
Cesa dan Misa memasuki kantor guru, keduanya langsung di sambut oleh suara teriakan dari sahabatnya Misa.
"Misaa... pagii," serang Rina berhambur hendak memeluk tubuh gadis mungil itu, namun tiba-tiba Cesa dengan sigap menghalangi.
Pergerakan Rina terhenti, dia melihat heran pada orang yang menghadangnya itu. Eh, kenapa orang ini menghalangi segala.
"Siapa dia Misa?" tanya Rina menunjuk wajah Cesa.
Cesa tersenyum ramah, mengulurkan sebelah tangannya. "Perkenalkan nama saya Cesa, saya guru baru bahasa asing di sekolah ini."
Rina menerima uluran tangan itu dan mengayunkan pelan untuk mengunci genggaman.
"Saya Rina, sahabatnya Misa sekaligus guru bahasa inggris di sini. "
Cesa melepaskan genggaman di jemari Rina dan menarik kembali tangannya.
"Jadi kamu guru baru itu, yang katanya bisa langsung di terima di sini dalam waktu semalam," tuduh Rina menilai penampilan Cesa.
"Iya, benar." Jawab Cesa singkat.
"Waw hebat kamu Cesa, tapi Misa sahabat ku pun tak kalah hebat dari mu." Ucap takjub Rina kembali hendak merangkul pundak Misa, namun lagi-lagi gerakannya di halangi lagi oleh Cesa.
"Kami saudara Rina." Celetuk Misa membuat Rina seketika membulatkan mata nya kaget.
"Sa-saudara!" Melirik Misa dan Cesa secara bergantian. Rina menggeleng kecil beberapa kali. "Aku tidak menyangka kamu, bisa punya saudara yang sama-sama hebatnya."
"Aku tidak merasa hebat Rina, karena aku jauh dari kata itu, masih banyak ke kurangan juga kelemahan ku."
"Yayaya aku tahu, jawaban mu pasti seperti itu. Eh, tapi bentar-bentar." Rina maju mendekatkan wajahnya ke arah wajah Cesa, ia menatap menelisik setiap inchi wajah gadis cantik itu.
"Kamu sedang apa Rin?" Heran Misa.
Rina mengangkat sebelah tangan ke arah Misa. "Mis, ini benar saudara mu? Kok nggak ada mirip-miripnya sama sekali," tanyanya curiga.
Misa tersenyum kikuk. "I-iya Rina, sudahlah sekarang sudah waktunya mengajar, bell masuk pelajaran sudah berbunyi tuh." Ujar Misa lalu melangkah berlalu ke arah meja nya.
Cesa ikut membuntuti Misa yang memang letak meja nya bersebelahan dengan Misa, sehingga tampak meja Misa di tengah-tengah antara meja Rina dan Cesa.
"Meja kamu di sini cesa?" tanya Misa yang melihat Cesa sudah duduk di kursinya.
"Iya Bu Misa."
Misa mengambil beberapa buku paket ajar. "Ya sudah aku duluan ya Rin, Cesa. Assalamualaikum," pamitnya berjalan ke arah pintu keluar ruangan.
"Walaikumsalam Misa," sahut Rina.
Dan Cesa yang melihat Misa keluar, segera ia beranjak dari duduknya ikut menyusul mengikuti Misa keluar kantor.
Misa yang tersadar di buntuti, ia menengok ke belakang dan tersenyum.
"Cesa, saya mau mengajar dan kamu juga pasti di tugaskan untuk mengajar kan?"
"Saya akan mengantar dulu Bu Misa sampai ke kelas dengan benar dan selamat, baru saya akan mengajar," ucap Cesa dengan pandangan menunduk.
Hah... Misa menghela napas nya.
"Baiklah, terserah kamu saja Cesa." Misa sedikit mempercepat langkah nya kembali.
*****
Waktu mengajar sudah habis yang berganti memasuki waktunya istirahat, Misa berjalan keluar kelas yang ternyata sudah di tunggui oleh Cesa berdiri di depan pintu.
__ADS_1
Langkah kaki Misa sedikit melambat, menatap heran pada gadis yang sedang tersenyum berdiri mematung itu.
Apa dia benar-benar mengajar di sini? Kenapa dia sudah berdiri saja di sana?
"Cesa sudah selesai mengajarnya?" tanya Misa yang saat ini telah berada di hadapan Cesa.
Cesa mengangguk tipis. "Sudah, Bu Misa."
"Baiklah, mari kita ke kantin untuk makan, tapi sebelumnya ke kantor dulu untuk mengajak Rina," ucap Misa sambil berbelok berjalan pelan di koridor, dengan Cesa mensejajari langkah kaki nya.
Di meja kantin.
"Mis, mau pesen apa? Biar aku pesenin sekalian, dan kamu cesa mau pesan apa?" tanya Rina menatap dua gadis terduduk di hadapannya yang ada di sebrang meja.
Cesa mengeluarkan sesuatu dari paper bag. "Bu Misa tidak perlu pesan apa-apa, karena Bu Misa sudah membawa bekal, ini bekalnya." Cesa menggeser kotak bekal itu ke arah hadapan Misa.
Sejak kapan dia membawa bekal ini? Kok aku tidak memperhatikannya.
Alis Rina dan misa berkerut heran menatap cesa bersamaan.
"Ya sudahlah, kalau kamu udah ada bekal mis, aku pesen dulu makanan yah, kamu Cesa mau makan apa?" tanya Rina.
"Sama seperti Bu Rina saja," jawab Cesa.
Rina beranjak berdiri lalu pergi meninggalkan dua orang di meja itu.
Misa membuka kotak bekal yang dalamnya berisi makanan sehat.
"Cesa sejak kapan kamu membawa bekal ini, perasaan tadi saya tidak melihatnya?" tanya Misa menatap Cesa, dia mulai menyendokkan makanan itu ke mulutnya, tanpa mengaduk atau mengoreknya terlebih dahulu.
"Sejak tadi Nona."
"Baik Non- maksudnya Bu Misa."
Huft... Misa menghela napas panjang lagi dan kembali memakan bekal nya.
Ada apa dengan si singa? Dia sampai mengatur makanan ku juga.
Rina telah sampai di meja mereka dengan tangan membawa nampan berisi dua mangkuk bakso dan dua minuman es teh manis.
"Nih Cesa bakso ini paling enak loh di kantin ini." Dia menyodorkan semangkuk bakso ke depan Cesa.
Cesa menatap nya tanpa berkedip membuat Misa yang melihat tersenyum.
"Kenapa Cesa? Kamu tidak suka bakso? Jika tidak suka buat aku saja," goda Misa.
"Tidak, saya suka," ucapnya tersenyum canggung.
"Jika suka makanlah, habiskan," titah Misa.
Rina yang memperhatikan interaksi mereka berdua, ia mengkerutkan alis nya bingung, dengan mata sedikit menyipit curiga.
Apa betul cesa saudaranya? Kenapa aku ngerasa ada yang tidak beres dengan sikap mereka? Juga tumbenan Misa membawa bekal... Dan lihat di dalam bekal nya bukannya itu daging udang. Misa kan tidak suka makan udang atau lebih tepatnya alergi.
"Uhuk... uhuk." Misa terbatuk ketika menyuapkan kembali makanannya.
"Kenapa Mis? Minumlah." Panik Rina sambil menyodorkan gelas es teh miliknya.
Namun Cesa dengan sigap menyambar botol minuman di paper bag, lalu membuka tutupnya dan langsung menempelkan ke bibir Misa.
Misa mengambil alih pegangan botol, dan menenggak hingga habis segaris. "Uhuk... uhuk." Lagi-lagi ia terbatuk setelah minum, wajahnya merah padam dengan alis mengernyit.
__ADS_1
"Ibu Misa tidak apa-apa?" tanya Cesa khawatir sambil mengusap tengkuk leher Misa.
"Saya tidak apa-apa cesa... uhuk..uhuk, terimakasih," ucap Misa serak di selingi batuk yang bertubi.
"Misa, sejak kapan kamu suka makan udang? Sepertinya kamu batuk karena memakan itu deh, lihatlah bekal mu ada udangnya Mis." Rina menunjuk ke arah kotak bekal.
Misa mengorek untuk melihat lebih isi teliti kotak bekal, napasnya terdengar tersendat-sendat karena sesak.
Seketika mata nya membulat. "Ya Tuhaan benar Rin, pantas saja aku terbatuk dan merasa sesak sekali, kenapa aku tidak-"
Bugh.
Tiba-tiba tubuh Misa lunglai dan kepalanya jatuh terbentur di atas meja. Dia tak sadarkan diri secara mendadak.
"Misa! Misa!" Panik Rina, membuat semua orang yang berada di kantin menoleh ke arah meja mereka.
"Bu Misa! Kamu tidak apa-apa?" Cesa langsung menghela kepala Misa yang lunglai di atas meja itu ke dalam rangkulannya. Dia memeluk tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.
Seketika suasana kantin menjadi gaduh, para murid mulai berhambur mengkrubungi meja mereka, Egi yang berada di sekitar langsung datang kehadapan mereka begitu pun dengan Pak Dani.
"Ada apa ini? Kenapa dengan Bu Misa, Rina?" tanya Pak Dani yang melihat Misa terkulai lemas dalam pelukan Cesa.
"Dia...dia...," gagap Rina sambil menunjuk kotak bekal di atas meja.
"Siapa yang memberikan kotak bekal ini? Apa dia tidak tahu kalo Misa alergi udang!" Bentak Egi geram.
Cesa menunduk merasa bersalah. "Maafkan saya... saya tidak tahu," ucapnya menyesal.
"Saya harus langsung bawa Bu Misa untuk pulang." Sambung Cesa, lalu ia bangkit mengangkat tubuh mungil itu.
"Minggir semua!" Sentak Egi pada para murid yang menghalangi jalan Cesa.
"Saya ikut Bu Cesa." Ujar Pak Dani hendak melangkah, namun langsung di beri tatapan tajam oleh Egi hingga mengurungkan niatanya.
"Tidak perlu," ucap Cesa dingin lalu berjalan pergi.
Pak Dani melihat kotak bekal yang masih terbuka itu, lalu ia beralih menatap Rina yang masih mematung syok.
"Rina, kau tidak mencegahnya untuk memakan itu?"
"Aku tidak tahu, tadi aku sedang memesan makanan dan ketika aku kembali... Misa sudah memakannya dan...," Rina sudah tidak sanggup menjelaskannya karena masih syok.
Hah... menghembuskan napas kasar, Pak Dani meninggalkan Rina di meja kantin yang masih mematung.
Di Parkiran Mobil.
"Kau di belakang selalu awasi dia, biar aku yang menyetir," titah Egi.
"Baik tuan." Cesa memasuki kursi penumpang bersama Misa..
Egi masuk ke dalam mobil, ia duduk di kursi kemudi lalu mulai menjalankan mobil nya agar keluar dari pelataran sekolah.
Dan kini mobil itu sudah melaju dengan kecepatan cukup tinggi di jalanan kota.
"Kalau terjadi sesuatu pada nya, kau akan tau akibatnya," Egi memperingati penuh penekanan.
Seketika tubuh Cesa mulai gemetar takut. "Maafkan saya tuan, saya... saya hanya menerima kotak bekal itu dari bi Ane, saya tidak tahu apa-apa."
Misa masih saja terkulai lemas dalam pangkuan Cesa, di permukaan kulitnya mulai muncul bintik-bintik kecil kemerahan.
BERSAMBUNG...
__ADS_1