Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
144


__ADS_3

Pertengahan malam misa merasakan rasa perih di perutnya. Misa mengerjapkan mata nya perlahan lalu melihat posisi nya yang sedang berada di tengah tengah syila dan arga.


Duh perut ku perih dan rasanya lapar sekali... apa aku bangunkan dia yah. Tp nggak tega, dan kelihatan nya dia sudah lelap banget tidur nya. Ah, lebih baik sendiri saja lah ke dapur, toh nggak bakal ada apa apa ini.


Dengan gerakan yang sangat hati hati dan pelan misa mengangkat lengan arga yang melingkar di perutnya agar berpindah, misa juga menggeser syila agar memberinya ruang untuk bisa melangkah turun dari ranjang. Dan dengan usaha nya yang sangat penuh kehati hatian misa akhirnya berhasil terbebas dari kedua nya.


Misa menyelimuti kedua nya dengan benar dan mengambil kerudung di lengan sofa lalu memakainya


Setelahnya, misa dengan langkah mengendap endap pelan menuju pintu kembar agar keluar dari kamar untuk menuju ke dapur.


"Syukurlah bisa keluar kamar juga. Tp kenapa suasana di sini gelap sekali," gumam Misa pelan setelah diri nya berada di ruangan luar kamar.


Dengan langkah penuh keberanian misa menyusuri setiap ruangan yang gelap temaram, namun masih terlihat karena setiap ruangan ada lampu kecil di atas nakas memberinya cahaya meski tidak terlalu jelas. Misa dengan tekad kuat tetap melangkah untuk menuju tempat tujuan nya yaitu dapur.


"Jangan takut Misa..ini di rumah bukan di hutan, jadi tenanglah. Demi perut mu yang keroncongan. Dari pada perih menahan lapar lebih baik lewati tantangan ini misa...tenanglah.." gumam Misa pada diri sendirinya menyemangati agar tidak takut. Dan tetap melangkah melewati setiap ruangan yang memang jauh jika untuk menuju ke dapur.


"Kenapa serasa nya aku kayak maling yah. Dan ini perasaan sepi bener sih. Sudah gelap, sepi lagi. Benar benar deh..." gumam Misa lagi di sela langkah nya.


"Ekhem..." deheman dari belakang membuat Misa membeku dan seketika langkah kaki nya terhenti.


Siapa itu... bukan hantu kan...ya tuhaan. Ayah, bunda misa masih pengen hidup.


Misa memejamkan mata nya dan dengan gerakan kaku misa menoleh ke belakang, namun masih dengan mata terpejam.


"Kenapa meram...Apakah takut?" tanya orang tersebut.


Eh, hantu nya bisa ngomong. Tp kok kayak kenal suara nya.


Misa mengintip di sela pejaman mata nya dan setelah melihat jelas orang yang berdehem itu siapa, misa cengengesan tersenyum malu.


"Eh, egi," celetuk Misa cengengesan.


"Sedang apa bu misa tengah malam begini ada di sini?" tanya Egi menatap Misa menyelidik.


"Anu..sa..sa..saya ingin ke dapur egi," ucap Misa terbata dan gugup bagai kepergok maling.


Egi mengangguk pelan lalu melangkah melewati misa yang mematung canggung.


Egi menoleh ke belakang. "Kenapa masih terdiam, bukan nya mau ke dapur. Biar egi temani, egi juga mau ke dapur," ucap Egi lalu kembali melanjutkan langkah nya.


"Eh iya," balas Misa lalu mengikuti langkah kaki egi untuk menuju ke dapur.


Ada senyuman senang di bibir egi ketika melihat misa menuruti mengikuti nya.


Sesampainya di dapur misa kembali di kejutkan oleh bi ane yang sudah berdiri di pintu geser dapur


"Eh, bi ane.. belum tidur?" tanya Misa menghampiri bi Ane.


"Belum nona," jawabnya.


Ini kan sudah tengah malam. Kenapa bi ane belum tidur.. emang bi ane biasanya tidur jam berapa, jika jam segini saja belum tidur.


Melihat Misa terdiam menatap nya dengan tatapan menyelidik bi ane tersenyum. "Saya sebenarnya sudah tidur nona, tp saya mendapat panggilan telpon dari salah satu penjaga rumah yang melihat bahwa nona keluar kamar, jadi saya keluar untuk memastikan nona baik baik saja," jelas Bi Ane.


"Jadi gitu," balas Misa sambil menganggukkan kepala mengerti lalu misa menggeser pintu dapur.


"Nona, ada keperluan apa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bi Ane mengikuti langkah kaki misa yang sudah masuk ke area dapur.


"Saya lapar bi ane. Pengen yang seger seger. Lemari buah buahan di mana yah?" tanya Misa mengedarkan ke setiap pintu lemari pendingin yang berjejer di dapur.


"Yang itu nona," tunjuk Bi Ane pada salah satu pintu bagian tengah.


Misa mengangguk lalu membuka nya.


Sedang egi yang sedari tadi mengikuti kedua nya, kini berdiri tidak jauh di belakang misa memperhatikan gerak gerik misa.


Misa menggaruk dagu nya yang tidak gatal dengan telunjuk lalu menatap isi lemari yang di buka nya.


"Sepertinya makan semangka dan melon akan sangat enak," ucap Misa lalu hendak mengambil satu buah semangka yang masih utuh.


egi yang mendengar ucapan misa, dengan sigap egi maju mendekati misa. "Biar egi bawakan. Bu misa tunggu di meja pantry saja," titah Egi lalu mengambil satu buah semangka dan satu buah melon dari dalam lemari.


"Hmmm..baiklah," balas Misa dan beranjak menuju meja pantry lalu duduk di kursi nya.


Sedang bi ane berdiri di belakang misa mengamati kegiatan kedua nya.


Egi membawa kedua buah yang masih utuh ke atas meja pantry ke hadapan misa.


Misa tersenyum senang melihat dua buah yang menurut nya cukup menggoda.

__ADS_1


"Egi biasakah kamu membelah nya menjadi dua bagian saja. Jangan di potong potong gitu," pinta Misa memeragakan dengan tangan nya pada bulatan semangka.


Egi mengangguk mengiyakan lalu mengambil pisau besar. "Seperti ini?" tanya Egi menempelkan pisau pada buah semangka untuk menjadi dua bagian.


Misa mengangguk semangat. "Iya benar," ucapnya lalu tersenyum dengan mata berbinar.


Egi menurut membelah semangka tersebut lalu menyodorkan nya ke misa.


Dengan semangat misa mengambil satu bagian semangka dan meletakkan di hadapan nya. "Yang satu nya untuk egi. Kalau egi mau," ucap Misa menyodorkan sebelah nya lagi ke arah egi.


"Melon nya mau di belah juga?" tanya Egi mengambil alih bulatan melon.


Misa mengangguk mengiyakan lagi.


"Baiklah," Egi membelah buah melon juga menjadi dua bagian dan menyodorkan nya ke hadapan misa.


"Bi ane sini. Temani saya makan buah," pinta Misa menepuk satu kursi kosong di samping nya.


Bi Ane melirik ke arah egi sejenak yang di beri tatapan dingin darinya, dan akhirnya menurut duduk di samping misa.


"Bibi suka yang mana. Semangka apa melon?" tanya Misa menunjuk buah di hadapan nya.


"Melon saja nona," ucapnya.


Misa menyodorkan sebelah buah melon ke hadapan Bi Ane.


Sedang egi yang duduk di sebrang misa sudah mengambil alih satu belah semangka.


"Bagaimana cara makannya nona, jika tidak di kupas atau di potong potong dulu?" tanya heran Bi Ane karena di sodorkan buah yang masih besar.


Misa menjentikkan jemari nya. "Tenang saja bi. Sekarang bibi ambil sendok makan. Kamu juga egi ikuti saya," pinta Misa yang langsung di turuti oleh kedua nya.


Misa memisahkan bagian biji semangka lalu mengkerok buah semangka dengan sendok. "Begini cara nya bi. Pasti enak..aaamm," ucap Misa lalu menyendokkan semangka yang sudah di kerok ke mulut nya.


Sedang egi dan bi ane yang melihat cara makan misa hanya menatap datar dengan mengkerutkan alis ke arah misa.


"Kenapa diam saja bi ane. Egi..cobalah ini enak loh semangka nya...hmm segerr," celoteh Misa kembali menyendokkan semangka yang sudah di kerok ke mulut nya.


Egi dan bi ane melirik buah yang ada di hadapan nya lalu menatap misa bergantian. Kedua nya menghela napas pelan lalu dengan gerakan kaku mulai mengikuti cara makan misa yaitu memisahkan dahulu biji buahnya ke piring lalu mengkerok semangka dan melon nya.


"Gimana enak kan bi ane. Egi?" tanya Misa pada kedua nya yang sudah memakan satu sendok suapan.


"Nona bisa saja yah, mencari cara asyik untuk menikmati buah," ucap Bi Ane lalu kembali mengkerok buah melon nya.


Bukan cara asyik bi tapi biar cepet aja soal nya saya sudah keburu ngiler..hehe.


"Bu misa," panggil Egi setelah menelan kunyahan makanan nya.


"Iya egi," balas Misa sambil mengkerok melon di hadapan nya.


"Boleh egi minta melon nya," pinta Egi karena memang di hadapan misa ada sebelah semangka dan sebelah melon.


Misa menoleh. "Egi mau. Boleh nih," menyodorkan melon ke arah egi.


Egi menggelengkan kepala nya lalu kembali menyodorkan buah melon ke misa. "Egi mau nya yang ada di sendok bu misa," pinta Egi menatap Misa.


Eh, kenapa harus yang di sendok sih. Di kasih yang besar malah minta yang kecil dasar bodoh anak ini.


"Boleh nih," Misa menyodorkan sendok yang sudah terisi ke arah egi, yang langsung di sambut egi dan menyuapkan ke mulut nya.


"Makan dari tangan wanita cantik memang akan terasa nikmat," ucap Egi di sela kunyahan nya.


"Bilang saja egi males mengkerok buah nya. Jadi nya pandai memuji," jawab Misa acuh sambil kembali mengkerok buah melon.


Sedang Bi Ane terdiam dengan bibir rapatnya dan hanya menjadi pengamat di antara kedua nya sambil menikmati buah melon.


--------


Sementara Arga di dalam kamar bersama syila.


Arga merasakan tangan nya kosong tidak mendapati tubuh misa dalam pelukannya.


"Romisa.." lirih Arga sambil meraba raba tempat tidur di sebelah nya dengan mata masih terpejam, dan tiba tangan nya menyentuh kepala syila yang di anggap arga itu adalah misa.


"Romisa... Kenapa kau menjauh dari ku. Kemarilah," gumam Arga pelan sambil menarik tubuh syila agar berada dalam pelukan nya.


Sedang syila yang tidak sadar karena sedang dalam tidur lelap nya membalas pelukan Arga layak nya bantal guling.


"Romisa.." gumam Arga pelan sambil mengusap usap lembut rambut syila.

__ADS_1


"Hemm..." gumam Syila membalas gumam an arga dan membenamkan kepala nya di dada Arga.


Lalu tidak lama kedua nya kembali terlelap dengan sama sama saling berpelukan.


--------


Di dapur.


"Bu Misa," panggil Egi.


"Iya Egi," menjawab namun tangan tetap sibuk dengan buah.


"huft.." Egi menunduk dan menghela napas nya sehingga terdengar oleh misa.


Misa menoleh pada egi. "Ada apa egi, sepertinya akhir akhir ini saya perhatikan kamu sering melamun. Apa ada masalah?" tanya Misa sambil menyendok buah semangka ke mulutnya.


Egi mengangguk pelan. "Iya. Masalah hati lagi," balas Egi dan memainkan sendok mengkerok semangka di hadapan nya.


Alis misa terangkat sebelah. "Masalah hati, kenapa lagi egi?" tanya Misa dan mulai sibuk kembali pada buah melon.


"Egi patah hati bu misa," gumam Egi dan menyendok sedikit semangka nya.


Pffft..Misa menahan tawa nya. "Patah hati karena apa egi? Atau jangan jangan egi sudah punya tambatan hati lagi," tanya Misa memicingkan mata nya.


"Egi masih setia mencintai wanita yang bersuami itu, bu misa," ucap Egi membuat misa menghentikan kegiatan nya mengkerok buah melon.


Misa menatap egi. "Egi bukannya saya sudah bilang jika cinta sama wanita yang sudah bersuami itu cinta terlarang, pokok nya sangat tidak boleh atau bisa di kata haram hukumnya. Hentikan cinta mu itu pada wanita tersebut. Dan bukalah hati untuk yang lain egi," cerocos Misa sambil menyendokkan melon ke mulut nya.


"Egi tidak bisa bu misa. Bahkan cinta egi pada wanita itu semakin hari semakin tumbuh," jelas Egi menatap intens misa.


Misa menghela napas nya kesal lalu membalas tatapan egi. "Memang egi tiap hari bertemu terus dengan wanita itu sampai bilang begitu?" tanya nya.


Egi mengangguk dan masih menatap misa intens


Misa menjentikkan jemari nya. "Nah, itu tuh penyebab kamu susah melupakan nya. Gimana kalau egi berusaha menjauhi nya dan bagaimana cara nya agar tidak bertemu dengan nya. Pasti bisa egi melupakan nya," usul Misa.


Egi menggelengkan kepala nya pelan. "Egi tidak bisa melakukan nya bu misa. Karena sehari tidak bertemu dengan nya serasa egi tidak hidup dan tidak ada semangat," tutur Egi menunduk.


Ckckck...Misa menggeleng beberapa kali sambil menatap egi. Kasihan sekali kamu egi. Cinta buta mu menyiksa. Tp harus bagaimana lagi aku menasihati nya. Sudah susah sekali di tambah s egi keras kepala lagi.


"Terus yang membuat egi patah hati sehingga murung begini karena apa?" tanya Misa heran.


"Karena...wanita itu sekarang sedang mengandung anak suami nya," tutur Egi.


Reflek misa melemparkan sendok yang di pegang nya ke arah egi. "Egii.." tegas Misa dengan nada cukup tinggi.


Egi menatap misa dan terdiam menerima respon misa. Sedang bi ane yang sedari tadi memperhatikan kedua nya terbengong melihat misa.


"Kenapa kamu bodoh sekali sih. Ya tuhaan sadarkan lah adik ipar ku. Saya sebagai kakak ipar mu ingin yang terbaik untuk mu egi. Sepertinya tidak ada cara lain lagi. kamu harus move on dari wanita itu egi. Dari wanita yang sudah jelas sekali akan menjadi seorang ibu...menjadi ibu loh egi. Itu artinya akan menjadi keluarga utuh. Apa yang akan egi harapkan dari mencintai nya egiii. Huh..kenapa kamu sangat lemah dan bodoh sekali sih," cerocos Misa menggebu karena semangat ingin membuat egi sadar.


Egi terpaku dengan ucapan misa, ada senyuman kecil di bibir nya saat memperhatikan misa bicara.


"Ekhem.." dehem Egi menetralkan tenggorokan nya yang kering. "Egi tidak mengharap di cintai balik oleh wanita itu. Hanya saja, sebagai penyemangat hidup, egi harus tetap melihat nya. Dan soal move on egi sedang memikirkan nya," ucap Egi dengan nada tenang.


"Harus begitu egi. Saya mendukung mu untuk move on dari wanita yang sudah bersuami itu. Jadi semangatlah," balas Misa menyemangati.


Egi mengangguk pelan. "Kalau bisa bu misa saja carikan wanita nya," celetuk Egi membuat misa kembali menoleh pada nya.


Misa mengacungkan jempol nya."Saya akan carikan..hehe," ucap nya membuat Egi tersenyum.


Benarkah aku bisa mengganti mu misa rasanya tidak mungkin. Tp mengingat perjanjian ku dengan kakak. Mau gak mau aku harus mencari pengganti mu. Agar aku bisa terus melihat mu setiap hari dan berada di dekat mu.


"Egi sendok saya mana?" ucap Misa tersadar jika tangan nya tidak memegang sendok.


Egi tersenyum di buatnya. "Apa bu misa lupa. Tadi kan bu misa yang melemparkan pada egi," ucap Egi.


Misa menggaruk kepala nya yang tidak gatal dan tersenyum malu.


"Nona, ini sendok baru," Bi Ane menyodorkan sendok yang baru di ambil dari tempat sendok.


"Makasih Bi Ane," mengambil sendok lalu meneruskan nya mengkerok semangka.


Misa melirik melon bi ane yang tinggal sebagian lalu mengkerutkan alis nya heran. "Bi Ane tidak menelan biji nya kan?" tanya Misa karena melihat biji melon hanya sedikit di atas piring di hadapan bi ane.


Bi ane tersenyum. "Tidak nona, saya memisahkan nya dulu ke piring dekat nona," tunjuk Bi Ane pada piring yang ada di dekat Misa sudah penuh dengan biji buah.


Misa tersenyum cengengesan ."Eh iya," ucapnya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2