
Bugh.
Misa melempar tubuhnya ke atas sofa dengan posisi tengkurap. Ia membalikkan badannya menjadi terlentang dan menarik napas dalam lalu mengeluarkannya secara kasar dari bibir mungil tipisnya.
Ayah, Bunda. Misa rinduu.
Misa rindu semua hidup Misa sebelum pernikahan ini terjadi.
Misa rindu masa-masa ketika hidup di panti
Misa rindu rumah nyaman Misa
Misa rindu taman anggrek Misa
Kenapa hidup Misa jadi gini sih? Perjodohan tak terduga, pernikahan dengan rencana untuk cerai, keluarga yang aneh, kenapa semua nya bersatu menyerbu hidup Misa?
Ya Tuhan maafkan hamba mu ini yang mempermainkan pernikahan.
Bukan aku yang mempermainkannya Tuhan, tapi semua itu sudah rencana orang itu, dan bila kau mau menghukum, hukum saja si singa itu jangan kau hukum aku, aku hanya seorang korban yang tertindas oleh hinaannya.
"Aku juga ingin menikah dengan sebenar-benarnya bersama orang yang mencintai, menyayangi ku begitu pun sebaliknya bukan seperti ini. Padahal aku belum mengalami rasanya jatuh cinta dan suka terhadap pria itu seperti apa, malah terikat nikah-nikahan dengan si singa." Oceh sebal Misa yang pikirannya sudah berkecamuk.
"Sepertinya aku harus membersihkan diri sebelum dia pulang," gumam Misa beranjak menuju kamar mandi.
*****
Tok..tok..tok.
"Nona, tuan Arga sudah pulang," ucap Bi Ane setelah mengetuk pintu namun yang di panggil tidak memberi jawaban.
__ADS_1
Bi Ane mengulangnya lagi, namun sama tidak ada jawaban dari dalam kamar. Dia membuka pintu kamar, namun yang di cari tidak ada di dalam nya.
Misa keluar dari ruang ganti baju dan ketika membalikkan badannya melangkah.
"Astaghfirullah," latah Misa kaget mendapati orang berdiri di hadapannya.
"Bi Ane sejak kapan bibi berdiri di sini?" tanya Misa yang sudah normal kembali napasnya.
Bukan menjawab pertanyaan tapi malah menginstruksi Misa. "Cepat Nona ke bawah, Tuan sudah pulang." Menunduk hormat dan berlalu meninggalkan Misa yang terbengong.
"Kenapa semua orang di sini seperti hantu saja sih datang tiba tiba, dan di tanya pun malah menjawab yang lain." Gerutu Misa berjalan keluar kamar.
Misa dan Para Pelayan sudah di depan pintu masuk menunggu kedatangan Arga. Dan tampaklah sebuah mobil hitam legam berhenti tepat di hadapan Misa.
Keluar Sekertaris Tang, untuk membuka kan pintu mobil penumpang lalu turunlah Arga dari dalam mobil yang langsung di sambut senyuman manis oleh Misa, sedangkan Arga nampak acuh tak acuh dengan sambutan Misa dan melewatinya begitu saja.
Hah! Aku sudah pasang senyuman manis malah di acuhin, kalau tidak di anggap hadir seperti ini buat apa juga aku menyambutnya. Misa terlongo bengong oleh sikap Arga.
"Tang, dan Bi Ane ke ruang kerja setelah aku mandi," ucap Arga.
"Dan kau ambilkan air," sambung Arga menunjuk dengan dagu nya ke arah Misa.
"Baik Tuan," ucap keduanya.
Setelah melihat Arga memasuki kamar nya, Misa dan Tang berbalik menuruni anak tangga yang menuju ke arah jalan yang berlawanan.
*****
"Tuan air nya." Memberikan segelas air putih ke arah Arga yang langsung di terima olehnya.
__ADS_1
Arga menenggak air itu, lalu memberikan kembali gelas kosong pada Misa.
"Lepaskan," titah Arga sambil menggerakkan kakinya.
Misa menatap wajah Arga dengan bingung. Lepaskan apa lagi? Kalau ngucapin perintah itu yang lengkap kek.
"Kenapa masih diam, lepaskan sepatu ku," titah Arga dengan meninggikan suara nya satu oktaf.
Apa susahnya sih mengucapkan kalimat yang lengkap. Misa melirik ke arah sepasang kaki yang terbungkus sepatu itu.
Tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya, dia mengambil sandal rumah yang ada di rak pojokan kamar lalu berjongkok melepaskan sepatu Arga. Ketika dirinya hendak berdiri. Arga menahan bahu Misa sehingga gadis mungil itu masih berjongkok di bawah sofa.
"Kenapa tubuh mu mungil sekali?" Tanyanya dan mendongakkan wajah Misa dengan telunjuk nya menempel di dagu.
Memang kenapa kalau tubuh ku mungil toh bukan tubuh mu ini. Misa menatap tak suka pada wajah tampan yang jaraknya cukup dekat.
"Sepertinya kau itu kurcaci yah?" sambungnya lagi tersenyum mengejek.
Iya Tuan mungkin saja. Malas aku meladeni mu.
Melihat Misa diam saja tanpa merespon apa pun membuat Arga geram.
"Apa selain kurcaci kau juga bisu?" Tanya Arga menatap tajam lalu melepaskan telunjuknya dari dagu Misa dengan kasar.
Melihat ekspresi Arga berubah kesal itu, segera Misa bersuara. "Maaf Tuan, bukan saya kurcaci tapi tinggi badan seperti ini untuk wanita itu hal wajar dan umum," ucap Misa menunduk.
"Siapkan air," titahnya.
"Baik Tuan," ucap Misa lalu beranjak menyimpan sepatu di rak, dan gelas kosong di atas nakas. Lalu setelahnya Misa masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...