Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
16


__ADS_3

Di dalam Mobil hitam mewah.


"Tang, kegiatan apa saja selama ini yang di lakukan Romisa?" tanya Arga yang duduk di kursi penumpang dengan kaki menyilang elegan.


"Aku tau kau selalu menyimpan mata-mata di setiap anggota keluarga ku," sambung Arga lagi dengan santai.


Apakah Tuan telah menganggap Nona sebagai anggota keluarga nya, itu artinya Tuan menerima Nona sebagai istrinya.


"Iya Tuan benar, saya melakukannya agar semuanya aman terkendali." Tang menjelaskan maksud perbuatannya. Yang di balas angguk kan kepala dari Arga.


Pria tampan di kursi belakang itu, melihat ada selembar amplop cokelat tergeletak di antara dua kursi depan. Dia mengambil amplop itu.


"Apa ini Tang, sepertinya aku baru lihat amplop ini?" tanya Arga membolak balikkan amplop itu.


"Itu laporan atas kegiatan sehari-hari Nona, tuan," jelas Tang. "Dan saya baru menerima nya tadi," sambungnya.


Tumben tuan mau menyentuh barang yang tidak di berikan langsung ke tangannya.


Arga membuka amplop itu dan mengeluarkan lembaran-lembaran kertas berbentuk foto di dalam nya, terdapat foto dengan berbagai gambar yang tercetak sebagai kegiatan Misa yang sedang berjalan, mengajar dengan tersenyum ceria, juga berbagai hal lainnya.


Namun ada sebuah foto yang menjadi fokus Arga hingga membuatnya memicingkan mata tak suka, foto itu memperlihatkan Misa sedang duduk menunduk sedangkan ada seorang laki-laki yang memandangi nya dengan senyuman ketertarikan yang duduk tidak jauh darinya.


Kenapa hati ku rasanya kesal melihat laki laki ini memandang dia seperti itu? Cih! Arga melempar kasar amplop itu ke kursi depan.


Tang sedikit kaget dengan sikap Arga yang setelah melihat amplop itu. Ada apa dengan tuan? Kenapa terlihat kesal begitu? Bingung Tang melirik orang di kursi belakang dari kaca depan.


Mobil yang di tumpangi Arga telah melewati gerbang dan kini sudah terparkir di depan rumah megah bak istana itu.

__ADS_1


Terlihat Misa dan Bi Ane sedang berdiri menunggu kedatangan sang pria tampan dari dalam mobil. Misa seperti biasanya menyambut kedatangan Arga dengan senyuman lebar yang manis tersungging di bibir tipisnya.


Arga turun dari mobil dan berjalan melewati Misa begitu saja. Sedangkan Misa yang sudah biasa di perlakukan seperti itu tidak merasa terganggu.


Pria tampan itu, berjalan ke arah anak tangga untuk menaikinya. Di susul Misa mengekori dari belakang.


Sesampainya di dalam kamar, Misa melihat Arga yang langsung duduk di sofa dengan mata terpejam dan kepala yang di rebahkan ke sandaran sofa.


Gadis mungil itu, mengambil sandal rumah yang berada di rak dan berjalan menghampiri Arga untuk mengganti sepatunya.


Dan kini kaki Arga sudah memakai sandal rumah. Ketika Misa hendak bangkit dari duduk jongkoknya, lagi-lagi Arga menahan bahu Misa sehingga dirinya tetap duduk bersimpuh di bawah di lantai yang terbalut karpet.


Eh, ada apa ini? Apa aku melakukan kesalahan? Heran Misa dengan alis berkerut dan kepala tertunduk.


Arga mengangkat wajah Misa dengan telunjuknya menempel di dagu.


Misa masih diam membeku di tempat, hanya melirik wajah tampan yang terlihat dingin itu.


"Jangan membuatku mengulangi ucapan yang sama," tegasnya dengan nada tajam.


Misa menurut duduk di sebelah Arga namun bergeser memberi jarak untuknya, sehingga jaraknya cukup jauh.


Arga menatap tak suka. Hebat yaa kau ini, menyamakan aku dengan pria yang di foto itu. Lalu ia mendekat dan mencengkaram dagu Misa pelan sehingga mengarahkan wajah mungil itu ke hadapannya.


Kenapa kau bersikap seperti ini sih singa? Misa menatap pada dua bola mata pria tampan di hadapannya dengan tatapan penuh ketidak sukaan.


"Kau melakukan apa hari ini?" tanya Arga menatap Misa tajam.

__ADS_1


Misa masih bungkam dan beralih menundukkan pandangannya. Singa jangan terlalu dekat seperti ini, dan kenapa kau menatap ku seperti itu, Apa salahku?


"Kau punya mulut kan, jawab pertanyaanku!" Sentak Arga masih dengan menatap tajam.


"Eh, anu tuan, saya... saya seperti biasanya mengajar, dan setelah mengajar saya pulang kerumah," Misa mencoba melepaskan cengkraman tangan Arga di dagunya.


Meskipun Arga mencengkram nya lembut tapi dengan posisinya yang cukup dekat membuat gadis mungil itu tidak nyaman.


"Kau tidak berbohong?" tanya Arga dengan mata mengintimidasi yang langsung di balas anggukkan kepala oleh Misa.


Buat apa juga aku berbohong, tidak ada untungnya juga.


Arga melepaskan cengkramannya di dagu Misa. Menghela napas pelan.


"Hari ini yang kau lakukan setelah mengajar kau langsung pulang," ucap Arga, ada nada tajam tersirat pertanyaan di dalamnya.


Misa mengusap dagunya dengan mata menunduk ke arah karpet. "Tadi saya sempat beli es kelapa, lalu setelahnya saya pulang tuan."


Tersenyum sinis, "Siapa yang tanya kau mau makan apa atau minum apa," ketus Arga.


Mata Misa melirik sebal ke arah pria di sampingnya. Bukannya kau tadi bertanya? Dasar aneh.


"Siapkan air," titah Arga yang langsung di mengerti oleh Misa.


Misa masuk ke kamar mandi, dan ketika menutup pintu nya. Dia langsung terduduk lemas merosot ke bawah dengan punggung menempel ke daun pintu, ia mengatur napasnya yang keadaan jantungnya sudah berdetak tak karuan.


"Huft! Jantungku rasanya mau keluar, kenapa detak nya kencang seperti ini. Apa aku mempunyai sakit jantung, belum pernah jantung ku seperti ini jika bukan karena lari maraton." Gumam Misa memegang bagian dadanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2