Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
32


__ADS_3

Sore itu. Arga pulang ke rumah lebih awal karena akan mengantar ke berangkatan Ayahnya ke bandara privat.


"Selamat sore tuan. Nona Romisa sudah pulang dan sekarang Nona ada dikamarnya." Sambut bi Ane di pintu masuk utama.


Arga mengangguk kecil lalu berjalan menuju ke arah tangga untuk menuju kamarnya di ikuti sekertaris Tang, hatinya masih di penuhi kekesalan dengan apa yang baru saja dilihat dari ponsel Tang.


"Apa itu?" tanya Arga saat melihat sekilas ada seorang pelayan wanita yang membawa beberapa bingkisan kado dari Misa.


"Itu hadiah yang di berikan Nona pada para pelayan," timpal bi Ane.


"Hadiah?" Heran Arga dengan tatapan tajamnya.


Bi Ane menundukkan pandangan. "Nona Romisa, mendapatkan hadiah itu dari para muridnya tuan, dan memberikannya pada kami karena yang di berikan oleh para murid cukup banyak, bahkan Nona tidak mengambil satu pun hadiah dari mereka."


Arga terdiam sejenak, lalu ia melirik dingin kembali pada pelayan wanita itu. "Jangan tunjukkan itu di hadapan saya," tegasnya.


"Baik tuan." Pelayan wanita itu tertunduk takut.


Pria tampan itu kembali melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga.


Langkah kaki Arga terhenti di depan pintu, ia berbalik menatap pria yang mengikutinya tadi. "Pergilah Tang, dan urus keberangkatan ayah dengan rapih."


"Baik tuan." Tang menunduk hormat lalu berlalu menuju lantai bawah.


Ceklek.


Arga memasuki kamar yang kosong tidak menemukan sosok yang sedang ada dalam pikirannya.


Kemana Romisa?


Dia melangkah hendak ke arah sofa, namun saat melewati pintu ruang ganti pakaian. Samar-samar Arga mendengar suara wanita yang melantunkan ayat suci al-Qur'an.


Perlahan dia mendekati pintu ruang ganti itu dan memutar handle pintu dengan sangat hati-hati. Pintu itu terbuka hanya sebatas tiga jari orang dewasa saja, terdengar jelas lantunan merdu Ayat suci al-Qur'an menyapa indra pendengarannya.


Romisa, indah sekali suaranya.


Arga mengintipkan sebelah bola matanya pada celah pintu, terlihat Misa yang terbalut mukena duduk membelakanginya.

__ADS_1


Sepertinya aku harus membiasakan diri lagi agar bisa mengimami nya dengan benar.


Pria tampan itu, menutup kembali pintu tersebut dengan pelan penuh kehati-hatian. Lalu ia berjalan ke arah sofa mendudukkan diri, dengan punggung direbahkan ke senderan sofa dan mata terpejam. Dia menghela napas panjang, merenung hanyut dalam pikirannya.


Tidak lama kemudian...


Ceklek.


Pintu ruang ganti terbuka, yang memunculkan Misa.


Gadis mungil itu membalikkan badan setelah menutup pintu.


"Astagfirullah." Latah Misa terlonjak kaget saat pandangannya mendapati Arga sudah terduduk di sofa.


Sejak kapan dia pulang? Kenapa aku tidak tahu?


Misa melangkah ke arah rak untuk mengambil sandal, lalu ia mendekat ke sofa. Gadis mungil itu, berjongkok mengganti sepatu Arga dengan sandal rumah, tidak ada reaksi apa-apa dari Arga saat Misa mengganti sepatunya. Arga masih memejamkan mata nya dan bersender.


Misa mengangkat wajahnya melirik pria itu. Apa dia tertidur?


Kemudian Misa beranjak dari duduk jongkoknya, menenteng sepatu hendak berjalan ke arah rak.


Misa menyimpan terlebih dahulu sepatu yang di pegangnya ke dalam rak sepatu, lalu ia menurut duduk di sebelah Arga yang tidak terlalu dekat jaraknya hanya tersisa beberapa jengkal.


Arga membuka mata nya dan menatap Misa dengan tatapan dingin.


"Bukalah." Menarik-narik ujung kerudung yang di pakai Misa.


Hasih... kalau ada orang masuk, gimana? Misa melirikkan mata ke arah pintu.


"Sudah di kunci." Ucap Arga dingin seakan mengerti dengan apa yang di pikirkan Misa.


Masih menarik ujung kerudung. "Bukalah," perintahnya lagi.


"Ba-baik suamiku." Dengan gerakan pasrah Misa menurut membuka kerudungnya dan menyampirkan kerudung itu ke lengan sofa.


"Bukannya aku sudah bilang jika sedang berdua dengan ku di kamar, kau harus tetap seperti ini," tegas Arga membelai rambut panjang Misa.

__ADS_1


Tubuh Misa kaku, bergetar karena jantungnya mulai berdetak cepat lagi. Singaa apa kau kesurupan bunglon? Kenapa sikap mu selalu berubah-ubah?


"Romisa, bagaimana kau bersenang-senang di luar?" tanya Arga, meraih dagu Misa untuk di dongakkan ke arahnya.


"I-iya suamiku," terbata Misa karena gugup.


"Ceritakan," titah Arga, mengusap-usap dagu Misa dengan ibu jarinya.


Misa menundukkan pandangan, tubuhnya semakin gemetar dengan jemari tangan mencengkram rok yang di pakai.


"Ceritakan, dan pandang aku Romisa," ucap Arga menekan, ia menggerakkan dagu Misa sehingga pandangan keduanya bertemu.


Bibir Misa terbuka, sedikit bergetar. "Se-seperti biasanya suamiku, aku... aku mengajar anak murid, mendapat ucapan selamat hari guru, juga kado dan bunga mawar dari para murid ku," terbata Misa jujur.


Sorot mata Arga masih menatap dingin. "Lalu," pintanya yang kurang puas dengan cerita Misa.


"Aku... aku memberikan hadiah dari para murid pada para pelayan dan penjaga rumah," tutur Misa lagi.


Ada seulas senyuman kesenangan dari bibir tipis Arga yang menurut Misa sangat tampan namun cukup mengerikan.


Aku tidak salah lihat kan? Dia benar tersenyum, tapi apa arti senyuman itu?


Arga melepas jemarinya dari dagu Misa, dia sedikit mencondongkan bahu ke depan untuk lebih dekat. Lalu tangannya menangkup kedua pipi Misa, perlahan Arga mendekatkan wajahnya ke wajah mungil Misa sehingga terpaan napasnya juga suara detak jantungnya terdengar jelas oleh indra pendengar keduanya.


Dia... dia mau apa? Misa sudah semakin gemetar kaku.


Cup.


Arga mencium kening Misa dengan sangat lembut.


Seketika mata Misa membelalak kaku tak berkedip, tubuhnya bagai patung tak bergerak soal jantung jangan di tanya lagi, seakan keluar dari rongga dadanya.


Arga melepaskan tangkupan itu, lalu bangkit dari duduknya. "Siapkan air hangat," ucapnya sambil lalu melangkah ke ruang ganti meninggalkan Misa yang membeku.


Hah...hah... Misa menghembuskan napasnya yang tertahan sejak tadi. Dia menepuk pelan dadanya.


Apa aku masih hidup? Tadi itu apa yang di lakukan si singa terhadap ku? Jantung ku, hah rasanya mau keluar.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2