
Bibi Lara saat ini telah terduduk di sofa panjang yang berada di ruangan Arga. Dia menunggu keponakannya keluar dari kamar istirahat.
Sedangkan sekertaris Tang sedari tadi berdiri tegap di samping sofa tunggal, dengan menunjukkan wajah dingin namun sesekali ia melirik arloji di pergelangan tangan.
Ceklek.
Pintu ruangan istirahat terbuka, memunculkan Arga dengan penampilan karisma nya tidak seperti saat sekertaris Tang lihat sebelumnya.
Arga berjalan dengan elegan ke arah sofa tunggal dimana ada Tang berdiri di sana, ia duduk di sofa itu tidak jauh bersebrangan dengan sofa yang di duduki Bibi Lara.
Pria tampan itu menatap dingin ke arah wanita paruh baya sebrangnya, tanpa bersuara atau pun tersenyum.
Dan Lara yang mengerti akan maksud tatapan mata Arga, dia dengan penuh percaya diri dan kesombongan. Bibi Lara meletakkan ponsel di atas meja kemudian ia menegakkan bahu dan menatap Arga.
"Bibi kesini ingin memberitahu mu, dan membuka mata mu Arga. Keponakan Bibi tersayang, lihatlah istri mu yang tengah berselingkuh dengan adik mu Egi. Dia bahkan berselimut berdua di dalam mobil." Ujar Lara, menunjuk ponsel yang di letakkan tadi dengan lirikan mata yang jeli.
Kening Arga sedikit mengkerut, lalu ia melirik Tang yang berdiri di samping sofa nya.
Seakan Tang mengerti dengan lirikan tuannya. Dia mengambil ponsel itu lalu menyalakan yang langsung menampilkan foto Misa dan Egi keluar dari mobil bersama-sama, selain itu terlihat ada selimut teronggok di kursi penumpang depan.
"Tuan."
Tang menyodorkan layar ponsel itu ke hadapan wajah Arga yang langsung di lihat oleh Arga sendiri.
__ADS_1
Arga sedikit mengedikkan dagu sebagai isyarat cukup melihatnya.
"Baik tuan." Tang kembali meletakkan ponsel Bibi Lara di tempatnya. Lalu berdiri kembali di samping sofa Arga.
Ada seringaian kecul di bibirnya setelah melihat foto itu. Arga menatap sangat tajam ke arah wanita di sebrang sofa.
Degh! Bibi Lara yang di tatap seperti itu tubuhnya langsung bergetar dan kaku, ia merasakan akan kengerian amukan Arga.
"Bibi...," panggilnya terjeda nan tajam. "Kau kemari hanya ingin memberitahukan ini saja." Arga masih menatap tajam, dengan sudut bibir sedikit berkedut tersenyum sinis.
"Kau tahu Bibi, sebelum kau memberitahukannya pada ku. Aku sudah mengetahui nya langsung, dan kau tahu Bibi balasan bagi orang yang menghina istri ku!" Penekan suara Arga tersirat ancaman.
Tubuh Bibi Lara semakin gemetar mendengar ancaman itu, seakan tulangnya telah merosot runtuh ia mencengkram ujung rok sebawah lututnya.
Arga menyeringai puas lalu bangkit dari duduknya.
Entah keberanian dari mana, Bibi Lara tidak gencar dengan kesombongan nya berani menyahuti dan menentang ancaman Arga, meskipun tubuhnya sudah gemetar takut.
"Arga!" Panggil Bibi Lara dengan suara bergetar dan meninggi.
Sontak pergerakan kaki Arga yang tengah melangkah terhenti. Dia berdiri tegap membelakangi tanpa menoleh ke asal suara.
"Arga... Bibi tidak pernah salah, istri mu itu adalah wanita murahan yang hanya ingin harta mu saja. Dia itu wanita ular, wanita ******." Cerocos Lara berapi-api kemudian ia bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Arga sedikit memiringkan kepala menoleh, ia tersenyum miring sinis.
"Sebelum kau menghina istriku, lihatlah diri mu saja. Sepertinya kata-kata yang kau lontarkan untuk istriku adalah penggambaran diri mu sendiri. Pantas saja anak semata wayang mu kabur meninggalkan mu. Melihat mu seperti ini. Menunjuk kan kebenaran nya, bahwa dia tak salah mengambil langkah untuk kabur dari wanita seperti mu." Sarkase Arga tajam.
Kemudian dia melanjutkan kembali langkah nya menuju ke meja kerja dan duduk di kursi kebesaran menatap tajam pada wanita yang masih berdiri.
Bibi Lara berdiri mematung kaku, wajah nya merah padam karena amarah dan emosi yang di tahan.
"Nyonya Lara, silahkan pintu nya sudah terbuka." Instruksi Tang yang sudah membukakan pintu lebar-lebar.
Wanita itu menatap tajam ke arah Arga lalu menatap sinis ke arah Tang dan...
Huh! Dengusnya sambil lalu meninggalkan ruangan, dengan di ikuti sekertaris Tang dari belakang.
Setelah sampai di depan pintu lift.
Tang menunduk hormat sebelum Bibi Lara masuk ke dalam lift, tidak lupa ia menyampaikan kata perpisahan.
"Nyonya Lara, sebelum anda bertindak lebih jauh, lebih baik Nyonya menyerah saja. Karena tidak akan ada hal buruk untuk di bicarakan tentang Nona Romisa, jika Nyonya melakukannya lagi pasti akan berimbas pada diri Nyonya sendiri. Nyonya masih menyayangkan perusahaan Nyonya kan?" Ujar Tang penuh ancaman di sertai tatapan tajam.
"Cih! Kau Tang awas saja." Dengan perasaan kesal, Lara berbalik memasuki lift dan menekan tombol untuk menutup pintu lift.
Sepeninggalan Lara.
__ADS_1
Tang berbalik melangkah menuju ruangannya. Huft... sungguh merepotkan.
BERSAMBUNG....