Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
99


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Dan selama itu juga misa yang terkurung di rumah nya hanya bisa bermain dengan kucing nya dan terkadang syila ikut nimbrung menemani misa bermain untuk menghilangkan kejenuhan.


Karena syila dan egi punya kesibukan masing2 jadi jarang berada di rumah kecuali sore hari hingga sampai malam.


Sedang arga seperti biasa menjalankan rutinitas nya yaitu dengan pulang pergi bekerja ke kantor.


Dan kini misa seperti biasa berdiri di depan teras rumah nya untuk mengantar arga berangkat bekerja.


"Jangan terlalu sering bermain dengan kucing." Peringatan arga terhadap misa sambil mengusap kepala misa.


Misa hanya mengangguk mengiyakan.


Memang kenapa kalau bermain dg kucing. Aku juga bosen di rumah tidak ada teman nya.


Arga berbalik dan berjalan ke arah mobil nya lalu duduk di kursi penumpang yang sudah di buka kan pintu nya oleh sekertaris Tang.


Tang menunduk hormat ke arah misa lalu berlalu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


Kini mobil arga telah melaju meninggalkan misa yang masih berdiri di teras rumah.


Setelah memastikan arga keluar dari gerbang utama Para pelayan dan bi ane bubar, kembali ke pekerjaan nya masing2 sedang misa berjalan menuju kamar kucing kesayangan nya.


"Nona." Panggil bi ane.


Misa menoleh dan menghentikan langkah kaki nya.


"Iya bi, ada apa?" Tanya Misa.


"Maaf untuk saat ini saya tidak bisa menemani nona, karena ada pekerjaan di rumah belakang. Apakah nona tidak apa apa?" Tutur bi ane menunduk.


Misa tersenyum tulus. "Iya bi. Tidak apa apa." Ucap misa.


Bi ane menatap misa sejenak lalu kembali menunduk. "Nona, jika perlu sesuatu panggil saja saya lewat interkom di atas nakas itu, saya akan segera datang," tunjuk bi ane pada alat interkom di atas nakas bufet hias dekat kamar kucing.


Misa mengangguk mengiyakan."Baik bi ane," jawab misa.


"Baiklah, saya permisi untuk kembali bekerja nona. Selamat beristirahat nona," ucap bi ane pamit. Bi ane menunduk hormat lalu berlalu meninggalkan misa.


Misa melanjutkan langkah nya kembali menuju kamar kucing kesayangan untuk bermain dan memberi makan pada kucing nya.


Dan kini misa sedang di kamar kucing bermain dengan canda tawa karena gemas melihat tingkah kucing nya.

__ADS_1


Sudah hampir adzan dzuhur misa masih betah di kamar kucing bermain dan terkadang mengajari beberapa hal pada kucing nya agar bisa jinak dalam pengawasan nya.


Kriiing..kriiing..


Bunyi ponsel misa menandakan ada sebuah panggilan masuk. Misa merogoh ponsel nya yang berada di saku celana bahan lalu melihat nama siapa yang tertera di layar ponsel nya.


Tumben bi ita telpon misa. Ada apa yah?


Misa menggeser kursor untuk menjawab panggilan lalu menempelkan benda pipih itu ke telingan nya.


"Assalamaualaikum." Sapa misa pada orang yang menelpon nya.


"Walaikumsalam," balas orang di sebrang.


Seketika alis misa berkerut heran.


Kenapa suara pria. Bukan nya ini no bi ita?


"Apa bener ini Neng misa?" Tanya pria dari sebrang telpon.


"Iya benar, bi ita nya kemana. Kenapa suara nya berubah jd pria?" Tanya misa.


"Saya bagas neng, asisten nya bi ita. Dan saya ingin menyampaikan kabar tentang bi ita," jawab nya.


"Anu neng. Bi ita nya di rumah sakit jaya abadi. Dekat panti. Dan sekarang sedang di rawat inap," tutur bagas.


Seketika tubuh misa bergetar karena kaget mendengar penuturan bagas.


Karena tidak ada respon dari misa. Bagas terus memanggil nama misa namun tidak di jawab oleh misa. Dan sekali lagi bagas memanggil misa untuk memastikan nya.


"Neng. Apa masih di sana?" Panggil bagas menyadarkan misa.


"Eh, iya.. saya akan segera kesana kamar berapa bibi di rawat?" Tanya misa dengan suara bergetar.


"Kamar mawar no.12 neng. Baik neng. Hati hati di jalan."


"Iya. Assalamualaikum." Salam misa.


"Walaikumsalam neng," balas bagas.


Lalu misa mematikan panggilan nya.

__ADS_1


Tubuh Misa merosot ke lantai mendengar kabar bibi ita sekaligus yang sudah misa anggap sebagai seorang ibu oleh misa. Kini tengah sakit dan berjuang melawan penyakit di rumah sakit.


Dada misa begitu sesak mendengar nya. Dan air mata misa sudah tidak bisa di bendung lagi. Jatuh dan mengalir di pipi nya.


"Aku harus segera kesana." Gumam misa bangkit dari duduk nya lalu menuju kamar nya untuk mengambil tas.


Setelah mengambil tas. Misa tanpa mengucapkan izin terlebih dahulu pada bi ane atau pengawal di rumah arga langsung saja keluar rumah. Dan melewati para penjaga rumah arga begitu saja.


Sedang para penjaga di rumah itu tidak curiga jika misa keluar rumah belum izin kepada bi ane atau sekertaris Tang membiarkan misa melewati nya tanpa menyapa nya.


Setelah di luar gerbang rumah arga. Misa menyetop taxi yang akan lewat dan memasuki nya lalu duduk di kursi penumpang.


"Pak ke rumah sakit jaya abadi jl.cempaka." Ucap misa memberitahukan alamat yang akan di tuju nya pada supir taxi.


"Baik neng," balas supir.


Dan kini mobil taxi yang misa tumpangi telah melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang ramai.


Misa masih termenung memikirkan bibi nya yang jatuh sakit, dengan pandangan kosong misa memandangi luar jendela mobil.


"Ya tuhan aku belum memberitahukan sekertaris Tang jika aku keluar rumah, bisa habis aku di hukum oleh s singa." Gumam misa setelah tersadar jika diri nya keluar rumah tanpa memberitahukan ke siapa pun.


Misa merogoh ponsel di dalam tas nya lalu misa mengetikkan sesuatu di layar ponsel. Namun belum selesai mengetik kan pesan. ponsel misa tiba2 mati karena habis batrei.


Misa menghembuskan napas nya panjang.


"Bagaimana ini. Aku lupa tidak mengecas batrei nya mana Pesan ku belum terkirim." Misa mendesah kecewa lalu melirik ke depan pada supir taxi.


"Neng butuh mengecas hp nya. Sini biar di cas neng," ucap supir taxi yang sudah melihat misa begitu gelisah di belakang nya.


"Bolehkah pak, terimakasih ya pak." Misa menyodorkan ponsel nya pada supir.


Pak supir melihat jenis charger apa yang cocok untuk ponsel misa. Namun tidak ada satupun yang pas dan bisa untuk mencharger nya. Pak supir mengembalikan ponsel misa.


"Maaf neng, charger yang neng butuhkan. saya tidak memiliki nya," ucap supir sambil menyodorkan kembali ponsel misa.


Misa menerima nya. "Iya pak tidak apa apa." Balas misa lalu tersenyum.


Lagi lagi misa menghembuskan napas nya panjang lalu memejamkan mata nya.


Semoga saja s singa tidak mengamuk. Toh aku hanya keluar sebentar untuk menjenguk bibi ita bukan kemana2. Nanti sore juga bisa pulang lagi sebelum dia nya kembali.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2