Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
77


__ADS_3

Di SMA Pelita.


Misa telah selesai dengan tugasnya menjadi pengawas para murid ujian semester di salah satu kelas anak didik nya.


Saat ini ia tengah terduduk di kursi meja guru di kantor, dengan tangan masih sibuk berkutat dengan lembaran kertas yang menumpuk untuk di periksa dan di nilai oleh nya.


Sedangkan Cesa yang duduk di meja dekat samping meja Misa tampak sangat sibuk dengan ponsel.


Misa melirik ke arah Cesa yang terlihat sibuk itu, seraya gerakan tangannya terhenti. Ada tatapan ragu dari sorot mata Misa.


Apa aku tanyakan pada Cesa aja? Kalau aku bertanya pada Rina pasti akan curiga.


Hingga seperkian detik ia berpikir, akhirnya Misa bersuara. "Cesa."


Cesa menoleh cepat. "Iya, ada apa Nona?" jawabnya.


Misa melihat sekitar yang terlihat gaduh oleh kesibukan, lalu ia melambaikan sebelah tangan memberikan isyarat agar Cesa lebih mendekat.


Cesa tanpa berpikir lebih panjang lagi. Dia langsung menyeret kursi nya dan duduk bersampingan dengan Misa.


"Ada apa Nona?" tanyanya setelah berada di dekat gadis itu.


"Sssttt...," menempelkan telunjuk ke bibir, melirik sekitar kemudian kembali menatap gadis itu. "Pelankan suara mu. Jika ada yang mendengar kamu memanggil ku seperti itu, bagaimana?" Ucap Misa setengah berbisik.


"Maaf Bu Misa." Cesa mengangguk mengerti.


Hah... sejenak Misa menghela napas panjang lalu menatap serius.


"Cesa, kamu... kamu tahu tidak obat untuk percepat datang bulan?" tanyanya pelan penuh kehati-hatian.


Alis Cesa menaut bingung. "Memang Nona, telat datang bulan?"


Refleks Misa menggelengkan cepat.


Aku hanya ingin mempercepat nya agar terselamatkan dari singa mesum.


Cesa memperhatikan sikap diam gadis cantik itu. "Lalu, jika tidak. Kenapa Nona membutuhkan obat seperti itu?" tanya Cesa memincing heran.


Tersenyum cengengesan. "Hanya ingin lebih mempercepat haid saja Cesa. Soal nya... aku-aku sering telat jika datang bulan." Alasan Misa berbohong.


Cesa mengangguk mengerti tanpa curiga.


"Baiklah, jika Nona ingin membeli obat seperti itu. Nanti sepulang dari sini saya akan membelikan nya."


Seketika helaan napas kelegaan keluar dari bibir Misa. Syukurlah dia tidak curiga terhadap ku.


"Terimakasih Cesa, tapi apakah kamu jenis obat nya, seperti apa?" tanya Misa.


Cesa nampak berpikir sejenak lalu menggelengkan pelan. "Nanti saya akan bertanya pada apoteker jenis obat yang terbaik dan manjur," ucapnya.

__ADS_1


Misa menganggukkan kepala tanda mengerti lalu tersenyum tulus. "Makasih Cesa."


Brakkk.


Rina yang baru datang melihat Misa dan Cesa tampak sedang berbisik-bisik menggebrak meja cukup keras.


"Astagfirullah!" Latah Misa kaget. Keduanya menoleh ke arah Rina.


Menatap curiga dengan alis terangkat sebelah. "Lagi bisik-bisik apa sih? Kok aku nggak di ajakin," tanya Rina.


"Jangan mau di ajak dosa Rina. Kita lagi ngegosipin orang," Balas Misa kembali memegang pulpen untuk meriksa lembaran LJK para murid.


Rina memicingkan mata nya menyelidik. Melirik Cesa yang sudah kembali ke meja sibuk dengan ponsel kembali kemudian melirik Misa yang sama-sama telah sibuk.


"Ngegosipin siapa Mis. Aku tahu kamu bukan orang seperti itu. Katakan lah. Lagi ngomongin apa sampe bisik-bisik gitu?" Penasaran Rina seraya mencondongkan tubuh ke arah depan agar lebih mendekat ke wajah Misa.


Misa menghentikan pergerakan tangan nya yang sedang mengoreksi LJK. Lalu mengangkat wajah menatap Rina.


"Ngegosipin kapan kamu nikah Rin." Bohong Misa dan kembali menunduk fokus pada lembar kertas.


"Haha... kamu nih Mis. Boro-boro nikah, calon nya aja kagak ada." Rina tertawa geli menutup bibir dengan sebelah tangan bersedekap di depan perut.


"Bukan nya ada cowok yang kamu sukai Rin?" tanya Misa tanpa menatap ke lawan bicara.


Hah... Rina menghela napas pelan lalu melirik ke arah meja lain. "Dia nya nggak peka Mis. Seperti kamu." Dia berlalu memasuki meja nya dan duduk di kursi.


Misa menoleh ke arah samping, dimana Rina berada. "Aku!" Tunjukknya ke arah wajah dengan alis terangkat sebelah. "Kenapa aku di bilang nggak peka Rin?" tanya Misa bingung.


Humph! Dengus sebal Misa lalu kembali berkutat dengan pekerjaan nya.


"Bukan nggak kenal tapi baru mengenal," gumam gadis cantik itu namun tidak di dengar oleh Rina karena gumaman nya sangat pelan.


*****


Misa pulang dari tempat mengajar menjelang sore hari karena banyak nya lembar LJK anak didik yang harus di periksa dan selain itu tugas-tugas yang telat mengumpulkan telah menumpuk di meja sehingga dia harus mengkoreksi di tempat sebagian dan sebagian di bawa ke rumah.


"Nona, ini obat percepat datang bulan yang Nona perlukan." Cesa memberikan satu kotak tablet obat pada gadis cantik itu.


Misa menerima di sertai senyuman di bibir nya.


Akhirnyaa aku bisa terselamatkan dari singa mesum.


"Terimakasih Cesa. Kapan kamu membeli nya?" tanya Misa karena mereka baru saja memasuki mobil.


"Tadi ketika Nona masih sibuk mengkoreksi soal," ucapnya tanpa menoleh, fokus ke jalanan.


Gadis cantik itu mengangguk sembari ber-oh ria menanggapinya.


Mobil yang masih berada di pelataran sekolah itu. Mulai melaju melewati gerbang sekolah dan melesat di jalanan kota. Misa mengalihkan pandangan nya menatap keluar jendela ke jalanan ramai. Dan tiba-tiba...

__ADS_1


Grep.


Misa memegang lengan Cesa yang sedang mengendalikan kemudi.


Cesa menoleh cepat, menatap tanya. "Ada apa Nona?"


"Cesa bisakah berhenti sebentar di depan. Aku ingin kelapa muda itu," tunjuk Misa pada penjual es kelapa muda di pinggir jalan.


Cesa melirik arah yang di tunjuk, seketika tatapannya berubah dingin pada warung penjual es kelapa tersebut.


"Cesa, aku ingin kelapa itu." Pinta Misa karena mobil masih melaju cepat.


"Baiklah." Akhirnya dia meminggirkan mobil.


Setelah mobil itu sudah berhenti terparkir, Misa hendak mencopot seat bealt.


"Jangan Nona." Cegah Cesa menghentikan pergerakan tangan.


"Kenapa?"


"Biar saya saja yang membelikan nya. Nona tinggal lah di mobil saja."


Dengan ragu Misa menatap cesa dan akhirnya mengangguk pelan mengiyakan.


Dia nggak akan mengatur ku seperti waktu itu kan? Memberikan ku es kelapa namun tidak ada es nya dan tidak manis.


Ceklek.


Cesa keluar mobil dan berjalan menghampiri warung kecil penjual kelapa muda itu. Ada percakapan di antara kedua nya hingga beberapa saat sang penjual kelapa muda tampak mengangguk mengerti dan tiba-tiba mengangkat satu karung cukup besar entah apa isi nya dan membawa karung itu ke bagasi mobil.


Bugh! Mobil sedikit bergoyang saat benda itu masuk ke dalam bagasi.


Misa yang memperhatikan dari dalam mobil, alisnya berkerut heran.


"Apa yang di masukkan ke dalam bagasi tadi? Dan kenapa Cesa tidak membawa gelas es kelapa?"


Ceklek.


Pintu mobil terbuka, Cesa memasuki kembali dan duduk di kursi kemudi ia memakai seat belt tanpa menghiraukan tatapan bingung dari Misa.


"Cesa mana es kelapa yang aku minta?" tanya Misa karena gadis itu tidak membawa minuman yang di pesanan nya.


Cesa tersenyum tenang, lalu menginjak pedal gas untuk melajukan kembali mobil dan mulai fokus ke jalan.


"Di rumah Nona, es kelapa nya ada di rumah."


"Di rumah?" Bingung Misa masih menatap dengan alis tertaut.


Namun Cesa hanya membalas nya dengan senyuman dan anggukkan kepala, tanpa memberi jawaban yang tepat.

__ADS_1


Ya tuhaan. Tidak bisakah orang orang di sekitar ku ini menyenangkan ku sedikit saja. Padahal aku sudah haus sekali...hiks...hiks.


BERSAMBUNG....


__ADS_2