Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
34


__ADS_3

Arga dan Misa berjalan beriringan menuruni anak tangga menuju meja makan. Ada senyuman terus menghiasi bibir tipis Arga di sepanjang jalan. Namun tidak dengan Misa yang tertunduk malu, mengingat kejadian pagi yang di alaminya.


Egi dari meja makan memperhatikan gadis mungil yang tertunduk tidak juga melirik ke arah pria di samping Misa. Tatapannya menajam penuh selidik.


Senyuman itu, seperti senyuman kepuasan, apa yang di perbuat Kaka terhadap Misa?


Kedua orang itu telah sampai di meja makan. Mereka duduk di kursi masing-masing yang berhadapan dengan Egi dan Asyila.


Alis Misa berkerut saat melirik kursi bagian kepala kosong.


"Suamiku, ayah kemana?" tanyanya celingukkan.


"Sedang istirahat," jawab Arga singkat.


Misa mengangguk kecil. Lalu ia bangkit dari duduknya membalikkan piring kosong di hadapan Arga.


"Suamiku mau sarapan apa?" tanya Misa menunjuk menu sarapan di meja tengah.


"Roti panggang selai kacang," jawab Arga dingin, ia menatap Egi yang ada di sebrang meja.


Misa mengambilkan roti panggang dan menaruh ke piring, lalu ia hendak mengambil selai kacang yang jaraknya cukup jauh dari jangkauan tangannya sehingga tampak tangannya bergerak melambai meraih ke botol selai itu namun tetap tak tersentuh sama sekali.


Jauh sekali sih, botolnya.


Arga dan Egi yang melihat itu, segera berinsiatip mengambilkannya.


Grep.


Tangan Arga dan Egi saling bersentuhan memegang botol itu.


Sontak Arga menatap tajam begitu pun Egi membalas menatap dingin ke arah Arga.


Eh, ada apa dengan mereka? Kenapa saling tatap begitu, bikin ngeri aja yang melihatnya.


"Ekhem... suamiku, maaf selai nya bisa pinjam sebentar," suara Misa pelan penuh ke hati-hatian memutus tatapan tajam mereka.


Egi melepas cengkramannya dari botol sehingga Arga tersenyum menang lalu memberikan botol kaca itu ke Misa.

__ADS_1


Misa mengoleskan selai nya pada roti panggang dan meletakkan ke piring Arga begitu pun untuk menu sarapan dirinya, ia mengambil menu yang sama.


Egi masih menatap dingin ke arah Arga begitu pun Arga sebaliknya.


Syila yang memperhatikan kedua kakak nya, ia tertawa ringan. "Haha... kak Egi kalau mau selai kacang bilang, jangan menatap kak Arga seperti itu... ada-ada saja deh, kakak ipar berikan selai nya pada kak Egi, bisa-bisa di meja makan akan terjadi perang tatapan laser nih." Ujar Syila sambil mengulurkan sebelah tangan ke arah Misa.


Misa tersenyum, memberikan botol kaca itu ke tangan Syila.


"Nih kak, udah jangan berantem karena masalah selai, masih banyak kok," ucap Syila, meletakkan botol itu ke depan Egi.


Egi menatap sejenak ke arah botol kaca itu lalu melirik ke arah Misa. Sedangkan yang di lirik sudah sibuk dengan sarapannya.


Tidak ada lagi percakapan di meja makan itu, mereka fokus menghabiskan makanannya.


*****


Di teras Rumah.


Misa sudah berada di depan pintu masuk untuk mengantar keberangkatan Arga kerja.


Sekertaris Tang menghampiri keduanya yang sudah muncul di ambang pintu masuk.


"Pagi Sekertaris Tang," balas Misa.


Tang berbalik melangkah ke arah mobil, untuk membukakan pintu kursi penumpang.


"Suamiku, hati-hati di jalannya."


Arga mengangguk kecil dan mengusap puncuk kepala Misa dengan lembut, lalu ia berjalan menghampiri mobil, masuk ke dalamnya dan duduk di kursi penumpang.


Apa dia kerasukan bunglon lagi? Dia bersikap lembut terhadap ku. Misa mematung terlongo menatap ke arah mobil.


Setelah menutup pintu mobil, Sekertaris Tang menghampiri Misa yang masih mematung terbengong.


"Nona Romisa, mulai saat ini, saat Nona pergi bekerja akan di antar oleh supir baru Nona, dia namanya Cessandra bisa di panggil Cesa." Ujar Tang menunjuk ke arah gadis cantik yang berdiri di samping mobil hitam belakang mobil Arga.


Misa mengerjapkan mata nya beberapa kali untuk memastikan apa yang di dengarnya. Dia melihat ke arah Cesa lalu beralih menatap Tang.

__ADS_1


"Sekertaris Tang, tapi saya tidak membutuhkan supir, dan lagi...," ucapan Misa tergantung, oleh selaan Sekertaris Tang yang seakan mengerti apa yang akan di bicarakan oleh Misa.


"Tenang saja Nona, semua tidak akan ada yang tau jika Cesa supir Nona, karena saat dia di sekolah statusnya sama seperti Nona, bekerja sebagai guru sekaligus dikatakan saudara." Jelas Sekertaris Tang dengan nada tenang.


"Tapi Sekertaris Tang-" lagi-lagi ucapan Misa tergantung.


"Ini adalah kemauan Tuan, Nona."


Hah... Misa menghela napas jengah. "Baiklah saya terima."


Tang menunduk hormat hendak berbalik, namun tiba-tiba Misa menarik lengan jas Tang sehingga menghentikan pergerakannya.


"Sekertaris Tang." Panggil Misa.


Tang melirik lengan baju nya yang di tarik. Nona jangan berbuat seperti ini terhadap saya.


Kemudian ia melirik ke arah mobil yang dimana, di sana Arga menurunkan kaca jendela mobil dan menatap Tang sangat tajam.


Benar saja tuan salah paham lagi.


"Ada apa Nona?" tanya Tang menatap pada pegangan Misa yang masih menarik lengan jas nya.


Misa ikut menunduk ke arah pandang Tang, ia segera melepaskan pegangannya dan tersenyum cengengesan.


"Maaf, saya refleks Sekertaris Tang," ucap Misa.


Tang menatap Misa memintanya untuk menjelaskan ada apa sehingga dia menghentikannya itu arti tatapan Tang.


"Apa... apa dia akan pulang cepat lagi hari ini?" tanya Misa ragu.


"Seperti biasanya." Jawab Tang singkat.


"Oh, begitu...," suara Misa melemah dengan bibir sedikit mengerucut.


"Maaf Nona, jika tidak ada yang perlu di sampaikan lagi. Saya undur diri, tuan sudah menunggu." Tang menunduk, lalu berbalik pergi ke arah mobil tanpa menunggu ucapan dari Misa.


Misa menatap kepergian Tang dan menghela napas pelan. "Tadi sebenarnya aku mau tanya apa yah? Kepala ku blank setelah melihat tatapan tajamnya," gumamnya pelan.

__ADS_1


Mobil yang di tumpangi Arga itu, bergerak perlahan meninggal kan Misa yang masih mematung di teras dengan raut wajah bingung.


BERSAMBUNG...


__ADS_2