Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
51


__ADS_3

Suara adzan subuh membangunkan Misa dari tidur lelap nya. Seperti biasanya gadis cantik itu akan menggeliat ke kiri dan ke kanan baru akan membuka mata nya.


Perlahan mata Misa mulai terbuka yang langsung di sambut oleh wajah tampan Arga yang sedang menatap nya datar.


"Hah!" Kaget Misa dengan mata mengerjap cepat memastikan penglihatannya. Arga menatapnya dengan sebelah tangan menopang kepala.


"Sua-suamiku, sudah bangun." Kata Misa merundukkan pandangan.


Namun Arga tidak menjawab ucapannya, dia mengangkat wajah Misa dengan telunjuk menempel ke dagu.


Membuat Misa mau tak mau menatap ke arahnya. "Suamiku, aku... aku mau subuh dulu," ucapnya terbata dan bangkit dari tiduran menjadi terduduk.


Misa menurunkan kedua kaki hendak turun. Namun belum juga kaki nya menyentuh karpet dengan gerakan cepat Arga menarik lengan Misa sehingga gadis itu kembali berbalik ke hadapannya.


"Suamiku!" Kaget Misa.


Arga bangkit dari tidurannya. Dia menangkup wajah Misa dengan kedua tangannya, merundukkan kepala mendekat ke wajah Misa. Lalu...


Cup.


Dia mengecup kening, dan kedua pipi Misa dengan lembut. Membuat gadis cantik itu mengerjap cepat beberapa kali dan tubuhnya kaku di tempat.


Apa itu tadi? Kenapa pagi-pagi aku sudah di kaget kan dengan sikap singa bunglon nya?


Misa masih membeku di tempat nya sedangkan Arga tersenyum puas lalu beranjak pergi menuju kamar mandi.


*****


Setelah Misa mengurus semua keperluan Arga dari mulai menyiapkan air hangat untuk mandi dan menyiapkan pakaian kantor. Saat ini dia sedang memakaikan sepatu Arga dengan posisi berjongkok di lantai.


Setelah selesai memakai sepatu, Arga beranjak dari duduk nya begitu pun Misa sudah berdiri di hadapannya.


"Pakaikan," titah Arga memberikan dasi kepada Misa.


Misa terdiam melirik dasi itu. Biasanya juga pakai sendiri. Mana aku tidak bisa mengikat dasi lagi, gimana nih?


"Kenapa?" tanya Arga melihat Misa masih diam tidak melakukan pergerakan apapun.


Misa tersenyum kepaksa. "Anu... Maaf suamiku, ikatan dasi yang ku buat akan jelek." ucapnya jujur.


Menggerakkan tangan agar Misa menerima dasi itu. "Tidak apa, pakaikan saja." Pinta Arga.


"Ah, ba-baiklah." Misa mengambil dasi tersebut,


Dia menjijit saat akan mengalungkan tali dasi ke leher namun tak sampai karena Arga terlalu tinggi.


"Suamiku, bi-bisakah sedikit merunduk."


Arga terkekeh, merundukkan kepala hingga tali dasi itu akhirnya bisa mengalung ke kerah kemeja nya.


Dengan wajah serius Misa mulai menalikan dasi untuk membentuk simpul.


Butuh waktu lama ia agar bisa mendapatkan ikatan yang mirip dengan simpul dasi rapi. Dan beberapa kali Misa membongkar dan membuatnya lagi. Seharusnya kan seperti ini, kenapa masih belum mirip simpul?


Sementara Arga yang tidak menghiraukan apa yang di perbuat Misa. Malah asyik memandangi dengan senyuman terurai di bibirnya, saat melihat wajah cantik Misa yang tampak beraut kesal dengan bibir meremet sebal karena dasi yang di ikatkan tak kunjung berbentuk benar.


Sial! Kenapa susah sekali sih, nggak ngebentuk terus?


Hah... Misa menghela napas pelan masih menatap simpul dasi yang di buat. "Dah selesai... maaf suamiku. Meskipun sudah berusaha tapi hasilnya tetap jelek." Ucap Misa merapihkan kerah kemeja.


Arga melirik hasil kerja Misa. Memang hasil nya sangat tidak rapi malah bisa di sebut itu bukan simpul dasi tapi melainkan hanya ikatan sembarang yang di talikan berkumpul. Namun meskipun begitu Arga tetap bahagia menerimanya.

__ADS_1


Pria tampan itu memakai jas kantor. "Ayo sarapan." Ajak Arga menggandeng lengan Misa berjalan menuju pintu keluar.


Misa mensejajari langkah Arga dan berjalan beriringan dengannya.


Di Meja Makan.


Keduanya sudah terduduk di kursi meja makan masing-masing yang berhadapan dengan kedua Adiknya.


Syila menelisik penampilan Arga dengan alis mengernyit bingung.


"Kak Arga. Kenapa itu dasi Kakak? Kok jelek banget sih, sini syila rapiin," tanya Asyila hendak bangkit dari duduknya dengan kedua tangan terulur.


Namun Arga menatap nya dengan tatapan tajam sehingga nyali Syila menciut dan memilih duduk kembali.


"Suamiku, minta rapihkan dasi nya pada Syila. Maafkan aku tidak bisa membuat nya rapih," ucap Misa yang sedang mengoleskan selai kacang pada roti bakar.


Arga tidak menjawab, ia memilih memakan sarapan yang sudah di siapkan Misa.


"Hmm... jadi dasi itu di ikatkan oleh Kakak ipar, tapi rapih kok Kak nggak jelek-jelek amat," ucap Syila di sela mengunyah makanan.


Syila memang senang menghibur ku sudah jelas jelek. Misa tersenyum tenang, tidak menjawab ucapan Syila dan fokus pada sarapannya.


Sedangkan Egi menatap Arga tak terbaca dan mendengus pelan.


Setelah selesai sarapan Misa dan Arga hendak berjalan menuju pintu utama. Namun tiba-tiba Egi menghadang langkah mereka.


Sehingga langkah kaki keduanya terhenti. Misa menatap tanya. Ada apa dengan si Egi?


Egi menyodorkan tali dasi ke hadapan Misa. "Bu Misa bisa pasangkan dasi punya Egi." Pintanya seketika mendapat tatapan tajam dari Arga.


"Egi lihat lah dasi Kakak mu, saya tidak bisa memasangkan dasi." Misa menolak dengan halus.


"Biarlah Bu Misa. Cepat pasangkan." Pinta Egi masih kekeh menggerakkan tangannya.


Namun Misa masih belum bergerak untuk mengambil dasi itu. Gadis itu melirik bi Ane yang kebetulan berdiri tidak jauh dari nya.


"Bi Ane tolong pasangkan dasi Egi. Soalnya saya tidak bisa membuat simpul dasi, sama Bi Ane aja ya Egi."


Hah... Egi menghela napas pelan melirik bi Ane dan Arga secara bergantian, ia menarik kembali tangannya. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Misa yang menatap punggungnya dengan tatapan bingung.


Kenapa lagi dengan anak itu?


Arga tersenyum penuh kemenangan melihat kepergian adiknya.


Keduanya kembali melanjutkan langkahnya lagi untuk mengantar keberangkatan kerja Arga.


Sampai di depan rumah seperti biasanya Arga langsung masuk ke dalam mobil setelah mengusap puncuk kepala Misa.


Dan saat ini mobil hitam itu telah melesat laju di jalanan kota.


Ketika menyetir, sekertaris Tang menyempatkan melirik kaca depan untuk melihat keadaan tuannya di kursi belakang.


Tang mengangkat satu alis nya melihat penampilan Arga dengan dasi yang asal-asalan namun masih saja Arga tersenyum.


Mengapa tuan masih tersenyum seperti itu saat penampilannya rusak? Apa ini karena Nona lagi?


Arga melirik ke depan dengan punggunv menyender ke badan sofa. "Tang. " Panggilnya.


"Iya tuan." Jawab Tang cepat.


"Bagaimana penampilan ku. Sempurna kan?" tanya Arga sambil menunjuk kan simpul dasi nya.

__ADS_1


Sempurna apa nya tuan, dari sekian penampilan tuan yang biasanya sempurna hanya hari ini tuan berpenampilan cukup hancur. Tang diam tak menjawab hanya melirik sekilas ke arah kaca depan.


"Bagaimana Tang bagus kan?" tanya Arga lagi masih dengan menunjukkan simpul dasi nya.


"I...ya Tuan," ucap Tang ragu.


Arga tersenyum mendengar jawaban dari Tang. Dia melirik simpul dasi itu dan mengusap-usapnya.


Sementara Tang yang melihat sikap Arga, menggeleng kecil beberapa kali. Kenapa cinta tuan membuat tuan jadi bersikap konyol seperti ini? Ternyata racun cinta cukup menakutkan.


"Ekhem...," dehem Tang menetralkan keterkejutannya, raut wajahnya berubah serius menatap lurus ke depan.


"Tuan, guru yang akan mengajar gitar sudah ada, dan kapan pun tuan mau belajar, dia selalu siap."


Arga mengalihkan perhatiannya dari dasi. "Jam istirahat panggil dia, aku ingin segera bisa main gitar," titahnya.


"Baik tuan." Balas Tang.


Selang beberapa lama.


Mobil hitam itu telah berhenti di sebuah gedung pencakar langit yang megah menjulang sangat tinggi.


Arga menuruni mobil yang sudah di buka kan pintunya oleh Tang. Begitu dia keluar mobil.


Pria tampan itu langsung di kawal oleh para pria berjas hitam sebagai bodyguardnya. Dan pada saat Arga menginjakkan kaki nya ke dalam gedung, ia langsung di sambut oleh para karyawan yang menunduk hormat.


Kaki Arga terus melangkah menuju pintu lift khusus untuknya dan Sekertaris Tang.


Setelah Arga keluar dari lift, lagi-lagi ia langsung di sambut oleh para karyawan juga sekertaris yang khusus berada di kantor.


Dan ketika Arga akan melangkahkan kaki nya ke ruangan. Tiba-tiba salah satu sekertaris Wanita maju sedikit menghadang langkahnya.


Sehingga langkah kaki Arga terhenti, alisnya terangkat sebelah dengan tatapan tajam elangnya menusuk seakan menguliti wanita di hadapannya.


Sekertaris wanita itu dengan sorot mata ragu penuh ketakutan, menatap Arga. "Tuan, dasi... dasi anda tidak terbentuk rapih, biar... biar saya betulkan." Ucapnya bergetar lemah tangannya yang gemetar terulur hendak menyentuh dasi Arga.


Namun dengan cepat Arga langsung mundur menjauh dari nya. "Kau berani menyentuh ku!" Bentak Arga menggelegar membuat wanita itu terlonjak merunduk takut.


"Ma-ma-maaf tuan." Ucapnya lemah dengan tubuh bergetar takut.


Arga melirik sekertaris Tang yang berada di sampingnya.


"Tang!" tegas Arga.


"Iya tuan." Mendekat ke arah Arga.


Arga memberikan isyarat tatapan tajam ke arah wanita itu, lalu berjalan melangkah masuk ke dalam ruangannya.


Brak.


Arga membanting pintu ruangannya dengan keras, seketika membuat semua orang di luar ruangan terperanjat merunduk.


Sekertaris Tang mendekati asisten wanita itu dan menatapnya tajam. Dia menghembuskan napas pelan sebelum berucap.


"Nona siska, berani sekali tangan anda ingin menyentuh tuan. Sedari awal sebelum kau bekerja, sudah di jelaskan jika tuan tidak suka di sentuh oleh sembarang orang apalagi itu seorang wanita... tapi karena Nona siska telah berani di depan tuan, dan juga sepertinya tuan sudah sangat kesal terhadap anda... Maka maaf untuk hari ini dan seterusnya kau sudah boleh beristirahat di rumah tanpa perlu berkunjung kemari lagi."


Setelah mengatakan hal itu, Sekertaris Tang berbalik melangkah menuju ruangannya meninggalkan sekertaris wanita itu dan karyawan lainnya.


Bruk.


Seketika sekertaris wanita tersebut merosot ambruk merasa lemas mendengar ucapan Tang, tubuhnya bergetar menatap nanar ke lantai. Dia tahu jika sudah di pecat dari perusahaan Putra Grup, maka karir nya akan hancur karena perusahaan besar lainnya tidak akan ada yang mau lagi menerima dirinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2