
"Suamiku.." panggil Misa sambil mengikuti langkah kaki arga yang berjalan ke arah perpustakaan
Arga terus melangkahkan kaki nya tanpa menggubris panggilan misa.
Singaa.. bisakah kau diam dulu atau duduk di sofa..aku capek dari tadi ngekori mu terus.
"Suamiku.. sini aku pakaikan jas nya," ucap Misa yang sudah memegang jas dan jam tangan arga. Dan lagi lagi arga bersikap acuh pada misa dan terus melangkahkan kaki nya keluar perpus lalu menuju sofa ruangan.
Misa terus mengekori Arga dari belakang dan saat di ruang tv langkah kaki misa kesandung karpet dan untung nya misa masih bisa mengimbangi tubuh nya sehingga tidak terjatuh namun kaki nya merah dan perih.
"Aaww..iiiissh," ringis Misa menunduk melihat kaki nya.
Arga yang mendengar misa meringis segera membalikkan badan nya dan menghampiri misa.
"Romisa, kau tidak apa apa..bagian mana yang sakit. Yang mana romisa," cemas Arga sambil menelisik seluruh tubuh misa.
Misa tersenyum di buatnya. meskipun s singa sedang marah tp dia masih peduli dan perhatian juga terhadap ku.
Melihat misa tersenyum dan menatap nya. Arga kembali memasang ekspresi dingin dan menegakkan tubuh nya. "Kau membohongiku romisa," ucapnya merasa di bohongi padahal misa benar benar merasa perih di kaki nya.
Dia merasa di bohongi olehku. Tp ya sudahlah toh kaki ku juga tidak terlalu perih. Yang penting sekarang bagaimana aku membujuk nya lagi agar s singa bisa memaafkan aku.
"Suamiku..kemarilah, biar ku pakaikan jas nya," pinta Misa sambil menghadapkan tubuh arga agar membelakangi nya.
Misa memakaikan jas ke badan arga.
"Suamiku...masih marah kah?" tanya Misa sambil merapihkan jas arga yang sudah di pakaikan ke badan nya.
Namun Arga masih saja terdiam tidak menjawab ucapan misa.
Misa setelah selesai membersihkan dirinya dan melaksanakan shalat subuh. Misa menjelaskan semuanya yang terjadi pada waktu malam ke arga, karena bagaimana pun kegaduhan arga dan syila di waktu pagi di sebabkan oleh ulah misa yang keluar kamar tanpa memberitahukan arga terlebih dahulu. Dan untuk menjelaskan nya, misa membuntuti arga di sekitar kamar untuk membujuknya karena sedari tadi arga hanya terdiam dan mengacuhkan misa.
"Suamiku..maafkan aku telah melakukan kesalahan," oceh Misa sambil memakaikan jam tangan di pergelangan tangan arga.
Lagi lagi arga tidak membalas ucapan Misa dan hanya terdiam menatap dingin ke arah misa.
Singaa..bisakah kau ngambek nya jangan seperti anak kecil. Syila saja cepat sekali aku bujuk dan tenang kembali, sedang kau masih saja manyun tidak bisa di bujuk pakai ucapan. Pakai apa yah kira2. Hah..dasar s singa kepala batu. Jangan panggil aku misa jika tidak bisa membujuk mu.
Selesai memakaikan jam tangan. Dengan keberanian untuk membujuk arga, misa melingkarkan tangan nya di pinggang arga lalu merapatkan diri nya dan mendongak menatap arga.
Arga sempat tertegun dengan sikap misa terhadapnya namun kembali memasang ekspresi dingin nya dan tidak membalas pelukan misa. Bisa kacau akting ku gumam Arga di dalam hati.
Misa menempelkan sisi wajah nya ke dada arga, "suamiku... jika kau marah, ternyata jantung mu juga ikut marah yah, sampai jedar jedor di dalam dada mu," tutur Misa mendengarkan degup jantung arga yang berdegup kencang.
Arga tersenyum mendengarnya dan menyembunyikan kembali senyuman nya.
Susah sekali s singa luluh nya sih. Sepertinya harus pakai cara ibu2 yang pernah di nasihati oleh bi ita padaku..okelah akan ku coba..
Karena tidak mendapat respon apa apa dari arga. Misa mendongak kembali menatap wajah arga lalu tersenyum manis. "Hmm..baiklah jika suamiku tidak bisa memaafkan aku, tidak apa. Sepertinya mulai malam ini aku akan tidur di kamar syila saja untuk membuat mu tenang suamiku," tutur Misa membuat Arga sedikit melebarkan mata nya karena terkejut misa berkata seperti itu.
Hahaha..ekspresi mu berubah singaa.. baiklah teruskan misa.
Misa melepaskan tangan nya yang melingkar di pinggang arga dan hendak berbalik.
Arga dengan sigap meraih kembali tubuh misa sebelum berbalik lalu arga memeluknya.
"Romisa, siapa yang mengizinkan mu berkata seperti itu," ucap Arga dengan nada tegas.
"Bukannya suamiku masih marah. Jadi aku akan hilang dari pandangan mu. Untuk membuat tenang pikiran mu," gumam Misa dalam dekapan arga.
Arga melepaskan pelukan nya untuk memberi jarak di antara nya. Namun masih memeluk pinggang misa.
Pletakk.
Arga menjentik kening misa. "Begitulah cara mu mengakui kesalahan, romisa" ucap Arga.
Haish...kenapa malah kena sentil sih.
Misa mengusap kening nya yang terasa panas dan terdiam tidak menjawab ucapan arga.
__ADS_1
Memang harus bagaimana singaa..habisnya kau di lembutin malah diam saja kayak patung. Ya terpaksa pakai cara itu, eh malah bikin tambah marah...jadi serba salah membujuk mu singa.
Arga mengecup kening misa yang habis di usap oleh misa. "Aku tidak marah dengan kejadian waktu pagi, romisa. Yang membuat ku tidak suka, ketika kau keluar kamar namun tidak membangunkan ku dan bahkan duduk makan bersama dengan adik ku, egi" tutur Arga sambil terus menatap misa.
"Maafkan aku suamiku. Tapi kan bi ane juga ada di situ. Dan lagian itu tidak seng..." ucap misa terhenti karena ketika arga mendengar ucapan misa raut wajah nya berubah dan menatap nya tajam.
"Romisa..jika di lain waktu, kau ingin keluar kamar tengah malam. Bangunkan aku, dan jangan keluar sebelum aku mengizinkan nya," tegas arga.
Baiklah..baiklah..memang kau raja singa nya.
Misa mengangguk mengiyakan. Arga menarik misa kedalam pelukan nya dan mengusap pelan punggung misa. "aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mu romisa. Jadi jangan menghilang dari pandangan mataku sedetik pun," ucap Arga dan mengecup puncuk kepala misa.
Cih!!! Lebay sekali sih singaa.. memang aku mau kemana bilang takut terjadi sesuatu padaku sedang di setiap penjuru rumah dan kamar saja kau pasang cctv. Dan semoga saja cctv yang di dalam kamar hanya terkonek untuk dilihat mu saja.
Misa mengendus aroma parfum yang ada di tubuh arga dan mendusel dusel kepala nya di dada arga mencari posisi nyaman.
"Suamiku..ternyata kau sudah ganti parfum yah. Aku jadi nyaman mencium nya," gumam Misa dalam dekapan arga.
Arga tidak menjawab pertanyaan misa. Dan memilih semakin mempererat pelukan nya ke tubuh misa.
"Suamiku. Bisakah kau jangan memelukku terlalu erat. Aku tidak bisa bernapas," ucap Misa membuat arga tersadar dan melonggarkan pelukan nya. Namun tidak melepaskan misa.
Misa menghela napas panjang. Hah...lega nya, hampir saja napas ku habis karena sesak.
"Romisa. Tunjukkan kaki mu," pinta arga lalu melepaskan pelukan nya dan menunduk melihat ke kaki misa.
"Buat apa suamiku?" heran Misa.
Arga menggendong misa ala bridal style lalu mendudukkan misa ke sofa.
"Diamlah. Biar ku obati," ucap Arga lalu berlalu mengambil kotak obat.
Misa memperhatikan arga yang membawa kotak obat dan dengan telaten arga mengobati kaki nya yang lecet.
Arga meniup kaki misa. "Romisa. Jika berjalan kau lihat lihat lah, jangan sampai terluka lagi," tutur Arga sambil menempelkan salep pada bagian luka.
Misa mengangguk pelan. Singaa garangku...aku semakin mencintai mu.
Di teras depan.
Misa dan arga telah selesai sarapan. Kini misa mengantar arga untuk berangkat bekerja.
Arga masih berdiri di hadapan misa dan mengusap sisi wajah misa.
"Romisa, jika kau mau keluar rumah..." ucap arga namun terpotong oleh misa.
"Izin dahulu pada mu jika sudah dapat izin baru boleh keluar rumah," ucap Misa meneruskan kalimat arga yang di potong nya.
Arga tersenyum dan mencubit ujung hidung misa gemas. "Ternyata kau pintar juga mengingatnya."
Misa tersenyum manis.
Arga memberi isyarat pada sekertaris Tang agar semua orang yang ada di sana membalikkan badan nya kecuali misa dan arga yang tetap dalam posisi nya.
Setelah semua membalikkan badan. Arga mencondongkan tubuh nya agar wajah nya lebih dekat dengan wajah misa lalu arga mengecup kening misa. Sedang misa yang sudah terbiasa. Misa menciumi seluruh wajah arga membuat arga terkekeh senang.
"Aku berangkat dulu romisa," ucap arga lalu mengusap puncuk kepala misa.
Misa mengangguk mengiyakan. "Hati hati di jalan suamiku," balas misa kemudian melambaikan sebelah tangan saat melihat arga akan memasuki mobil.
Arga membalas dengan kedipan sebelah mata nya ke arah misa sebelum pintu mobil benar benar tertutup.
Manis sekali s singa..kenapa belakangan ini aku senang sekali melihat wajah tampan nya s singa. Seakan sudah menjadi candu ku.
Mobil arga meninggalkan pelataran rumah nya dan melaju dengan kecepatan sedang di jalanan kota.
Di dalam mobil arga.
Arga seperti biasanya duduk dengan posisi kesukaan nya. Yaitu kepala menyender dengan sebelah lengan sebagai bantalan kepala dan mata terpejam sedang bibir terus melengkung menebarkan senyuman kebahagiaan.
__ADS_1
Sekertaris Tang yang melihat nya hanya bisa menggeleng pelan dan ikut tertular senyuman arga.
Arga membenarkan posisi duduk nya dan membuka mata nya.
"Tang.." panggil Arga.
"Iya tuan," sambil tetap fokus pada kemudi nya.
"Apakah kau sudah mengurus semua nya untuk tasyakuran nanti malam?" tanya Arga serius.
"Sudah tuan," jawabnya.
Arga mengangguk pelan lalu kembali memejamkan mata nya.
"Tang," panggil Arga lagi namun masih dengan posisi nyaman nya.
"Iya tuan."
"Dokter wanita itu kau sudah bereskan dia. Rasanya aku kesal mengingat kejadian kemarin, dia sudah membuat romisa salah paham," tanya Arga dengan nada tegas.
"Sudah tuan," jawabnya Tang.
"Bagus. Dan soal perawat yang di ajukan pak Reno, kau sudah mengurusnya juga Tang?" tanya Arga kembali.
"Sudah tuan," balas Tang.
Arga menghembuskan napas kasar lalu kembali bertanya. "Tang kau sudah sarapan?" tanya Arga membuat alis Tang terangkat sebelah.
Tumbenan tuan bertanya seperti ini pada saya.
"Sudah tuan," jawab Tang.
"Tang..." tegas Arga dengan suara cukup meninggi.
Kenapa tuan berteriak pada saya.
"Iya tuan."
"Dari tadi aku bertanya jawaban mu hanya dua kata 'sudah tuan' apa tidak ada kata lain lagi. Sudah seperti robot saja kau Tang," tutur Arga lalu tersenyum miring.
Kalau di pikir2 memang benar yang di katakan tuan.
Namun Tang tidak menjawabnya dan fokus pada jalanan kota.
Arga tersenyum. "Hah kau ini Tang..kapan kau punya istri, umur mu itu lebih tua dari ku. Apa kau tidak normal seperti yang di katakan kevin padaku," ucap Arga mengejek.
"Saya masih normal tuan. Jika saya tidak normal sudah saya pacari tuan dari dulu," jawab Tang santai.
"Cih! Lebih baik aku jadi perjaka tua dari pada harus suka sama sesama jenis seperti mu Tang," ledek Arga tersenyum mengejek.
Tang melirik kaca depan mobil melihat arga yang sedang meledek nya. Tang menghela napas nya pelan. "Saya normal tuan. Saya masih suka sama wanita. Termasuk sama nona," ucap Tang membuat senyuman di bibir Arga memudar.
Plakkk.
Arga menimpuk kepala Tang cukup keras.
Sudah saya duga pasti akan seperti ini jadinya.
"Kau berani menyukai romisa hah," teriak Arga tidak suka.
"Saya menyukai nya sebagai pria normal tuan," sengaja Tang mengompori arga. Dan benar saja ucapan Tang membuat Arga semakin geram.
"Kau Tang..jangan menyukai romisa. Carilah wanita lain yang kau sukai," tegas Arga dengan nada kesal.
Sekertaris Tang terkekeh pelan.
Tuan..tuan..bagaimana jika benar benar ada yang merebut nona. Bisa2 terjadinya perang dunia ketiga.
"Kenapa kau tertawa. Lajukan mobil dengan benar Tang. Dan jangan membayangkan istriku sekelebat pun di otak mu," tegas Arga lagi lalu kembali menyenderkan kepala nya.
__ADS_1
"Iya tuan," tersenyum dan kembali fokus mengemudi.
BERSAMBUNG...