Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
141


__ADS_3

Setelah diri nya keluar kamar, Arga segera berjalan menuju kamar lain untuk melaksanakan shalat dzuhur nya. Dan selesai shalat dzuhur arga beranjak menuju meja makan.


Sementara di dalam kamar, cesa masih berdiri mematung di depan mushola kecil dekat ruang ganti menunggu misa keluar dari dalam.


Ceklek.


Misa keluar dari mushola yang langsung di kejutkan oleh cesa.


"Eh, cesa sejak kapan kamu berdiri di situ?" tanya Misa sambil membenarkan hijab nya.


"Sejak tuan keluar dari kamar dan saya langsung ke dalam lagi untuk memastikan nona baik baik saja."


Misa mengangguk pelan lalu menatap cesa.


"Kenapa nggak masuk ke dalam? Kamu sudah dzuhur?" tanya Misa sambil melangkah kan kaki nya menuju pintu keluar.


"Saya lagi Haid nona," tersenyum canggung dan mengikuti Misa dari belakang.


Kedua nya berjalan keluar dari kamar untuk menuju ruang makan, yang dimana arga dan Tang sudah menunggu nya.


Sesampai nya di meja makan misa duduk di kursi samping arga.


"Suamiku, belum makan?" tanya Misa, karena melihat arga asyik mengobrol dengan Tang, dan piring nya masih kosong.


Arga menghentikan obrolan nya dengan Tang. "Belum," balasnya.


Misa mengangguk pelan lalu melirik cesa yang masih berdiri tidak jauh dari nya.


"Cesa duduklah di samping sekertaris Tang, kita makan bersama," titah Misa.


Cesa melirik kursi kosong dan menatap ragu pada misa.


Seakan misa mengerti tatapan ragu cesa. Misa menoleh pada arga.


"Suamiku, tidak apakah cesa ikut makan bersama kita?" tanya Misa, yang mendapat anggukkan kepala dari arga.


"Cesa.." panggil Misa dan mengisyaratkan dengan lirikan mata nya pada kursi kosong di samping Tang.


Cesa menuruti keinginan misa. Yaitu duduk di kursi samping Tang.


Kenapa melihat mereka berdua seperti nya sangat cocok. Yang satu kaku dan yang satu ceria, pantaslah..apa aku jodohkan saja mereka.


Melihat misa tersenyum sendiri sambil melirik dua orang di hadapan nya. "Ekhem.." Arga berdehem membuat misa menoleh pada nya.


"Romisa, piring nya masih kosong," ucap Arga.


Misa cengengesan. "Maaf, Suamiku ingin makan apa? Biar aku ambilkan."


Arga menunjuk pada menu yang ingin di makan nya. Dan misa mengambilkan lalu menaruhnya di piring arga. Setelahnya misa mengambil untuk diri nya sendiri.


Sementara cesa dan Tang mengambil menu makanan dengan gerakan canggung satu sama lain membuat misa lagi lagi tersenyum melihat nya.


"Suamiku, kenapa sup nya terasa hambar tidak ada rasanya?" tanya Misa setelah menyendokkan sup ke mulut nya.


Arga mengambil satu sendok sup di mangkuk misa lalu mencicipi nya. Ia mengernyitkan alis heran.


"Tidak romisa. Ini sudah pas," balasnya.


Misa mencebikkan bibirnya lalu menoleh ke ke arah Bi Ane yang berdiri di antara para pelayan di belakang nya.


"Bi ane. Bisakah aku minta garam," pinta Misa.


"Baik nona," memberi isyarat mata pada salah satu pelayan yang berdiri di dekat nya.


Lalu pelayan itu pergi mengambilkan kotak garam di dapur.


Arga menangkup sebelah sisi wajah misa agar menatap pada nya. "Romisa, menurut ku ini sudah pas rasanya. Kenapa harus di tambah garam?"


"Tapi di lidahku terasa hambar nggak ada rasanya suamiku," jawab Misa.


Arga melirik Tang dan memberikan isyarat tatapan. Seakan Tang mengerti tatapan arga.


Sekertaris Tang mengambil satu mangkuk yang sama seperti yang di makan oleh misa. Lalu mencicipi nya.


"Nona, menurut saya juga rasanya sudah pas. Tidak hambar atau kekurangan garam," tutur Tang setelah mencicipi sup nya.


Misa menghela napas kesal. "Ya sudah kalau tidak di tambah garam. Aku tidak mau makan," ucap Misa dengan memberenggut sebal.


Melihat misa bersikap seperti itu arga menghembuskan napas kasar. Apa ini sikap aneh akibat perubahan hormon seperti yang dokter itu bilang pikir arga.


"Nona, garamnya," ucap Pelayan wanita yang mengambil garam dari dapur lalu menyodorkan nya ke misa. Namun, Arga dengan sigap mengambil alih kotak garam itu, sebelum misa mengambil nya.


Misa mendelik sebal ke arah Arga.


"Romisa, terlalu banyak mengkonsumsi garam itu tidak baik untuk kesehatan mu. Jadi makanlah seadanya," tutur Arga pelan sambil mengusap lembut puncuk kepala misa.


Misa membuang muka ke arah lain. "Aku nggak mau makan," ketus Misa.

__ADS_1


Arga menghela napas pelan. "Romisa..." panggil Arga pelan.


Misa menggelengkan kepala nya cepat pura pura tidak mendengar panggilan arga.


"Romisa..." panggil Arga kembali, namun misa masih membuang muka ke arah lain dan tidak menggubris panggilan dari arga.


Arga menghembuskan napas kasar, lalu dengan lembut menangkup sisi wajah misa, agar misa mau menatap nya.


"Romisa... makanlah, kau tidak kasihan pada anak kita yang kelaparan di perutmu. Aku akan menyuapi mu," tutur Arga dengan nada rendah.


Misa memberenggut seakan menangis dan benar saja misa menangis dengan mencebikkan bibir nya.


"hiks..hiks..tapi kasih garamnya ke sup ku. Aku...aku akan makan jika..di tambah garam..dalam mak..anan ku," terbata Misa sambil sesenggukkan.


Arga menghela napas nya kasar, lalu menghapus air mata yang sudah mengalir di pipi misa.


Dengan gerakan pasrah arga mengangguk pelan mengiyakan permintaan misa. "Baiklah," ucapnya.


Seketika ekspresi wajah misa berubah tersenyum. "Benarkah?" girang Misa.


Arga mengangguk, lalu mengecup kening misa dan melepaskan tangkupan tangan nya di wajah misa.


Arga memberikan kotak garam yang sempat di jauhkan di ujung meja ke misa. Dengan senang hati misa menerima kotak garam tersebut, dan mulai menaburkan satu sendok garam ke dalam sup hangat nya.


Sementara sekertaris Tang dan cesa yang sedari tadi menjadi penonton kedua nya hanya bisa menatap bengong ke arah arga.


Baru kali ini saya melihat tuan bersikap pasrah dan tidak bisa berkutik. Memang benar benar hebat nona bisa menaklukan tuan yang sifatnya dingin dan arogan pikir Tang


Misa mencicipi sup yang sudah di taburi satu sendok teh garam dan di rasa masih kurang asin. Misa menaburkan kembali satu sendok teh garam ke dalam sup nya.


Arga mengernyit heran melihat misa yang memasukkan dua sendok teh garam ke dalam sup nya.


Apa itu akan baik untuk pencernaan nya. Romisa, kenapa kehadiran anak kita membuatmu harus mengalami hal ini..gumam arga dalam hati.


Ketika misa akan kembali menaburkan satu sendok lagi garam ke sup nya, arga mencegah gerakan tangan misa sehingga terhenti.


"Romisa.. aku mengizinkan mu, bukan berarti kau harus menaburkan nya sebanyak itu," tegur Arga dengan nada tegas.


"Tapi suamiku rasa nya masih hambar," balas Misa.


"Romisa..." tegas Arga lagi sambil menatap misa.


"Suamiku.." balas Misa dan membalas tatapan arga.


Arga menghela napas, lalu melepaskan cekalan tangan nya di tangan misa.


"Bi Ane!" panggil Arga dengan nada suara cukup tinggi.


"Singkirkan garam itu dari hadapan ku sekarang!" tegas Arga dengan nada kesal.


"Baik tuan," berjalan ke arah Misa.


"Nona," panggil lirih Bi Ane yang sudah berdiri di samping misa sambil menengadahkan sebelah tangan nya.


Misa melirik tangan bi ane, lalu melirik arga. Dan akhirnya memasukkan kembali satu sendok garam yang belum di taburkan ke dalam sup ke kotak garam, lalu memberikan kotak garam itu ke bi ane.


Melihat misa menuruti nya arga tersenyum hangat ke arah misa. "Makanlah romisa. Rasanya sudah cukup," ucap Arga sambil mengusap puncuk kepala misa.


Misa mengangguk pasrah dan mengambil sendok makan. Lalu mulai menyuapkan sup ke mulut nya.


Padahal rasa nya masih hambar. Tp melihat dia akan mengamuk membuat ku tidak berani melawan nya lagi.


-------------


Selesai makan siang. Mereka berempat kembali pada aktivitasnya yang sempat di tinggalkan. Arga dan Tang kembali bekerja ke ruangan kerja, sedang misa dan cesa berbalik ke kamar dan menghabiskan waktu nya di perpustakaan kamar misa.


Hingga waktu adzan ashar pun sudah berkumandang menghentikan kegiatan mereka dari fokus nya. Misa dan arga bersiap siap untuk melakukan USG pada kandungan misa.


Setelah Kedua nya melaksanakan shalat ashar, misa dan arga berjalan ke arah ruang Tamu untuk menemui dokter meriska yang sudah menunggu nya.


"Selamat datang dok. Maaf sudah menunggu terlalu lama," sapa Misa setelah diri nya saling berhadap hadapan dengan dokter meriska.


"Tidak apa nona. Tidak terlalu lama juga," balas dokter Meriska, namun pandangan mata nya terus menatap arga yang berada di samping misa. Sedang arga yang di tatap memasang wajah dingin dan fokus nya pada misa.


Misa mengikuti arah pandang dokter meriska.


Kenapa sejak pertama masuk ke ruang tamu dokter meriska selalu menatap s singa sih.


"Langsung ke ruang USG saja dok. Kita mulai memeriksa nona," ucap sekertaris Tang memecah kecanggungan.


"Eh, iya."


Lalu mereka berenam berjalan menyusuri setiap ruangan dan melewati beberapa pintu untuk sampai ke ruangan yang di tuju.


Kini mereka tengah berdiri di depan pintu kembar. Sekertaris Tang menempelkan jari nya sehingga pintu kembar tersebut menggeser terbuka. Misa dan arga yang pertama kali memasuki ruangan yang merupakan lorong dengan beberapa pintu yang berjejer.


Mereka melewati beberapa pintu dalam lorong itu, dan kini langkah kaki mereka terhenti kembali di sebuah pintu yang bertuliskan ultrasonografi.

__ADS_1


"Silahkan masuk tuan, dan nona. Ini ruangan nya. Semuanya sudah di persiapkan oleh petugas di dalam," ucap Tang setelah membuka pintu dan mempersilahkan dengan gerakan tangan nya.


Misa melirik arga sejenak lalu melangkah kan kaki nya ke dalam ruangan. Di ikuti arga dan dokter meriska beserta asisten tina memasuki ruangan tersebut. Dan benar saja di dalam ruangan USG, Misa sudah di sambut oleh seorang wanita berseragam medis.


"Selamat sore tuan dan nona," sapa nya lalu menunduk hormat.


Misa membalas nya dengan senyuman dan mengangguk pelan.


"Baiklah. Saya permisi silahkan dok," sambung wanita tersebut lalu menunduk dan pergi meninggalkan mereka berempat di ruangan USG.


Setelah pintu ruangan tertutup.


"Nona. Silahkan berbaring di ranjang," titah dokter meriska pada misa.


Misa menurut menidurkan diri nya di atas ranjang sedang arga duduk di kursi kiri dekat ranjang.


"Nona, tolong singkap kan pakaian nya sampai perut tengah," ucap Meriska, memberikan perintah setelah dirinya duduk di kursi samping kanan misa.


Misa hendak mengangkat baju dress yang di pakai nya, namun arga mencegah gerakan tangan misa hingga terhenti.


"Ambilkan selimut itu," titah Arga pada asisten tina dan menunjuk sebuah selimut di sofa tunggal.


"Ini tuan selimutnya," memberikan pada arga.


Arga menutupi kaki misa sampai pinggul, lalu menyingkap baju dress misa sehingga memperlihatkan perut bawah misa sampai pusar.


Sedang dokter meriska yang sedari tadi memperhatikan dan mencuri pandang pada arga, tersenyum pesona.


"Silahkan. Dilanjutkan," titah Arga pada meriska membuyarkan lamunan meriska.


Dokter meriska tersenyum gugup dan mengangguk pelan. Lalu meriska mengambil botol gel untuk membalurkan nya ke kulit misa.


Ketika dokter meriska membalurkan gel tersebut ke permukaan kulit misa.


"Apa itu?" tanya Arga tegas dengan nada tajam.


Seketika gerakan tangan dokter meriska di perut misa terhenti membeku.


"Ah, ini adalah gel tuan," berucap tenang lalu menunjukkan gel yang di pegang nya pada arga.


"Untuk apa? Tidak bahayakah untuk romisa?" tanya Arga masih dengan nada tajam nya.


"Tuan arga tenang saja. Karena fungsi gel ini untuk menghindari gesekan langsung alat USG dengan kulit nona. Jadi Gel ini sangat aman untuk kulit nona, tidak akan mengakibatkan kulit korosi atau abrasif," jelas dokter Meriska, meneruskan membalurkan gel ke permukaan kulit misa yang sempat terhenti.


Dokter meriska mulai menempelkan alat transduser ke permukaan kulit misa yang sudah di baluri gel.


Misa memperhatikan layar besar yang ada di samping ranjang nya yang semula gelap dan hanya guratan guratan kini menampilkan jelas sebuah lingkaran berwarna putih dan ada bagian berwarna gelap di tengah tengah nya. Ada senyuman bahagia di bibir misa namun tidak dengan arga.


Arga tampak terpaku melihat layar di depan nya dengan tatapan tak lepas dari layar dan bibir rapat nya.


"Nona, Ini adalah embrio nya yang belum terlihat jelas karena usia kandungan nona masih muda tapi masih terlihat jelas kantung kehamilan nya," tutur dokter meriska menjelaskan gambar yang muncul di layar.


"Dokter apakah ini janin saya. Dan apa yang ada di sekeliling nya itu?" tanya Misa menunjuk layar.


"Eh, itu tidak apa apa nona. Itu hal normal. Karena usia kandungan nona yang masih muda jadi janin dalam kandungan masih berbentuk bulat dan kecil seperti ini dan untuk memantau perkembangan nya kita bisa melihat nya lagi beberapa minggu ke depan," jelas dokter Meriska lagi.


Misa mengangguk pelan dan tersenyum senang, sementara arga masih terpaku pada layar. Tidak berkomentar atau pun bertanya.


"Tina, cetaklah gambar nya," titah dokter Meriska pada asisten nya yang langsung di patuhi oleh tina.


Dokter meriska menghapus gel yang ada di perut misa karena proses USG telah selesai. Karena arga masih terpaku kaku, misa bangkit dari tiduran nya dan duduk setengah terbaring.


"Suamiku.. ada apa?" tanya misa sambil mengusap lembut punggung tangan arga yang sedari tadi menggenggam jemari misa cukup erat.


Arga mengalihkan pandangan nya pada misa, lalu menggelengkan kepala nya pelan.


Kenapa dia terlihat aneh?


"Nona, ini hasil cetak gambar nya," asisten Tina menyodorkan beberapa fto yang berwarna abu abu kehitaman.


Misa menerima dengan tangan gemetar dan mata nya berkaca kaca karena terharu.


"Nona, kami permisi dulu," ucap dokter meriska memberi ruang buat misa dan arga.


Dokter meriska dan asisten tina keluar ruangan yang menyisakan misa dan arga di dalam nya.


"Romisa.." panggil Arga.


Misa melirik pada arga dan menunjukkan foto di pegangan tangan nya ke arah arga.


Arga menatap fto itu dan terpaku takjub melihat nya. Lalu beralih menatap misa dengan tatapan sendu.


"Benarkah ini janin yang ada dalam kandungan mu, romisa?" tanya Arga yang mendapatkan anggukkan kepala misa.


Rasa haru dan bahagia yang bergejolak dalam dada nya. Arga segera menarik misa ke dalam pelukan nya.


"Terimakasih Romisa. Kau sudah mau mengandung anak ku. Aku akan berusaha untuk menjaga kalian berdua semampu ku," gumam Arga dengan suara parau tersendat di tenggorokan nya karena gejolak rasa haru yang dirasa nya.

__ADS_1


"Iya suamiku.." balas Misa membalas pelukan arga dan menangis haru.


BERSAMBUNG...


__ADS_2