
Di Perusahaan Putra Grup.
Sekertaris Tang memasuki ruangan kerja atasannya ia melangkah maju berdiri di hadapan meja. "Tuan, ada berita dari Cesa, soal Nona Romisa." Ucapnya setelah memberi salam dengan menunduk hormat.
Arga menghentikan aktivitas membolak-balikkan dokumen yang di pegangnya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap tajam minta kelanjutan ucapan dari Tang.
"Kata Cesa, Nona Romisa tidak sadarkan diri." Tang berucap penuh ke hati-hatian.
Sreet... Brak.
Arga langsung bangkit dari duduknya, dan sekertaris Tang yang mengerti mengambilkan jas kantor yang tergantung di tiang di pojok dekat jendela kaca besar, ia memakaikan jas itu ke badan tuannya. Setelahnya Lalu Arga segera berjalan keluar ruangan dengan langkah panjang yang di ikuti Tang di belakangnya.
Dengan jalan tergesa pria tampan itu, melewati setiap koridor mengabaikan setiap sapaan dari para karyawan yang memang itu sudah hal biasa bagi para karyawannya jika sapaan mereka selalu di abaikan oleh Arga, sehingga tidak ada yang tampak curiga dengan sikap tergesanya.
Arga sudah keluar dari gedung pencakar langit, ia memasuki mobil hitam mewah yang pintu bagian pintunya sudah di bukakan oleh Sekertaris Tang.
Blam.
Setelah menutupkan pintu kursi belakang, Sekertaris Tang beranjak setengah memutari mobil untuk masuk dan duduk di kursi kemudi. Tanpa menunggu lama lagi, mobil hitam itu telah melaju membelah jalanan.
"Saya sudah menelpon dokter Kevin dan dia sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah tuan," ucap Tang menenangkan Arga yang tampak gusar di kursi belakang.
"Tang, kau tidak bisa mengemudi hah!" Bentak Arga meninggi.
"Percepatlah kemudi kan yang benar," sambung Arga lagi masih dengan nada tinggi terselip oleh kecemasan.
Hah... Tang menghela napas pelan dengan pandangan fokus lurus kedepan.
Tuan sabarlah Nona hanya terkena alergi bukan untuk melahirkan.
"Dimana Romisa sekarang?" tanya Arga.
"Tadi cesa mengabari masih di perjalanan sepertinya sudah sampai rumah, tuan," jelas Tang dengan mata masih tetap fokus ke jalanan.
"Tang...," geram Arga tajam.
Tang yang mengerti geraman penuh kekesalan itu, ia langsung menambah kecepatan laju mobil hingga mencapai kecepatan tinggi.
*****
Di Rumah Arga Putra.
Mobil hitam mewah itu telah memasuki pelataran rumah, dan berhenti tepat di depan teras pintu masuk utama. Tang turun dari mobil membukakan pintu kursi belakang.
Segera Arga berhambur keluar, ia berjalan dengan tergesa melewati para pelayan juga penjaga yang menyambutnya di pintu masuk.
Arga terus menaiki anak tangga tanpa memperdulikan sekitar karena pikirannya saat ini di penuhi oleh rasa cemas oleh gadis mungil bernama Romisa. Sedangkan Sekertaris Tang memilih diam di lantai bawah dan memerintahkan semua para koki, bi Ane juga Cesa untuk berkumpul di ruang kerja.
Brak.
Pria tampan itu, mendorong cukup kasar pintu kamar yang sudah terbuka sebagian. Ia melangkah masuk ke arah ranjang, dimana di atas kasur terlihat seorang gadis mungil terbaring lemah, dengan di temani seorang pria berdiri mengamati dari ujung ranjang.
"Keluar kau Egi!" Tegas Arga di sertai tatapan tajam.
"Kenapa kak, dia Misa ku. Aku ingin melihatnya," timpal Egi dingin.
Rahang tegas Arga mengeras, ia semakin memberinya tatapan tajam. "Aku suaminya, keluar Egi!" Ujarnya, telak membuat pria yang bernama Egi itu tidak bisa berkutik atau berkata apa pun lagi.
Blam.
__ADS_1
Pria tampan berseragam SMA itu, akhirnya mengalah berbalik melangkah pergi keluar dari kamar sembari menutup pintu kamar dengan kasar.
Arga menaiki kasur, mendekati tubuh Misa yang masih lemas tidak sadarkan diri.
Ceklek.
Pintu kamar kembali terbuka, memunculkan seorang dokter dengan perawat wanita yang langsung berjalan mendekati ranjang.
"Ada apa ini Arga?" tanya dokter Kevin.
"Cepatlah kau periksa istriku," titah Arga yang berada di atas ranjang bersama Misa.
Perawat wanita yang di bawa dokter kevin mulai memeriksa Misa dan setelahnya dia memberikan hasil pemeriksaannya ke Kevin.
"Kenapa kau diam? Cepat katakan apa hasil nya?" tanya Arga yang tidak sabaran.
Dokter kevin membaca hasil pemeriksaan, ia beralih melirik gadis mungil yang terbaring itu, dan hendak memegang tangannya untuk melihat bercak merah yang timbul di kulit. Namun belum juga tangannya menyentuh sebuah bentakan menghentikannya.
"Kau berani menyentuh istri ku!" Bentak Arga tidak suka.
Menoleh cepat, Kevin masih membungkuk dengan tangan terulur. "Sabar Arga, aku hanya ingin melihat bercak merah di kulitnya."
Arga menatap sengit pada uluran tangan Kevin. "Kau bisa menyuruh asisten mu itu, tanpa harus menyentuhnya."
Kevin menyerah, ia menegakkan punggungnya. "Baiklah, baiklah, claudia tolong tunjukkan kulit Nona Romisa pada saya." Titahnya mengedikkan dagu.
"Baik dok." Perawat wanita itu merunduk mengangkat tangan Misa, dan memperlihatkan bagian bercak kemerahan itu ke arah dokter Kevin.
"Hmm... cukup," Kevin manggut-manggut.
"Cepat katakan apa hasilnya?" tanya Arga dengan tegas dan tidak sabar.
"Aku meminta mu bagaimana kau membuatnya bangun dan sembuh," tegas Arga.
Dokter Kevin membuka tas yang di bawanya tadi, ia mengeluarkan alat suntik juga botol obat. "Baiklah untuk sementara, Calaudia tolong suntikkan ini padanya, dan ini ada obat untuk meredakan jika terjadi ruam." Dia memberikan semua itu pada asistennya.
Perawat wanita itu mengoleskan cairan dari kapas ke kulit tangan Misa, bersiap untuk memberikan suntikkan.
Mata Arga menajam ngeri, saat melihat jarum panjang yang akan menusuk kulit Misa. "Kau memberikannya suntikan, tidak bisakah hanya obat saja."
"Tidak bisa Arga, istri mu alerginya cukup serius. Jadi harus di beri suntikan," jelas dokter Kevin.
"Tapi kau menyakitinya dengan suntikan itu!" Bentak Arga.
Oh ampun, bagaimana bisa seorang Arga Putra jadi seperti ini setelah mengenal cinta. Kevin menghela napas panjang, menggeleng pelan.
"Itu demi kebaikannya Arga, jika dia tidak di beri suntikkan, itu akan berakibat fatal baginya," jelas dokter Kevin.
Hah... Arga menghembuskan napas kasar, lalu memalingkan wajah agar tidak melihat proses penyuntikan jarum yang menusuk ke kulit lengan Misa.
"Keluarlah kalian," titah Arga setelah melihat tugas dokter Kevin telah selesai.
"Baiklah, tuan Arga Putra. Aku telah selesai urusannya. Ingat jika istri mu terjadi seperti sesak napas atau tidak sadarkan diri lagi langsung panggil saja aku, aku pamit dulu," ucap dokter Kevin menunduk hormat lalu pergi keluar kamar di ikuti asistennya.
Yang menyisakan dua orang di kamar itu.
Arga beranjak dari kasur berjalan ke arah pintu untuk mengunci nya. Lalu setelahnya ia kembali lagi menaiki kasur tidur menyamping menghadap ke arah Misa. Dia membuka kerudung di kepala Misa dan menaruh ke sembarang sekitar ranjang.
"Romisa bangunlah," ucap Arga sambil membelai rambut panjang Misa dengan lembut.
__ADS_1
"Aku menyuruh mu untuk bangun, bukan tidur." Tangannya beralih mengusap pipi.
"Romisa siapa yang mengizinkan mu untuk tidur terus, bangunlah." ucap Arga mulai putus asa karena tidak mendapat respon apa pun dari Misa yang masih terkulai lemas.
"Kau mau membantah ku Romisa. Kau tidak berhak membantah ku, bangunlah Romisa."
Dan Romisa masih diam membisu dengan mata terpejamnya, tak menunjukkan akan terbangun.
"Kau memang keras kepala, ingin membantah ku," ucap Arga sambil menyeka keringat yang membasahi dahi Misa.
Wajah Arga mendekat ke arah wajah gadis cantik itu, ia melabuhkan bibir mencium lembut kening, dan kedua pipi Romisa.
"Mmm...," Perlahan kedua mata Misa mengerjap terbuka, dan pada saat matanya terbuka lebar keseluruhan. Hal pertama yang di lihatnya adalah wajah Arga yang begity dengan dengan wajahnya sehingga pandangan mereka bertemu.
"Eh." Si-singa?
"Akhirnya kau bangun Romisa," ucap Arga di iringi desah kelegaan.
Alis Misa terangkat sebelah, melirikkan mata ke sekitarnya. "Aku dimana?"
"Kau di kamar kita."
Arga menangkup sisi wajah gadis itu dengan kedua tangannya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Romisa dengan menempelkan dahinya ke dahi sehingga terpaan napas mereka bertemu juga tatapan mereka bertemu.
"Jangan seperti ini lagi Romisa, aku tidak mengizinkannya," ucap Arga pelan.
Perlahan Arga menggerakkan kepala, ia melabuhkan kembali bibirnya di kening Misa lalu merengkuh, memeluk erat tubuh gadis itu.
Sedang Misa yang di perlakukan seperti sudah membeku, tubuhnya bergetar panas dengan pipi semerah tomat. "Sua-sua-miku, bi-sakah kau... kau melepaskan pelukannya, ini... ini terlalu erat." Terbata Misa yang merasa sesak.
Arga melepaskan pelukannya lalu mengusap lembut rambut Misa. "Apa yang di rasakan? Ada yang sakit?" tanyanya menelisik wajah mungil gadis cantik itu.
Romisa menggeleng pelan. "Hanya sedikit gatal di kulit." Ucap Misa sambil menggaruk leher, dan tak sengaja dirinya melihat punggung tangannya yang berbecak merah.
Mata nya melotot kaget, menatap kedua punggung tangannya. "Astagfirullah, bercaknya sudah muncul!"
Kemudian dia meraba bibirnya yang terasa tebal tak seperti biasanya.
"Bibir ku juga bengkak."
Arga terkekeh geli, membelai rambut Misa dengan lembut. "Dokter sudah memberikan obat krim, pakailah jika terasa ruam."
Lagi-lagi Misa di buat bingung dengan sikap lembut Arga yang tak biasanya. Lalu di pikirannya terlintas seseorang saat terakhir kali dirinya tak sadarkan diri.
"Suamiku, Cesa dimana?"
Mendengar nama itu, seketika sorot mata Arga berubah menggelap ada kilatan tidak suka.
"Jangan salahi dia suamiku. Cesa tidak tahu kalau aku alergi udang," ucap Misa menatap melas, saat melihat raut wajah Arga.
Arga mengusap lembut pipi hingga turun ke bibir tebal Misa. "Berbuat kesalahan pantas mendapat hukuman, atau paling tidak peringatan," ucapnya dingin.
Semoga Cesa tidak apa-apa. Perasaan ku tidak enak, dan bodohnya aku yang tidak menyadari ada udang dalam bekal itu.
"Sekarang, istirahatlah Romisa," titah Arga membelai sayang puncuk kepala rambut panjang itu.
Romisa mengangguk pelan, lalu memejamkan mata nya namun pikiran masih sadar, sebelah tangan Arga melingkar memeluk tubuhnya dari samping dengan ikut memejamkan mata.
BERSAMBUNG...
__ADS_1