Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
147


__ADS_3

"Makanlah yang banyak ikan ikan cantik," oceh misa di sela menaburkan pakan ikan ke kolam ikan yang ada di bawah balkon kamarnya.


Hmm...bagaimana kabar ayah putra di sana. Sudah lama aku tidak berjumpa dengan nya.. dan apakah kaki nya sudah sembuh..tp aku masih penasaran penyebab ayah putra bisa seperti itu, karena apa kira kira nya.


"Ekhem..." dehem cesa dari samping membuyarkan lamunan misa.


Misa menoleh. "Eh, cesa." Ucap misa sambil melemparkan kembali pakan ikan ke kolam.


"Nona, sedang memikirkan apa. Dari tadi saya perhatikan nona sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Apa ada masalah yang membebani pikiran nona?," tanya cesa menatap misa.


Misa tersenyum."Tidak ada cesa, hanya saja masih ada yang mengganjal di hatiku sudah cukup lama," ucap misa tanpa menoleh ke cesa.


Alis cesa berkerut. "Tentang apa yang mengganjal di hati nona. Kali saja saya bisa membantu," penasaran nya cesa.


Misa menghela napas pelan lalu menatap cesa.


Apakah tidak apa jika aku bertanya pada cesa. Tp sepertinya tidak apa...coba sajalah misa.


Melihat misa menatap nya ragu.


"Nona tidak perlu khawatir saya akan melaporkan nya pada tuan. Karena sekarang nona adalah prioritas utama bagi saya, jadi apapun mengenai nona, jika menurut nona jangan di beritahukan pada tuan, saya akan melakukan nya sesuai apa yang nona katakan," tutur cesa membuat misa bernapas lega.


"Baiklah..cesa aku ingin bertanya, kira kira apa yang membuat ayah putra bisa lumpuh seperti itu?," tanya misa dengan kehati hatian.


Cesa menghela napas pelan lalu menatap ke arah lain.


"Sebenarnya hal ini jangan lagi di ungkit dalam keluarga ini, karena akan mengungkap duka lama yang sudah di tutup rapat2 agar tidak mengundang trauma," tutur Cesa membuat misa menunduk sedih.


"Tidak apa cesa jika kau tidak bisa memberitahukan nya pada saya," ucap misa lalu kembali menaburkan pakan ikan ke kolam.


Cesa menoleh. "Nona, tuan besar dan nyonya waktu itu sedang ada perjalanan liburan ke negara luar, namun saat di perjalanan tiba2 jet pribadi yang di tumpangi tuan besar dan nyonya hilang kendali dan akhirnya jatuh ke laut yang membuat nyonya tiada dan tuan besar mengalami koma selama satu tahun. Sempat nyonya di bawa ke RS namun nyonya menghembuskan napas terakhirnya satu hari setelahnya di RS, sementara tuan besar setelah bangun dari koma tuan besar mengalami lumpuh hingga sampai sekarang. Itulah sebab nya, tuan arga sangat trauma dengan rumah sakit karena kematian nyonya di ruang ICU juga tuan besar yang di rawat selama satu tahun penuh di rumah sakit. Dan alasan itu juga, tuan arga hingga membangun ruang kedokteran di rumahnya agar bisa merawat tuan besar di rumah tidak harus ke RS. Nona, itulah duka yang sangat membekas trauma dalam keluarga ini," jelas cesa menceritakan lalu menoleh pada misa yang menunduk sedih.


Misa menghela napasnya panjang.


Ternyata kematian ibu nya s singa sangat tragis sama seperti bunda ku. Nasib kita sama singaa..


"Cesa sudah berapa tahun kematian bunda nya suamiku saat ini?," tanya misa.


"Dihitung dengan tahun sekarang sudah menginjak 6 tahunan nona. Saat itu, tuan arga masih kuliah di luar negeri melanjutkan study S2 nya dan begitu mendengar berita duka seperti itu, tuan arga langsung pulang kerumah dan memutuskan kuliahnya lalu mengambil alih semua perusahaan," jelas cesa lagi.


Alis Misa berkerut."S2!! setahuku dia sekarang sudah jalan 26. Berarti saat itu dia berumur 20 tahun...20 tahun sudah melanjutkan S2, apakah dia secerdas itu cesa?," tanya misa tidak percaya.


cesa mengangguk. "Tuan Arga termasuk dengan orang2 yang ber-IQ tinggi nona. Seperti nona yang memiliki IQ di atas rata2 orang sebaya, jadi tuan arga di umur 18 tahun sudah menyelesaikan kuliah S1 nya." Jelasnya.


Ternyata s singa orang cerdas..semoga saja kecerdasannya menurun pada anaknya nanti.


"Ekhem..cesa. kamu sudah berapa lama bekerja di keluarga ini. sampai semua nya tahu tentang hal pribadi keluarga putra," tanya Misa.


"Ah, saya sudah bekerja selama 5 tahun nona. Karena setelah lulus kuliah saya langsung kerja di salah satu perusahaan cabang keluarga putra yang ada di luar negeri yaitu di london," ucapnya.


Mata misa membelalak. "Berarti kamu juga termasuk orang2 cerdas dong, sudah lulus kuliah di umur 18 tahun. Bukan nya usia mu sekarang 23..wah hebat kenapa aku di kelilingi orang2 cerdas." Celoteh misa takjub.


Cesa terkekeh."Nona memang pandai memuji. padahal nona sendiri lebih cerdas di banding saya," ucap cesa tersenyum malu.


Misa memicingkan mata nya pada cesa."Atau jangan2, sekertaris kaku itu juga termasuk orang cerdas seperti mu cesa?," tanya misa menyelidik.


"Maksud nona sekertaris Tang."


Misa mengangguk meniyakan. "Iya dia kan kaku."


Cesa terkekeh sejenak. "Mengenai sekertaris Tang, dia itu adalah sahabat sekaligus sudah di anggap kakak angkat nya tuan. Hingga sampai sekarang sekertaris Tang menjadi pengawal rangkap sekertaris tuan arga. Sebenarnya kecerdasan sekertaris Tang masih di bawah saya. Namun, sikap jujur, tegas, teliti dan ulet nya yang menjadikan dia lebih cerdas dari saya," jelas cesa sambil menatap ke arah lain ada rona merah di pipi cesa saat menceritakan sekertaris Tang.


Misa mengangguk paham. "Hmm..jadi begitu. Kira2 s Tang itu sudah berapa lama berada di sisi suamiku?," tanya Misa kembali.


"Sudah cukup lama nona, sejak tuan masih kecil. Saat itu tuan arga pernah menyelamatkan sekertaris Tang dari segerombolan preman yang akan menghajarnya, dan setelah itu tuan arga semakin akrab dengannya lalu tuan arga meminta tuan besar untuk mengeluarkan sekertaris Tang dari panti asuhan dan menjadikan nya pengawal sekaligus sahabatnya." Tutur Cesa.


"Jadi s Tang itu pernah tinggal di panti?," tanya misa seakan tidak percaya.


Cesa mengangguk."Benar nona. Dan anak yang di buang begitu saja oleh orang tua nya, yang entah sampai sekarang orang tuanya masih hidup atau sudah tiada."


Kasihan sekali ternyata sekertaris kaku itu. Ternyata masih ada juga orang yang kurang beruntung seperti sekertaris Tang di dunia ini. Meskipun aku yatim piatu tapi setidaknya aku tidak di buang oleh ayah dan bunda.


"Bagi sekertaris Tang, tuan arga itu bagaikan hidupnya, maka nya segala sesuatu yang menyangkut tuan arga. Sekertaris Tang akan memastikannya terlebih dahulu, sampai ke hal yang sangat terkecil pun agar sesuai dengan keinginan tuan arga," sambung Cesa lagi.


Misa tersenyum menggoda."Ternyata cesa perhatian yah, sampai2 tahu segalanya tentang seketaris kaku itu," goda misa membuat cesa semakin menunduk malu.


"Tidak nona," sanggah cesa malu.


"Haha..cesa kamu lucu yah kalau lagi malu gitu. Eh, ngomong2 kok kamu bisa tahu jelas mengenai keluarga putra, sedang kamu bekerja sebelum kejadian hal duka itu terjadi," tanya misa mengalihkan topik.


"Ah, itu. Semua pegawai yang sudah di percayakan keluarga ini akan mengetahui semua perihal itu nona," jawab cesa.


Misa mengangguk paham."Cesa..aku pernah melihat pengawal nya syila. Tp aku tidak pernah melihat supir atau pengawal nya egi. Apa dia tidak pakai supir?," tanya misa.


"Soal itu, tuan egi memang orang nya agak keras dan dingin nona. Jd dia dengan tegasnya menolak pengawalan yang akan di terapkan oleh tuan besar padanya," ucap Cesa membuat misa mengangguk pelan.


Kriiiing...kriiiing...


Ponsel misa yang ada di atas nakas berbunyi. Misa dan cesa menoleh ke arah sumber suara.


"Biar saya ambilkan nona," ucap Cesa lalu beranjak ke dalam kamar untuk mengambil ponsel misa.


Misa kembali menaburkan pakan ikan yang tinggal sedikit di wadahnya ke kolam.

__ADS_1


"Nona, ponsel nya."Cesa menyodorkan ke arah misa yang langsung di terima oleh misa.


Misa melihat layar ponsel untuk melihat siapa yang memanggil nya.


"Rina," celetuk misa lalu menggeser kursor untuk menjawab panggilannya.


Misa menempelkan ke telinga nya. "Misaaaa," teriak rina dengan suara cempreng di sebrang telpon membuat misa menjauhkan ponsel nya.


"Assalamualaikum rina," salam misa dengan nada tenang.


"Oh iya aku lupa, Walaikumsalam. Misaaa," teriak rina lagi saat memanggil nama misa.


"Iya rina. Kenapa harus teriak2 rina," balas misa.


"Habisnya aku kangen kamu tau misa. Kenapa tiba tiba saja kamu mengundurkan diri dari sekolah, bikin aku spot jantung. di tambah lagi anak2 murid di sekolah sampai galau berat dan depresi karena mu misaaa." Cerocos Rina menggebu.


Misa menghela napas pelan.


"Maafkan aku rina tidak mengabari mu terlebih dahulu. Soal aku mengundurkan diri semua itu atas kehendak suamiku rina. Jd aku tidak bisa membantahnya, jadi sekali lagi maafkan aku rina," ucap Misa.


"Iya...iya misa. Tp aku kangen kamu misa.. bagaimana jika kita bertemu, di rumah mu atau dimana terserah kamu dech," pinta Rina.


Misa melirik cesa yang sedari tadi berdiri memperhatikan nya.


"Tp bukan nya siang begini kamu masih di sekolah mengajar rina." Heran misa.


"Sudah pulang aku. Kamu lupa misa. Di hari kamis aku tidak ada kelas mengajar di jam siang. Jadwalku hanya sampai waktu jam istirahat misaa." Omelnya rina.


Misa cengengesan. "Maaf aku lupa rinaa. Maklum faktor usia," ucap Misa membuat rina tertawa.


"Hahaha. Seperti sudah tua renta saja kau misaa.." Oceh rina.


Misa tersenyum menanggapi nya seakan rina ada di hadapannya.


"Jadi gimana nih, ketemuan yah aku kangen misa..masa kamu nggak kangen aku siih beb," ucap Rina kembali dengan nada manja.


"Ih kok aku jadi geli rin, nada bicara mu begitu," balas Misa lalu terkikik geli.


"Hehehe...lagi ngebujuk aku tuh. Jadi di jadiin aja yah..oke. oke..okelah sah." Oceh Rina membuat misa semakin terkikik geli.


"Baiklah rinaaa. Nanti aku kabari lagi, soalnya aku harus izin dulu sama suamiku tidak apa kan nunggu," ucap Misa.


"Tidak apa aku menunggu mu misaa. Apa sih yang nggak buat kamu beb. Hahaha," balas Rina di selingi tawa nya.


"Dasar kamu rinaa. Sudahlah nanti aku kebawa aneh oleh mu rina," ucap Misa dan tertawa pelan.


"Oke bebeb...di tunggu konfirmasinya. Dan soal tempat kamu yang tentukan yah beb," ucap Rina masih dengan nada manja nya.


"Iya..iya rina..yasudah Assalamualaikum." Salam misa.


Misa mengembalikan ponsel nya pada cesa.


"Dari bu rina ya, nona." Tanya cesa menerima ponsel misa .


Misa mengangguk mengiyakan lalu tersenyum.


"Cesa apakah kamu mempunyai nomor ponsel suami saya," tanya misa.


Cesa mengernyit heran. "Punya nona. Apakah nona tidak mempunyai nya padahal kan nona istri tuan," heran cesa.


Misa tersenyum. "Saya jarang memakai ponsel, jadi nya belum sempat saling tukar nomor ponsel lagian saya dan suamiku selalu bertemu setiap hari," tutur misa.


Cesa mengangguk paham. "Saya masukkan nomor nya ke ponsel nona," ucap cesa dan mulai mengetikkan no.telpon arga.


Setelah cesa mengembalikan kembali ponsel misa.


Misa langsung menekan tombol untuk memanggil nomor arga.


Tut..tut.. Nada sambung panggilan.


Di kantor arga.


Arga tampak sedang duduk di kursi kebesarannya dan sibuk dengan laptop juga tumpukkan berkas2 di hadapan nya.


Sekertaris Tang memasuki ruangan arga dan berjalan menghampiri arga.


"Tuan, ada panggilan dalam ponsel tuan tapi nomor baru," ucap Tang menyodorkan ponsel arga ke atas meja.


Arga tidak menghiraukan dan memilih tetap fokus pada berkas2 yang sedang di baca nya.


Tang menghela napas nya pelan lalu mengambil kembali ponsel arga yang sempat di letakkan di atas meja. Lalu tang menggeser kursor di layar ponsel untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo," sapa Tang.


"Assalamualaikum" salam Misa di sebrang telpon.


"Walaikumsalam," jawab Tang.


"Apakah benar ini dengan suami saya?," tanya Misa to the point.


Alis Tang terangkat sebelah. "Suami..maaf mungkin anda salah sambung. Saya belum menikah."


Misa memicingkan mata nya heran.

__ADS_1


"Tp ini benar nomor ponsel suami saya loh. Tidak mungkin teman saya memberikan nomor yang salah," tutur Misa yakin.


Sekertaris Tang menghela napas nya.


"Maaf sepertinya anda salah sambung. Saya akan matikan panggilan nya," ucap Tang dan hendak mematikan panggilan nya namun terhenti.


Bukannya ini ponsel tuan. Kenapa aku bodoh sekali, bisa saja ini adalah nona.


"Hey, tolong jangan dimatikan dulu panggilan nya. Saya yakin teman saya cesa tidak akan salah memberikan nomor ponsel suami saya," ucap Misa membuat Sekertaris Tang sedikit membelalak kaget.


"Nona Romisa," celetuk Tang.


Arga yang sedari tadi mengabaikan Tang yang sedang menelpon. Dan ketika mendengar nama misa akhirnya arga menolehkan pandangan nya dari tumpukkan kertas ke arah Tang yang masih berdiri di hadapan meja dan menempelkan ponsel arga di telinga nya.


"Apakah kamu sekertaris Tang?"


"Iya nona, saya Sekertaris Tang. Maafkan saya nona, saya tidak meng...," ucapan Tang menggantung karena dengan kasar arga merebut ponsel nya dari tangan Tang.


Arga menatap Tang dingin.


"Kenapa kau tidak bilang jika istriku yang menelpon," ucap Arga dengan nada kesal.


"Maaf tuan saya tidak tahu jika itu nona, karena nomor nya tidak terdaftar di ponsel tuan," jawab Tang jujur.


Arga menatap Tang kesal lalu arga berjalan ke arah kursi nya untuk mengangkat panggilan misa.


tadi saja tuan mengabaikan saya. setelah tahu itu nona, baru di angkat panggilannya. dasar tuan...benar benar.


Sekertaris Tang menggeleng pelan lalu berlalu meninggalkan ruangan arga untuk menuju ke ruangan nya.


Sedang misa di sebrang telpon.


"Kenapa tidak ada suara nya yah cesa. Apakah sudah di matikan panggilan nya tp di sini masih nyambung..hallo, sekertaris Tang..apakah masih di sana. hallo," celoteh misa memanggil manggil sekertaris Tang.


Arga menetralkan suara nya dan bersikap Tenang.


"Iya romisa, aku suami mu. Bukan Sekertaris Tang," ucap Arga dengan nada Tenang.


"Suamiku.. Apakah itu kamu?," semangat misa.


"Iya romisa. Ada apa kau menelponku, apakah kau begitu merindukan ku. Sehingga suara mu sangat bersemangat." Tersenyum senang mendengar suara misa.


"Setiap hari kita selalu bertemu suamiku..jadi aku hanya sedikit merindukanmu."


Seketika senyuman di bibir arga memudar.


"Hanya sedikit. Ya sudah aku matikan saja panggilannya," ancam arga namun masih tetap menempelkan ponselnya di telinga.


"Suamiku jangan di matikan. Iya aku sangat..sangat..merindukan mu sehingga aku ingin mendengar suara mu," ucap misa membuat arga kembali tersenyum senang.


"Ekhem..baiklah romisa, aku juga sama seperti mu." Jawabnya arga pelan.


"Suamiku..selain aku sangat merindukan mu. Aku pun ingin izin terhadap mu untuk keluar rumah," ucap misa dengan nada pelan.


Arga menghela napas pelan.


"kau mau kemana romisa..ingatlah kau sedang mengandung, jadi jangan terlalu banyak beraktivitas."


"Aku akan izin untuk bertemu teman sepekerjaan ku. Aku janji tidak akan banyak beraktivitas. Bolehkan suamiku?" Tutur misa dengan nada tenang.


"Tempatnya dimana, sama siapa kesana nya, dan kapan akan bertemu?" Tanya Arga beruntun.


"Bersama cesa aku berangkatnya, mungkin tempatnya di rumah lama ku atau di cafe. Dan bertemu nya sekarang setelah aku menelpon mu," jawab misa.


Arga menghela napas kembali.


"Baiklah. Kau boleh keluar rumah asal jangan lebih dari jam 4 sore kau harus sudah ada di rumah romisa."


Misa mengangguk semangat seakan terlihat oleh arga.


"Terimakasih suamiku atas izinnya. Selamat bekerja kembali," ucap misa.


"Hey, kau tidak memberi ku kiss semangat sebelum mematikan panggilan." Cegah arga.


"Suamiku di sini ada cesa."


"Suruh berbalik dulu pengawal mu. apa kau tidak mau mematikan panggilannya." Ucap Arga masih ada senyuman di bibir nya.


Misa menyuruh cesa berbalik lalu dengan suara sangat pelan namun masih terdengar oleh arga.


"Mmmuach.." kecup jauh misa.


"Semangat bekerja nya suamiku. Assalamualaikum," salam misa.


"Walaikumsalam romisa." Balas arga dan tersenyum senang.


Panggilan telpon sudah di matikan oleh misa.


Namun arga masih betah memandangi layar ponsel nya dan..cup..cup..arga memberikan kecupan pada ponsel nya seakan akan itu adalah misa.


"Romisa..romisaa..kenapa dia begitu menggemaskan sekali." Gumam Arga sambil menyenderkan kepala ke kursi putar dan kedua lengan sebagai bantalan kepalanya.


Sedang bibir arga terus mengembangkan senyuman bahagia.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2