Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
52


__ADS_3

Di sekolah SMA Pelita.


Misa, Rina dan Cesa sedang berjalan di lorong kelas, dekat pinggiran lapangan basket. Mereka bertiga baru saja habis menikmati waktu istirahat di kantin.


Ketiganya tampak bercengkrama mengobrol asyik di sela langkah kaki nya sehingga tidak memperhatikan sekitar.


Tiba-tiba sebuah bola basket dari para pemain basket terlempar jauh dan mengarah ke Misa. Namun belum bola basket itu akan mengenai kepala Misa tiba-tiba ada orang yang menghadang tubuh Misa sehingga...


Dugh.


Bola itu terbentur sangat keras ke belakang kepala orang tersebut.


"Pak Dani!" Kaget Rina melihat pria berseragam guru sudah terjatuh lunglai ke teras di hadapan Misa. Rina langsung berhambur ke arahnya.


Sedang Misa dan Cesa masih mematung kaget dengan tatapan melebar terpaku diam.


Rina memeriksa keadaan pria yang terkapar itu. "Misa cari bantuan! Pak Dani pingsan." Titahnya panik.


"Ah, i-iya." Gelagap Misa lalu berbalik ke arah para murid. "Anak-anak tolong panggil anggota PMI pria dan bawakan tandu untuk membawa Pak Dani ke UKS." Ujar Misa pada sekerumpulan murid yang sedang mengerubungi mereka.


"Ba-baik Bu." Sahut salah satu murid sambil lalu berlari tergesa.


Dan tidak lama kemudian ada beberapa siswa anggota PMI sekolah membawa tandu lalu membopong tubuh lemas Pak Dani ke atas tandu untuk di bawa nya ke ruang kesehatan sekolah.


Sedangkan Misa karena merasa bersalah penyebab pria itu pingsan akibat menolongnya. Ketiga gadis tersebut mengikuti orang-orang yang membopong tubuh Pak Dani.


Setelah di ruang kesehatan.


Pak Dani di pindahkan di ranjang rawat, dan langsung di tangani untuk di periksa oleh dokter kecil UKS.


Sementara Misa menunggu di kursi tunggu yang tidak jauh dari ranjang rawat.


"Misa gimana ini? Aku ada kelas. Sepertinya aku akan mengajar tidak bisa menemani mu," ucap Rina melihat jam yang melekat di pergelangan tangan nya.


"Tapi Pak Dani gimana Rin?" tanya Misa.


"Kamu kan nggak ada kelas temani saja dulu sampai sadar," ucap Rina sambil berdiri dari duduknya.


"Tapi...tapi Rin."


"Udah gak apa, kamu di sini dulu. Aku mengajar dulu yah. Assalamualaikum." Pamit Rina lalu berlalu meninggalkan Misa juga Cesa yang masih duduk di kursi tunggu.


"Walaikumsalam." Sahut Misa lemah dan mendesah sebal. Dia melirik ke arah Cesa yang berada di samping kiri nya.


"Cesa, kamu nggak ada kelas kan? Bisakah menemani saya di sini." Pinta Misa.


"Baik Nona, meskipun ada kelas juga saya harus tetap menemani Nona."


"Terimakasih Cesa," tersenyum lega.


"Sudah seharusnya Nona, karena saya di sini memang untuk melindungi dan menjaga Nona."


Dokter kecil UKS sudah selesai memeriksa Pak Dani. Dia menghampiri kedua gadis cantik itu.


"Tidak ada luka serius Bu Misa, hanya benturannya tepat di belakang kepala sehingga membuatnya pingsan seketika, tunggu saja sampai sadar." Jelas dokter kecil itu yang di balas angguk kan kepala oleh Misa.

__ADS_1


"Baiklah. Terimakasih dek."


"Iya Bu, kalau begitu saya permisi Bu Misa, Bu Cesa. Assalamualaikum." Pamitnya sambil lalu.


"Walaikumsalam," balas Misa.


Dokter kecil itu keluar dari ruang kesehatan yang menyisakan tiga orang di dalamnya sedang satunya tidak sadarkan diri.


Misa berpindah duduk di kursi tunggu pasien yang berada tidak jauh di samping ranjang, sedang Cesa berdiri di sampingnya tampak sibuk dengan ponsel.


Perlahan mata Pak Dani terbuka, ia melihat sekitarnya dan pandangannya jatuh pada sesosok gadis cantik terduduk di kursi.


"Pak Dani sudah sadar?" tanya Misa melihat ada pergerakan dari pria itu.


Pria itu terlihat pucat, mengangguk pelan dengan tatapan sayu nan hangat.


"Bu Misa tidak apa-apa. Ada yang terluka?" Tanyanya.


"Saya tidak apa-apa Pak Dani, justru Bapak yang pingsan. Maafkan saya gara-gara saya Bapak jadi ada di sini karena menolong saya," ucap Misa menunduk merasa bersalah.


"Sudah sepantasnya saya menolong mu, Misa." Gumam Pak Dani pelan yang terdengar samar oleh Misa.


Eh, dia ngomong apa tadi kurang ke dengeran?


"Pak Dani mau minum?" Tanya Misa.


Pria itu mengangguk kecil. "Boleh."


Sebelum tangan Misa bergerak, Cesa dengan sigap mengambilkan air minum itu di atas nakas lalu memberikannya pada pria tersebut.


"Karena Pak Dani sudah sadar dan terlihat sudah membaik. Sepertinya saya akan kembali ke kantor."


"Bisakah Bu Misa di sini temani saya sebentar?" Pinta Pak Dani setelah mengembalikan gelas kosong yang di terima oleh Cesa.


Jika aku menolaknya akan tidak enak, sedangkan dia seperti ini juga karena menolong ku.


Misa tampak termenung sejenak. Dia mengangkat wajahnya menatap dan mengangguk tipis.


"Baiklah." Jawab Misa pelan namun masih terdengar jelas oleh pria itu, sehingga menciptakan senyuman bahagia di bibir Dani.


"Cesa duduk lah di samping saya." Pinta Misa melirik ke gadis cantik di sampingnya yang sedari tadi berdiri menjadi pengamat.


"Baik Bu Misa." Cesa menurut mengambil kursi lalu duduk di samping kursi Misa.


"Bu Cesa tidak ada kelas?" Tanya Pak Dani yang mempunyai maksud dari pertanyaannya.


"Ada." Jawab singkat Cesa dengan wajah dingin.


"Mengapa tidak mengajar?"


"Jika saya mengajar Bu Misa pun tidak akan ada di sini," tegas Cesa dingin.


"Kenapa?" tanya Pak Dani seakan tidak puas dengan jawaban Cesa.


"Pak Dani saya yang meminta Cesa menemani saya di sini menunggu Bapak sadar, karena saya tidak mau ada fitnah nanti nya jika dalam ruangan ini hanya kita berdua." Ujar Misa menjelaskan.

__ADS_1


Dani menundukkan kepala nya sejenak lalu mengangguk mengerti. Karena bagaimana pun Misa sangat menjaga kehormatan nya dengan baik pikir Pak Dani.


"Dan tenang saja Pak, saya sudah memberikan tugas kepada anak didik saya sebelum saya di sini," ucap Cesa menambahkan yang di balas anggukkan kepala lagi oleh Dani.


Dani menatap hangat ke arah Misa lalu tersenyum.


"Bu Misa sudah lama yaa kita kenal, tapi baru sekarang kita bisa duduk dan mengobrol seperti ini."


"Iya Pak." Balas Misa.


"Padahal dari dulu sejak pertama kenalan di bangku kuliah sampai sekarang, kalau di pikir-pikir saya tidak pernah berhasil mengajak Bu Misa untuk duduk mengobrol, dan sekarang saya mendapatkan kesempatan ini membuat saya bahagia," tutur Pak Dani lalu tersenyum.


"Pak Dani satu kuliahan dengan saya?" Tanya Misa bingung.


Dani mengangguk. "Malah sering satu kelas," jawabnya meyakinkan.


Misa mengkerutkan dahi nya bingung.


"Bukannya jurusan kita berbeda ya. Bagaimana bisa satu kelas?"


Pak Dani tertawa ringan.


Tidak ada yang tidak mudah bagi saya Misa, hanya mendapatkan hati mu yang sangat sulit bagi saya, dan wajar jika kamu tidak mengetahui saya berada di kelas yang sama.


"Kenapa tertawa Pak? Dan maaf sepertinya saya kurang mengingat ada mahasiswa bernama Dani yang berkenalan dengan saya," ucap Misa jujur.


Memang kamu tidak akan mengingatnya, karena waktu aku mengajak kenalan dengan mu hanya 1 kali itu pun tidak sengaja karena ku menabrak mu yang membawa setumpuk buku.


"Sudahlah tidak penting untuk di bahas." Ucapnya mengakhiri obrolan dan tersenyum tipis.


"Hmm... Baiklah. Tapi sekali lagi maaf Pak, bukan saya tidak mengingat teman seperjuangan kuliah, tapi memang saya baru mengenal Pak Dani itu sejak mengajar di sekolah ini."


"Tidak apa Bu Misa."


Karena aku terlalu pengecut tidak sanggup langsung berhadapan dengan mu. Hanya mampu mengamati dan mengikuti mu.


Cesa yang mengamati perubahan ekspresi dari wajah Dani langsung bisa menyimpulkan tentang perasaan Dani terhadap Misa. Dia menyukai Nona.


Sedangkan Misa masih berusaha untuk mengingat-ingat teman satu kuliahan dan satu kelasnya dulu, namun nihil dalam ingatan Misa tidak ada nama Dani dari daftar temannya.


Suara gema adzan dzuhur menghentikan pikiran Misa dan menambah kehangatan di ruang kesehatan itu.


"Alhamdulillah." Celetuk Pak Dani dan Misa serempak.


"Sudah adzan dzuhur, saya ke mushola dulu. Pak Dani sudah baikan kan? Mau ke mushola?" Tanya Misa yang di balas anggukkan kepala.


"Mari bareng Bu Misa ke mushola nya?" Tawar Pak Dani beranjak dari tiduran bersiap turun dari ranjang.


Misa melirik Cesa yang mendapat tatapan datar darinya. "Boleh, kan tujuan kita sama ke mushola." Sambil beranjak dari duduknya melangkah ke arah pintu keluar.


Pria itu turun dari ranjang rawat lalu berjalan mengikuti Misa dan Cesa.


Dani menatap dua gadis di hadapannya dengan tatapan tertuju pada gadis cantik yang menggaet lengan Cesa.


Misa sudah sejauh ini aku berjuang hanya untuk mendekati mu, tapi masih saja aku belum bisa mengatakan secara gamblang bahwa aku menyukai mu dan ingin memiliki mu. Entah Rasa nya bibir ku selalu kelu bila sudah berhadapan dengan mu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2