
Di Kantor Arga.
Seorang wanita paruh baya berpakaian modis itu dengan angkuh penuh senyuman kesombongan ia berjalan menuju lift yang mengantarkannya hingga ke lantai atas, dimana ruangan sang pemilik gedung berada. Dia berniat ingin melaporkan atas apa yang di temukan nya di kediaman Putra dan sudah membayangkan akan kehancuran Misa kelak.
Ting...
Bunyi lift menandakan telah sampai lantai tujuan, perlahan pintu lift itu terbuka lebar. Dengan jalan lenggak-lenggok ia melangkah hendak keluar dari lift namun tiba-tiba...
"Maaf Nyonya, hari ini tuan Arga tidak menerima tamu. Jadi mohon Nyonya kembali." Serbu para penjaga berpakaian jas hitam rapih, menjegat wanita itu.
Kedua mata Lara begitu tajam nan sinis melirik ke enam bodyguard itu. "Berani sekali kalian menjegat saya. Saya ini adalah Bibi Lara, Bibi satu-satu nya tuan kalian." Sewot Bibi Lara dengan suara meninggi.
Salah satu bodyguard maju dan menunduk sebagai hormat. "Maaf Nyonya, tapi Nyonya tidak di izinkan berada di lantai ini. Tuan kami telah memerintahkan untuk tidak menerima tamu siapa pun."
"Kau!" Tunjuk Lara dengan pandangan geram dan gigi mengkerat. "Berani nya mengusir ku hah!"
Salah satu sekertaris wanita yang berada di meja luar, melihat kegaduhan itu. "Aku harus lapor sekertaris Tang." Dia segera beranjak setengah berlari menuju ruangan sekertaris Tang.
Dan tidak berapa lama, setelah Lara di tahan dan di kepung oleh para bodyguard.
Sekertaris Tang yang mendapat laporan dari salah satu sekertaris wanita tadi. Dia berjalan dengan tenang ke arah kegaduhan sekumpulan bodyguard.
"Ekhem... Nyonya Lara. Ada keperluan apa, Nyonya datang kemari?" tanya sekertaris Tang yang saat ini dia sudah berada di belakang para bodyguard yang mengepung mengelilingi Bibi Lara.
Bibi Lara menoleh cepat ke arah suara, tatapannya begitu tajam ke arah pria tampan itu.
"Kau! Tang... aku ingin bertemu dengan Arga keponakan ku. Kenapa aku di perlakukan seperti ini hah!" Ucapnya penuh amarah.
"Baiklah, tunggu sebentar Nyonya. Saya akan bertanya terlebih dahulu kepada tuan. Sediakah tuan menerima tamu seperti anda." Tang sedikit membungkukkan badan menunduk hormat lalu berbalik melangkah menuju ruangan Arga.
Sekertaris Tang memasuki ruangan Arga, namun dia tidak mendapati pria yang di carinya di kursi juga di balkon atau pun di sekitar ruangan, hanya tinggal satu tempat yang belum Tang periksa yaitu kamar istirahat.
Dengan langkah penuh keberanian Tang mendekati pintu tunggal yang tertutup rapat itu, tangan ia terangkat untuk mengetuk pintu kamar tersebut.
Tok...tok...tok.
__ADS_1
"Tuan." Panggil Tang.
Namun dia tidak mendapati jawaban apa pun dari yang di panggil.
Tok...tok...tok.
"Tuan." Sekali lagi Tang mengetuk dan memanggil nama Arga.
Dan nihil masih tidak mendapat jawaban dari dalam kamar.
Hah... menghela napas pelan. "Baiklah sekali lagi." Gumam Tang.
Dia kembali mengetuk pintu kamar itu, dan hasilnya masih sama. Tidak ada jawaban apa pun dari dalam kamar.
"Terpaksa harus dengan cara terakhir." Dengan segala keberanian, Tang memutar handle pintu berbentuk bulat itu dan kebetulan tidak di kunci dari dalam.
Ceklek.
Tang mendorong pintu hingga akhirnya terbuka sebatas badan.
Di atas kasur terlihat Arga sedang memeluk memerangkap dan menindihnya sebuah bantal guling, dia mengusap-usap dengan lembut dan dengan mata terpejam, di sertai gumaman kecil dari bibir Arga yaitu nama Romisa yang di gumamkan nya.
Tidak jauh dari apa yang di lakukan Arga tampak sebuah buku bersampul biru dan Tang tahu buku itu buku apa. Buku panduan yang di berikan nya tadi pagi.
Tang masih mematung di tempatnya menyaksikan Arga.
Kenapa tuan bisa seperti ini? Saya jadi merasa bersalah dengan memberikan nya buku panduan itu. Tapi dengan memberikan buku itu jauh lebih baik dari pada tuan harus melihat hal-hal yang tidak baik dan akan merusak otak nya.
Tapi melihat tuan seperti ini. Sungguh membuat saya merasa sedang menjaga anak kecil yang baru belajar mengenal sesuatu.
"Ekhem. Ekhem." Deheman Tang cukup keras.
Seketika menghentikan gerakan tangan Arga yang tengah mengusap-usap bantal guling itu.
"Tuan." Panggil Tang ragu.
__ADS_1
Arga menoleh cepat dan bangkit dari posisinya, segera ia membenarkan kemeja yang sudah di buka beberapa kancing bagian atas nya. Arga menatap tajam ke arah pria yang berdiri tidak jauh dari ranjang.
"Tang! Kau masuk tidak mengetuk dahulu." Ucap Arga tidak suka.
Tang menundukkan kepala. "Maaf tuan, saya sudah mengetuk pintu 3 kali berturut dan memanggil tuan berapa kali. Namun tidak ada jawaban dari tuan sama sekali. Akhirnya saya memberanikan diri masuk ke dalam."
Hah... Arga menghela napas panjang, ia duduk di sisi ranjang. "Tang, kau tidak melihat nya kan?" tanya Arga dengan tatapan sedikit menyipit menyelidik.
Melihat nya tuan, bahkan sangat jelas.
"Tidak tuan." Bohong Tang.
"Bagus lah." Terlihat kelegaan dari nada suaranya. "Ekhem... kau tahu jika kau melihatnya aku akan apakan kau Tang." Ancam Arga menatap tajam.
Saya tau tuan. Tuan akan menimpuk kepala saya dengan sangat keras lagi, dan bahkan bisa lebih dari sekedar menimpuk.
"Iya tuan." Jawab Tang.
Arga menghela napas kasar, merapihkan kerah kemeja yang tak beraturan.
"Baiklah, ada apa sehingga kau berani menerobos kamar ku?" tanya Arga tegas.
"Di luar ada Nyonya Lara tuan, dan dia ingin bertemu dengan tuan."
Alis Arga terangkat sebelah, mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Ada keperluan apa Bibi kemari?" tanyanya heran.
"Saya kurang tau tuan, apakah tuan akan menemui nya?" tanya Tang, kali ini wajahnya terangkat menatap pria tampan di sisi ranjang itu.
Arga tampak berpikir sejenak, namun akhirnya mengangguk kecil. "Baiklah, suruh dia ke ruangan ku."
"Baik tuan." Balas Tang lalu menunduk hormat dan berlalu meninggalkan kamar.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1