
Misa, Cesa dan Rina saat ini tengah berjalan menuju ke pelataran sekolah. Namun pada saat di belokan koridor, Misa memilih untuk menunggu saja di depan gerbang sekolah sementara Cesa dan Rina menuju parkiran untuk mengambil kendaraan masing-masing.
Sebuah mobil hitam yang di kendarai Cesa perlahan melambat dan berhenti tepat di depan pintu gerbang sekolah dimana Misa berdiri.
Begitu pun dengan Rina, menyusul mengendarai motor berhenti tidak jauh dari mobil hitam itu. Cesa keluar dari dalam mobil hendak membuka kan pintu mobil depan untuk Misa.
Namun tiba-tiba Misa menghentikan gerakan tangannya. "Sebentar, Rina aku pengen es kelapa dulu boleh, soalnya haus banget." Dia menunjuk ke arah warung es kelapa yang biasa di kunjunginya.
Mengikiti arah pandang Misa, Rina mengangguk. "Boleh deh, aku parkir dulu di sana yah." Tunjuknya pada tempat kosong untuk memarkirkan motor.
"Iya." Misa berbelok melangkah hendak ke arah Rina. Namun tiba-tiba Cesa menghadang langkahnya hingga membuat gadis cantik itu terdiam mengernyitkan alis bingung.
"Kenapa Cesa?"
Cesa memajukan tubuhnya sedikit condong ke depan. "Nona, jangan memakan atau meminum yang sembarangan." Cegahnya setengah berbisik agar tidak terdengar Rina.
"Cesa tapi aku haus dan minuman di botol itu sudah habis." Misa kembali melangkah kan kakinya mendekati Rina yang sudah memarkir kan motor.
"Tapi...," ucapan Cesa menggantung karena Misa sudah menggandeng lengan nya.
"Sudah lah Cesa, yuk Rina kita kesana." Ajak Misa pada sahabatnya yang di balas anggukkan kepala.
Mereka berjalan beriringan menuju warung es kelapa.
"Pak es kelapa nya 3 yah," pesan Misa sambil duduk di bangku panjang luar warung.
Bapak warung melihat ke arah suara. Dia tersenyum ramah. "Eh, si Neng... baik Neng." Dan mulai membuat pesanan.
"Bu Misa, saya mau lihat ke dalam dulu," kata Cesa beranjak dari duduknya.
"Mau ngapain Cesa?" Heran Rina.
"Mau lihat cara pembuatan nya seperti apa," ucap Cesa sambil lalu tidak menunggu jawaban dari mereka lagi.
Cesa langsung merangsek masuk ke dalam warung. Dengan pandangan mata yang awas nan jeli, ia memperhatikan bagaimana bapak warung itu yang akan membelah buah kelapa.
"Pak itu pisau nya bersih tidak? Warna nya hitam." tanya Cesa saat bapak warung memegang pisau besar.
Bapak warung menoleh sejenak, ia mulai membelah kelapa dan menimpali ucapan Cesa. "Emang sudah dari sana nya Neng, warna pisau buat potong kelapa mah kayak gini, tapi tenang saja bersih kok, Neng."
Cesa mengernyit, masih menatap aneh.
Bapak warung memasukkan air kelapa ke dalam gelas besar dan mengkeruk kelapa nya dengan alat keruk buah.
Cesa sudah seperti orang gusar melihat adegan bapak warung mengkeruk kelapa.
Dan kali ini Bapak warung menuangkan susu ke dalam gelas, dan pada saat akan menuangkan cairan gula. Tiba-tiba Cesa menghentikan pergerakan nya dengan sedikit berteriak.
"Tunggu Pak!" Cegahnya.
Bapak warung meletakkan sendok besar ke mangkuk dan menatap tanya. "Kenapa Neng?"
"Itu cairan apa yah Pak?" tanya Cesa menunjuk tempat cairan gula.
Melirik tempat itu. "Gula Neng." Bapak warung kembali memegang sendok dan menuangkan satu sendok sayur cairan gula ke salah satu gelas.
"Yang ini jangan di kasih pak," tunjuk Cesa pada salah satu gelas.
"Iya Neng." Sahutnya tak acuh.
Dan ketika Bapak warung hendak memberikan potongan es batu, lagi-lagi Cesa menghentikan pergerakan nya.
"Sebentar Pak." Cegah Cesa membuat Bapak warung terdiam menatap jengah.
"Kenapa lagi Neng?" tanyanya dengan nada mulai kesal.
"Yang ini jangan di kasih es," tunjuk Cesa pada gelas yang sama.
Bapak warung tampak menggeleng beberapa kali di sertai mendesah sebal karena selalu di protes oleh Cesa.
"Mis, itu Cesa lagi ngapain ngerecokin terus Bapak warung?" tanya Rina heran yang melihat tingkah Cesa.
__ADS_1
"Nggak tahu Rin, mungkin ingin belajar bikin es kelapa," balas Misa, sibuk memandang jalanan yang mulai padat.
Cesa datang dengan dua gelas es kelapa di tangan nya, dan Bapak warung satu gelas untuk Rina.
"Nih Bu Misa es kelapa muda nya." Dia menyodorkan satu gelas kelapa muda.
Yang langsung di terima oleh Misa.
"Cesa kok nggak dingin?" tanya Misa saat menangkup gelas tersebut.
Cesa duduk di samping Misa. "Es nya habis kata Bapak warung nya," jawab Cesa yang mendapat senyuman dan gelengan kepala dari bapak warung.
Misa mengaduk minuman, dan menyeruput isi nya. Alis Misa berkerut bingung, ia kembali meminum cairan kelapa itu untuk memastikan lidahnya.
"Rin punya kamu manis nggak? Kok punya aku nggak manis yah," tanya Misa ke arah samping kanan dimana Rina berada.
"Ah masa sih Mis. Orang punya ku enak banget, manis," ucap Rina yang sudah menghabiskan setengah minuman nya.
Misa beralih menoleh ke arah samping kiri, dimana si biang nya berada. "Cesa." Panggil Misa dengan mata menyipit menatap curiga.
Sedang yang di tatap hanya tersenyum.
"Yang alami, manis nya lebih enak Bu Misa." Kata Cesa tenang.
"Hahaha... kamu di kerjain Cesa," gelak tawa berasal dari Rina yang mendengar perkataan Cesa.
Misa memberenggut sebal, menyeruput minumannya.
Beberapa saat kemudian.
Misa melirik arloji yang melekat di pergelangan tangannya. "Rina langsung ke pameran aja yuk. Udah jam segini, takut keburu tutup pamerannya."
Rina meletakkan gelas kosong ke atas bangku panjang. "Iya bener juga. Yaudah ayuk." Ajaknya langsung berdiri dan berjalan pergi.
"Eh, belum bayar Rin." Ucap Misa yang melihat Rina sudah berjalan menjauh.
Namun yang di panggil tidak mendengar semakin menjauh.
"Sebentar Neng, bapak ambil kembaliannya dulu." Berjalan masuk.
Misa menggandeng lengan Cesa. "Makasih Pak minumannya, Assalamualaikum," pamitnya sambil lalu.
"Eh, Neng kembalian nya." Panggil Bapak warung namun tak di dengar oleh Misa yang sudah berlalu jauh.
*****
Ketiga gadis tadi, telah sampai di tempat tujuan mereka yaitu pameran tanaman hias.
Tampak dari luar jalan masuk pameran itu sudah banyak orang yang keluar masuk, juga banyak tanaman yang terpajang di luar nya.
"Yuk mis." Ajak Rina menggaet lengan Misa.
Mereka memasuki pameran itu melewati pintu masuk utama di sambut beberapa penjaga untuk mempersilahkannya.
Pada saat kaki Misa menginjakkan ke kedalaman, seketika mata nya langsung melebar berbinar takjub melihat berbagai macam tanaman hias yang tertata rapih di jajaran nya.
"Mis aku kesana yah," tunjuk Rina ke arah lain yang di balas anggukkan pelan oleh Misa.
Sedang Cesa selalu mengekori Nona nya dari belakang tidak lupa dengan ponsel di pegangan tangannya untuk menyusun laporan kegiatan Misa pada atasannya.
Misa terus menelusuri jalanan yang di penuhi berbagai macam bunga yang bermekaran di sisi kanan dan kiri nya. Saat ini kaki ia berhenti di sekelompok kan tanaman anggrek.
Tanaman anggrek dengan berbagai macam warna itu tertata rapih dan indah di susunan rak nya.
"Ya Tuhaan. Ini kan anggrek hitam papua... beruntungnya aku melihat nya di sini." Antusias Misa jemari nya menyentuh tangkai untuk di dekatkan ke hidung dan menghirup aroma wangi nya.
"Nona menyukai nya?" Tanya Cesa yang sedari tadi memperhatikan dari belakang.
Misa mengangguk semangat. "Sangat, anggrek ini begitu indah dan elegan."
"Apakah Nona ingin membeli nya?" Tanya Cesa lagi.
__ADS_1
"Tidak Cesa, untuk membelinya cukup mahal, dan dari pada saya membeli satu anggrek saja dengan harga yang semahal itu, mending uang nya saya sumbangkan ke orang yang lebih membutuhkan. Cukup dengan hanya melihatnya saja saya sudah bahagia." Ujar Misa masih menatap binar pada bunga itu, ia kembali mencium aroma wangi nya.
Cekrek.
Suara kamera memotret terdengar jelas.
Sontak Cesa langsung memandang ke arah suara. Sedang Misa masih tidak menyadari karena masih terlalu bahagia menemukan anggrek yang di cari nya.
Cesa menghampiri orang yang memotret Misa, dan lelaki itu tampak santai saja kembali memotret Misa dari kejauhan.
"Hapus foto Bu Misa." tegas Cesa dengan tatapan dingin dan nada suara tajam.
Pria itu menatap dengan senyuman miring di bibirnya. "Kenapa saya harus menghapusnya? Kan suka-suka saya memotret siapa saja. Lagian bukan hak Bu Cesa melarang saya karena yang di potret bukan anda."
Misa yang melihat Cesa membelakangi nya juga mengobrol dengan seseorang tidak jauh darinya. Sedang bicara dengan siapa dia?
Misa menghampiri gadis yang tampak tegang itu.
"Pak Dani." Celetuk Misa setelah bergabung dengan keduanya.
Pria itu melirik Misa dan tersenyum hangat. "Ah, iya. Bu Misa sedang melihat-lihat tanaman hias ya?"
"Iya." Menjawab dengan ramah.
Sedang Cesa dengan geram merampas kamera dari pegangan tangan Pak Dani. Lalu...
Brak.
Melempar kasar kamera itu ke sembarang hingga sebagian body kamera patah.
"Bu Cesa!" Bentak Pak Dani dengan tatapan melotot geram dan rahangnya mengeras.
Cesa tak kalah menatap sengit dengan tangan terkepal kuat.
Melihat dan mendengar bentakan itu, Misa terperanjat kaget mencekal tangan Cesa untuk menahannya. "Cesa." Cicit Misa.
Cesa melirik ke arah Misa, menghembuskan napas kasar dan menunduk. Seiring melemahnya kepalan kuat itu.
Misa ikut menundukkan pandangan. "Maafkan Cesa, Pak Dani." Ucapnya merasa bersalah.
Pak Dani masih menatap tajam ke arah Cesa lalu ia berbalik mengambil kamera yang sudah retak dan beberapa patah di bagian tertentu.
Pria itu kembali menghadap kedua wanita tersebut. "Iya Bu Misa tidak apa-apa, saya bisa memperbaikinya. Hanya sedikit tergores saja." Ucap Pak Dani tenang meski tatapannya masih menatap kesal ke arah Cesa.
Misa mengangkat pandangannya menoleh ke arah gadis di sampingnya. "Cesa ada apa? Kenapa kamu melempar kamera Pak Dani?" tanyanya dengan suara ke hati-hatian.
Namun Cesa diam seribu bahasa, malah menatap musuh pada pria di hadapannya.
"Hapus foto itu." Tegas Cesa.
Pak Dani tersenyum ramah ke arah Misa lalu menatap Cesa penuh peringatan.
"Maaf sepertinya saya ada urusan. Saya duluan pulang. Bu Misa hati-hati jika hendak pulang, Assalamualaikum." Pamit Pria itu berbalik meninggalkan Misa yang masih penuh tanya juga Cesa yang menatap kepergiannya dengan tatapan tajam menusuk.
"Walaikumsalam."
Ada apa sebenarnya? Sampai Cesa melempar kamera itu. Dan tadi apa katanya "hapus foto" Apa Pak Dani mengambil gambar Cesa tanpa seizin nya? Tapi ya sudahlah itu urusan mereka bukan urusan ku.
Cesa melirik ke arah samping, tatapannya telah berubah hangat lagi dengan senyuman tenang.
"Maafkan saya Nona, telah merusak momen kebahagiaan Nona," ucap Cesa menunduk merasa bersalah.
Misa menoleh, ia mengusap lengan atas Cesa dan tersenyum. "Hey, jangan seperti itu, saya tidak apa-apa. Sudah lah, sepertinya sekarang sudah akan larut sore sebaiknya kita pulang, dan kamu juga butuh istirahat."
"Baik Nona," ucap Cesa tegas.
Misa berbelok melangkah mendahului. "Kita cari Rina dulu yuk." Ajaknya.
Cesa mengekori Misa dari belakang. Namun sebelum mengekori langkah kaki Misa, ia memotret dahulu anggrek yang di kagumi Misa tadi lalu mengirimkannya ke sekertaris Tang.
BERSAMBUNG...
__ADS_1