
Di Depan Teras Rumah.
Misa tengah mengantar sang suami ke depan teras rumah. Dia masih terlihat tersipu malu dengan kejadian di kamar mandi atas ke mesuman Arga.
Sekertaris Tang sudah membukakan pintu mobil penumpang untuk tuannya. Namun pria tampan itu masih betah berdiri di hadapan Misa.
Perlahan Arga menundukkan kepala dengan tubuh sedikit condong ke depan agar bisa mensejajarkan wajah nya dengan wajah Misa.
Alis Gadis cantik itu berkerut bingung dengan lirikkan waspada bercampur malu. Apalagi yang akan dia lakukan?
"Morning kiss," ucap Arga menunjuk bibir nya.
"Hah!" Tertegun Misa menatap dengan mata melebar tidak percaya dengan yang di dengarnya.
Dari mana si singa tau morning kiss segala?
"Ekhem...," mengalihkan tatapan ke arah lain. "Anu... sua-sua-miku. Di sini banyak orang." Gugup Misa dengan kedua bola mata melirik belakang pria itu.
"Tang."
Arga melirik sekertaris Tang yang berada tidak jauh di belakangnya untuk memberi isyarat tatapan. Dan seakan mengerti, Tang berbalik tertunduk begitu pun dengan para penjaga di luar rumah.
Pria tampan itu, kembali menatap Misa. "Sudah. Cepat," titah Arga menunjuk bibir nya.
Apa boleh buat... Dengan gerakan ragu dan pelan Misa mendekatkan wajah nya pada wajah tampan itu, hingga akhirnya ia melabuhkan bibir di pipi Arga.
Arga terkekeh senang sembari menegakkan kembali tubuh nya. Sejenak ia mengusap puncuk kepala Misa lalu berbalik berjalan ke arah pintu mobil terbuka dan duduk di kursi penumpang.
Kedua bola mata Misa menatap wajah pria yang penuh senyum itu dengan tatapan aneh, sebelum akhirnya pintu mobil tertutup rapat.
Di Dalam Mobil Hitam.
Hingga mobil yang di tumpangi Arga telah melesat melaju dengan kecepatan sedang di jalanan. Terlihat jelas pria itu masih mengembangkan senyuman bahagia di bibirnya. Kemudian ia mengeluarkan sebuah buku bersampul putih dari balik jas.
Tang melirik kaca depan untuk melihat keadaan orang yang berada di kursi belakang.
Melihat tuan bahagia seperti ini, membuat saya ikut berbahagia tuan.
Arga membolak-balikkan buku bersampul putih tersebut yang ada di pegangan tangan nya seraya mencium beberapa kali dengan bibir terus tersenyum senang.
__ADS_1
Alis Tang sedikit terangkat saat melihat tingkah aneh Arga.
Tuan sadarlah dengan sikap mu sekarang, itu sangat memalukan.
"Tang." Panggil Arga tanpa mengalihkan tatapannya dari buku bersampul putih itu.
"Iya tuan." Kembali fokus ke jalanan.
"Buku ini cukup ampuh juga, dalam sehari aku bisa lebih dekat dengan Romisa." Ujarnya senang.
Tapi tuan tidak melihat tatapan kaget dan bingung dari mata Nona tadi.
"Iya tuan."
Sret...sret.
Arga membuka setiap lembaran kertas di buku itu, dan mulai membaca lagi dengan tatapan serius. Tampak dia berfikir sejenak kemudian menatap ke arah depan.
"Tang." Panggil Arga.
"Iya tuan." Sahut Tang dengan tetap fokus mengemudi.
"Setau saya hanya tanaman anggrek yang di sukai Nona Romisa, tidak ada hal lainnya lagi," timpal Tang santai.
"Hemm...," terjeda sejenak, Arga kembali membaca tulisan di buku itu. "Bukan anggrek saja yang dia sukai."
"Lantas apa lagi?"
"Sepertinya seekor singa juga termasuk hewan favorit Romisa." Celetuk Arga sembari membuka lembaran baru di buku.
Singa? Apa benar Nona Romisa yang terlihat feminim dan sederhana begitu, menyukai hewan buas itu? Rasanya sulit di percaya.
Tang melirik kaca depan. "Apa tuan sudah memastikan terlebih dahulu, jika Nona menyukai seekor singa?" tanyanya memincing menatap nyelidik.
Arga mengangguk yakin. "Setiap dia tertidur selalu menyebutkan nama nya di sela igauan, itu artinya dia sangat menyukai hewan singa."
Benarkah? Rasanya aku masih tidak percaya tuan.
Sekertaris Tang kembali menatap lurus ke depan. "Lalu... apakah tuan berniat membeli seekor singa untuk Nona?" tanya Tang terdengar jelas sedikit keraguan dari nada suara nya.
__ADS_1
"Iya Tang." Balas Arga yakin.
Hah! Kedua mata Tang sedikit melebar, sampai pegangan tangan di stir mobil mecengkram kuat.
Apakah tuan ingin menjadikan Mona makanan singa itu. Dimana otak berpikir tuan. Sadarlah tuan...
"Ekhem. Ekhem." Tang berdehem untuk menetralkan keterkejutan nya.
"Tuan, apa tidak terlalu berbahaya membelikan seekor singa untuk Nona?" Dengan suara penuh kehati-hatian Tang bertanya.
Hah... Arga menghela napas pelan, menatap ke depan.
"Tang! Itu adalah hewan favorit nya, jadi Romisa akan lebih tahu bagaimana menghadapi hewan buas itu. Aku yakin Romisa akan sangat bahagia jika aku membelikan hewan favorit dia. Buktinya dengan membelikan anggrek hitam saja, dia sampai terus tersenyum bahagia." Kekeh Arga masih dengan pendapatnya.
Tapi mana mungkin Nona menyukai hewan buas itu. Apa tidak ada lagi hewan yang lebih cantik untuk di favorit kan kenapa harus singa, Nona.
Tang kembali melirik kaca depan. "Tapi tuan-"
Plak.
"Tang!" Peringatan tak mau di bantah, Arga menepuk keras sebelah pundak Tang sehingga dia yang hendak menyangkal jika Romisa tidak menyukai seekor singa itu terhenti, dan menghembuskan napas pasrah menatap kembali ke jalanan.
Nona, semoga Nona bisa menjinakkan singa itu? Dan semoga saja hewan buas ini benar-benar hewan favorit Nona seperti yang di katakan tuan.
"Sudah lah aku tak perlu pendapat mu. Kau belikan saja satu ekor singa. Dan buatlah kandang nya di halaman belakang. Aku ingin melihat Romisa terkejut dengan hadiah yang ku berikan." Ujar Arga lalu tersenyum membayangkan jika Romisa memuji hadiah yang di berikan nya.
"Ba-baik tuan." Jawab ragu Tang.
"Dan ingat Tang, belikan singa yang terbaik dan sudah jinak. Aku ingin hari ini juga singa itu sudah ada di kandang nya," tegas Arga memperingati.
Jelas saya akan mencarikan yang jinak, tuan. Saya hanya takut jika Nona akan di lukai.
"Baik tuan," jawab Tang.
Arga merebahkan kepala ke senderan kursi. Lalu ia memejamkan mata. "Aku tidak sabar melihat senyuman indah Romisa terkejut akan hadiah yang ku berikan," gumamnya di sertai senyuman bahagia mengembang di bibir tipisnya.
Hah... Tang menghela napas pelan, menggeleng kecil beberapa kali dan fokus mengemudi.
BERSAMBUNG....
__ADS_1