
Misa mengambil beberapa buku paket. "Cesa saya juga akan mengajar dulu, kamu juga sama kan?" tanyanya keluar area meja sambil memeluk buku ajar.
Cesa ikut keluar area meja. "Iya Bu Misa." Menundukkan pandangan.
Misa berjalan ke arah pintu keluar dengan di ikuti Cesa di belakangnya, yang mengantar Misa sampai memasuki ruangan kelas. Setelahnya memastikan Misa masuk dengan selamat, Cesa akan berbalik menuju kelas yang akan di ajar nya.
"Assalamualaikum. Pagi anak-anak," sapa Misa setelah sampai di meja depan kelas.
"Walaikumsalam. Pagi juga Bu," jawab serempak para murid.
"Bu Misa, aku rindu sangat sampai aku tidak bisa tidur siang malam memikir kan ibu." Celoteh Hendri si raja gombal.
"Aku pun sama Bu... 4 hari tidak di ajar oleh ibu. semua pelajaran nggak ada yang masuk ke otak ku." Ito menimpali teman sebangkunya dengan gaya dramatis menepuk-nepuk kepala.
"Udah dasar nya aja otak lo bebel." Ejek Hendri.
Brak.
Misa menggebrakkan buku paket dengan kasar ke meja. "Sudah... sudah. Waktunya belajar. Kalian keluarkan buku paket A," suara tegas Misa menghentikan ocehan para murid yang mulai ngelantur.
Hendri langsung merundukkan kepala mengambil buku dari dalam kolong meja. "Aku jadi semangat 45 lagi jika yang mengajar nya Bu Misa."
Misa hanya tersenyum kepaksa di iringi gelengan kecil. Dia membuka buku paket A dan membuka setiap lembarnya.
"Baiklah buka halaman 116, 119, 123, dan 134. Kalian pelajari lah semua itu. Pelajaran kali ini akan membahas mengenai puisi, puisi di sini ada puisi lama juga puisi baru. Dan setelah kalian mengerti dengan apa itu puisi, ibu akan menugaskan satu persatu maju ke depan untuk membacakan puisi yang kalian buat, ingat hasil karya sendiri yaa, jangan saling nyontek, kalau ada yang di pertanyakan atau kurang di pahami tanyakan pada ibu." Instruksi Misa menatap para muridnya.
"Bu puisi nya tentang cinta boleh?" Celetuk Ito.
"Kayak tahu aja lo cinta itu apa, sok-sok an," timpal Hendri.
"Apa saja yang penting gaya bahasa nya dan juga rima dalam puisi nyambung." Misa menyahuti dengan tegas. Lalu ia duduk di kursi masih menatap para murid.
"Baiklah, silahkan kalian pelajari terlebih dahulu dan buatlah karya kalian semenarik mungkin," sambung Misa lagi.
"Baik Bu...," serempak mereka dengan di iringi anggukkan kepala.
Para murid mulai sibuk dengan berlomba-lomba membuat puisi. Begitu pun Egi tampak sedang fokus dengan pembuatan puisi nya.
Setelah beberapa lama kemudian. Misa menutup buku paket, ia mengangkat wajahnya menatap para murid yang tampak sibuk dengan tugasnya.
"Baiklah, sudah 1 jam pelajaran berlalu, ada yang sudah selesai membuat puisi dan siap membacakannya di depan teman kalian?" tanya Misa melihat ke setiap wajah murid.
__ADS_1
Salah satu muridnya mengangkat sebelah tangan. "Hendri dulu deh bu," ucapnya percaya diri.
Misa mengangguk dengan gerakan tangan ia mempersilahkan. "Silahkan Hendri maju ke depan."
Hendri berjalan keluar dari meja dengan wajah sumringah, setelah berada di depan kelas maju sejenak ia tersenyum ke arah Misa.
"Bacakan puisi nya." Titah Misa yang berdiri menyender ke meja.
Hendri mengangguk, lalu ia membuka buku dan mulai membacakan judul puisi.
"Kentut," ucap Hendri membacakan judul puisi.
"Haha...," Seketika para murid tertawa mendengar judul puisi nya.
"Yang bener aja lo Hendri masa puisi kentut," celetuk Ito di sela tawanya.
"Biarin lah, orang kata Bu Misa juga bebas," sahut Hendri.
Misa yang sudah menahan tawanya. Dia berdehem sejenak lalu menginstruksi. "Sudah diam! Mari dengarkan dahulu, teruskan Hendri."
Suasana kelas kembali tenang meski masih ada yang menahan tawa nya.
KENTUT
Kentut, udara tak bisa di sentuh dan tak bisa di lihat.
Aromanya saja yang menandakan ia ada.
Tak di rindukan namun di butuhkan untuk pelega.
Kalau berbunyi selalu berirama.
Ada yang "Bom."
Ada yang "Breet."
Ada yang "Broot."
Jika dia suka nyanyi akan berbunyi "Tuuuut." bermelodi panjang.
Dan jika dia pemalu akan berbunyi "Feessh" Berdesis hingga tak bersuara.
__ADS_1
Ketika kentut melanda.
Beragam orang menanggapinya.
Orang pengecut akan berkata 'dia pelakunya'
Orang munafik akan berkata 'bukan saya'
Orang jujur akan berkata 'iya itu saya'
Dan orang ramah akan berkata 'enak kan bau nya?' sambil tersenyum cengengesan.
Kentut itu sehat.
Bisa bikin kempis perut
Bisa bikin ketawa keras
Bisa bikin ketagihan.
Kentut harus pelan saat di keluarkan
Jika kelewatan batas akan berair dengan ampasnya.
Kentut sering di bully, di kucilkan, bahkan di todong.
Namun tetap kentut adalah kentut si angin ngangenin yang selalu datang meski di dzolimi.
Hendri menutup buku nya menandakan telah selesai membaca puisi.
"Lo menghayati banget sih hend kalau kentut, sampe di buat puisi...hahaha," celetuk salah satu murid yang sudah mendengarkan puisi Hendri.
"Yaa laa, gimana Bu? Bagus tidak puisi Hendri? Kasih nilai 100 yaah." Ucap Hendri menatap Misa.
Misa tersenyum menutup bibirnya menahan tawa geli.
"Ekhem... iya, bagus Hendri gaya bahasa nya juga bagus. Bisa juga kamu memilih kata-katanya, dan itulah salah satu contoh puisi baru/modern." Jelas Misa pada pra murid.
Kemudian ia beralih melirik pria yang masih berdiri di depan kelas itu. "Baiklah Hendri kembali lagi ke bangku kamu, dan silahkan ada yang mau maju lagi?" tanya Misa setelah melihat Hendri kembali ke bangkunya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1