kita di lihatin yang lain."


Rina tersenyum cengengesan merasa tidak berdosa.


Misa menyimpan bunga mawar dalam pelukannya ke atas meja.


"Egi simpan saja di sini, terimakasih yaa sudah membantu," ucap Misa, sambil menunjuk ke kotak kado lain yang berada di atas meja nya.


Egi menaruh bawaannya ke tempat yang di tunjuk, lalu menatap sejenak ke arah Misa dan berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata.


Misa yang sudah terbiasa dengan sikapnya, menanggapinya acuh tak acuh.


Rina yang memperhatikan sedari tadi, terlongo kaget. "Gila, Mis benar kata kamu, itu anak jutek amat, ada yah murid kamu yang melakukan kamu seperti itu juga."


Misa merapihkan sekitar meja yang berantakan karena terlalu banyak kotak hadiah. "Biarlah, mungkin sudah sifatnya yang mendarah daging Rin," jawabnya tak acuh.


"Oh ya Mis, itu kado banyak juga, aku aja dapet cuman beberapa bunga dan tanpa bingkisan kado apa pun," kata Rina melihat meja di hadapannya.


"Entahlah Rin, kamu mau nggak nih bingkisannya?" tanya Misa, yang memang sudah terbiasa semua kado dari para murid yang di dapatkannya selalu di berikan ke Rina.

__ADS_1


Rina melambaikan kedua tangan di depan. "Tidaklah Mis, kali ini terimalah sekali-kali kado dari para murid tersayang mu, kasihan mereka niatan memberikan ke kamu tapi aku yang makan atau pakai."


Hah... Misa menghembuskan napas lelah. "Baiklah, tapi bantuin masukkin ke dalam kardus Rin."


Yang di balas anggukkan kepala.


Rina mulai bergerak menyerbu meja Misa untuk membantu merapihkan. "Oh yaa Misa, kemarin aku ke rumah mu katanya kamu udah pindah dari 4 bulan yang lalu. Kenapa kamu nggak bilang-bilang sih kalau mau pindah?" tanyanya sembari menata bunga mawar yang berwarna merah putih ke dalam kotak kardus.


Misa menghentikan gerakannya yang tengah mengepack kotak-kotak kado. "Maafin aku Rina, tapi sepertinya aku tidak bisa menceritakan masalah keluarga atau pun pribadi."


Rina ikut menghentikan pergerakan tangannya sejenak dan menatap Misa. "Tidak apa Misa, semua orang berhak mempunyai ruang untuk orang lain tidak tahu, meskipun orang lain itu keluarga atau pun sahabat, pasti semua orang membutuhkan ruang itu yang tidak boleh orang lain tau selain dirinya sendiri."


"Terimakasih Rina, sudah mengerti aku," ucap Misa berhambur memeluk kilas tubuh Rina.


Rina mengangguk dan tersenyum. Kemudian kembali menata bunga mawar warna merah dan putih itu ke kotak kardus.


"Dan yang terpenting bagi ku, kamu baik-baik saja. Oh ya terus itu rumah lama tidak di jual kan?" tanya Rina menatap pada gadis mungil di sampingnya.


Misa menggeleng tanpa menoleh. "Tidak Rina, rumah itu tidak akan di sewa apalagi aku jual karena rumah itu hasil perjuangan ku."


"Hmm... kok aku jadi melow gini sih Misa." Rina berhambur memeluk Misa.


"Kok melow sih, emang kenapa?" Misa membalas pelukannya.


"Ekhem... kalian ini sudah seperti tele tubis aja peluk-pelukan di kantor, apa tidak malu?" Pak Dani yang memang sedari tadi mengamati mereka berdua.


Rina melepaskan pelukannya. "Bilang aja ngiri Pak."


"Memang saya ngiri Rina, oh ya Bu Misa selamat hari guru, nih hadiah dari saya." Pak Dani menyodorkan sebuket kecil bunga anggrek berwarna putih dan merah yang terangkai indah dalam buket itu.


Mata Misa langsung berbinar dengan bunga anggrek di hadapannya. Namun tiba-tiba sekelebat bayangan wajah Arga yang tampak menatap sangat tajam di pikirannya hadir membuat senyuman di bibir Misa memudar.


Kalau aku terima bunga ini, pasti si singa akan mengaung keras di wajahku. Hiih... membayangkannya saja membuat ku merinding ngeri.


"Kenapa Bu Misa, apa tidak suka dengan anggreknya?" tanya Pak Dani karena melihat respon Misa masih diam berwajah murung.


Misa mengangkat wajahnya tersenyum tenang. "Bukan begitu Pak Dani, tapi saya sudah banyak mendapatkan hadiah dari anak-anak. Bagaimana jika bunga itu untuk bu Rina saja, bu Rina juga belum mendapatkan hadiah dari Pak Dani kan?"


"Eh, i-iya," gagap Pak Dani melirik gadis manis di samping Misa.


Rina tersenyum mengejek, tangannya terulur mengambil buket bunga anggrek di hadapan Misa.


"Terimakasih Pak Dani, bunganya sangat indah," ucap Rina masih tersenyum mengejek.


Pak Dani hanya membalasnya dengan anggukkan malas.


"Rina ke kantin yuk, sepertinya waktu istirahat masih ada." Ajak Misa mengalihkan suasana.


"Hayuk Mis, aku juga udah lapar, Pak Dani mau ikut ke kantin." Ajak Rina pada pria yang terlihat beraut wajah muram tertekuk diam itu.


"Bolehkah saya bergabung dengan kalian?" Antusias Pak Dani.


"Saya mengajak Pak Dani hanya untuk ikut ke kantin, bukan duduk bareng kami." Rina kembali membuat pria itu berwajah muram kecewa.


"Baiklah mari ke kantin." Pak Dani berbalik melangkah pelan ke pintu keluar di susul Misa dan Rina.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2