Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
47


__ADS_3

Malam hari itu. Arga bersiap untuk pulang kerumah.


Sekertaris Tang membuka kan pintu mobil kursi belakang. "Tuan, ini laporan kegiatan Nona Romisa selama hari ini." Menyodorkan ponsel miliknya.


Arga menerima ponsel itu lalu masuk ke dalam mobil dan terduduk di kursi.


Blam.


Tang menutup pintu, setelahnya ia menyusul masuk ke mobil dan duduk di kursi kemudi. Perlahan mobil hitam itu melaju dengan kecepatan sedang di jalanan kota meninggalkan gedung pencakar langit milik keluarga putra.


Di dalam Mobil.


Tang fokus mengemudi menatap lurus ke depan. Sedangkan Arga tampak sibuk melihat-lihat ke setiap gambaran Misa yang terdapat di layar ponsel.


"Tang, sudah kau belikan?" Tanya Arga begitu melihat foto anggrek hitam di laman tengah.


"Sudah Tuan." Sahut Tang dengan pandangan tetap fokus ke jalan.


Pria tampan itu kembali lagi mengamati mengscroll setiap gambar di layar ponsel.


Tatapan Arga menggelap tajam begitu melihat gambar di bagian terakhir. Dalam gambar itu terdapat seorang laki-laki yang sangat ia kenal karena posisi saat pengambilan gambar terlihat jelas menyorot ke wajah laki-laki tersebut. Sehingga dalam sekali lihat ia bisa langsung mengenalinya.


"Dani." Celetuk Arga tercekat.


Sekertaris Tang melirik kaca depan untuk melihat kondisi tuannya. "Ada apa tuan?" Tanya Tang saat melihat raut wajah Arga menggelap.


Arga menyodorkan untuk di tunjukkan layar ponsel ke depan. "Tang, benarkah yang ku lihat ini Dani?" tanyanya.


Sekertaris Tang melirik layar ponsel itu, membuat alis nya terangkat sebelah lalu Tang kembali lagi fokus ke jalanan.


"Sepertinya iya Tuan," timpal Tang mengiyakan.


Arga menarik kembali ponsel itu untuk di scroll setiap gambar. "Dia mengenal Romisa?" tanya Arga dengan nada suara dingin.


"Sepertinya iya tuan," balas Tang kembali.


Genggaman tangan Arga yang memegang ponsel mengkerat geram. "Apa wanita yang di maksud Dani itu Romisa?"


"Sepertinya iya tuan," ucap Tang mengulang katanya.


"Kau Tang!" Tercekat dan terjeda sejenak. Hah... mendesah kesal. "Sekarang aku sedang kesal. Kenapa kau menjawabnya seperti robot!" Geram Arga. Lalu...

__ADS_1


Brak.


Dia melempar ponsel itu ke arah depan sehingga mengenai kaki Tang.


Tang terdiam dan menunduk menatap sendu pada ponselnya yang sudah tak tertolong.


Tuan itu ponsel saya edisi terbaru baru beli. Kenapa di lempar, rusak lah ponsel ku.


*****


Mobil hitam yang di tumpangi Arga telah terparkir tepat di depan teras rumahnya.


Sekertaris Tang menarik handle pintu kursi belakang untuk membuka kan pintu, yang kemudian Arga keluar dari dalamnya. Dia berjalan menuju pintu masuk utama yang di sana sudah di sambut oleh senyuman lebar dari Misa dan bi Ane yang berdiri di ambang pintu.


Arga langsung mendekati gadis cantik yang tersenyum itu, ia mengusap puncuk kepala nya dengan lembut lalu menggaet lengan Misa untuk berbalik berjalan masuk melewati para pelayan dan penjaga rumah.


Misa terlihat canggung melirik heran pada pria di sampingnya. Dia kenapa? Tumbenan di depan banyak orang melakukan hal ini.


Sedang Sekertaris Tang dan bi Ane mengekori keduanya seiring para pelayan bubar dari barisannya.


Saat keduanya telah sampai menaiki anak tangga. Arga melirik tajam ke arah Sekertaris Tang juga bi Ane sebuah isyarat untuk tidak mengikutinya lagi.


Sesampainya di dalam kamar.


"Duduklah," titah Arga pada ruang kosong di sebelahnya.


"Se-sebentar suamiku, aku menyimpan sepatu dulu." Misa berbalik berjalan ke rak sepatu lalu setelahnya kembali menghadap dan menurut duduk di samping Arga.


"Bukalah," pinta Arga menarik ujung kerudung.


Misa menurut lagi membuka kerudung nya, menyampirkan ke lengan sofa.


Arga membelai rambut panjang Misa dengan lembut lalu menangkup sisi wajah gadis cantik itu dengan kedua tangannya agar wajah dan tatapan Misa terfokus ke arahnya.


Seketika tubuh Misa bergetar dengan jantung mulai berpacu cepat. Sorot mata nya terlihat takut saat bertatapan langsung dengan sorot mata Arga yang tajam.


"Apa yang kau lakukan hari ini?" Tanya Arga dengan suara dingin mengintimidasi.


"Aku... aku mengajar dan... dan pergi ke pameran tanaman hias," terbata Misa dengan suara bergetar.


Arga menelusuri sebelah pipi Misa dengan jemari nya. Masih menatap tajam mengintimidasi.

__ADS_1


"Kau senang?" Tanya Arga masih asik menyusuri wajah Misa dengan jemari nya.


Misa mengernyit saat merasakan sentuhan di kulit wajahnya yang terasa geli, membuatnya panas dan merona.


Singaa jangan melakukan itu padaku.


Misa mengangguk kaku tanpa membuka suara.


Arga tersenyum simpul, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Misa sehingga membuat gadis cantik itu semakin bergetar dan kaku membatu.


"Tersenyumlah," pinta Arga mengelus bibir merah Misa.


Dengan bibir bergetar nan kaku Misa menggerakkan bibirnya membentuk senyuman yang terlihat jelas kepaksa.


Singaa apa kau sedang kerasukan bunglon lagi?


"Yang benar," titah Arga masih mengusap bibir Misa dengan telunjuknya.


Misa menurut tersenyum yang menampilkan deretan giginya yang rapih.


Ya Tuhaan... kembalikan si singa yang normal tapi jangan yang garang.


Arga menempelkan dahi nya ke dahi Misa sehingga hembusan napas mereka saling bertemu juga tatapannya saling menyatu.


Kemudian perlahan Arga mendekati bibir Misa, hingga jarak mereka semakin terkikis. Lalu...


Cup.


Dia melabuhkan bibirnya ke bibir Misa hanya menempel saja. Seketika membuat mata Misa terbelalak melotot tak berkedìp dan tubuhnya membatu kaku. Apa itu? Apa ini?


Arga menjauhkan wajahnya dari wajah Misa. Lalu...


Pletak.


Dia menjentikkan jemarinya di kening Misa untuk membangunkan keterkejutan dan keterpakuan gadis cantik itu.


"Aww..," celetuk Misa tersadar, ia mengusap keningnya yang terasa panas.


"Siapkan air hangat," titah Arga beranjak dari duduknya, kemudian berjalan menuju ruang ganti meninggalkan Misa yang masih terlihat linglung mengusap kening nya.


Oh Tuhan. Aku meminta untuk menghentikan sikapnya dari sikap bunglon bukan seperti ini. Ini sih bukan bunglon lagi yang merasukinya tapi sekaligus singa mesum.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2