
Di perusahaan Putra Grup.
Di ruangan kantor.
Ruangan itu terlihat luas dengan desain ruangan bergaya klasik, di balik meja dekat kaca jendela besar, tampak seorang pria tampan terduduk di kursi megah. Raut wajahnya terlihat serius dan dingin sibuk mengurus setumpuk berkas di atas meja.
Pria berjas rapih, memasuki ruangan dan berdiri tepat di depan mejanya. "Tuan, ada kabar dari rumah mengenai tuan besar."
Arga mengalihkan pandangannya dari kertas ia menatap diam meminta Tang agar melanjutkan ucapannya.
"Tuan besar sudah bersedia di bawa ke singapur untuk melanjutkan pengobatan." Lanjut Tang.
Dahi Arga berkerut tipis. "Sepertinya membawa Romisa menghadap ayah memang berpengaruh baik untuknya," ucap Arga lalu ada tersenyum kecil.
"Segera persiapkan keberangkatan Ayah, namun jangan sampai Romisa tau jika ayah akan keluar negeri sore ini, biar nanti aku yang memberitahukannya di waktu yang tepat," sambung Arga memberikan perintah yang di balas anggukkan kepala hormat oleh Tang.
Tang melangkah maju, menyodorkan seberkas kertas ke atas meja. "Tuan, ini hasil laporan kartu kredit yang di gunakan Nona Romisa dalam beberapa bulan ini. Saya telah memeriksanya, ternyata semua uang yang di gunakannya tidak pernah Nona mengambilnya sepeserpun untuk dirinya, melainkan Nona menyumbangkan pada pelajar sekolah yang tergolong tidak mampu untuk melanjutkan pendidikannya. Selain itu juga sebagian di sumbangkan ke badan amal lainnya."
Arga membaca isi dalam setiap lembar kertas yang di pegangnya, ia mengangguk kecil dan tersenyum.
"Memang dia selain cantik dari luar juga cantik dari dalam." Kagumnya.
"Iya tuan benar, Nona memang-" ucapan Tang terhenti karena tiba-tiba Arga menatapnya sangat tajam.
"Kau berani mengagumi Romisa di depan ku." Ucap Arga penuh penekanan tidak suka.
Segera Tang menundukkan kepala. "Tidak tuan."
"Hanya aku yang boleh mengagumi Romisa," tegas Arga.
"Baiklah tuan, saya permisi undur diri," ucap Tang, ia memutar tubuh melangkah berjalan menuju pintu keluar.
"Tang." Panggil Arga menghentikan langkah kakinya.
Tang berbalik menatap, menunggu apa yang akan di ucapkan Arga.
"Mulai sekarang semua tentang Romisa kau laporkan juga pada ku."
"Baik tuan." Menunduk hormat lalu berlalu meninggalkan ruangan itu.
*****
Di SMA Pelita.
Rina menghampiri gadis mungil yang masih mematung di depan meja. "Mis, mau aku bantuin bawa semua itu?"
Menoleh sejenak dan melirik kotak-kotak di hadapannya. "Boleh Rina, bantuin bawa kotak bunga ini, biar yang kotak bingkisan ini aku yang bawa takutnya berat," ucap Misa, sambil menggeser kotak lain. Lalu ia hendak mengangkat tiga kotak yang cukup besar dari tubuhnya.
Rina tertawa di buatnya. "Haha... kamu lucu banget sih Misa. Sini, biar aku bawa dua kamu juga dua kan adil, kasihan badan kecil mu mau di tumpuk kotak berat ini." Rina mengambil 1 kotak lagi di hadapan Misa.
Misa cengengesan karena malu di katai kecil. Ia mengangkat dua kotak untuk di bawanya.
Mereka beriringan berjalan menuju depan gerbang sekolah untuk memudahkan Misa mendapatkan kendaraan.
"Kamu yakin nggak mau di antar nih Mis?" tanya Rina sambil menurunkan kotak yang di bawanya ke bawah.
"Nggak Rina, soalnya rumah baru ku cukup jauh dari sini juga beda arah lagi sama kamu," tolak Misa secara halus.
"Baiklah, aku ke parkiran ya, mau ngambil motor, kalau mau pulang hati-hati yaah Misa, sini cipika cipki dulu." Rina merangkul bahu Misa dan menyodorkan pipinya.
Misa menyambutnya dengan senang hati, ia menempelkan pipi kanan dan kiri pada pipi sahabatnya itu.
"Ya sudah Assalamualaikum Misa," salam Rina sambil lalu.
"Walaikumsalam Rina." Menatap kepergian Rina, yang meninggalkan Misa berdiri sendiri di depan gerbang SMA pelita menunggui taksi lewat.
__ADS_1
Namun tidak berapa lama kemudian.
Tiba-tiba ada sebuah mobil mewah berwarna putih yang Misa amat kenal karena pernah mengantarnya sewaktu itu. Mobil itu melaju melewati Misa begitu saja, dan berhenti cukup jauh dari sekitaran sekolah namun masih bisa terlihat oleh jarak pandang Misa.
Eh kenapa mobil Egi berhenti di sana? Alis Misa berkerut heran menatap mobil putih itu.
Dari dalam mobil tersebut turunlah seorang pria tampan berjaket jeans biru langit, pria itu berjalan setengah berlari menghampiri Misa.
"Eh, Egi." Heran Misa melihat pria itu mengangkat tiga kotak berukuran cukup besar yang berada di bawah hanya menyisakan satu kotak bunga mawar.
"Ayo." Ajak Egi, melangkah pergi membawa kotak-kotak itu.
Dia mau apa? Kenapa membawa kotak-kotak ku?
Misa mengikuti langkah kaki Egi yang membawanya menuju ke arah mobil putih tadi.
Egi membuka pintu bagasi lalu memasukkan kotak-kotak itu ke dalamnya, namun Misa masih mematung di dekat mobil sambil memegang satu kotak bunga mawar.
"Kenapa di masukkan, Egi?" Heran Misa.
Namun tidak mendapat jawaban darinya. Pria itu malah membukakan pintu penumpang depan mobil, yang membuat alis Misa semakin berkerut bingung.
"Cepatlah, sebelum ada yang melihat," perintah Egi.
Misa dengan terpaksa memasuki mobil itu dan duduk di kursinya memangku kotak yang berisi bunga mawar. Egi ikut masuk ke mobil dan duduk di kursi kemudi.
Mobil itu mulai melaju, bergabung dengan mobil lainnya di jalanan kota.
"Egi, kenapa kamu mau mengantar saya?" tanya Misa melirik pria yang tampak fokus mengemudi.
"Kita serumah," jawab singkat Egi.
Ya Tuhaan kapan anak ini tidak mirip dengan si singa.
Tidak ada perbincangan di dalam mobil itu. Misa beralih menatap keluar jendela memperhatikan pejalan kaki juga pohon-pohon yang berjejer di pinggir jalan. Sedangkan Egi fokus pada jalanan yang kadang ia mencuri pandang melirik pada gadis mungil di samping kursinya.
"Bu Misa suka mawar?" tanya Egi memecah keheningan.
"Tidak terlalu, tapi saya suka aromanya," ucap Misa sambil membelai kelopak mawar merah di pangkuannya.
"Kenapa?" tanya Egi meminta penjelasan dari kata suka aromanya.
"Menurut saya, bunga mawar itu memiliki aroma harum yang menenangkan, tapi untuk penampilannya, saya lebih memilih anggrek karena bunga anggrek itu selain lebih cantik, juga terlihat elegan, bisa bermanfaat untuk di gunakan menjadi tanaman obat, pokonya banyaklah keindahan anggrek yang tidak bisa saya ungkapkan."
Egi memilih terdiam tidak menjawab atau pun mengangguk, hanya ada senyuman yang tersembunyi di bibirnya.
Mobil yang Misa tumpangi kini sudah memasuki pelataran rumah Arga.
Egi turun dari mobil, di susul Misa. Pria tampan itu mengambil ke tiga kotak dari dalam bagasi.
"Ayo," perintah Egi sambil melangkah ke arah rumah.
Misa mengikuti langkah kaki nya memasuki pintu masuk rumah itu.
Begitu masuk, keduanya langsung di sambut bi Ane. "Selamat datang Nona, dan tuan Egi." Kemudian ia melirik pada kotak yang di pegang Misa. "Nona membawa apa?"
"Egi tolong letakkan kotak-kotaknya di atas meja itu." Tunjuk Misa pada meja sofa ruangan utama. "Dan bi Ane tolong ikuti saya sebentar," pinta Misa berjalan ke arah sofa.
Egi menurut meletakkan ketiga kotak itu di atas meja.
Misa membuka setiap kotak yang di bawa Egi tadi untuk memperlihatkan isinya.
"Bi Ane, saya mendapatkan bingkisan ini dari para murid di sekolah. Maukah bi Ane membagikannya pada para pelayan juga para penjaga di rumah ini? Berikan masing-masing satu bunga mawar ini juga ya bi, soalnya saya bingung harus di berikan kesiapa lagi."
Bi Ane sedikit tertegun lalu melirik setiap kotak di hadapannya. Segitu banyaknya yang menyukai nona.
__ADS_1
"Baik Nona, saya akan membagikannya," ucap bi Ane mengangguk dan tersenyum.
"Terimakasih bi Ane, saya ke atas dulu bi, untuk siap-siap menyambut suami saya," ucap Misa lalu berlalu meninggalkan bi Ane juga Egi di ruangan itu.
*****
Di dalam Mobil Hitam.
"Tuan, ini laporan kegiatan nona hari ini," ucap Tang menyodorkan ponselnya ke arah belakang.
Arga menerima ponsel itu lalu mulai mengscroll setiap gambar yang terpampang di layar.
Enak sekali wanita ini mencium pipi Romisa, aku saja belum pernah melakukannya. Tersenyum kecut, sambil kembali mengusapkan jemari di layar.
Mata Arga menajam saat melihat gambaran Misa memegang sekotak bunga mawar yang berwarna merah. Pegangan di ponsel itu mengkerat kuat lalu ia menyodorkan ke depan layar ponsel yang menyala tersebut.
"Apa ini Tang? Siapa yang memberikannya?" tanyanya menunjuk kotak yang di pegang Misa.
Tang melirik sekilas pada layar ponsel. Apa tuan tidak bisa lihat kalau itu bunga mawar?
"Itu bunga mawar dari para muridnya, tuan." Jawab Tang kembali menatap lurus kedepan.
Arga menarik tangannya, ia mengscroll kembali setiap gambar di layar. "Siapa muridnya laki-laki atau perempuan?" tanyanya dengan nada menuntut.
Tang tetap menatap lurus kedepan ke jalanan yang sedang di laluinya. Jelas saya tidak tau tuan.
"Kedua-dua nya tuan."
Mengangkat wajahnya yang sudah merah. "Kenapa dia menerimanya? Aku tidak suka kalau ada yang memberikannya bunga atau apa selain aku!" Cerocos Arga mulai kesal.
Tang menghela napas pelan. Kenapa tuan tanya saya dengan kenapa Nona menerimanya? Tanya lah pada Nona nya sendiri.
Namun Sekertaris Tang memilih diam tidak menjawab pertanyaan tuannya itu.
Arga mengscroll kembali foto Misa di ponsel yang masih di pegangnya. Lagi-lagi mata nya melebar kali ini berkilat tidak suka pada foto yang dilihatnya, yang menampilkan Egi sedang membukakan pintu mobil dengan Misa masih berdiri di dekatnya.
"Tang! Kenapa ini si Egi mengantar Romisa pulang?" geramnya tidak suka.
Saya tidak tau tuan...
"Menurut info mata-mata, Nona sedang menunggu taxi untuk pulang lalu tuan Egi kebetulan lewat dan karena merasa simpati pada Nona akhirnya tuan Egi menawarkan memberinya tumpangan."
"Kau bilang karena simpati, jelas-jelas si Egi itu memendam rasa pada istriku. Cepat Tang aku harus berbuat apa? Aku kesal sekali melihat nya."
Hah... Lagi-lagi Tang menghela napas pelan, memutar stir mobil.
"Tuan, jika tuan tidak ingin kejadian ini terjadi lagi. Kenapa tuan tidak memberikannya Nona supir sekaligus pengawal pribadi untuk mengawasi semua gerak-gerik Nona," usul Tang.
Arga nampak berpikir dengan usulan sekertarisnya itu.
"Kau ada benarnya juga Tang, tapi bukannya kau tau sifat Romisa seperti apa," ucap Arga dengan suara rendah mulai tenang kembali.
"Kita buat pengawal itu sama seperti Nona jika di lingkungan kerjanya tuan," ucap Tang memberikan usulnya lagi.
Arga mengangguk pelan. "Kau urus itu semua, aku tidak mau kejadian ini terulang lagi."
"Baik tuan."
Arga melihat layar ponsel lagi. "Dan lihatlah wanita ini mencium pipi Romisa Tang, aku saja belum pernah menciumnya." Rajuknya sambil menunjukkan foto di layar ke arah Tang seperti anak kecil yang sedang menunjukkan hasil karyanya pada sang ibu.
Tang hanya meliriknya sekilas karena sedang mengemudi cukup ngebut.
Tuan, jatuh cinta mu merubah sikap anda berubah 180° jadi kanak-kanakan.
BERSAMBUNG....
__ADS_1