
Arga dan romisa masih betah bersantai di dalam kamar. Misa masih asyik membaringkan tubuh nya di atas kasur dengan sebuah buku dalam pegangan tangan, sedang arga senang mengganggu misa dengan sesekali menggoda nya.
"Tuan.." panggil Tang dari luar kamar.
"Romisa pakailah kerudung mu," titah Arga pada romisa sambil mengambil kan kerudung misa yang berada di atas kursi kecil.
Misa menurut menerima kerudung yang di sodorkan arga lalu memakai nya.
"Tuan.." panggil Tang lagi.
"Masuk," ucap Arga setelah melihat misa memakai kerudung nya dengan rapih.
Sekertaris Tang memasuki kamar arga dan berdiri tidak jauh dari ranjang. Tang menunduk hormat ke kedua nya lalu menatap arga.
Sekertaris kaku ini memakai parfum apa yah. Kenapa wangi nya sangat harum dan menenangkan.
"Ada apa Tang?" tanya Arga dengan nada tegas.
"Tuan, bisakah kita bicara empat mata?" ucap Tang melirik misa yang kebetulan misa sedang menatap Tang.
Kenapa harus empat mata emang mau membicarakan apa sih. Sampai harus empat mata.
Arga menghela napas nya pelan lalu melirik misa.
"Romisa, tidak apakah kau ku tinggal sebentar?" tanya Arga sambil mengusap puncuk kepala misa.
Misa membalas tatapan arga lalu mengangguk pelan.
"Tidak apa suamiku."
Arga mengecup lembut kening misa lalu turun dari ranjang nya dan menghampiri Tang.
"Suamiku.." panggil Misa menghentikan langkah kaki arga.
"Iya romisa?" tanya Arga setelah diri nya menoleh pada misa.
Dengan gerakan ragu ragu, misa menatap sekertaris Tang dan arga bergantian.
"Em...anu..bisakah sekertaris Tang dan suamiku di sini sebentar saja?" pinta Misa pelan.
Seketika raut wajah arga yang semula tersenyum berubah menjadi dingin dan senyuman nya memudar.
"Ekhem.. ada apa nona? Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Tang menatap misa, dan Tang tidak melihat wajah arga yang sudah menggelap tersulut emosi.
__ADS_1
"Anu...sekertaris Tang .." ucap Misa menggantung, karena arga dengan tegas nya menyela ucapan misa lalu menghampiri ranjang misa kembali dan duduk di sisi ranjang dekat misa.
"Romisa.. jika kau membutuhkan sesuatu pintalah pada pengawal mu. Karena aku akan menugaskan pengawal mu selalu bersama mu ketika aku tidak ada di sisi mu," tutur Arga sambil menangkup sebelah sisi wajah misa dengan kedua tangan nya, namun misa masih menundukkan pandangan nya.
Dengan tatapan ragu misa menatap arga.
"Suamiku..aku..aku.. hanya ingin mencium parfum yang di pakai sekertaris Tang. Jadi izinkan dia di sini sebentaaar saja," pinta Misa memelas membuat arga semakin geram.
Arga menarik misa ke dalam pelukan nya agar misa tidak melihat raut wajah nya yang sudah merah tersulut emosi. Lalu arga menatap tajam ke arah Tang.
"Romisa. Aku bisa memakai parfum Tang jika kau menyukai parfum nya. Tp tidak harus menyuruh Tang berada di sini terus bersama mu. Aku tidak mengizinkan nya," ucap Arga dengan nada tegas. Ada nada tidak suka di dalam ucapan nya.
Nona kenapa harus melibatkan saya. Bisa habis saya di amuk tuan gumam Tang dalam hati.
Sedang sekertaris Tang yang menjadi bahan pembicaraan nya hanya diam dan terpaku melihat kedua nya.
"Tapi suamiku..." Misa hendak berbicara namun ucapan misa terhenti.
"Romisa..." sela Arga menyela ucapan misa dengan nada suara cukup tinggi sehingga membuat misa tersinggung dan terenyuh hati nya.
Kenapa kau berteriak seperti itu singa.. aku juga tidak tahu. aku hanya ingin mencium aroma parfum nya s sekertaris kaku mu itu. bukan berarti aku ingin dia ada di dekat ku.
"Hiks...hiks.." Misa menangis tersedu di dalam dekapan arga membuat arga terkejut, lalu melepaskan pelukan nya dan menatap wajah misa yang sudah berlinang air mata.
Misa mengangguk pelan lalu melirik sekertaris Tang yang masih berdiri kaku.
"Suamiku..bolehkah a..ku me..minta sesuatu," terbata Misa dengan suara serak setelah tangisan nya reda.
Arga kembali mengusap lembut pipi misa dan mengecup kedua mata misa.
"Pintalah romisa. Kau menginginkan apa?"
"Bisakah kau memakai jas nya sekertaris Tang. Aku ingin mencium aroma parfum nya," pinta Misa dengan nada suara lemah.
Arga menghela napas nya kasar dan masih menatap misa.
Seperti nya dia tidak mau. Baiklah aku hanya bisa meminta cesa untuk membelikan parfum yang sama seperti sekertaris Tang nanti.
Misa menurunkan tangan arga yang masih menangkup wajah nya. Lalu misa menatap arga dengan tatapan sendu.
"Suamiku..jika tidak bis..." ucap Misa namun terpotong oleh arga.
"Tang!" tegas Arga melirik sekertaris Tang tajam.
__ADS_1
Sekertaris Tang melirik misa dan arga secara bergantian lalu menghela napas nya pelan.
"Baik tuan," balas Tang lalu dengan gerakan pasrah melepaskan jas nya.
Tang berjalan mendekati arga dan misa lalu sekertaris Tang memberikan jas nya ke arga.
"Kau boleh keluar, nanti ku menyusul," titah Arga setelah diri nya menerima jas.
"Baik tuan," Tang menunduk hormat lalu berjalan keluar kamar.
Sepeninggalan sekertaris Tang.
"Romisa ... kau ingin aku memakai nya?" tanya Arga pelan sambil mengusap wajah misa.
Misa mengangguk semangat dan tersenyum.
Kenapa rasa nya aku bahagia sekali dia mau menuruti permintaan ku.
Melihat misa tersenyum dengan mata berbinar. Arga memakai jas kerja nya Tang yang memang sangat pas di badan nya.
"Bagaimana kau senang romisa?" tanya Arga setelah diri nya memakai jas tersebut.
Misa mengangguk pelan, dan tiba tiba misa langsung berhambur memeluk arga dan mengendus aroma parfum di jas nya Tang.
Arga tersenyum senang dengan sikap misa yang tiba tiba. Lalu membalas pelukan misa dan arga mengecup puncuk kepala misa dengan bertudi tubi karena senang melihat misa bahagia.
Aku rela memakai baju Tang seharian. Jika hal ini membuat mu selalu bersikap seperti ini terus terhadap ku romisa.
"Kau ingin tidur romisa. Biar aku temani," ucap Arga di sela usapan lembut di kepala misa.
Misa mengangguk pelan dalam pelukan arga.
Mendapat anggukkan kepala misa sebagai jawaban iya dari misa. Arga menghalau tubuh misa agar terbaring menyamping karena misa masih erat memeluk tubuh nya.
Rasa nya nyaman sekali aroma ini. Sangat menenangkan. Membuat ku jadi mengantuk.
Lama arga mengusap lembut kepala misa sambil ikut terbaring memeluk tubuh misa seakan akan arga sedang menidurkan anak balita dalam kelonan ibu nya.
Selang beberapa lama pelukan tangan misa yang berada di pinggang nya mulai mengendur, dan hembusan napas misa teratur menandakan misa telah tertidur pulas
Dengan gerakan yang sangat hati hati arga melepaskan pelukan tangan misa di pinggang nya dan akhirnya terlepas.
Arga turun dari ranjang. Lalu menyelimuti dan mengecup lembut cukup lama kening misa lalu arga berjalan ke arah pintu keluar untuk menyusul Tang.
__ADS_1
BERSAMBUNG...