Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
56


__ADS_3

Di Pagi Hari.


Misa terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan mata menatap lurus. Pandangannya jatuh langsung pada sesosok pria yang terduduk bersandar di tepi ranjang dengan wajah kusut juga lingkaran hitam di sekitar mata.


Apa dia nggak tidur sampe ada lingkaran mata panda? Dan kenapa tumbenan lampu ruangan ini tidak mati?


"Suamiku sudah bangun?" tanya Misa sambil beranjak bangun dari tidurannya.


Kepala Arga bergerak kaku melirik Misa tak terbaca dengan bibir rapat terbungkam.


Kenapa dia menatap ku seperti itu? Menakutkan sekali, dia nggak terkena virus zombie kan? Seperti di film yang kemarin dia tonton.


"Mmm... anu. Aku mau subuh duluan suamiku," ucap Misa menuruni ranjang dengan gerakan pelan.


Misa menoleh lagi ke belakang, melihat keadaan Arga yang ternyata masih menatapnya tak terbaca dan tidak bergerak sama sekali.


Kenapa dia masih menatap ku seperti itu? Jangan menakutiku singaa.


Setelah kaki Misa menapak di karpet, segera ia langsung berlari terbirit ke kamar mandi tanpa menoleh ke belakang lagi.


Sepergian Misa yang meninggalkan Arga masih di kasur.


Menghembuskan napas pelan. "Bahaya." Gumamnya pelan lalu...


Bruk.


Dia menjatuhkan diri ke arah samping hingga kepalanya nyungsep ke bantal.


*****


Di Meja Makan.


Sepasang suami istri itu, berjalan menuju meja makan bersiap untuk sarapan. Keduanya telah berpakaian rapih dengan setelan profesi masing-masing.


Syila memperhatikan wajah Arga yang terlihat pucat pasi dengan lingkaran hitam di kedua mata nya, ia mengernyitkan alis bingung lalu tertawa cukup keras.


"Hahaha.. Kak Arga kenapa Kakak ipar? Lihatlah wajahnya seperti zombie. Syila foto deh buat sampul ponsel. Lucu banget deh Kak Arga, jarang-jarang berwajah kayak gini." Syila merogoh ponsel dan hendak mengarahkan kamera ke arah wajah Arga.


Namun belum juga kamera mengambil gambar, tiba-tiba Arga menatapnya tajam sehingga mengurungkan niatan Syila yang menurunkan kembali ponsel nya.


Misa melirik ke arah Arga. "Suamiku mau sarapan apa?"


Arga menunjuk oatmeal yang langsung di ambilkan oleh Misa menaruh 1 mangkuk oatmeal ke piring kosong.


Sedangkan untuk dirinya, Misa mengambil roti panggang berlapis selai kacang.

__ADS_1


Keheningan beberapa saat membentang menguasai meja makan.


"Bu Misa." Panggil Egi membuat Arga melirik tajam ke arahnya.


Misa menoleh. "Ada apa Egi?" tanyanya di sela mengunyah makanan.


"Hari ini akan pergi ke pesta?" Egi bertanya tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Kakaknya.


Gadis cantik itu tampak berpikir sejenak mengingat pesta apa yang di maksud Egi.


"Ah, iya bukannya sekarang pernikahan putri kepsek?" Ujar Misa setelah mengingat.


Egi mengangguk mengiyakan. "Bu Misa mau pergi bareng Egi."


Misa menyuapkan satu gigitan roti panggang ke mulut. "Sepertinya saya akan pergi bersama Cesa dan guru lainnya. Egi pergilah dengan teman-teman Egi yah."


Kemudian Misa melirik ke arah pria di sampingnya yang tampak masih terdiam fokus memakan sarapan.


"Emm... suamiku, bolehkah aku pergi ke pesta pernikahan putri nya kepala sekolah?" Izin Misa dengan suara kehati-hatian.


Arga melirik Misa dengan tatapan dingin, tanpa anggukkan atau pun gumaman iya.


Bilang lah yang jelas, boleh atau tidak.


"Aku ke acara resepsinya sehabis ashar dan sebelumnya aku akan mengajar dulu." Ujar Misa lagi.


Karena sarapan di mangkuk telah habis.


Sreet.


Arga bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan meja makan. Misa ikut beranjak dari duduknya meskipun sarapan ia belum habis. Dia membuntuti langkah kaki Arga yang membawanya ke pintu utama.


Dia kenapa sih? Dari sejak bangun tidur sampe sekarang, dia nggak bicara sepatah kata pun. Apa aku punya salah? Apa dia marah gara-gara semalam aku tidur duluan.


Di teras depan rumah tampak sekertaris Tang sudah membukakan pintu mobil penumpang.


Arga melangkah memasuki mobil nya tanpa mengusap puncuk kepala Misa atau sekedar berbalik kepada Misa.


Dia benar-benar marah, dan bersikap dingin lagi pada ku. Misa mendesah sebal seiring senyuman lebar di bibirnya meredup.


*****


Mobil hitam itu melaju membelah jalanan dengan kecepatan sedang.


Di dalam Mobil.

__ADS_1


Lagi-lagi Sekertaris Tang melirik keadaan tuannya dari kaca depan yang menampilkan wajah Arga terlihat kusut nan pucat seperti mayat hidup.


Alis Tang terangkat sebelah. Kenapa tuan tampak kacau dengan penampilannya hari ini?


"Tuan tidak apa-apa?"


Arga menggeleng pelan tanpa bersuara, ia merebahkan punggung ke badan kurai lalu memejamkan mata nya.


"Tang." Panggil Arga pelan di sela pejaman mata nya.


"Iya tuan." Jawab Tang.


"Ternyata bahaya." Ucap Arga masih dengan suara pelan.


Lagi-lagi alis Tang terangkat sebelah melirik kilas ke kaca depan. "Bahaya kenapa tuan?" tanyanya bingung.


Arga menghembuskan napas pelan sebelum berucap. "Kau tahu Tang. Aku tidak bisa tidur semalaman."


"Iya, saya bisa lihat dari lingkaran hitam di sekitar mata tuan." Jawab Tang di sela fokus mengemudi.


"Romisa memeluk ku sangat erat Tang." Terjeda sejenak, Arga membuka mata nya menatap ke arah depan.


"Dan kau tahu Tang. Ada perasaan bergejolak menggelitik perut ku dan panas dalam darah yang entah datang dari mana. Aku belum pernah merasakan sebelum nya." Lanjutnya di sertai desah napas pelan.


Tang terdiam masih belum menjawab, ada senyuman kecil dari bibirnya. Tuan ku memang benar polos.


"Jadi karena itu aku terjaga semalaman menahan gejolak yang aneh itu karena di peluk erat Romisa," ucap Arga polos seolah sedang bercerita pengalaman pada seorang ibu.


Tang menahan senyuman geli di bibirnya. Haha... hal normal sebagai pria pun tuan tidak tahu.


Arga mencondongkan tubuh ke depan dengan tangannya terulur. Dan...


Puk.


Dia menepuk keras pundak Tang, sehingga membuat bahu itu bergerak.


"Tang perasaan apa itu namanya?" tanya Arga polos.


"Itu perasaan pria normal tuan yang menandakan tuan normal sebagai pria." Jawab Tang.


Arga kembali bersandar di punggung kursi mobil. Hah... ia menghela napas panjang seiring memejamkan mata nya kembali.


" jadi seperti itu perasaan pria normal," gumamnya pelan.


"Iya tuan."

__ADS_1


Setelah mengenal cinta, baru kali ini saya melihat tuan kacau memahami diri nya sendiri. Mungkin karena selama hidupnya hanya di penuhi kerja keras untuk mengelola bisnis jadinya buta mengenai wanita dan perasaan.


BERSAMBUNG...


__ADS_2