Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
75


__ADS_3

Arga masih di dalam kamar mandi, sedangkan Romisa menunggu keluarnya pria itu dari dalam kamar mandi. Dan lebih memilih merebahkan kembali tubuh nya di atas kasur dengan posisi terlentang menatap lurus ke langit-langit kamar.


"Romisaa." Panggil Arga dari dalam kamar mandi.


"Ada apa sih... pagi-pagi udah teriak." Gerutu Misa melirik ke arah pintu kamar mandi.


"Romisaa." Panggil Arga lagi.


"Iya suamiku." Sahutnya dan dengan malas Misa turun dari ranjang, berjalan menghampiri asal suara.


Di Dalam Kamar Mandi.


"Ada apa suamiku?" tanya Misa yang sudah berdiri di hadapan Arga.


Arga memberikan sikat gigi dan pasta gigi


"Sikatin." Titah pria itu manja.


Sejenak Misa terdiam melirik sikat yang di sodorkan. Masa sikat gigi aja di sikatin, apa gunanya punya tangan.


"Romisa." Peringatan Arga menggerakkan tangan yang terulur itu.


"Ah, i-iya." Tersadar Misa lalu mengambil sikat gigi tersebut dan menempeli nya dengan pasta gigi.


Misa berjinjit dengan kepala mendongak ke atas karena tinggi badan Misa berada sedikit di bawah bahu Arga. Dia mulai menyikat gigi Arga dengan gerakan pelan akibat kesusahan.


"Sua-suamiku... anu... iii," Misa menunjukkan gigi rapihnya memberitahukan agar Arga mengikuti apa yang di minta.


Arga tersenyum kecil, kemudian beralih menepuk meja wastafle di samping tubuh Misa. "Naik." Titahnya.


Misa melirik ke arah tepukan tangan Arga. "Ma-maksud suamiku?"


"Naik. Romisaa," tegas Arga menunjuk ke arah meja wastafle itu dengan kedikkan dagu.


"Ah, ba-baiklah." Misa naik ke atas meja wastafle itu dengan meloncat menggunakan dua tangan nya sebagai tumpuan.


Untung meja ini nggak terlalu tinggi jadi aku bisa menaiki nya sendiri.

__ADS_1


Sreet.


Tiba-tiba Arga langsung merapatkan diri di antara kedua kaki Misa dan memeluk pinggang ramping itu.


Misa terkaku melirik lengan kekar yang melingkar itu. Singaa bisakah kau agak jauhan sedikit, kenapa menempel sekali.


"Teruskan," titah Arga menuntun tangan Misa yang memegang sikat gigi itu ke mulut nya juga menuruti permintaan Misa dengan menunjukkan gigi seperti yang di lakukan Misa tadi.


Serasa sedang mengajari anak kecil menggosok gigi.


Misa meneruskan kembali menggosok gigi Arga dengan telaten. Sedangkan pria tampan itu asyik meperhatikan wajah cantik Misa sembari memainkan rambut panjang nya dengan jemari.


Setelah selesai menyikati gigi dan mencuci tangan, Misa berbalik hendak keluar kamar mandi. Namun tiba-tiba...


"Bantu aku mandi." Suara Arga seketika menghentikan pergerakan langkah kaki Misa.


Apa kata nya? Dia... dia meminta di mandiin!


Misa berbalik melihat pria tampan itu telah berjalan menuju tempat mandi.


Begitu memasuki ruang mandi, alis Misa berkerut heran melihat bathtub yang kosong. "Kemana dia?"


Karena jarak antara shower box dan bathtub itu cukup dekat. Dari kaca yang blur Arga dapat melihat Misa masih berdiri di dekat bathtub.


"Romisa!" Panggil Arga dari dalam shower box.


Misa menoleh cepat ke asal suara. "I-iya suamiku."


"Cepatlah," titah Arga.


Dengan terpaksa Misa memasuki shower box itu, yang dimana Arga sudah berdiri di sana.


"Aaaa...," teriak Misa menutup wajah nya saat melihat Arga sudah bertelanjang dada hanya sebuah handuk melilit di pinggang.


"Hey, kenapa kau teriak!"


"Sua-sua-miku... ke-kenapa kau te-te-lanjang dada." Gagap Misa masih menutup wajah dengan telapak tangan.

__ADS_1


"Aku mau mandi." Kata Arga lalu menurunkan kedua telapak tangan Misa. "Romisa, cepatlah... kau mau membuat ku membeku kedinginan." Sambungnya sembari mulai menyalakan air shower lalu menggenggamkan gagang shower itu ke genggaman tangan Misa.


Arga hendak membuka handuk yang melilit di pinggangnya. Namun tiba-tiba...


"Aaa... Tidak! Sua-sua-miku. Jangan... eh, ma-ma-maksud ku jangan!" Panik Misa kembali menutup mata dengan sebelah tangan yang bebas.


Arga terkekeh geli, senang menggoda. "Kenapa? Aku harus membersihkan area ini juga."


Wajah Misa sudah merah padam, tertunduk dengan sebelah tangan menutupi mata. "Aku-aku-aku... jangan!" Aku ingin lari dari sini sekarang juga tuhaan.


Hah... Arga menghela napas pelan, membenarkan handuk di pinggangnya agar terlilit kuat. Padahal aku pakai celana pendek, tapi dia sangat ketakutan.


"Baiklah, cepat mandikan. Dan turunkan tangan mu itu." Pinta Arga.


Misa mengangkat wajahnya dengan kaku, lalu mengintip di sela jemari. Syukurlah, dia tidak melepaskan handuk.


Gadis itu menurut menurunkan jemari tangan dari wajah, dan mulai mengarahkan shower ke depan dengan tatapan tertunduk.


"Angkat wajah mu, Romisa." Arga mengangkat dagu Misa dengan jemarinya untuk di dongakkan ke arahnya.


Karena tubuh Arga tinggi yang tidak sejajar dengan gadis cantik itu. Kedua kaki Misa berjinjit dan meloncat-loncat kecil untuk membasahi kepala Arga. Namun tiba-tiba...


Grep.


Lengan kekar Arga memeluk pinggang ramping Misa, sontak membuat gadis itu terpaku diam dan tubuh nya ikutan basah kuyup karena shower itu jatuh tepat di tubuh mereka.


Degh...degh... jantung Misa berdetak amat kencang dengan mata tak berkedip menatap terpaku pada wajah Arga yang semakin mendekat.


Arga tersenyum menyeringai, mendekatkan bibirnya ke telinga Misa. "Kita mandi bersama."


"Hah!" Terbelalak menatap waspada. Dia...dia mesuum! Aku harus kabur.


Lalu dengan sekuat tenaga Misa melepaskan pelukan Arga di pinggang nya dan keluar dari shower box dengan lari terbirit menjauh.


Sedangkan Arga terkekeh senang karena merasa puas menggoda Misa. Menggemaskan sekali dia...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2