Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
38


__ADS_3

Misa terbangun dari tidurnya saat merasakan rasa ruam di punggung, tangannya menggapai-gapai bergerak untuk menggaruk namun tak sampai.


"Susah sekali sih, gatel banget," gumam Misa dengan mata masih terpejam.


Arga ikut terbangun saat merasakan pergerakan dari orang yang ada dalam pelukannya. Dia menunduk untuk melihat ke bawah dan terlihatlah Misa yang sedang berusaha menggaruk belakang punggungnya. Ada senyuman kecil dari bibirnya.


Arga mengusap rambut Misa dengan lembut. "Bangunlah," titahnya pada gadis yang sudah menggeliat ke kiri ke kanan.


Misa mengerjapkan perlahan, bola mata nya terbelalak kaget menyadari posisinya yang berpelukan dengan Arga.


Aku terbangun dengan posisi seperti ini lagi. Memalukan sekali...


Arga tersenyum melihat rona merah di pipi Misa yang menandakan rasa gugup. "Bangunlah."


Misa menurut, bergerak menyamping lalu bangkit dan langsung duduk. Arga ikut bangkit dari tidurannya dan duduk di belakang tubuh gadis yang terduduk itu.


Perlahan Arga menyingkap rambut panjang yang tergerai itu untuk di selip kan ke arah depan, lalu ia meraih gantungan kecil di resleting bagian belakang punggung berniat akan membukanya.


Namun Misa terjengkat kaget, dan dengan gerakan cepat waspada ia langsung membalikkan badannya membelok ke belakang.


"Sua...miku apa... apa yang akan kau lakukan?" tanya Misa mencengkram kuat bagian depan baju, menatap waspada bercampur takut.

__ADS_1


"Mengoleskan obat." Arga menjawab dengan santai, lalu ia memegang kedua bahu Misa dan memutar kembali badan itu agar menghadap ke depan.


"Tapi... tapi-"


Sreet.


Ucapan Misa menggantung saat Arga dengan seenaknya membuka dengan gerakan pelan resleting bajunya.


Seketika tubuh Misa langsung kaku, bergetar panas menjalar keseluruh kulitnya.


"Tenanglah," ucap Arga lembut, ia mengelus pundak gadis itu agar membuatnya tenang. Namun salah, hal itu justru membuat Misa semakin bergetar hebat dan kaku.


Apa yang di lakukan si singa? Dan apa yang ku lakukan?


Setelah cukup di oleskan, ia kembali merapihkan pakaian Misa seperti semula dan pada saat hendak menutup resleting. Tiba-tiba Arga memajukan kepalanya dan menundukkan kepala, ia memberikan kecupan lembut di bahu Misa yang terbuka.


Dan hal itu lagi-lagi membuat Misa terlonjak kaget.


Ap-a itu tadi? Ada yang basah menempel di bahu ku.


Setelah selesai merapihkan baju. Arga memutar tubuh Misa yang masih sangat kaku, untuk menghadap ke arahnya.

__ADS_1


"Cepatlah sembuh," ucap Arga lembut, menangkup kedua pipi wajah mungil itu lalu kembali menghadiahkan kecupan di kening Misa.


Misa terbelalak tak berkedip, dengan pandangan tertunduk kaku. Jantungnya sudah sangat berdetak cepat juga tubuhnya terasa semakin panas.


Aku... aku harus kabur, iya harus kabur. Sebelum si singa berbuat lebih lagi.


"Anu...sua..miku, sep... perti nya, aku... aku belum shalat," terbata Misa, dan tanpa mau mendengar jawaban dari pria di hadapannya.


Sreet... Dugh.


Dia meloncat dari ranjang lalu berlari terbirit ke arah pintu kamar mandi, Misa sudah tidak memperdulikan pusing dan ruam yang di rasakannya.


Melihat tingkah Misa, seketika Arga berteriak. "Romisa hati-hati, kau sedang sakit!" Sehingga suaranya menggema di dalam ruangan.


Setelah beberapa lama kemudian.


Pria tampan itu masih mengulas senyuman di bibir saat mengingat kembali reaksi tubuh Romisa yang di sentuhnya. "Benar benar polos," gumam Arga pelan.


Lalu ia beranjak melangkah hendak ke kamar mandi, namun langkahnya terhenti karena tidak mendengar suara air dari dalam kamar mandi. Dia berbalik melangkah ke arah pintu ruang ganti dan perlahan membuka pintu nya, yang menampilkan Misa tengah melaksanakan shalat dzuhur. Arga menutup kembali pintu itu lalu melangkah ke kamar mandi.


"Agar aku pantas menjadi Imamnya," gumam Arga sambil membuka air keran di tempat terpisah dari tempat mandi.

__ADS_1


Selesai mengambil wudu ia kembali ke ruang kamar dan mulai menggerakkan anggota tubuh nya untuk melaksanakan shalat dzuhur.


BERSAMBUNG...


__ADS_2