Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
71


__ADS_3

Sekertaris Tang kembali memasuki keruangan Arga, ia berdiri di hadapan meja.


Arga mengangkat wajahnya dan menatap dingin, kedua jemari tangan ia kaitkan dengan siku lengan menjadi tumpuan di atas meja.


"Tuan." Tang mulai bersuara menundukkan pandangan.


"Soal yang tadi Nyonya Lara sampaikan itu adalah kesalah pahaman, saya sudah memastikan nya dari Cesa."


Namun Arga masih diam menatap dingin. Meminta kejelasan lebih yang terucap dari bibir pria di hadapannya.


"Waktu perjalanan pulang, Nona Romisa ketiduran di mobil dan Cesa yang melihatnya tidak berani membangunkan oleh karena Nona tampak sangat lelap tidur nya. Dan ketika Cesa keluar mobil kebetulan tuan Egi baru pulang sekolah, dia menyelimuti Nona dengan selimut yang di bawakan oleh Cesa, dan setelahnya tuan Egi menunggui di kursi belakang saat Nona tertidur sampai akhirnya terbangun. Tapi di sana masih ada Cesa di samping mobil dan jendela mobil pun di buka, tuan. Jadi mengenai yang di katakan Nyonya Lara itu hanya fitnah." Jelas sekertaris Tang panjang lebar.


Hah... Arga menghela napas pelan, seiring menurunkan tumpuan tangan nya di meja.


"Aku sangat percaya dengan istri ku. Hanya saja aku ragu dengan Egi." Gumamnya pelan.


"Tang." Panggil Arga tegas.


"Iya tuan." Jawab Tang.


"Kenapa saudara ku ingin menentang ku? Selama ini dia tidak pernah menentang semua perintah ku. Padahal dia tahu jika Romisa sudah menjadi istriku."

__ADS_1


Tang menatap dengan serius. "Tuan Egi terlalu mencintai Nona Romisa, selama 3 tahun ini tuan Egi memendam perasaannya. Hingga dia mengalami kekecewaan ketika wanita yang di jodohkan tuan adalah Nona Romisa. Yang ternyata wanita yang di cintai nya sejak lama, jadi itulah penyebab tuan Egi menentang semua perintah tuan, mungkin tuan Egi merasa wanita nya di rebut oleh tuan."


Arga menghela napas panjang, dengan sorot mata tertunduk ke meja.


"Tang, dia sebentar lagi akan lulus kan?"


"Iya tuan, sekitar 6 bulanan lagi."


"Bisakah aku mengasingkan dia ke luar negeri? Agar tidak mengganggu Romisa lagi."


"Bisa saja tuan, tapi...," terjeda sejenak dia menatap sedikit memincing ragu. "Tuan harus berbicara terlebih dahulu dengan tuan Egi. Agar tidak menyimpan dendam yang berkelanjutan." Saran Tang.


Arga menatap Tang sejenak lalu mengangguk pelan. "Apa jadwal ku sekarang Tang? Rasanya aku ingin segera pulang."


"Sepertinya aku akan pulang terlambat lagi," gumam Arga kecewa.


Tang menutup buku agenda, kembali menatap Arga. "Iya tuan, biar saya kabar kan pada Nona Romisa untuk makan malam duluan agar tidak menunggu tuan makan malam di rumah."


Arga mengangguk kecil. "Kau boleh kembali pada pekerjaan mu, Tang." Titahnya.


"Baik tuan. 15 menit lagi, akan ada meeting."

__ADS_1


Pria tampan itu mengangguk kecil tanpa bersuara.


Sekertaris Tang membungkukkan setengah tubuhnya, menunduk hormat. Lalu ia berbalik melangkah menuju pintu untuk keluar ruangan.


"Tang." Panggil Arga menghentikan pergerakan tangan Tang yang akan membuka pintu.


Tang membalik kan badan nya. "Iya tuan."


"Buku yang kau beri, ternyata cukup bagus, tidak sabar aku ingin memperaktekan nya." Kata Arga dengan senyuman mengembang di bibir tipisnya.


Tuan... tuan... di kira ada apa. Ternyata masalah ini lagi...


"Ekhem... tuan, sebaiknya tuan memperaktekan panduan buku yang bersampul putih terlebih dahulu, agar Nona Romisa tidak syok dengan permintaan tuan." Saran Tang.


Alis Arga terangkat sebelah, menatap tak suka. "Kenapa kau mengatur ku!" ucapnya sewot.


"Saya tidak mengatur hanya memberi saran saja, tuan." Balas Tang.


"Sudah lah, kau tidak akan paham. Karena kau tidak pernah merasakan yang nama nya cinta," ucap Arga tersenyuk mengejek.


Seperti tuan sudah mengenal cinta berapa kali saja. Tuan juga baru mengenal nya. Tapi melihat tuan seperti ini setelah mengenal cinta. Membuat saya enggan mengenal nya tuan.

__ADS_1


Tang menunduk hormat kembali, lalu keluar meninggalkan ruangan Arga.


BERSAMBUNG...


__ADS_2