
Dokter wanita dan asisten nya mendekati ranjang lalu duduk di kursi kecil samping ranjang.
"Selamat pagi nona romisa," sapa ramah dokter wanita.
"Pagi dok," balas Misa lalu tersenyum.
"Perkenalkan nama saya dokter meriska, dan ini asisten saya tina," ucap dokter tersebut memperkenalkan diri nya, dan asisten nya yang duduk di samping meriska.
Misa hendak membuka bibir nya untuk menjawab ucapan dokter, namun arga dengan tegas nya mendahului misa.
"Saya minta jalankan tugas anda sebagai dokter, dan cepat periksa istri saya, bukan untuk saling berkenalan," seloroh Arga dengan nada dingin. Membuat senyuman di kedua wanita berseragam medis tersebut perlahan memudar.
Kenapa dia bersikap seperti itu pada dokter meriska. Tp entah kenapa rasa nya aku senang jika dia bersikap dingin ke dokter ini.
"Baik tuan arga," balas dokter meriska lalu membuka tas dokter nya dan mengeluarkan alat alat medis untuk pemeriksaan.
Dokter meriska mulai melakukan pemeriksaan step by step untuk menentukan apakah benar misa sedang mengandung lalu menatap misa hangat.
Dokter meriska meminta asisten nya untuk mencatat semua hasil pemeriksaan dan apa yang akan di tanyakan nya ke misa.
"Nona, usia nona berapa tahun?" tanya Meriska ramah.
"Saya jalan 22 tahun dok."
"Saya kira 17 tahun, soalnya imut sekali. hehe.." canda dokter Meriska dan mendapat tatapan tajam dari arga.
"Banyak yang berkata seperti itu dok," timpal Misa lalu tersenyum.
"Nona, bulan sebelum nya awal dan terakhir haid tanggal berapa?" tanya nya kembali.
"Tanggal 10 dan terakhir kali nya 5 hari sesudah nya dok," jawab Misa.
"Apakah bulan sekarang nona sudah haid lagi?" tanya kembali Meriska.
"Belum dok, bahkan sudah hampir memasuki bulan selanjutnya lagi saya belum haid juga," jawab Misa jujur.
Dokter meriska mengangguk pelan lalu kembali menatap misa.
"Nona, maaf sebelumnya. Apakah nona mempunyai riwayat anemia?" tanya dokter Meriska serius.
Misa berpikir sejenak lalu menatap dokter meriska.
"Tidak ada dok," jawab Misa yakin.
Dokter meriska lagi lagi mengangguk pelan lalu memeriksa pergelangan tangan misa.
Sedang arga yang melihat percakapan misa dengan dokter meriska mengkerutkan alis nya heran.
"Kenapa anda banyak bertanya hal yang tidak penting pada istri saya? Bukan nya saya meminta anda untuk memeriksa nya, dan berikan hasil nya bukan banyak bertanya seperti itu," tutur Arga dengan nada dingin dan tatapan tajam nya.
Dokter meriska menghela napas nya pelan lalu menatap arga dan tersenyum ramah.
"Tuan, saya bertanya untuk memastikan kecocokan dengan hasil pemeriksaan saya. jadi saya harus banyak bertanya terhadap nona," jelas Meriska dengan nada tenang.
"Baiklah lanjutkan, dan saya harap anda tidak mengecewakan saya," tegas Arga menatap tajam pada meriska.
Ternyata benar rumor yang beredar arga putra adalah pria arogan berdarah dingin. Tp dia terlihat sangat cool dengan sikap dan wajah tampan nya pikir meriska sambil sesekali melirik arga yang sedang mengusap lembut puncuk kepala misa.
"Anda percayakan saja pada saya tuan arga," balas Meriska lalu tersenyum.
Misa tersenyum terpaksa ke arah dokter meriska, agar dokter mau memakluminya arti senyuman misa
meriska mengangguk pelan menjawab arti senyuman misa.
"Seperti nya kami akan melakukan tes darah, tina tolong kamu ambil sampel darah nona romisa," titah Meriska ke asisten nya yang sedari tadi mencatat semua yang di pertanyakan oleh meriska ke misa.
"Baik dok," balas Tina dan mengeluarkan peralatan untuk mengambil sampel darah misa.
__ADS_1
Namun lagi lagi arga mencegah nya dengan suara cukup meninggi.
"Hey, anda mau menyakiti istri ku. Hah, " bentak Arga dan menatap tajam ke arah asisten tina.
Membuat tina gemetar tidak mampu menatap arga hanya bisa menundukkan kepala nya.
"Maaf tuan, saya hanya ingin mengambil darah nona sedikit untuk sampel laboratorium," tutur Tina sambil menunduk.
"Anda bilang ingin mengambil darah. Jika istri saya kehabisan darah. Anda akan bertanggung jawab. Saya tidak mengizinkan nya," tegas Arga dengan nada tajam.
Dokter meriska sudah memijit pangkal hidung nya yang tidak pegal, lalu menatap misa dengan tatapan memohon dan tangan menangkup di depan dada.
Seakan misa mengerti tatapan meriska. Misa memegang tangan arga yang sedari tadi berada di atas puncuk kepala misa lalu menurunkan nya untuk di usap lembut punggung tangan arga.
"Suamiku, jika kamu tidak mengizinkan dokter meriska mengambil sampel darah ku. Bagaimana bisa dokter meriska akan memeriksa kondisi ku dan memastikan semua nya. Jadi izinkanlah mereka. Mengambil darah untuk sampel lab tidak akan membuat ku kehabisan darah, suamiku," tutur Misa dengan nada lembut untuk menenangkan arga.
Arga menatap hangat misa lalu mengecup punggung tangan misa. Dan menghembuskan napas nya pelan.
Arga beralih menatap asisten tina dengan tatapan dingin lalu mengangguk pelan.
"Baiklah anda saya izinkan, tp jangan sampai menyakiti istri saya," tegas Arga.
"Baik tuan, saya akan hati hati agar tidak menyakiti nona," tutur asisten Tina lalu mulai mengambil sampel darah misa dengan sangat hati hati.
Dokter meriska bernapas lega lalu mengamati arga dan misa bergantian.
Ada tatapan iri di kilasan mata meriska melihat arga begitu perhatian terhadap misa.
Beruntung nya nona romisa mendapatkan tuan arga putra pikir meriska.
Sedang arga memperhatikan raut wajah misa jika saja misa mengernyitkan alis nya menahan sakit. Arga akan menegur kembali asisten tina. Namun misa berusaha semampu nya untuk tetap tersenyum hangat ke arah arga.
Setelah selesai pengambilan sampel darah dokter meriska kembali memberi arahan pada tina.
"Tina kamu keluar dari kamar ini nanti kamu akan di halau oleh sekertaris Tang untuk menuju laboratorium keluarga arga putra," titah Meriska yang di angguki oleh tina lalu tina keluar kamar.
"Nona, hasil lab nya akan selesai dalam waktu 1 atau setengah jam. Jadi nona, bersediakah menunggu nya," ucap Meriska.
"Iya dok saya akan menunggu nya."
"Kenapa lama sekali hanya memeriksa sampel darah saja lama sekali?" protes Arga kembali.
"Maaf tuan tapi setengah jam atau satu jam juga itu sudah ke hitung cepat tuan," balas Meriska.
Singa bisakah kau diam aku malu pada dokter meriska yang kelihatan nya sudah kesal dengan segala protes mu itu.
"Suamiku.." panggil Misa sambil menatap arga.
Dan arga membalas tatapan misa dengan tatapan teduh lalu mengusap sisi wajah misa dengan lembut.
"Ada apa romisa, apakah ada yang sakit?" tanya Arga perhatian.
Misa menggelengkan kepala nya pelan lalu melirik meriska yang saat itu tersenyum canggung dan menatap arga.
Kenapa aku merasa dokter meriska dari tadi melirik dia terus sih.
----------------
Selang beberapa waktu asisten tina kembali lagi dengan di ikuti sekertaris Tang di belakang nya.
"Dok ini hasil lab nya nona romisa," ucap Tina sambil menyodorkan amplop hasil pemeriksaan misa.
Dokter meriska menerima amplop tersebut lalu mulai membuka, mengambil isi amplop dan membaca hasil lab misa dengan teliti.
Sedang misa dan arga tampak tegang menunggu hasil lab yang akan di bacakan oleh meriska.
"Kenapa anda diam. Cepat katakan apa yang tertulis dalam kertas itu!" tegas Arga tidak sabar.
__ADS_1
Dokter meriska melirik misa dan arga bergantian lalu melipat kembali lembar kertas dalam pegangan nya.
"Selamat tuan, nona. Anda akan menjadi orang tua. Dan di hitung dari HPHT usia kandungan nona sudah menginjak usia 7 minggu. Sedangkan untuk hasil lab nya alhamdulillah semua nya normal, hanya saja saat ini darah nona cukup turun nanti saya akan memberikan suplemen untuk mengatasi nya. Dan nona perbanyaklah mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi juga jangan lupa konsumsi buah buahan yang mengandung vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi agar lebih maksimal," tutur dokter Meriska panjang lebar.
Sedangkan yang di beri penuturan nya sudah hanyut oleh rasa bahagia dan seperti nya tidak mendengarkan ucapan terakhir dari dokter meriska.
"Romisa..istriku akhirnya..." ucap Arga lalu memeluk misa yang kebetulan misa tengah terduduk setengah terbaring menyender ke kepala ranjang.
Misa membalas pelukan arga dan tersenyum bahagia.
"Suamiku. Benarkah aku akan menjadi ibu?" tanya Misa.
Arga mengangguk mengiyakan.
Ternyata seperti ini arga putra terhadap istri nya. Jadi semakin iri pada nona romisa pikir dokter meriska yang memperhatikan kedua nya.
Sementara sekertaris Tang dan asisten tina yang mengamati kedua nya hanya menghela napas panjang lalu menatap canggung pada kedua nya.
"Ekhem..tuan, nona...apakah pemeriksaan nya akan di lanjutkan?" deheman sekertaris Tang membawa kembali arga dan misa ke kesadaran nya.
Segera misa melepaskan pelukan nya pada arga dan menundukkan kepala nya malu.
Arga menatap tajam ke arah Tang.
"Baiklah lanjutkan," titah Arga dan kembali merangkul tubuh misa.
"Tuan, nona. Jika anda ingin melihat perkembangan bayi anda. Kami bisa melakukan USG," usul dokter Meriska membuat misa berbinar.
"Benarkah bisa di lakukan secepat itu?" tanya Misa semangat.
"Iya nona, tapi mungkin untuk USG kami akan melakukan nya di rumah sakit tuan," ucap dokter Meriska membuat arga mengernyitkan alis nya.
"Lakukan saja di rumah, kenapa harus ke rumah sakit?" tegas Arga.
"Tuan, setelah saya melihat lihat ruang kedokteran di rumah anda seperti nya alat alat kedokteran di rumah anda belum ada peralatan untuk USG."
"Tang akan mengurusnya masalah itu. Yang anda lakukan sekarang jalankan tugas anda sebagai dokter dan lakukan di rumah saja jangan sampai istriku di bawa ke rumah sakit," seloroh Arga tidak suka.
Lagi lagi misa mengusap tangan arga agar lebih tenang dan sepertinya itu berhasil.
"Baiklah Tuan," pasrah dokter Meriska.
Sementara sekertaris Tang yang mendengar penuturan arga segera sibuk dengan ponsel nya.
"Tuan, nona. Bagi ibu hamil akan merasakan perubahan emosi selama trisemester usia kandungan dan bahkan bisa juga sampai nona melahirkan. Dan untuk tuan, saran saya jika nona bersikap aneh. Ataupun meminta sesuatu yang tidak biasa janganlah heran atau takut. hal itu terjadi Karena perubahan hormonal dalam tubuh seorang ibu hamil. Dan saya akan resep kan vitamin terbaik untuk menjaga tubuh dan janin dalam kandungan nona agar tetap sehat dan terjaga," jelas dokter Meriska membuat arga berpikir sejenak.
Ternyata selama ini romisa bersikap aneh karena kehamilan nya bukan kerasukan makhluk halus. Syukurlah. Gumam Arga dalam hati.
"Terimakasih dok. Oh, iya dok. Bukan nya jika orang hamil muda itu akan mengalami mual dan muntah2 di pagi hari, namun sepertinya selama ini saya tidak merasakan nya hanya waktu semalam saja itu terjadi pada saya. Apakah itu tidak apa apa dok?" tanya Misa lalu tersenyum.
"Morning sickness memang sering terjadi pada setiap ibu hamil. dan ada juga kasus seperti nona romisa yg tidak mengalami nya, tp nona tidak perlu khawatir atau takut karena itu tidak berbahaya atau ada kelainan pada kandungan nona. Semua nya akan baik baik saja. Karena melihat hasil lab nona semua nya normal," jelas dokter Meriska.
Yang di balas anggukkan kepala oleh misa.
"Tuan, seperti nya untuk USG akan di lakukan di sore hari. Karena alat alat nya sedang dalam pemesanan juga ruangan nya sedang di persiapkan," tutur Tang pada arga yang saat itu arga tengah memperhatikan misa.
Arga beralih menatap Tang dan menghela napas nya pelan. Lalu arga kembali menatap Tang dan seakan Tang mengerti tatapan arga.
Sekertaris Tang beralih menatap dokter meriska.
"Dokter meriska, untuk saat ini anda boleh pulang dan kembali lagi kemari nanti sore hari. Dan pastikan anda tepat waktu datang kemari," tutur Tang yang di balas anggukkan kepala oleh meriska.
"Baiklah, nona romisa. Saya permisi dulu. Dan ini vitamin juga suplemen nya saya sudah siapkan. sampai jumpa nona," pamit Meriska dan tersenyum tulus setelah diri nya menyimpan dua botol obat di atas nakas.
"Sampai jumpa kembali dok. Dan hati hati di jalan," ucap Misa ramah.
Lalu kedua orang berseragam medis tersebut di halau oleh sekertaris Tang keluar kamar arga. menyisakan arga dan misa di dalam nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...