
Arga terus berjalan melewati setiap lorong2 rumah nya untuk menuju sebuah kamar.
Kini langkah arga melambat karena telah dekat dengan tempat yang akan di tuju nya.
Misa mendongak kan kepala menatap arga lalu menoleh ke sekitar.
"Suamiku. Kita mau kemana.. bukan nya kamar kita di atas?" Tanya Misa heran.
Arga hanya membalas nya dengan tatapan hangat dan kembali fokus pada langkah kaki nya.
Kemana dia akan membawa ku. Dia tidak akan mengurungku kan di sebuah gudang atau sebuah kamar tanpa penghuni.
Langkah kaki arga berhenti di sebuah pintu.
"Bukalah," titah arga pada misa yang ada di gendongan nya.
Misa sejenak menatap arga. Lalu memutar handle pintu itu dengan gerakan ragu.
Benar dia tidak akan mengurungku disini kan. Semoga.. semoga.. tidak.
Mata misa membelalak melihat isi ruangan tersebut sebuah ruangan yang penuh dengan peralatan kecil seperti kasur. Bantalan untuk duduk, mainan kecil yang misa kenal jika semua peralatan itu adalah untuk memelihara kucing.
Arga menurunkan misa hingga berdiri di hadapan nya lalu arga memeluk dari belakang dengan merangkulkan lengan nya ke leher misa.
"Apa ini suamiku?" Tanya misa mendongak kan kepala nya melirik arga.
Arga menurunkan pandangan nya untuk menatap misa. "Lihatlah di dalam rumah kecil itu." Tunjuk arga pada sebuah rumah2an kecil di pojok dekat bantalan kecil.
"Meong...meong.." suara kucing dan keluarlah seekor kucing persia berbulu panjang, lebat, dan berwarna putih dengan mata nya yang berwarna biru terang menatap misa lalu menghampiri misa.
Misa tersenyum senang melihat kucing tersebut dan hendak menunduk menyambut kucing itu untuk di peluk nya namun sebelum misa menyambut kucing itu.
Karena saking seneng nya misa di pertemukan dengan hewan yang menggemaskan itu misa refleks berbalik dan berjinjit untuk mengecup sebelah pipi arga sebagai tanda terimakasih nya.
Arga yang terpaku dengan perlakuan misa yang tiba2 berinsiatip mencium nya tanpa di perintah oleh nya, membuat hati arga bergejolak senang dan melepaskan rangkulan tangan di leher misa.
Misa berjongkok dan mengelus rambut kucing itu dengan sayang. Ada binar kebahagiaan di mata misa.
__ADS_1
Ternyata s singa tahu juga apa yang aku sukai. Lucu sekali sih kucing nya. Gemess jadi nya.
Setelah arga kembali menetralkan perasaan nya yang bergejolak senang. Arga ikut berjongkok di samping misa yang sedang mengelus rambut kucing persia.
"Hewan peliharaan baru mu. Romisa," ucap arga dan mengelus lembut puncuk kepala misa lalu mengecup nya.
Berarti aku tidak akan di pertemukan dengan kembaran mu lagi kan singa.. haha seneng nya aku.
Misa mengangguk senang dan menatap arga dengan di sertai senyuman nya.
"Baiklah, kau bermain di sini. Aku akan ke ruang kerja dahulu. Jangan terlalu lama2 bermain di sini," tutur arga lagi dan mengusap kembali puncuk kepala misa lalu mencium kening misa lembut.
Misa yang masih di liputi rasa senang nya. Bersikap pasrah dan biasa ketika arga bersikap seperti itu terhadap diri nya.
Arga bangkit dari duduk jongkok nya dan berbalik untuk meninggalkan kamar kucing tersebut.
Arga berjalan menuju ruang kerja nya dengan senyuman terus mengembang di bibir. Arga memasuki ruang kerja dan langsung melemparkan tubuh nya ke sofa panjang yang ada di ruangan itu.
Arga menyenderkan kepala ke lengan sofa dan tatapan lurus ke depan dengan bibir masih tersenyum senang.
"Ekhm.." sekertaris Tang berdehem untuk mengusik arga.
Namun arga masih asyik dengan perasaan dan pikiran nya sehingga tidak mendengar deheman dari Tang.
"Tuan," panggil Tang. Dan kali ini arga menoleh ke arah Tang.
"Tang," panggil arga namun masih tersenyum.
"Iya tuan," balas nya.
"Kau benar, dengan memberikan nya kucing. Romisa tidak akan berpaling dari ku. Bukti nya tadi dia..." ucap nya arga dan belum selesai karena kembali tersenyum membayangkan kejadian di saat misa mengecup pipi nya.
Sekertaris Tang memicingkan mata nya. "Dia kenapa tuan?" tanya Tang penasaran.
"Romisa mencium ku Tang.. hah. Aku sangat bahagia sekarang." Sambung arga lagi dan tersenyum bahagia.
Tang mengangguk pelan.
__ADS_1
Jadi yang membuat tuan seperti ini karena nona mencium nya. Eh, tp apa benar hanya karena di kasih kucing nona berinsiatip mencium tuan. Seperti nya benar dugaan ku selama ini. Jika hewan favorit nona bukan hewan buas itu. Tp kenapa tuan bisa berpikiran jika nona menyukai hewan buas.
"Tuan," panggil Tang.
Namun arga masih di liputi rasa bahagia nya tidak menggubris panggilan Tang.
"Tuan." Panggil Tang lagi.
Dan arga masih tidak menggubris nya.
Tuan bilang telinga saya yang bermasalah. Tapi seperti nya telinga tuan yang bermasalah.
Tang menghela napas nya pelan lalu kembali memanggil arga.
"Tuan." Panggil Tang dengan suara cukup keras.
Arga menoleh dan menatap nya dengan tajam.
"Kau berani meninggikan suara mu padaku!!" Ucap Arga ada nada tidak suka.
Jelas tadi tuan di panggil susah sekali.
"Tidak tuan, saya tadi memanggil tuan berapa kali namun tuan masih belum menjawab nya jadi nya saya kelepasan tuan." Tutur Tang jujur.
"Jadi kau mengira aku tuli gitu," seloroh Arga kesal.
Tuan. Baru saja tuan tersenyum senang kenapa sekarang malah berubah jadi horor lagi.
"Tidak tuan. Mana berani saya mengatakan tuan seperti itu." Ucap Tang lalu menunduk.
"Sudahlah kau jangan ganggu aku Tang. Urus kerjaan mu saja," tegas Arga mencari posisi nyaman di sofa dan kembali ke pikiran bahagia nya.
Tang menghela napas nya pelan.
Padahal saya hanya ingin meminta nya tanda tangan di berkas ini tapi seperti nya situasi nya lagi kurang bagus jika saya merusak kembali suasana hati tuan. Bisa2 saya sendiri di salahkan dan membangkitkan jiwa horor nya tuan.
BERSAMBUNG....
__ADS_1