Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
35


__ADS_3

Cesa menghampiri gadis mungil yang berada di teras rumah.


"Selamat pagi Nona, saya Cesa supir Nona," sapa Cesa lalu tersenyum ramah.


Misa melirik Cesa dari atas sampai bawah lalu mengulas senyum manis.


Benar, sepertinya dia akan menjadi guru di sekolah melihat seragamnya seperti itu.


"Pagi juga Cesa, mohon kerja samanya yaa," ucap Misa turun dari teras rumah itu dan mendekati mobil hitam yang berada di pelataran.


Cesa membuka kan pintu mobil kursi penumpang.


Brak.


Misa mendorong menutup kembali pintu mobil itu.


"Cesa, untuk tidak membuat orang curiga bahwa kamu adalah supir saya, saya akan duduk di kursi depan saja," tunjuk Misa dengan mengedikkan dagu ke arah kursi pintu depan.


Tangan Cesa beralih menarik handle pintu kursi depan. "Baiklah Nona, silahkan." Membukakan pintu.


Misa langsung masuk dan duduk di kursi penumpang depan, dan Cesa setelah menutup pintu, ia berjalan setengah memutari mobil, masuk dan duduk di kursi kemudi.


Mobil hitam itu pun mulai melaju meninggalkan pelataran rumah mewah, melaju dengan kecepatan sedang di jalanan kota.


Misa melirik orang di sampingnya. "Cesa berapa umur mu sepertinya masih muda?" tanyanya.


Tanpa menoleh, tetap fokus mengemudi. "Saya 23 tahun, Nona," jawab Cesa.


Misa menatap lamat-lamat wajah cantik Cesa. Sepertinya dia tidak kaku seperti sekertaris Tang, syukurlah sekertaris sialan itu mencarikan teman yang ceria tidak kaku seperti dirinya.


"Cesa apa kamu sudah menikah?" tanya Misa lagi.


"Belum Nona," ucap Cesa dengan pandangan tetap fokus ke jalanan.

__ADS_1


"Cesa jika kita dalam lingkungan sekolah, bisakah kamu memanggil saya dengan sebutan Ibu Misa, jangan memanggil saya Nona."


"Saya tidak bisa Nona, akan seperti apa jika tuan tau saya memanggil Nona seperti itu," ucap Cesa terselip nada takut dalam ucapannya.


Memang apa yang akan di lakukan si singa. Apa dia akan mengaung dan mengacak-acak rumahnya.


"Untuk menjaga kecurigaan orang lain Cesa, bisakah? Hanya di lingkungan sekolah saja kok." Melas Misa menangkupkan kedua tangan nya di depan.


Dan hal itu membuat Cesa semakin gusar.


Jangan seperti itu terhadap saya Nona, jika sekertaris Tang melihat nya bisa-bisa saya akan habis Nona.


"Baiklah Nona saya akan melakukannya," ucap Cesa pasrah dan tersenyum tenang.


"Begitukan sangat manis Cesa," ucap Misa lalu tersenyum ceria.


*****


Saat ini, Misa dan Cesa sedang berjalan berdampingan di pelataran sekolah menuju kantor guru.


"Assalamualaikum Bu Misa." Sapa Pak Dani yang ikut menyusul untuk mensejajari langkah kaki keduanya.


Hal itu membuat Cesa dengan sigap siaga berpindah menjadi penghalang di antara ke duanya, hingga menempatkan diri di tengah-tengah mereka.


"Walaikumsalam," jawab Misa tanpa melirik.


Pak Dani melihat Cesa yang sudah berada di sisinya, ia mengernyitkan alis heran.


"Siapa dia, Bu Misa?" tanyanya menunjuk.


Misa melirik ke arah samping kanannya dimana pria itu berada di samping Cesa. "Dia saudara ku, dan mulai sekarang dia juga akan menjadi guru di sekolah ini."


Pak Dani melihat Cesa dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai.

__ADS_1


Saudara? Sejak kapan Misa punya saudara? Wajah mereka pun tidak ada mirip-miripnya sama sekali.


"Cesa perkenalkan dirimu pada Pak Dani, dia ini guru matematika di sekolah ini," titah Misa menyenggol lengan gadis cantik itu.


Cesa menoleh ke arah Pak Dani, lalu ia mengulurkan sebelah tangannya ke arah pria itu.


Seketika langkah kaki Pak Dani terhenti di susul kedua wanita itu. Dia menatap bingung pada tangan yang terulur itu.


Tidak mungkin dia saudaranya, sedang Misa orangnya sangat berjaga jarak dengan kaum pria.


Misa tersenyum canggung ke arah Pak Dani sambil menarik lengan Cesa untuk di turunkannya.


"Maaf Pak Dani. Cesa memang baru mau mulai mengajar hari ini jadi belum paham akan adab di sekolah ini," jelas Misa mengalihkan kecanggungan.


Kemudian Misa beralih menatap gadis yang di genggam tangannya. "Cesa, seorang pria dan wanita yang sudah memasuki akil baligh atau dewasa tidak di perbolehkan berjabat tangan, entah itu dalam sekolah atau di luar sekolah, itu untuk kebaikan kamu nantinya."


Cesa menganggukkan kepalanya mengerti, lalu menoleh pada pria yang sedang menatap takjub pada Misa.


"Saya Cessandra bisa panggil Cesa saja." Berucap tegas.


"Eh, iya." Terhenyak melirik pada gadis yang memperkenalkan namanya. Pak Dani tersenyum kikuk dan mengusap belakang lehernya. "Saya Pak Dani."


"Ya sudah kalau begitu kami duluan Pak," ucap Cesa mengangguk kecil ke arah Misa memberinya isyarat.


"Assalamualaikum Pak," salam Misa sebelum pergi menggaet tangan Cesa.


"Walaikumsalam." Jawab Pak Dani yang masih mematung melihat kepergian kedua nya.


Kenapa semakin ke sini aku merasa Misa menyembunyikan sesuatu. Dulu nggak pernah dia izin dalam mengajar sekarang dia sering izin. Dia juga tiba-tiba pindah rumah dan itu baru di ketahui oleh ku baru-baru ini setelah dia sudah pindah begitu lama.


Dan sekarang di tambah ada kedatangan guru baru yang langsung memperkenalkan diri nya sebagai sodara Misa, sedang aku tahu sejak dia masih kuliah saja dia tidak mempunyai sodara siapa pun karena dia adalah sebatang kara. Apa sebenarnya yang di sembunyikan dia?


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2