
Misa dan arga beriringan menuju meja makan untuk sarapan dengan arga yang merangkul terus pinggang misa, serta senyuman kebahagiaan tidak pernah surut dari bibir nya. Sedang misa memasang wajah datar nya karena pagi pagi sekali harus menghadapi tingkah manja dan mesum nya arga lagi.
Egi dan syila yang melihat raut wajah yang berbeda dari kedua orang yang duduk di hadapan nya mengkerutkan alis bingung.
Ada apa dengan kaka, bukan nya denger denger waktu malam habis mengamuk gara gara nggak di sambut pulang oleh misa. Kenapa sekarang senyam senyum kayak kuda yang lagi kasmaran.
Dan kenapa itu wajah misa berubah tidak ceria. Biasa nya dia akan selalu memasang senyuman nya jika menyambut pagi hari.
"Ekhm...ekhem" deheman egi membuat arga dan syila menoleh pada nya.
Sedang misa asyik mengoles selai pada roti panggang di tangan nya.
"Ka egi, kenapa. Sakit?" tanya syila mengecek dahi egi.
Egi langsung menyingkirkan telapak tangan syila dari dahi nya. Lalu menatap arga dengan tatapan dingin sedang arga yg di tatap malah bersikap acuh.
"Suamiku, bolehkah aku ke sekolah hari ini. Untuk membagikan raport hasil belajar nya para murid," tanya misa lalu memasukkan roti panggang yang sudah di lapisi selai kacang ke mulut nya.
Arga menoleh pada misa,
"boleh, tp setelah nya langsung pulang," ucap arga.
Misa mengangguk mengiyakan.
Kenapa dia jadi mengatur ku. Apa karena pernyataan cinta nya semalam dan keberhasilan nya atas menguasai jiwa ku semalam jadi nya bersikap seperti ini.
Tp apa benar yg dia katakan nya itu bahwa dia mencintai ku sedangkan selama ini dia selalu bersikap berubah ubah seperti bunglon. Yg kadang baik dan kadang mengaung nggak jelas di depan wajah ku.
"Suamiku, apakah boleh jika aku menjenguk bibi ita lagi," pinta misa dengan ke hati hati an karena takut membuat arga tersinggung dengan kejadian kemarin.
__ADS_1
Seketika tatapan mata arga berubah menjadi dingin, "boleh," ucap nya dingin.
Misa tersenyum ke arah arga, "terimakasih suamiku," balas misa.
Syukurlah dia mengizinkan.
"Asal jangan sampai larut seperti kemarin romisa," tegas arga lagi.
Misa mengangguk mengiyakan.
"Kaka ipar, memang kemarin ada apa. Kenapa kaka ipar dg ka arga membahas nya tentang kemarin saja sih. Syila kan nggak ikutan soal nya diam aja di kamar," seloroh syila penasaran.
Seketika gerakan tangan misa terhenti ketika akan menyuapkan makanan ke mulut nya, lalu menoleh pada arga yang saat itu sedang memandang nya.
"Itu..tidak ada apa apa syila, hanya bibi kaka sedang sakit, jadi nya kaka harus menjenguk bibi di rumah sakit," ucap misa canggung.
"Iya syila. Amiiin semoga cepat sembuh doain aja yah," balas misa lalu tersenyum.
--------------
Setelah sarapan selesai seperti biasanya syila dan egi akan pergi ke sekolah nya masing masing, sedang misa mengantar arga ke teras depan untuk berangkat bekerja.
Tampak sekertaris Tang sudah membuka kan pintu mobil penumpang untuk arga sedang arga masih betah berdiri di hadapan misa.
Kenapa dia masih berdiri di sini mau apa lagi dia ini.
"Tang.." panggil arga memberikan isyarat mata pada Tang.
Seketika semua para pelayan dan para penjaga membalikkan tubuh mereka agar menghadap berlawanan arah, dari sebelum nya sekertaris Tang pun melakukan hal yang sama membalikkan badan nya menghadap ke mobil.
__ADS_1
Mau apa dia. Kenapa semua orang pada membalikkan badan nya.
"Romisa, kiss semangat nya," gumam arga pelan di telinga misa setelah diri nya mencondongkan tubuh ke depan agar bisa mensejajari wajah misa.
Misa menatap arga ada rona merah di kedua pipi misa. Lalu misa melirik sekitar nya.
Kenapa dia meminta hal mesum di sini sih. Bikin malu aja. Ya tuhaan.
"Cepatlah romisa, berikan di sini.. sini..sini.." tunjuk arga pada bagian wajah nya yang harus misa cium.
kenapa Harus sebanyak itu sih aku melakukan nya, singaa.
"Baiklah..." ucap romisa lalu mengecup kedua pipi arga dengan singkat.
Arga terkekeh dengan sikap malu malu misa lalu mengecup bibir misa sekilas dan beralih ke kening misa.
Hey, kau jangan melakukan ini terhadap ku. Apa dia tidak punya rasa malu di depan banyak orang meskipun mereka tidak melihat nya karena menghadap ke sana tp aku tetap malu.
"Aku berangkat dulu romisa," ucap arga menegakkan kembali tubuh nya lalu mengusap puncuk kepala misa dengan gemas.
Misa hanya mengangguk kaku mengiyakan
Arga berjalan ke arah mobil nya dan duduk di kursi penumpang.
Sebelum pintu mobil benar benar tertutup arga sempat mengedipkan sebelah mata nya pada misa dan tersenyum.
Kenapa serasa nya dia manis sekali jika mengeluarkan ekspresi seperti itu. Membuat jantung ku semakin berdetak tak karuan.
BERSAMBUNG..
__ADS_1