
Di Gedung Pesta Pernikahan.
Misa, Rina, dan Cesa sudah berada di pesta pernikahan putri nya kepala sekolah SMA pelita. Saat ini mereka tengah berjalan menuju pintu masuk gedung pesta.
Banyak tamu undangan yang sudah berlalu lalang keluar masuk gedung pesta tersebut. Dan ramainya orang yang bercengkrama beceloteh di sertai tawa bahagia.
Pada saat ketiga gadis cantik yang menyusuri jalanan menuju pintu masuk gedung, tiba-tiba seseorang memanggil salah satu nama mereka.
"Bu Misa." Panggil seseorang dari arah samping.
Serempak Misa dan Rina menoleh ke arahnya.
Pria tampan berjas abu gelap itu menghampiri mereka. "Bu Misa baru dateng?" tanya Pak Dani setelah berhadapan.
Misa mengangguk pelan. "Iya Pak."
"Kelihatan nya aja Pak, kita baru masuk pintu kan." Sambar Rina.
Pria itu tampak takjub terpesona dengan penampilan Misa di lihatnya gadis cantik terbalut gaun berwarna peach itu dari atas sampai bawah.
MasyaAllah Misa kenapa kamu sangat cantik.
Misa yang di perhatikan seperti itu merasa risih, menundukkan kepala.
Rina melambai di wajah Pak Dani. "Hellow Pak Dani, bisakah minggir sebentar kami mau lewat belum mengucapkan selamat pada pasangan pengantin."
"Ah, iya. Yuk saya juga belum karena baru dateng." Gelagapnya kikuk namun mata masih mencuri lirik ke Misa.
Ketiga gadis itu melangkah maju, dengan Misa menggaet lengan Cesa.
Rina sedikit melambatkan langkahnya tidak beriringan dengan keduanya. "Ck, kepergok lagi. Malu laah." Ledeknya ketika melewati pria tampan itu.
"Bu Rinaa." Geram Dani berbalik.
"Kenapa? Wleek." Memeletkan lidah, lalu Rina setengah berlari mensejajari langkah Misa dan Cesa yang sudah melangkah ke dalam gedung.
Sedang Pak Dani mengikuti mereka bertiga, dengan wajah merah sebal.
Beberapa saat kemudian.
Misa, Rina dan Cesa sudah berjalan mengantri dengan para tamu undangan yang lainnya untuk mengucapkan selamat kepada sepasang pengantin.
Tampak kebahagiaan yang terpancar dari sorot mata dan senyuman mengembang lebar tulus dari kedua mempelai itu, seketika membuat Misa tertegun memikirkan dirinya.
Bagai tamparan di wajah ku. Menyadarkan dengan keadaan pernikahan yang sedang ku jalani. Mereka sepasang kekasih yang menikah atas nama cinta dan kasih sayang menjalin hubungan hingga ke jenjang keseriusan pernikahan.
Sedangkan aku, di awal pernikahan sudah di hadapkan dengan syarat dan perjanjian cerai, juga hingga saat ini pernikahan ku tidak jelas arahnya. Tuhaan... sebenarnya aku ingin menikah satu kali seumur hidup. Namun nasib pernikahan ini ada di tangan dia.
Misa sudah turun dari panggung pelaminan dan menunggu Rina juga Cesa yang masih berada di antrian.
"Bu Misa duduk di meja itu saja dulu, biar nanti jika mereka sudah selesai nanti saya giring mereka ke meja," titah Pak Dani menunjuk meja bundar dengan lima kursi di sekelilingnya.
"Terimakasih Pak." Misa menurut melangkah ke arah meja, dan duduk di salah satu kursi nya.
Pak Dani datang lagi dengan membawa minuman juga piring kecil yang berisi sepotong kue.
"Buat Bu Misa, biar tidak haus." Ucap Pak Dani sambil meletakkan minuman juga kue itu di atas meja di hadapan Misa.
"Terimakasih Pak Dani." Balas Misa lalu tersenyum.
Pria itu mengangguk membalas tersenyum. "Saya ke sana dulu sebentar, tak apa kan saya tinggal?"
"Tidak apa."
"Baiklah, di makan kue nya Bu Misa." Ucapnya sambil lalu meninggalkan Misa yang terduduk sendiri.
__ADS_1
Misa mengedarkan pandangan nya melihat betapa meriah pesta pernikahan itu. Kemudian ia meraih piring kecil yang berisi kue, mulai menyendok dan menyuapkan ke mulut.
"Ekhem... Bu Misa." Panggil Egi yang sudah berdiri di samping kursi gadis itu.
Misa mendongakkan kepala untuk melihat siapa orang yang datang.
"Egi." Celetuknya.
Egi memasang wajah datar dengan tatapan tak terbaca menatap wajah cantik Misa, ia bergeming sama sekali dari posisinya.
Sangat cantik. Pikir Egi melihat wajah gadis di hadapan.
Seperkian detik terdiam akhirnya Egi bersuara. "Boleh Egi duduk di sini?" Menunjuk kursi sebelah Misa.
"Ah, boleh." Jawab Misa kembali beralih melihat dekor hiasan pesta pernikahan.
Egi duduk di kursi yang berada di samping kiri Misa. "Bu Misa lagi nunggu siapa?" tanyanya sambil terus menatap lekat wajah cantik itu.
"Rina dan Cesa." Jawab Misa, memotong kue lalu memasukkan potongan kue tersebut ke mulut.
"Bu Misa mau lagi kue nya, atau mau apa?" tanya Egi saat melihat kue Misa tinggal separuh.
"Kalau ada es cream melon." Jawa asal Misa.
Egi bangkit dari duduknya lalu berjalan pergi ke arah stand es cream untuk mengantri.
"Eh," tertegun melihat pria berjas hitam itu mengantri di antrian yang cukup panjang.
Itu anak bener di ambilin padahal aku hanya asal ngomong aja.
Selang beberapa saat.
"Misaa.. duh pegel berdiri terus di sana capek juga." Rina yang baru datang langsung menyambar minuman yang berada di hadapan Misa.
Rina tersenyum cengengesan. "Habis haus, nggak apa-apa kan Mis?"
Mengangguk mengiyakan. "Tak apa Rina."
Rina duduk di samping Cesa sedangkan Cesa dari pertama datang langsung mengambil posisi duduk di samping kanan Misa.
Pak Dani mengernyitkan alis saat melihat ponsel dan kunci mobil di atas meja dekat samping kiri Misa.
"Ini punya siapa Bu Misa?" tanyanya menunjuk kunci mobil dan ponsel itu.
"Itu punya Egi."
Pria berjas abu tersebut hendak duduk di kursi kosong samping kiri Misa. Namun belum juga bokongnya mendarat, tiba-tiba...
Brak... Dugh.
Seseorang yang baru datang dengan seenaknya menendang kursi tersebut, sehingga Pak Dani jatuh di ruang kosong dan terjungkal ke belakang.
"Hey!" Pekik Pak Dani yang bokongnya sudah terperosok ke teras.
Seketika semua orang yang berada di sekitar menoleh ke arahnya dan tergelak geli. Pak Dani berdiri kembali dengan gerakan tertatih sambil mengusap bokongnya yang terasa sakit.
"Pak Dani tidak apa-apa?" Cemas Misa melihat pria itu mengernyit kesakitan.
"Ah, tid-tidak... tidak apa-apa." Jawabnya dengan perasaan malu campur emosi.
"Hahaha... gimana tuh rasanya Pak? Terjun di tempat yang keras." Ejek Rina di sela terkikik geli.
"Diamlah Bu Rina." Jengah Dani membuat Rina terdiam menahan tawa nya.
Kemudian pandangan mata nya menatap sengit ke arah pria berjas hitam yang berdiri di dekat kursi dengan kedua tangan memegang dua gelas kecil es cream.
__ADS_1
"Kamu, murid tak tahu sopan santun pada guru." Geramnya memarahi.
"Egi duluan yang duduk di sini." Ucapnya tenang menyenggol lengan Pak Dani agar bergeser lalu duduk di kursi samping Misa.
"Ck," berdecak kesal, Pak Dani mengambil kursi di samping lainnya yang kosong namun tatapan masih menatap tajam tak suka pada pria di sebelahnya.
Misa yang memperhatikan perdebatan itu, alisnya tertaut. Si Egi nggak sama si singa nggak sama Pak Dani hobinya saling tatap begitu juga bikin rusuh.
"Perasaan yang pertama tentuin meja ini kan saya." Sindir Pak Dani mengalihkan tatapan ke arah lain.
"Hei, sudahlah ini guru sama murid masalah kursi aja di rebutin. Berasa bocah aja kalian ini." Sambar Rina menengahi perdebatan.
"Bu Misa es krim nya." Egi menyodorkan gelas es krim ke hadapan Misa.
"Makasih Egi, sudah di ambilkan, tapi benar juga apa kata Pak Dani tadi. Jangan bersikap tak sopan seperti itu lagi pada guru, Egi." Ujarnya menasehati.
Namun Egi tak bersuara menjawab penuturan Misa, ia malah memberikannya tatapan dingin.
Eh, apa aku salah ngomong? Heran Misa menangkup gelas es cream.
"Ekhem... ekhem. Ini meja kenapa kosong sekali yah." Celetuk Rina membuyarkan suasana mencekam.
"Saya ambil makanan dulu, Bu Misa mau apa lagi biar saya ambilkan?" Timpal Cesa yang sedari tadi diam jadi pengamat.
"Ini saja sudah cukup Cesa."
Rina beranjak dari kursinya. "Yaudah aku sama Cesa mengambil makanan dulu yah Mis, yuk Ces ke stand yang di sana kayaknya enak tuh kue." Ajaknya sambil menggaet lengan Cesa.
Kedua gadis itu pergi, yang menyisakan Misa dan dua pria.
Seketika suasana tampak hening membentang. Pak Dani dan Egi senang memandangi wajah cantik gadis di meja mereka. Sedangkan yang di pandang fokus memakan es krim.
Kenapa suasananya jadi canggung gini? Dan kenapa dua orang ini hanya diam saja?
"Bu Misa." Ucap serempak Egi dan Pak Dani.
Misa menoleh pada keduanya. "Iya."
"Ada es krim di bibir." Ucap serempak lagi Egi dan Pak Dani lalu sama-sama memberikan tisu ke Misa.
Alis Misa mengernyit memandangi kedua nya secara bergantian, ia mengambil tisu yang di berikan keduanya lalu terkekeh geli.
"Hehe... kalian lucu." Ucap Misa di sela kekehannya.
Pak Dani dan Egi saling pandang sejenak. Lalu...
Huh... saling membuang muka ke arah samping dan melipat kedua lengan di depan.
Misa masih terkekeh geli melihat keduanya.
Kenapa mereka lucu sekali seperti anak kecil yang lagi marahan.
"Kenapa Bu Misa ketawa?" tanya Egi heran.
Misa tersenyum, mengelap bibirnya yang belepotan oleh krim es.
"Sikap Kalian lucu."
"Lucu." jawab serempak lagi Pak Dani dan Egi.
Misa tertawa kembali menutup bibirnya. "Nah ini, lucu kan seperti saudara, kompak." Ucap Misa membuat Dani dan Egi saling pandang lalu tersenyum sinis.
Kenapa mereka saling tersenyum seperti itu? Apa diantaranya pernah ada dendam kusumat sehingga membuat mereka bermusuhan.
BERSAMBUNG...
__ADS_1