Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
50


__ADS_3

Setelah makan malam Misa kembali ke kamar. Sementara Arga berbelok arah menuju ruang kerja.


Bruk.


Pria tampan itu melemparkan diri ke atas sofa, menyenderkan punggung dan kepala ke senderan sofa.


Sekertaris Tang yang masih sibuk dengan layar laptop di meja kerja, sejenak ia melirik ke arah tuannya lalu kembali menatap layar laptop.


Hah... Arga menghela napas kasar lalu menatap kesal ke arah pria yang sedang sibuk bekerja itu.


"Tang." Panggil Arga tegas terselip nada kesal.


Ada apa lagi tuan? Tidak kah tuan lihat, saya sedang sibuk. Saya masih kesal pada tuan. Dua ponsel saya rusak di lempar tuan.


Namun Tang tidak menggubris panggilan Arga dan lebih memilih fokus pada layar laptop tanpa mengeluarkan suara apa pun.


Arga semakin menatap tajam ke arah pria yang terlihat sibuk dengan pekerjaan nya.


"Tang! Kau ku panggil diam saja. Apa kau perlu ke dokter telinga!" Ucap Arga sedikit menyentak.


Tang menghentikan gerakan jemari tangannya di keyboard. Dia melirikkan mata ke arah depan.


"Ada apa tuan?" tanya Tang dengan ekspresi datar.


Hah... Arga kembali menghela napas kasar.


"Aku ingin belajar main gitar Tang," tegasnya.


Alis Tang sedikit terangkat sebelah. Bukannya tuan tidak tertarik dengan hal seperti itu.


"Kenapa tiba-tiba tuan ingin belajar main gitar?" Heran Tang.


Arga memejamkan mata menyenderkan kepala ke senderan. "Aku tidak suka Romisa memuji Egi bermain gitar, aku melihat nya Tang tadi," ucapnya mendesah gusar.


Tuan, tidak bisakah cemburu tuan itu tidak kekanakkan.


Tang menghela napas pelan.


"Baiklah, saya akan carikan guru terbaik untuk mengajari tuan bermain gitar." Ujar Tang.


Seketika Arga membuka mata lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri pria di meja kerja.


Puk...puk.


Dia menepuk kedua pundak Tang dengan tegas."Ide bagus." Ucap Arga di akhiri senyuman.


"Aku ke kamar, kau pulanglah sudah larut malam." Sambungnya lalu berbalik melangkah ke arah pintu keluar meninggalkan Tang yang menatap kepergiannya dengan tatapan dingin.


Tang menggeleng pelan setelah kepergian Arga.

__ADS_1


"Tuan, tuan... setelah mengenal cinta sikap mu jadi aneh tuan."


*****


Di dalam kamar.


Arga memasuki kamar dan tidak lupa mengunci pintu. Mata nya ia edarkan untuk mencari keberadaan gadis cantik si penghuni kamar itu, dan pandangan nya terhenti tepat pada Misa yang duduk di atas karpet tv membelakangi nya.


Ada senyuman terulas di bibir tipisnya. Dengan langkah pelan ia mendekati Misa dan duduk di belakang nya. Lengan Arga terulur melingkar untuk memeluk perut ramping Misa, namun gadis yang di peluk masih sibuk dengan memeriksa setumpuk berkas bersi tugas para murid.


"Syila... Kakak lagi periksa tugas. Jadi jangan ganggu dulu Kakak." Ucap Misa tanpa melihat orang yang memeluknya.


Arga mencondongkan tubuh nya dan meletakkan kepala di atas kepala gadis cantik itu untuk melihat apa yang di kerjakan Misa.


Merasakan pelukan di perutnya terasa erat sekali, Misa merunduk melirik lengan tersebut. Seketika ia terdiam bingung.


Bukannya kalau Syila tangan nya nggak sekekar dan segede gini deh, terus ini siapa?


Misa mendongakkan kepala nya ke atas. Seketika mata Misa membelalak mengerjap cepat. "Hah!" Terperanjat dan refleks pulpen yang di sedang di pegangnya jatuh terlepas.


"Sua-suam...miku," terbata Misa lemah.


Arga menoleh ke bawah melihat wajah yang mendongak itu. Dia melepaskan pelukan nya kemudian berbalik dan duduk di atas sofa yang ada di belakang nya.


Misa masih tidak bergerak duduk di bawah karpet.


"Kemarilah," titah Arga yang sudah tahu pasti apa yang di inginkannya.


Sreet.


Dengan gerakan cepat pria tampan itu, langsung menarik pinggang Misa agar lebih merapat duduk nya.


"Bukalah jika sedang dengan ku." Pinta Arga menarik ujung kerudung.


Yang langsung di turuti, Misa membuka kerudung nya.


"Temani nonton film," ucap Arga mengambil remote tv. Lalu menyalakannya.


Arga menyandarkan kepala Misa di bahu dan memeluk nya dari samping. Sedangkan gadis yang di peluk tubuhnya sudah membeku kaku dengan wajah semerah tomat.


"Sua...miku, jangan film horor." Cicit Misa saat melihat layar tv yang menampilkan film horor.


"Diamlah, kau hanya perlu menemani ku." Kata Arga membelai rambut Misa dengan lembut.


Selalu seperti ini sikapnya. Berubah-ubah dan entah yang mana sikap aslinya.


Misa dan Arga menonton film horor yang kadang membuat gadis itu seakan berteriak ketika melihat wajah hantu muncul sedang, Arga hanya terkekeh melihat wajah ketakutan Misa.


"Suamiku, bi-bisakah kau mengganti film nya?" Pinta Misa dengan suara bergetar takut sambil menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan.

__ADS_1


Ayolah ganti... buat apa kau nonton film seperti ini. Kau mau menakuti ku singa. Dengan sikap mu saja aku sudah takut jangan menambah ketakutan ku lagi singaa.


Arga menghela napas pelan, menarik tangan Misa yang menutupi wajah.


"Sudah di ganti," ucap Arga menunjuk layar tv dengan dagu nya.


Misa melirik perlahan dengan sorot mata waspada karena takut ke layar tv yang menampilkan film lain. Seketika desah kelegaan keluar dari bibirnya.


Arga kembali membelai rambut Misa. "Kau sangat takut dengan hantu ternyata."


Misa melirik dan tersenyum canggung. "Wajah mereka menakutkan dan... dan sorot mata nya yang tajam." Seperti mu singa.


Terkekeh pelan. "Hal seperti itu saja kau takut."


Jelas kau tak akan takut, karena sama-sama pemilik sorot mata tajam itu. Misa tersenyum menatap lurus ke layar televisi tanpa bersuara lagi.


"Suamiku, sudah satu minggu lebih aku tidak melihat ayah. Kemana ayah?" tanya Misa di sela menonton.


"Singapur," jawab Arga singkat.


Misa mendongak kan kepala nya sehingga menjauh dari sandaran di bahu. Namun kemudian di tarik kembali oleh Arga agar kepala Misa tetap di bahu nya.


"Kenapa keluar negeri?" tanya Misa heran.


"Berobat." Jawab Arga pelan.


"Syukurlah jika ayah mau berjuang dengan kesembuhan nya," ucap Misa tersenyum tenang.


Arga melirik Misa dan terulas senyuman kecil. Itu berkat mu Romisa.


Tidak ada percakapan lagi di antara kedua nya selama film itu berlangsung. Dan Arga masih setia membelai lembut rambut panjang gadis dalam rangkulannya yang kepala Misa masih di sender kan di bahu nya.


Karena merasakan kelembutan usapan tangan Arga perlahan mata Misa terpejam merasakan kantuk yang akhirnya tertidur. Sedangkan Arga masih belum menyadari jika Misa tertidur ia masih asyik menonton tv.


"Romisa, kenapa kau diam saja?" tanya Arga yang merasakan keheningan sedari tadi.


Namun tidak ada jawaban dari yang di tanya. Dengan pelan penuh ke hati-hatian Arga melihat ke arah wajah Misa


"Ternyata tertidur." Gumamnya tersenyum kecil.


Arga menghela tubuh mungil Misa, kemudian dengan penuh kehati-hatian pelan ia mengangkat tubuh gadis mungil itu untuk di pindah kan ke ranjang dan membaringkannya di atas kasur tidak lupa ia juga menyelimuti tubuh Misa sampai bahu.


Arga mematikan lampu ruangan yang berganti lampu tidur dan ikut naik ke ranjang terbaring di samping Misa.


Dengan posisi menyamping menghadap gadis cantik terlelap itu. Arga melipat sebelah lengan menjadi bantalan kepala dengan mata terus memandang wajah damai Misa dan sesekali mengusap lembut pipi mulus putih itu.


Romisa... setelah perasaan itu muncul. Kau bagaikan udara, yang harus ku dapatkan agar aku hidup. Persetan dengan syarat dan perjanjian cerai itu, Romisa.


Setelah Arga puas memandangi wajah cantik Misa. Dia ikut memejamkan mata dengan sebelah tangan memeluk tubuh gadis mungil itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2