Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
64


__ADS_3

Misa telah mengenakan gaun merah menyala itu. Begitu pas di badan ramping nya juga sangat cantik dengan kulit Dia yang putih mulus menambah kecantikan dalam diri Misa. Serta rambut panjang hitam lurus menghiasi kesempurnaan kecantikan wajah imut Misa.


Dia melihat penampilan diri nya sembari mengusap-usap tak nyaman ke rok yang mengembang di atas lutut.


"Ya tuhan kenapa baju nya seksi banget kayak gini, tapi mau gimana lagi si singa yang minta. Nggak nyaman sekali sih nih baju serasa telanjang aku." Gerutu Misa dengan gerakan kikuk tak nyaman.


Ceklek.


Seorang pria tampan masih menggunakan jubah mandi keluar dari kamar mandi, ia mengusak rambutnya dengan handuk kecil.


Dan Misa yang tertunduk mengkoreksi penampilannya, masih belum sadar dengan kemunculan Arga.


Arga semula menunduk mengusak rambut, dia mengangkat wajahnya sembari melangkah. Dan begitu pandangannya menatap lurus, seketika ia berdiri mematung di tempat saat sorot mata nya menangkap sesosok gadis cantik yang tertunduk tidak jauh dari nya.


Glekk...


Arga menelan ludah dengan kasar dengan kedua bola mata bergerak menelisik penampilan Misa dari atas sampai bawah. Wajahnya merona merah, ia menundukkan pandangannya.


Benarkah dia Romisa? Sangat cantik.


Setelah menguasai keterkejutannya, Arga menghampiri wanita itu dengan langkah pelan.


Misa masih menunduk belum menyadari pria itu mendekat ke arahnya.


Puk.


Arga melempar handuk kecil yang ada di tangan nya ke arah gadis itu.


"Eh." Misa terhenyak, saat handuk kecil mengenai kepalanya. "Sua-suamiku." Sejak kapan dia keluar dari kamar mandi.


"Keringkan." Ucap Arga sambil duduk di sofa panjang, sedangkan Misa masih berdiri.


Melihat Misa masih belum bergerak, Arga melirik gadis itu wajahnya kembali merona. Cantik sekali Romisa... Arga memalingkan wajahnya menetralkan kegugupannya.


"Romisa." Suara Arga menyadarkan Misa.


"Ah, eh i-iya." Segera gadis cantik itu berdiri di samping Arga, dan mengusak mengeringkan rambut basah itu.


Selama beberap menit tidak ada percakapan di antara keduanya.


Hingga pandangan Arga yang sudah tak kuat ingin terus melirik gadis bergaun merah itu, dengan gerakan tiba-tiba...


Sreet.


Dia menarik lengan Misa sehingga gadis cantik itu, terjatuh dan terduduk di pangkuan nya.


"Suamiku!" Misa terjengkat kaget atas perlakuan Arga yang mendadak dan ia hendak bangkit kembali. Namun...


Grep.


Arga memeluk perut nya dengan erat sehingga ia tidak bisa bergerak kemana pun.


"Diamlah." Menginstruksi hingga membuat gadis yang bergerak memberontak itu terdiam.

__ADS_1


Tubuh Misa sudah kaku tak bergerak dengan kepala tertunduk.


Arga mengangkat dagu Misa dengan jemari nya sehingga pandangan keduanya bertemu, ia membelai lembut rambut panjang Misa dengan tangan lainnya.


Seketika panas menjalar di seluruh tubuh Misa di sertai gemetar menciptakan rona merah padam di kedua pipinya.


Perlahan Arga mendekati wajah cantik itu, hingga napas juga sorot mata mereka bertemu. Dia menempelkan dahi nya ke dahi Misa, menciptakan jarak yang begitu dekat.


"Romisa...," terjeda sejenak, tatapan mata Arga meredup kedua tangannya menangkup sisi wajah Misa. "Berikan hak ku sebagai suami." Ucapnya serak nan pelan.


Seketika kedua mata Misa melebar, jantungnya yang sudah berdegup kencang semakin menjadi, tubuhnya semakin gemetar. Hak? Hak apa? Jangan-jangan dia...


"Ma-ma-maksud suam-iku apa?" Gagap Misa.


Arga sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Misa. Dia menegakkan wajah cantik itu. Lalu...


Cup.


Arga menciumi dengan lembut seluruh bagian wajah gadis di hadapannya dari hidung, mata, pipi, kening dan terakhir mengecup sekilas bibir nya, membuat Misa menutup mata nya rapat-rapat.


Pria tampan itu kembali menempelkan dahi nya ke dahi Misa sembari mengusap kedua pipi mulus itu dengan ibu jari nya.


"Romisa, hak ku atas dirimu sebagai suami." Ucap Arga dengan suara serak.


Seketika kedua mata Misa terbuka membelalak tertegun tak berkedip menatap sorot mata Arga yang begitu dekat dengannya itu.


Dia... dia meminta hak atas suami? Apa maksudnya sentuhan fisik? Apa dia sudah lupa dengan syarat yang ada di perjanjian itu?


"Sua-sua-miku... buk-bukankah dalam perjanjian itu, sud-ah di sebutkan tidak akan ada sen...tuhan fi...sik," ucap Misa melemah.


"Aku yang membuat dan aku yang bisa merubah. Kau tak berhak membantah, kau hanya perlu berkata 'iya' atas tanggung jawab mu sebagai istri ku," tegas Arga.


Melihat tatapannya saja aku sudah tidak bisa menolak lagi. Karena bagaimana pun dia adalah suamiku meskipun hanya untuk sekarang tapi tetap dia ini suamiku saat ini, dan aku sebagai istri harus menjalankan tanggung jawab ku penuh sebagai istri yang benar.


Apakah ini akhir masa gadis ku ayah, bunda, apakah Misa harus menyerahkan jiwa raga Misa pada singa ini... hiks ...hiks kenapa harus di keadaan seperti ini.


"Romisaa." Suara Arga menyadarkan Misa dari lamunannya yang sedari tadi tertunduk diam.


Sontak Misa terhenyak. "Ah, i-iya." Gelagapnya, dengan gerakan pelan nan kaku ia mengangkat wajahnya menatap Arga. "Ba-baiklah suamiku... aku-aku menyerahkan diri ku untuk dirimu, se-sebagai tanggung jawab ku sebagai istri mu." Ujar Misa dengan suara gemetar.


Senyuman terulas di bibir Arga dengan gerakan cepat...


Sreet... Grep.


Arga menggendong ala bridal style tubuh gadis bergaun merah itu, membuat Misa yang bergetar kaku merundukkan pandangan di dada bidang pria itu.


"Baiklah, kau sudah menawarkan nya kepada ku." Ucap Arga menunduk melihat wajah Misa yang tersipu. Dia menyeringai senang sembari melangkah menuju ranjang.


Tangan Misa mencengkram pada handuk jubah yang di pakai Arga. Ayah, Bunda semoga keputusan Misa adalah yang terbaik untuk hidup Misa kedepannya.


Perlahan pria tampan itu, merebahkan tubuh Misa ke atas kasur dengan gerakan pelan nan lembut lalu ia langsung mengkukungnya memerangkap tubuh itu agar tidak bergerak kemana pun.


Sedangkan Misa sudah bergetar hebat membeku di sertai panas menjalar ke seluruh darah dalam tubuhnya, ia memejamkan kedua mata nya rapat-rapat memalingkan wajah sehingga memperlihatkan leher jenjang putih mulus nya.

__ADS_1


"Kau sudah menyerahkan diri mu pada ku, Romisa. Jadi tenanglah," ucap Arga serak sembari melabuhkan bibir ke permukaan kulit leher.


Misa semakin bergetar panas, tangannya mencengkram pada seprai kasur ia terlihat pasrah dalam kendali Arga yang sudah mulai menjelajahi permukaan kulit diri nya di sertai gerakan melucuti pakaian Misa. Dia mengecup semua permukaan kulit Misa tanpa tersisa dan seterusnya ....


*****


Setelah beberapa lama kemudian.


Pakaian Misa dan Arga tampak berserakan di atas karpet bawah ranjang.


Tampak Misa dan Arga terbaring bersebelahan menatap lurus ke depan terbengong dengan tubuh masing-masing masih polos di dalam selimut tapi kedua nya sama-sama terlongo diam.


"Suamiku." Panggil Misa tanpa melirik.


"Hemm." Gumam Arga yang masih menatap lurus ke depan dengan wajah tanpa ekspresi.


"Apakah ini hal pertama?" tanya Misa.


"Hemm." Gumam Arga mengiyakan.


"Apakah benar tidak tahu?" tanya Misa lagi.


"Hemm." Gumam Arga lalu...


Sreet.


Pria itu berbalik memunggungi Misa dengan kedua tangan memegang selimut sampai dada.


Misa melirik ke arah Arga, ada senyuman geli tertahan dari bibirnya. "Suamiku... jika kau ingin belajar, carilah secara pendidikan jangan sampai melihat video-video yang tidak bermoral yang tidak akan baik untuk mu juga aku, itu syarat ku suamiku. Maka aku akan menyerahkan diri ku sepenuhnya dengan suka rela kepada mu." Pinta Misa memberikan syarat.


Sreet.


Arga membalikkan tubuh nya menatap Misa dengan tatapan dingin tak bersuara.


"Eh, maaf suamiku. Aku... aku hanya ingin kau memahami nya secara pendidikan saja." Terbata Misa dengan suara pelan.


Arga mengangguk kecil masih dengan wajah tanpa ekspresi lalu...


Sreet.


Dia berbalik kembali membelakangi Misa dan mengangkat selimut yang sedikit melorot agar sebatas bahu.


Sedangkam Misa terkekeh pelan, menenggelamkan wajah nya ke dalam selimut. Dia menggigit ujung kuku dengan perasaan bahagia bagai dapat undian besar.


Ya tuhaan rasanya aku bahagia sekali ternyata dia sama-sama seperti ku. Sama masih "Polos".


Dan ayah, bunda Misa terselamatkan dari singa ini...hahaha.


"Ekhem." Dehem Misa menetralkan sikapnya, ia perlahan memunculkan kembali kepala nya ke permukaan melirik punggung Arga. "Suamiku... pakailah baju mu, agar tidak masuk angin."


Namun Arga tak menjawab, ia masih betah memunggungi Misa entah apa yang membuatnya terlihat kecewa dan memasang wajah tanpa ekspresi tertekuk muram.


Sementara Misa telah memungut pakaiannya yang teronggok di atas karpet lalu memakai nya di dalam selimut.

__ADS_1


Senyuman geli penuh kemenangan masih melebar di bibir Misa. Hahaha... si singa kenapa, ternyata keberuntungan masih di pihak ku singa... syukurlah aku masih bisa selamat.


BERSAMBUNG...


__ADS_2