Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
62


__ADS_3

Misa telah sampai di rumah pas sekali dengan gema suara adzan magrib. Dia turun dari mobil dan langsung berhambur menuju kamar.


Ceklek.


Misa membuka pintu kamar dengan lebar. "Syukurlah dia belum pulang," gumamnya saat mendapati kamar yang masih kosong.


Dia berjalan memasuki kedalaman kamar. "Sebaiknya aku shalat magrib dulu deh untuk bersiap menyambut dia pulang," gumam Misa sambil berlalu masuk ke pintu ruang ganti.


Misa membersihkan diri nya dan tidak lupa mengambil air wudu untuk melaksanakan shalat magrib.


Saat ini gadis cantik itu masih memakai jubah handuk mematung di depan lemari pakaian yang pintu nya terbuka lebar.


"Apa ini?"


Dahi dia mengkerut bingung saat melihat gaun berwarna merah dengan bagian atas yang terbuka dari bagian bahu sampai lengan namun tampak sangat cantik.


Mengambil gaun merah tersebut dan membeberkannya untuk di lihat lebih dekat. "Gaun siapa ini? Kenapa ada di lemari ku? Aku kan belum pernah memakai gaun seperti ini?"


Krak.


Dengan kasar Misa mengaitkan kembali gaun tersebut ke gantungan lemari.


"Siapa yang menaruhnya di sini sih? Apa si singa mempunyai wanita simpanan sehingga gaun perempuan nya tertinggal di lemari ku." Oceh Misa bibirnya meremet kesal ketika membayangkan Arga benar-benar bersama wanita lain.


"Ck, kenapa aku sekesal ini membayangkan jika si singa dengan wanita lain, terserah dia lah. Toh aku hanya istri palsu nya." Oceh Misa lagi sambil mengobrak-abrik isi lemari untuk mengambil pakaian tidur lalu memakainya.


Setelah berpakaian rapi dengan baju tidur lengan panjang, celana panjang, Misa melaksanakan kewajibannya yaitu shalat magrib.


Setelah beberapa waktu kemudian.


Misa telah selesai melaksanakan shalat isya, dan juga makan malam bersama kedua adiknya Arga karena Bi Ane mengatakan kalau Arga menyuruh Misa dan kedua adiknya makan malam duluan.


Saat ini Misa sudah kembali ke kamar nya, ia melangkah mendekati anggrek hitam yang terlihat segar di pot.


Jemari tangannya menyentuh kelopak bunga. "Anggrek hitam. Apa benar yang di katakan oleh Rina jika aku sudah jatuh cinta terhadap si singa?" Misa berbicara pada tanaman seolah mereka bisa menjawab.


Hah... menghela napas panjang, Misa menatap ke arah lain. "Tapi mana mungkin perasaan seperti mau meledak itu di sebut cinta... sedangkan dia sangat menakutkan sekali, aku hanya ketakutan saja bukan cinta." Ocehnya lagi.


Lalu ia mengalihkan pandangan nya pada jam dinding yang menempel di dinding. Alisnya sedikit berkerut bingung saat melihat jarum jam yang menunjukkan pukul 9 malam.


Tumben dia belum pulang jam segini? Apa dia mau menginap dengan wanita simpanan si pemilik gaun merah itu? Kenapa aku sangat kesal sekali saat membayangkannya saja?

__ADS_1


Kemudian Misa...


Bugh! Hah... Ia merebahkan tubuhnya ke atas sofa panjang dan menghela napas panjang menatap lurus ke depan.


"Damainya, tapi kenapa hati ku serasa ngeganjal nyut-nyutan dan perih rasanya di dada ini. Ada apa dengan ku?" Gumam Misa sambil menepuk nepuk dadanya.


Tok..tok...tok.


Suara ketukan pintu membuat Misa sontak langsung menoleh cepat. "Siapa?"


"Saya Bi Ane."


Misa bangkit dari tidurannya, masih duduk di sofa. "Kenapa Bi?"


"Tuan Arga sudah di depan gerbang."


"Ah, i-iya." Misa berjalan cepat ke arah pintu dan keluar kamar.


Dia berjalan sedikit tergesa menuju lantai bawah di iringi Bi Ane yang mengekori dari belakang.


Huft... Misa mengatur napas saat diri nya telah sampai di teras depan rumah, juga tidak lupa melebarkan bibir untuk memasang senyuman manis.


Dan tidak lama kemudian mobil hitam mewah berhenti tepat di depan teras di hadapan Misa. Sekertaris Tang turun dari kursi kemudi lalu membukakan pintu mobil untuk tuannya.


Eh, apakah aku melakukan kesalahan? Mengapa dia jadi dingin, semenjak dari pagi sampai sekarang menatap ku pun tidak.


"Nona Romisa, tuan sudah mau ke atas." Ucap Bi Ane menyadarkan Misa dari lamunannya mematung bengong.


"Eh i-iya bi." Balas Misa berbalik dan berjalan setengah berlari mengikuti Arga yang sudah menaiki anak tangga.


Ceklek.


Arga memasuki kamar, ia melangkah ke arah sofa lalu duduk dengan kaki tersilang dan sebelah lengan di senderkan ke lengan sofa di jadikan untuk menopang kepala.


Misa masih berdiri mematung di ambang pintu yang sudah tertutup.


Apakah dia marah kepada ku, tapi apa kesalahan ku?


Gadis cantik itu berjalan menuju rak sandal, menghampiri Arga lalu berjongkok untuk menggantikan sepatu nya menjadi sandal rumah.


Misa beranjak melangkah kembali ke rak, menyimpan sepatu itu ke rak bagian sepatu namun pikirannya yang masih termenung bengong memikirkan sikap Arga yang berubah dingin lagi terhadapnya. Dia berdiri mematung di samping bufet hias.

__ADS_1


"Kenapa kau di situ, kemarilah." Titah Arga tegas namun terdengar dingin.


Nada suara nya juga sangat menakutkan sepertinya si singa akan mengaung.


Misa menurut menghampiri dan berdiri di hadapan pria itu.


Sreet.


Arga menarik lengan Misa sehingga gadis itu melotot kaget karena saat ini ia telah terduduk di pangkuannya.


"Sua-suamiku."


Misa hendak bangkit dari pangkuannya namun Arga menarik pinggang gadis itu, memerangkap tubuhnya sehingga Ia tidak dapat bergerak sama sekali.


Singa apa yang kau lakukan?


Tubuh Misa seketika bergetar membeku dengan pandangan menunduk tak kuat melihat sorot mata tajam Arga dari dekat yang bisa saja membuat jantungnya benar-benar meloncat keluar.


Arga mengangkat dagu Misa dengan jemarinya sehingga tatapan mereka bertemu dan wajah gadis itu mendongak ke arahnya.


"Apa yang kau lakukan hari ini?" Tanya Arga kental dengan mengintimidasi.


Misa masih terdiam tanpa suara, ia tak mampu bersuara karena lidahnya terasa kaku nan kelu, tubuhnya semakin bergetar takut.


"Jawab!" Sentak Arga meninggi.


Membuat Misa mengerjap, menutup mata rapat-rapat dengan alis mengernyit. Singaa jangan mengaung di depan wajah ku... apa kesalahan ku singa. Kenapa kau mengaung begini.


Menyadari perubahan respon tubuh dan ekspresi wajah Misa yang terlihat ketakutan. Sorot mata Arga perlahan meredup, kemudian jemarinya dengan lembut beralih menelusuri seluruh wajah gadis di pangkuannya.


"Kau pergi kemana Romisa?" Ucap Arga pelan.


Mendengar nada suara sedikit melembut itu, Misa membuka mata yang tatapannya langsung bersirobok dengan sorot mata Arga.


"Aku-aku-aku pergi ke pesta pernikahan putri-putri kepsek." Terbata Misa masih di sertai ketakutan bercampur terkejut.


Arga masih menatap dingin ke bola mata Misa.


"Dengan siapa?" Tanya Arga dengan nada mengintimidasi dan masih menelusuri wajah Msa dengan jemari nya.


"Gu-guru lain nya...,"

__ADS_1


"Ceritakan." Sambung Arga sambil membuka kerudung di kepala Misa dan melemparkannya ke samping sofa.


BERSAMBUNG....


__ADS_2