
Misa dan Arga memasuki pintu utama.
Keduanya berjalan beriringan dengan Arga masih setia melingkarkan sebelah lengan memeluk pinggang Misa. Sementara yang di peluk terlihat risih dengan kepala tertunduk malu karena sedari tadi mereka jadi pusat perhatian para pelayan, penjaga rumah dan sekertaris Tang yang membuntuti kedua nya.
Langkah kaki keduanya mengarah bukan ke jalan yang Misa kenal, bukan ke ruang makan juga bukan menuju sofa. Namun Arga menggiring gadis itu untuk mengikuti nya ke jalan menuju rumah belakang dan halaman belakang.
"Eh." Bingung Misa melirik sekitar yang sedikit asing di mata nya.
Kenapa dia membawa ku kemari? Apa dia akan menghukum ku karena tidak menyambut nya pulang atau ketahuan aku bersantai tanpa diri nya.
Dan pada saat ini, Misa dan Arga tengah berjalan di koridor yang menghubungkan teras belakang rumah utama dengan taman belakang. Tampak di halaman belakang itu ada rumah bertingkat dua untuk para pelayan tinggal, dan di sebelahnya ada lapangan yang sangat luas lengkap dengan sepeda berjejer rapih dekat dengan pohon rindang berjejer, selain itu di sebelah utara terdapat kolam renang yang berukuran besar juga kolam ikan dengan tanaman hijau di sekelilingi nya.
Di bibir Misa terulas senyuman tenang dengan sorot mata takjub.
Ternyata di halaman belakang ini sangat nyaman dan tenang. Hanya saja tidak ada taman bunga, tapi menurutku ini sudah cukup mengagumkan.
Dan senyuman itu tidak luput dari pengawasan mata Arga.
Arga mengusap lembut kepala Misa di sertai senyuman kecil nan senang, sedang gadis itu sudah tidak menghiraukan perlakuan nya. Misa memilih memidai sekitar nya yang menurut ia menyejukkan mata.
Tap...tap...tap.
Suara langkah kaki mereka terdengar menggema saat tengah berjalan di sebuah lorong yang tertutup rapat, mereka menuruni beberapa anak tangga masih berjalan santai.
Kreet.
Dua penjaga membuka kan pintu besi kembar yang menjulang tinggi. Seketika...
Brrr... hawa dingin menyergap tengkuk leher Misa saat ia di giring agar masuk ke ruangan yang tampak sedikit gelap dengan beberapa penjaga berjas rapih di sekitarnya.
Kenapa rasa nya bulu kuduk ku berdiri semua ketika pertama kali memasuki pintu itu? Dia... dia tidak akan memasung ku atau mengurung ku kan di tempat seperti ini?
Langkah kaki Arga dan Misa terhenti tepat di sebuah pagar yang menjulang tinggi dan lebar dengan tertutupi kain berwarna hitam tebal.
Misa mengernyitkan alis nya heran. Apa itu? Kenapa di tutupi kain hitam segala?
Arga menoleh pada gadis cantik di samping nya itu. Kemudian ia beralih dari semula hanya merangkul saja, kedua lengan kekar nya melingkar mengait di bahu dan perut Misa, memeluk gadis itu dari belakang.
Singa tidak bisakah kau bersikap seperti ini nanti jika di dalam kamar? Tubuh Misa sedikit kaku melirik lengan yang melingkar tersebut.
Wajah Arga mendekat hingga bibirnya menempel ke telinga. "Romisa, aku punya kejutan untuk mu." Ucapnya pelan nan serak.
Alis Misa tertaut penasaran dengan rona merah di kedua pipinya. "Ke-kejutan apa suamiku?"
__ADS_1
"Kau akan melihatnya." Arga tersenyum, lalu melirik sekertaris Tang yang berdiri di sampingnya memberikan isyarat mata.
Sekertaris Tang mengangguk kecil, memberikan isyarat mata ke arah para penjaga pagar.
Dan dengan gerakan pelan-pelan para penjaga di setiap sisi pagar besi itu menurunkan kain hitam yang menutupi pagar.
Dan betapa terkejut nya Misa saat melihat apa yang ada di balik kain hitam tersebut.
"Si-si-singa." Celetuk Misa melemah dengan kedua bola mata terbelalak melotot dan bibir ternganga, ia menatap kaku ke arah pagar besi itu, yang ternyata seekor hewan buas yang Misa takuti yaitu seekor singa jantan berbulu putih, sangat gagah dengan rambut mengembang dan sorot mata nya sangat tajam menatap ke arah gadis itu. Singa itu tampak tengah terduduk di sebuah hamparan rumput hijau yang luas di belakang nya.
Oh. Tidak! Kenapa dia membawa kembaran nya kemari? Inikah hukuman ku gara-gara tidak menyambut nya pulang. Atau aku akan di tumbalkan untuk di makan kembaran nya itu.
"Singaa." Celetuk Misa lagi masih membelalakan mata karena takut di tatap tajam oleh singa tersebut.
Grep... Gyut.
Misa mencengkram lengan Arga yang berada di bawah dagunya itu, ia mengeratkan cekalan tangan nya seiring tubuh bergetar hebat. Namun Arga memandang hal itu sebagai rasa bahagia Misa atas hadiah yang di berikan.
"Bagaimana, kau suka?" tanya Arga menciumi sebelah pipi Misa.
Suka dari mana nya singa... kau membawa kembaran mu kemari. Bagaimana aku menyukai nya.
"Sua-sua-sua-miku... si-si...nga nya." Terbata Misa karena lidahnya terasa kelu oleh rasa takut yang luar biasa di rasa nya.
"Romisa, ungkapkan saja rasa bahagia mu. Jangan sungkan," ucap Arga pelan dan kembali menghadiahkan kecupan di pipi Misa.
Bahagia dari mana singaa. Aku takut... aku sangat takut. Kenapa kau memberikan hadiah yang menakutkan seperti ini... ayah, bunda tolong Misaa...hiks... hiks. Si singa nggak akan mengumpan kan aku ke kembaran nya kan?
Misa yang masih mencengkram kuat lengan Arga refleks mengangguk pelan sedangkan sorot mata menatap lurus terpaku takut.
"Nona, singa putih ini sudah jinak dan sangat gagah. Apa Nona mau mencoba nya untuk memberi makan?" tanya sekertaris Tang bersuara yang sedari tadi hanya mengamati mereka berdua.
Misa melirikkan mata ke arah pria berjas rapih itu. Memberi makan atau mau menumbalkan aku sebagai umpan nya sekertaris kaku.
"Tang." Peringatan Arga menatap sekertaris Tang tidak suka karena mengajak gadis itu berbicara dalam kadaan Arga sedang asyik berdua dengan Misa.
Sekertaris Tang seakan mengerti tatapan itu, ia melangkah mundur untuk memberikan ruang bagi mereka berdua.
"Romisa." Panggil Arga pelan di telinga.
Roarr... Roarr... Graarr... Graarr... Aum. Suara singa jantan itu mengaung dengan tatapan masih menatap tajam ke arah Misa.
Brrr... seketika tubuh Misa kembali bergetar hebat, ia mengalihkan pandangan tertunduk.
__ADS_1
Singaa kembaran mu menatap ku terus. Dia ingin memakan ku singaa... lihatlah suara nya mirip dengan mu dan tatapan nya juga. Singa tolong aku ayah, bunda.
Kemudian gadis itu membalikkan badan nya dengan cepat. Dan...
Grep.
Misa memeluk tubuh Arga dengan sangat erat. Sehingga hal itu membuat Arga terperanjat kaget, namun ada senyum bahagia terlintas di bibir nya dan kilata mata nya menandakan kebahagaiaan yang tak terkira.
Arga tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia balas memeluk tubuh Misa tak kalah erat dan mengusap kepala Misa dengan lembut di sertai menghadiahkan kecupan berulang di puncuk kepala terbalut kerudung itu.
Romisa, segitu bahagia nya kau, ku beri kejutan ini. Sampai kau berinsiatip memeluk ku duluan.
Misa masih memeluk erat tubuh Arga karena singa putih itu masih saja mengaung keras. Sedangkan Arga masih menganggap gadis cantik itu tengah di liputi rasa bahagia atas kejutannya.
Ya tuhaan. Apa salah ku singa, kenapa kau memberiku kejutan seperti ini... hiks hiks.
Misa memberanikan diri, dengan gerakan pelan dan kaku mendongakkan kepala menatap Arga lalu melirik sekertaris Tang yang ada di belakang sang suami.
Arga menunduk menatap Misa hangat.
"Romisa, biarkan hewan peliharaan mu itu istirahat. Cukup sampai disini dulu kau bermain dengannya." Dia mengecup puncuk kepala Misa lagi.
Dia bilang apa? Singa putih itu akan jadi hewan peliharaan ku? Apa dia sudah tidak waras. Dengan mengurus diri nya saja aku sudah hampir sakit mental. Di tambah lagi dengan kembaran nya. Ya tuhaaan.. cobaan apa lagi ini.
Misa mengangguk pelan mengiyakan. Lalu melepaskan pelukan nya di punggung Arga. Namun Arga kembali menarik tubuh gadis itu untuk di peluk pinggang nya dengan sebelah lengan.
"Tang!"
"Iya tuan."
"Tugaskan mereka untuk merawat dan beri makan singa itu, aku akan kembali ke rumah utama," titah Arga.
"Baik tuan."
Arga dan Misa berbalik melangkah pergi menuju pintu keluar, meninggalkan kandang singa itu dan sekertaris Tang juga para penjaga di sana.
Sekertaris Tang menatap dua sejoli itu pergi menjauh. Dia menggeleng kecil beberapa kali.
"Tuan... tuan... jelas-jelas saya lihat di mata Nona itu bukan kebahagiaan yang di tunjukkan nya melainkan rasa takut. Dan ketika Nona memeluk tuan itu. Saya melihat nya, sorot mata itu menandakan ketakutan yang luar biasa. Kenapa tuan bisa berpikir jika singa ini adalah hewan kesukaan Nona."
Tang menghela napas panjang, mengedikkan dagu ke arah para penjaga di sana untuk mengeluarkan daging santapan singa.
BERSAMBUNG....
__ADS_1