Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
22


__ADS_3

Misa turun dari mobil putih itu tanpa menunggu di buka kan pintunya, dia langsung memasuki pintu masuk rumah yang di ikuti Egi dari belakang.


Sekertaris Tang baru keluar dari ruangan kerja dan langsung melihat Romisa yang baru memasuki rumah.


"Nona sudah pulang," sapa Sekertaris Tang pada Misa lalu menatap Egi yang berada di balik tubuh gadis mungil itu.


"Iya Sekertaris Tang." Sahut Misa.


Sedang Egi yang di beri tatapan cukup tajam oleh Sekertaris Tang mengucapkan salam, lalu berbalik menuju kamarnya.


"Nona, tuan sudah ada di kamar," ucap Tang tajam.


"Iya Sekertaris Tang," mengeluarkan senyuman manis yang di paksakan.


"Baiklah saya permisi Nona," ucap Tang lalu menunduk hormat dengan diakhiri seringaian kecil yang terlihat sinis cukup membuat Misa merinding.


Apa arti senyuman itu? Sejenak Misa membeku dengan tatapan terpaku melihat kepergian punggung tegap itu yang berbelok ke arah ruangan lain.


Hah... tersadar Misa beranjak menuju ke kamar dengan langkah cukup tergesa menaiki anak tangga. Sesampainya Misa di depan pintu kamar, sejenak ia mematung untuk mengatur napasnya yang memburu akibat berjalan menaiki tangga dengan tergesa.


Ceklek.


Pintu itu terbuka, hal pertama setelah membuka pintu yang tertangkap oleh pandangan Misa adalah seorang pria tampan yang terduduk di sofa dengan tangan bersedekap di depan dada dan kaki di silangkan elegan nan angkuh.


Misa masih mematung dekat pintu, dengan kepala menunduk.


Sepertinya dia sedang dalam mood yang kurang baik.


"Kemarilah," titah Arga tegas memerintah.


Misa menuruti perintahnya dan berdiri di hadapan Arga.


"Duduklah," menepuk sebelahnya yang kosong.


Misa menurut lagi tanpa mengucapkan sepatah kata, dia duduk di ujung sofa sehingga jaraknya dengan Arga cukup jauh.


Plak... Plak.


Arga menepuk kembali sofa sebelahnya yang kosong. "Aku menepuk sebelah sini, bukan di situ, kau buta hah," ucapnya tajam ada nada kesal terselip di dalamnya.


Aku hanya takut pada mu singa... Dengan perasaan takut Misa menggeser duduknya sehingga bersebelahan dekat dengan Arga hanya ada jarak beberapa senti dari keduanya.


Arga meraih dagu Misa dengan jemari tangannya sehingga membuat wajah Misa mendongak ke arahnya.


Degh... Jantung Misa mulai berdegup kencang, membuat tubuhnya sedikit bergetar.

__ADS_1


"Kemana kau pergi hari ini?" tanyanya mengintimidasi.


Eh, bukannya aku sudah bilang bahwa aku pergi ke rumah lama ku. Misa menundukkan pandangan dengan bibir terbungkam rapat.


"Jawab, kau punya mulut kan!" Bentak Arga membuat Misa terlonjak.


"A-Anu... a-ku pergi ke rumah lama ku," terbata Misa karena takut tangannya mencengkram kuat ujung bajunya.


"Angkat pandangan mu, siapa suruh kau menunduk seperti itu." Mengangkat kasar dagu Misa, sehingga tatapan mereka saling bertemu dan jarak antar wajah mereka pun cukup dekat.


Aku tak kuat Tuhaan, kau membuat ku beku singa. Bibir Misa meremet bergetar.


"Pergi kemana lagi kau dan dengan siapa?" tanyanya masih mengintimidasi.


"Se-sendiri aku ke mall," ucap Misa terbata dengan sedikit bergetar.


Arga melepaskan pegangannya dari dagu Misa membuat gadis mungil itu bernapas lega.


"Lanjutkan, kenapa kau diam!" Sentak Arga lalu menatap Misa masih dengan tatapan mengintimidasi tajam.


Ternyata masih belum selesai si singa mengaung. Misa menghela napas panjang sebelum bercerita.


"Aku mengunjungi rumah lama, dan bertemu dengan Bibi Sum penjaga rumah ku, juga bertemu Egi adik mu, lalu pergi ke mall untuk belanja bahan masakan, dan setelahnya masak dan makan bersama, itu tuan yang saya lakukan hari ini." Jelas Misa melirik takut yang di balas tatapan tajam dari pria itu.


Kenapa lagi singa kau menatap ku seperti itu?


"Memang kenapa Tu...an," suara Misa langsung menciut setelah melihat tatapan yang tambah tajam dari Arga.


"Mulai sekarang, panggil lah seperti di depan keluarga ku," tegasnya.


Kenapa aku harus memanggil mu dengan panggilan itu, kalau kau menyuruh ku memanggil mu singa aku dengan senang hati akan memanggil nya.


"Baiklah, tu.., eh maksud ku Suamiku," ucap Misa yang membuat tatapan Arga mulai meredup tidak menajam seperti tadi.


"Masaklah seperti yang di buat kau di rumah lama mu itu, sekarang, aku ingin makan," titah Arga tanpa ingin di bantah.


"Tapi Suamiku, aku ingin mandi dulu sebentar boleh, setelahnya aku akan memasak," pinta Misa menunduk.


"Kau kebiasaan, tatap wajah ku jika kau sedang bicara dengan ku." Mengangkat dengan kasar dagu Misa.


Misa sudah semakin gemetar dibentak lagi seperti itu. Ia mengangkat wajahnya menatap Arga dengan perasaan takut. "Maaf Suamiku, boleh kah aku mandi dulu?"


Arga menganggukkan kepala mengiyakan, dan itu membuat Misa dengan refleks berdiri dari duduk nya.


"Kau...," geram Arga menatap tajam.

__ADS_1


"Maaf Suamiku, badan ku sudah lengket, aku ke kamar mandi dulu," ucap Misa lalu berlari ke arah pintu kamar mandi meninggalkan Arga yang masih menatapnya tajam.


Setelah Misa di kamar mandi. Tubuh Misa merosot lemas di balik pintu itu ia mengatur napasnya yang sudah tidak beraturan.


"Kau berani melarikan diri seperti itu Romisa!" gema suara Arga sampai terdengar ke dalam kamar mandi.


"Ya Tuhaan ini singa tidak ada habisnya mengamuk. Apa salah ku? Juga kenapa mengamuk seperti itu pada ku, dan kesurupan apa si singa naga ini menyuruh ku memanggilnya dengan sebutan suamiku." Oceh Misa mengusap menangkupkan kedua telapak tangan pada wajahnya dan menghembuskan napas kasar beberapa kali.


*****


Setelah Misa membersihkan diri, dia langsung menuju dapur yang di ikuti Arga. Di dapur sudah ada Tang juga bi Ane yang berdiri di sana menunggu mereka. Sepertinya ketika Misa mandi, Arga menginstruksi ke sekertarisnya untuk mengosongkan dapur utama karena Misa akan memasak untuknya.


Misa memakai apron ke tubuh. "Suamiku, kenapa kau duduk di situ? Aku memasak sup itu akan cukup waktu lama, Suamiku bisa menunggunya di ruang tv," tutur Misa saat melihat Arga duduk di kursi pantry yang menghadap langsung ke arah dapur.


"Masaklah, aku tidak akan mengganggu," titah Arga yang membuat Misa hilang kata-kata lagi.


Arga duduk di kursi itu dengan tangan di lipat di depan dada dan dengan kaki di silangkan, seperti bos yang mengawasi karyawannya kali aja melakukan kesalahan maka kata pecat yang akan di lontarkannya.


Misa berbalik berjalan ke arah lemari pendingin untuk mengambil bahan-bahan sayuran yang di butuhkan, lalu mulai mengolah bahan masakan itu.


Sedang Arga mengamati dengan awas setiap gerak gerik Misa.


"Tuan, apakah Nona tidak butuh bantuan dari Para Koki di sini?" tanya bi Ane yang berdiri satu langkah di belakang samping kiri Arga.


Arga melirik tajam ke arah bi Ane, yang seketika membuat bi Ane menunduk dan mundur ke belakang.


"Tuan, apakah anda tidak akan menunggunya di meja makan saja?" Kali ini Sekertaris Tang yang berada di samping kanannya tampak maju selangkah dan mencoba membujuk.


"Tang, beraninya kau memerintah ku!" Bentak Arga sehingga membuat Misa menolehkan kepala ke arahnya.


Alis Misa terangkat sebelah, menatap heran. Dia mengaung lagi...


"Tidak Tuan," jawab Tang menunduk dan mundur lagi satu langkah ke belakang.


Tang memberi tatapan isyarat ke arah Misa yang kebetulan sedang menoleh ke arahnya.


Misa mengkerutkan alis nya dalam karena bingung tidak bisa membaca arti tatapan itu.


Tatapan apa itu Sekertaris datar, aku tidak bisa membaca isyarat mu, karena aku bukan si singa juga bukan adiknya si singa, ayolah siapa yang bisa mengartikannya.


Arga melihat Misa mengkerutkan alis menghadap ke arahnya namun pandangan Misa itu bukan pada diri nya. Arga mengikuti arah pandang Misa dengan perlahan menggerakkan kepalanya ke arah samping kanan, yang ternyata Sekertaris Tang sedang memberikan isyarat tatapan.


"Tang!" Geram Arga menatap begitu tajam ke arahnya seakan menelannya hidup-hidup.


Tang seakan mengerti tatapan Arga, ia langsung menunduk diam menatap ujung sepatunya.

__ADS_1


Tuan, saya hanya ingin memberikan sinyal pada Nona agar bisa membujuk mu, bukan untuk bermain mata. kenapa tatapan Tuan seakan menuduh saya seolah-olah saya sedang bermain mata dengan Nona.


BERSAMBUNG...


__ADS_2