
Arga memasuki kamar yang sudah gelap temaram, ia mengedarkan pandangan mencari sesosok gadis. Pandangan mata nya berhenti ketika yang di cari telah tertidur di atas ranjang dengan selimut yang sudah tersingkap sampai pinggul.
Terulas senyuman di bibir, pria tampan itu mendekati ranjang dan dengan pelan penuh kehati-hatian ia naik ke atas kasur. Arga tidur menyamping menghadap Misa sembari membenarkan selimut yang tersingkap di tubuh Misa.
"Kau sudah tidur ternyata. Apa kau takut jika aku meminta nya malam ini?" Terjeda sejenak, ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Misa. "Padahal aku juga belum mempelajari langkah-langkah nya." Gumam Arga pelan lalu tersenyum mengusap pipi mulus itu.
Sruuk...
Arga menyelipkan sebelah lengan ke bawah leher Romisa dengan sangat pelan penuh kehati-hatian agar gadis itu masuk ke dalam rangkulan dan pelukan.
"Lihat di buku panduan keluarga romantis, cara suami istri tidur yang harmonis seperti ini cara nya," gumam Arga sambil membenarkan kepala Misa agar berhadapan dengan wajahnya.
Cup.
Arga mengecup lembut kening Misa lalu berselimut berdua sambil memeluk tubuh mungil gadis itu dengan sebelah tangan lainnya mengelus lembut rambut panjang Misa.
"Emmh." Kepala Misa sedikit bergerak. "Singaaa...," igauannya pelan namun masih terdengar jelas oleh Arga.
"Dia ini kenapa selalu memanggil nama hewan buas itu ketika tidur? Apa itu hewan favorit nya atau hewan peliharaan nya?" Gumam Arga sambil terus membelai rambut panjang itu.
Bibir Misa mengecap seakan mengunyah makanan, menggaruk sudut bibirnya dengan jemari. "Bebaas... singaa... singaa..." igauan Misa lagi di sela pejaman mata.
Pria tampan itu terkekeh pelan. "Kau ini, jika ingin membebaskan singa dari kandang nya ya tinggal bebaskan. Sampe ke bawa mimpi segala." Ucap pelan Arga mencubit ujung hidung Misa dan mengecup nya.
Alis Misa mengernyit saat bibir Arga menyentuh kulit wajahnya, namun tak urung membuat gadis itu membuka mata.
__ADS_1
"Ternyata buku panduan itu cukup berguna sehingga aku tahu cara memperdekat jarak dengan Romisa," gumam Arga lalu ia menghela tubuh Misa ke dalam pelukan dan mempererat memeluk tubuh mungil gadis itu, lalu ia ikut memejamkan mata menyusul Misa ke alam mimpi.
*****
Arga terbangun dari tidur nya pada sepertiga malam karena merasakan keram di lengan juga bahu yang masih jadi bantalan kepala Misa.
"Ah." Ringis Arga dengan perlahan mata nya terbuka langsung bersirobok pada gadis dalam pelukan nya yang terlihat damai dan tenang dalam tidur.
Arrggh... tangan ku mati rasa. lelap sekali tidurnya Romisa.
Dan dengan gerakan pelan penuh kehati-hatian Arga hendak menarik lengan nya kembali namun tiba-tiba...
Grep.
Romisa memeluk tubuh pria itu dengan satu kaki di angkat menumpang ke tubuh Arga seakan-akan Arga bantal guling.
Puk...puk...puk.
Namun Romisa dengan tidak sadar malah menepuk-nepuk tangan Arga seperti menepuk bantal lalu mendusel-dusel kepala nya mencari posisi yang nyaman di lengan atas Arga.
"Apa buku panduan itu palsu. Bukan romantis nama nya tapi kritis yang ada. Tang, kau menyiksa ku dengan buku palsu mu," gumam Arga mengusap wajahnya dengan kasar oleh sebelah tangan yang bebas.
Hah... menghela napas pelan, melirik gadis cantik dalam pelukannya. Arga kembali berusaha menarik lengan di sertai menggeserkan kepala Misa penuh kehati-hatian, hingga akhirnya kepala gadis itu telah berpindah ke bantal dan langsung membalikkan tubuh tidur membelakangi Arga.
"Hey, kau tidur membelakangi ku. Sudah buat tangan ku mati rasa begini, tapi kau malah enak tidur dengan lelap nya." Gumam Arga ke arah Misa sembari menjulurkan tangan dan mengusap nya yang terlihat memerah berdenyut nyeri.
__ADS_1
"Mmm...," igau Misa mencari posisi nyaman di bantal tertidur lelap dengan tenang.
Meskipun lengan nya telah terbebas dari kepala Misa. Arga masih tidak bisa lagi melanjutkan tidur Karena masih merasakan nyeri di tangan nya.
Sampai waktu adzan subuh tiba. Misa menggeliatkan tubuh ke kiri dan ke kanan. Lalu mengerjapkan mata nya perlahan.
Arga yang setengah berbaring bersender ke tepi ranjang memperhatikan setiap gerakan Misa.
"Nyenyak?" Suara Arga terdengar berat nan jelas.
Misa masih belum sepenuh nya tersadar dari bangun tidur, ia dengan enteng menjawab pertanyaan Arga.
"Iya sangat nyenyaak dan nya-" ucapan Misa terhenti karena ia langsung di hadapkan dengan Arga yang sedang menatap tak terbaca.
"Eh." Terkaget Misa terpaku diam.
"Dan apa?" tanya Arga menuntut lanjutan.
Misa tersenyum cengengesan." Sua-sua-miku tidak tidur?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Arga tidak menjawab pertanyaan itu, ia malah langsung turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Misa yang menatap bingung.
Pada saat pria itu berjalan, Misa sempat melihat sebelah tangan Arga yang tampak merah di pegang.
Kenapa dengan tangan nya? Apa dia terjatuh dari ranjang sampe merah gitu? Tapi kan ranjang ini ukuran nya luas. Masa terjatuh dan juga aku tidur nggak terlalu banyak gerak.
__ADS_1
BERSAMBUNG....