
Tiga hari telah berlalu.
Selama masa pemulihan itu Misa di repotkan terus oleh sikap Arga yang selalu berubah-ubah kadang baik nan lembut terkadang sikap penuh perintahnya kembali menguasai Arga.
Di pagi hari ini. Misa sudah bersiap dengan seragam guru untuk kembali mengajar di sekolah SMA pelita.
Saat ini gadis cantik itu, tengah sarapan di meja makan bersama Arga juga kedua adik ipar nya.
Syila bangkit dari duduknya mencondongkan tubuh ke arah depan dan meraih tangan Misa sehingga pergerakan Misa yang sedang menyuapkan makanan terhenti. Dia menelisik memeriksa tangan itu.
"Kakak ipar yakin akan kembali mengajar? Lihat lah bercak merah di tangan Kakak ipar aja belum sembuh total masih ada titik-titik gitu," tanya Syila.
"Iya yakin Syila, lagian kan izin nya udah 3 hari," jawab Misa tenang.
"Syila! Kakak ipar mu sedang sarapan, jangan di ganggu," tegas Arga yang melihat sarapan Misa terganggu.
Syila mendengus kesal. "Syila." tegas Egi lagi menyetujui ucapan Arga.
"Humph...," dengus Asyila melepaskan pegangannya di tangan Misa lalu duduk kembali.
"Syila, kakak nggak ngerasa terganggu kok dengan mu, malahan senang mendapat perhatian dari Syila," ucap Misa menenangkan saat melihat gadis cantik itu mulai memberenggut kesal.
Seketika wajah Syila berbinar, ia menatap kedua kakanya dengan tatapan meledek penuh kemenangan. Namun yang di ledek hanya membalasnya acuh tak acuh dan malah menatap dingin ke arah Misa.
Eh, apa aku ada salah bicara? Misa meneruskan menyendok makanannya dengan sikap canggung menunduk.
Sarapan di meja makan telah selesai, Misa berjalan beriringan dengan Arga menuju pintu masuk utama untuk keluar rumah itu. Bi Ane juga ikut mengekori keduanya. Sedang kedua Adik ipar sudah berangkat menaiki mobil nya masing-masing pergi ke sekolah.
Di depan rumah sudah terparkir dua mobil hitam, dan salah satu nya mobil yang di pakai Misa dengan Cesa berdiri di sampingnya.
"Hati-hati suamiku," ucap Misa yang sudah mengantar Arga di depan teras rumah.
Sekertaris Tang sudah membukakan pintu mobil penumpang untuk Arga.
Arga mengusap lembut puncuk kepala Misa lalu berbalik menuju mobil dan masuk ke dalamnya.
Blam.
Sekertaris Tang menutup pintu mobil penumpang, kemudian ia berjalan ke arah mobil Misa dimana Cesa berdiri tegap di samping mobil.
Tampak Tang sedikit mendekatkan diri berbicara pada Cesa yang menundukkan kepala mendengarkan ucapannya.
Alis Misa berkerut, menatap penasaran kemudian ia menghampiri mereka.
"Sekertaris Tang. Apakah tidak akan terlambat jika mengobrol lama?"
__ADS_1
Seketika Sekertaris Tang menoleh.
"Baiklah saya permisi Nona, hati-hati di jalannya." Dia menunduk hormat, memberi tatapan tajam pada Cesa sejenak lalu berlalu ke arah mobil Arga.
Setelah kepergian mobil Arga.
Cesa membukakan pintu mobil penumpang depan dan mempersilahkan Misa untuk masuk. "Silahkan Nona."
"Terimakasih Cesa." Misa masuk ke dalam mobil dan terduduk di kursi penumpang depan.
Begitu pun Cesa ikut menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Kini mobil itu sudah bergerak di jalanan kota dengan kecepatan sedang.
"Nona, maafkan saya tidak menjenguk selama Nona sakit," ucap Cesa dengan nada bersalah.
"Tidak apa-apa Cesa, sekarang kan saya sudah sehat. Justru saya sangat khawatir ketika tidak melihat mu saat hari itu, karena perasaan saya tidak enak juga melihat kejadian janggal, di hari itu bi Ane kaki nya mendapat memar. Saya takut itu adalah kesalahan saya yang ceroboh." Ujar Misa tenang.
"Bukan kesalahan Nona, tapi memang itu kesalahan kami Nona, yang tidak berhati-hati."
Misa melirik ke samping menatap menyelidik sedikit memicingkan mata nya. "Apa yang di lakukan Sekertaris Tang padamu Cesa?"
"Ah," terlonjak menatap lurus ke depan dengan kedua tangan mencengkram kuat stir mobil. "Tid-Tidak melakukan apa-apa Nona, sa-saya baik-baik saja," ucap Cesa ada nada gugup juga takut dari nada suaranya.
"Benarkah?" tanya Misa tidak percaya.
"Ekhem." Menetralkan sikap agar terlihat tenang dan tegas. "Iya Nona." Ucapnya menatap lurus ke jalanan.
"Maafkan saya Cesa, jika saya melakukan kesalahan yang di tumpahkan ke padamu hukumannya," ucap Misa dengan nada bersalah tertunduk sedih.
"Tidak perlu minta maaf Nona, karena memang sudah tugas saya yang harus menjaga dan melindungi Nona segenap jiwa saya, jadi Nona jangan berkata seperti itu atau merasa bersalah." Ujar Cesa sambil melirik sekilas ke Misa dan tersenyum tenang.
"Makasih Cesa." Misa menatap hangat juga membalas tersenyum.
Mobil yang di tumpangi Misa telah memasuki area sekolah, Cesa dengan lihai memutar stir mobil untuk memarkirkan di tempat yang aman.
Seperti biasanya untuk tidak menuai kecurigaan dari orang sekitar. Misa keluar mobil terlebih dahulu dan tidak di buka kan pintunya oleh Cesa.
Keduanya berjalan beriringan untuk menuju kantor guru.
"Cesa, selama saya sakit apakah kamu mengajar ke sekolah?" tanya Misa di sela langkah kaki.
"Tidak Nona." Jawab singkat Cesa.
Misa menghentikan langkahnya, ia meraih tangan Cesa untuk di pegangnya.
"Cesa, kalau di lingkungan sekolah panggil saya Bu Misa, Bu Misa," tegas Misa dengan mendekatkan diri berbisik ke telinga Cesa sehingga jarak keduanya saling berdempetan.
__ADS_1
"Ba-baik No- eh maksud saya Bu Misa." Terbata Cesa karena gugup.
"Ekhem." Pak Dani yang berada di belakang. Seketika membuat ke duanya terjengkat dan berbalik.
"Eh, Pak Dani." Celetuk Misa setelah melihat siapa yang berdehem tadi.
"Sedang bisik-bisik apa Bu Misa?" tanya Pak Dani menatap menyelidik.
"Buk-bukan apa-apa pak," jawab Misa tergagap.
Dani tersenyum menatap hangat. "Bu Misa bagaimana keadaannya? Maafkan saya tidak bisa menjenguk. Saya ingin menjenguk Bu Misa hanya saja...," terjeda sejenak, melirik ke arah Cesa. "Saya tidak tahu rumah baru Bu Misa dan tidak ada yang mau memberitahukannya meskipun bertanya berulang kali."
"Alhamdulillah sehat pak, tidak apa-apa lagian saya hanya terkena alergi saja."
"Bu Misa, mari ke kantor, sepertinya bell waktu mengajar sudah berbunyi," ucap Cesa mengalihkan.
Misa menoleh dan mengangguk mengiyakan. "Baiklah, saya permisi Pak Dani. Assalamualaikum," salam Misa berbalik meninggalkan.
"Walaikumsalam." Selalu seperti ini ujungnya...
Di Kantor Guru.
"Misaa... bagaimana keadaan mu?" Teriakan suara cempreng Rina menggema di ruang kantor untung dalam ruangan itu hanya ada beberapa orang karena sebagian guru-guru sudah pergi mengajar.
Rina memutari badan Misa untuk memeriksa memidai.
"Rina... aku baik-baik saja, jangan seperti itu, malu di lihatin guru lain," ucap Misa menghentikan gerakan Rina.
Rina tersenyum cengengesan. "Habisnya aku khawatir Misa.. dan lagi dia." Tunjuknya kesal ke arah Cesa. "Kenapa ketika kamu sakit malah ikutan izin. jadinya kan aku tidak tahu rumah baru mu di mana."
Sedang Cesa yang di todong dan di tatap seperti itu masih berwajah tenang.
"Eh, itu karena Cesa merawat ku selama sakit. kamu tahu kan aku tidak punya keluarga." Alasan Misa.
"Iya sih... tapi kan kamu juga bisa telepon aku jika butuh apa-apa." Kata Rina berapi-api.
"Sudah Rina, yang terpenting aku baik-baik saja. Lebih baik kita bersiap untuk mengajar. Sudah masuk pelajaran pertama lho, kamu ada kelas pagi kan?" Mengalihkan pembicaraan dan menggiring Rina ke meja nya.
Rina mengangguk kecil. "Baiklah, aku akan mengajar dulu Mis. kita lanjutkan lagi nanti temu kangennya." Gadis itu mengambil beberapa buku ajar dari atas meja.
Yang hanya di balas anggukkan kepala oleh Misa.
"Duluan yaa Mis, soalnya kelas yang ku ajar sekarang di lantai atas, Assalamualaikum," Sambung Rina dan berlalu pergi.
Misa mengangguk. "Walaikumsalam."
__ADS_1
BERSAMBUNG...