Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
140


__ADS_3

Arga keluar dari kamar nya. Dan seketika cesa dan sekertaris Tang yang sedari tadi terduduk di sofa luar kamar arga berdiri dan menunduk hormat pada arga.


"Kau jaga Romisa di dalam," titah Arga menunjuk cesa dengan dagu nya.


"Baik tuan," menunduk hormat, lalu berjalan menuju kamar misa.


Setelah cesa hilang dari balik pintu, arga menatap Tang.


"Pakai kembali jas mu setelah di cuci," ucap Arga sambil melemparkan jas Tang.


Tang dengan sigap menerima lemparan jas dari arga. Lalu Tang menyampirkan ke lengan nya.


Kenapa harus di cuci dulu? Apa karena ada jejak nya nona sehingga harus saya cuci dahulu tuan.


"Tang. Kau belikan aku parfum yang sama seperti punya mu. Dan kau jangan pakai parfum lama mu," ucap Arga berjalan ke arah pintu keluar ruangan.


"Baik tuan," balas nya dan mengikuti arga dari belakang.


Kenapa harus saya yang berganti parfum tuan. Padahal itu aroma kesukaan saya. Dan kenapa nona aneh aneh saja. Ingin mencium aroma parfum saya, jadi nya kan saya lagi yang disalahkan dan di korbankan.


---------


Arga dan Tang berjalan ke arah ruang kerja. Dan kini kedua nya sudah terduduk di sofa yang saling bersebrangan di ruangan kerja.


Dengan punggung menyender dan kedua Tangan bersender di lengan sofa, arga menatap lurus kedepan ke arah Tang.


"Ada apa Tang? Sehingga kau ingin berbicara empat mata dengan ku," tanya Arga dengan nada serius.


Tang menghela napas nya lalu membalas tatapan arga.


"Tuan, saya sudah berbicara pada paman reno mengenai nona sedang mengandung. Dan beliau merekomendasikan seorang mahasiswi cerdas dari panti bunda nya nona untuk menjaga dan merawat nona, dan kebetulan mahasiswi tersebut sedang mengambil jurusan kebidanan. Menurut tuan bagaimana, apa akan di terima perawat dari paman reno tersebut?" jelas Tang panjang.


Arga menghembuskan napas nya pelan.


"Tang. Kau tidak memberitahukan berita kehamilan romisa pada Ayah kan?" tanya Arga.


Sekertaris Tang menggelengkan kepala nya.


"Tidak tuan. Saya belum memberitahukan nya pada tuan besar."


"Bagus. Aku tidak ingin Ayah tahu dulu tentang kehamilan romisa. Karena jika Ayah tahu. Pasti Ayah akan segera pulang, sedangkan fase pemulihan nya masih butuh beberapa bulan lagi," tutur Arga.


"Benar tuan, saya juga berpikiran seperti itu," balas Tang.


Arga mengangguk pelan lalu kembali menatap Tang serius.


"Tang. Apa pak ustadz yang waktu semalam kau batalkan janji temu nya?" tanya Arga ke topik lain.


Sekertaris Tang mengkerutkan alis heran lalu menggelengkan kepala nya.


"Belum tuan."


"Kau undang pak ustadz tersebut untuk memimpin tasyakuran atas kandungan romisa."


"Tuan, bukannya nona masih berjalan 2 bulan kurang usia kandungan nya. Dan setau saya acara seperti itu akan di adakan setelah usia kandungan menginjak usia 4 bulan dan 7 bulan," pendapat Tang.


Arga menghela napas nya kembali.


"Aku tahu. Acara ini hanya untuk ucap rasa syukur ku saja atas kehamilan romisa," ucap Arga.


"Baiklah tuan jika begitu, dan hubungan nya dengan perawat yang di rekomendasikan oleh paman reno kira kira apa tuan?" tanya Tang meminta kejelasan karena pembahasan topik utama nya belum di jawab oleh arga.


"Kau belum paham juga Tang. Kenapa sekarang kau selalu meminta kejelasan secara detail dari ku biasanya kau langsung paham," ucap Arga lalu tersenyum miring.


"Maaf tuan. Tp memang saya belum paham maksud tuan."


"Aku ingin acara tasyakuran ini mengundang semua anak anak yatim piatu yang ada di panti nya romisa. Lalu diadakan nya pengajian yang akan di pimpin oleh pak ustdaz yang kau bilang itu. Dan mengenai perawat yang di ajukan oleh paman reno. Aku ingin melihat orang tersebut layak atau tidak nya untuk menjaga romisa istriku," jelas Arga.

__ADS_1


Tang mengangguk pelan mengerti.


"Tapi saya sudah menyelidiki orang tersebut sepertinya layak tuan. Karena selain cerdas, dan rajin wanita ini juga ternyata sangat dekat dengan nona sewaktu nona masih tinggal di panti," tutur Tang menjelaskan.


Arga mengusap dagu nya lalu menatap Tang.


"Baiklah, hadirkan orang itu sewaktu tasyakuran. Dan lihat bagaimana respon romisa."


"Baik tuan. Dan acara nya akan di selenggarakan kapan kira kira nya?" tanya Tang.


"Lusa malam."


"Baik tuan, saya akan mempersiapkan semua nya."


"Jangan lupa kau undang keluarga paman reno juga kemari. Dan jangan sampai romisa tahu terlebih dahulu. Aku ingin melihat wajah bahagia nya romisa ketika orang orang terdekat nya berkumpul," ucap Arga kembali dan tersenyum.


Sekertaris Tang mengangguk pelan mengiyakan perintah arga.


"Dan satu hal lagi. Jangan kau undang bibi Lara kemari. Aku tak ingin hari bahagia nya romisa di kacaukan oleh nya," tegas Arga.


"Baik tuan, saya mengerti."


"Baiklah sekarang kau kerjakan pekerjaan mu. Dan mana berkas yang akan kau tunjukkan pada ku," titah Arga beranjak dari duduk nya dan menuju meja kerja.


Sekertaris Tang beranjak dari sofa, lalu melangkah menuju meja kerja nya yang bersebrangan dengan meja kerja arga, untuk mengambil berkas yang di minta arga. Lalu Tang memberikan setumpuk berkas yang harus arga periksa dan tandatangani ke atas meja kerja arga.


Dan kedua nya mulai bekerja di meja masing masing di ruangan kerja. Sementara misa masih tertidur di kamar nya dengan cesa yang duduk di sofa yang di sela fokus nya dari layar laptop selalu mengawasi misa.


-------------


Waktu telah memasuki dzuhur dan adzan sudah di kumandangkan dengan sangat indah di masjid terdekat.


Bi ane mendatangi ruangan kerja arga untuk memberitahukan jika waktu makan siang telah tiba.


Tok...tok..tok.


"Masuk."


Bi ane memasuki ruangan kerja. Setelah masuk ke dalam nya, bi ane menunduk hormat pada arga.


"Tuan. Makan siang sudah siap," ucap Bi Ane sambil pandangan menunduk.


"Baiklah. Apakah romisa sudah berada di meja makan?" tanya Arga sambil membereskan berkas yang berserakan di atas meja.


"Belum tuan. Nona masih tertidur pulas, jadi saya tidak berani membangunkan nya."


Alis arga terangkat sebelah lalu menatap bi ane. Tumben romisa tidur panjang biasanya dia hanya tidur siang 1 jam, ini hampir 3 jam dan dia masih tidur pulas. Apa ini pengaruh dari kandungan nya pikir Arga.


"Baiklah, kau siapkan makanan nya biar aku yang membangunkan romisa," titah Arga.


"Baik tuan," Bi Ane menunduk hormat lalu berbalik meninggalkan ruangan kerja arga.


Sepeninggalan bi Ane.


Arga menatap Tang yang masih fokus pada layar laptop nya.


"Tang. Kau tidak makan. Istirahatlah baru kau kerjakan kembali perkerjaan mu," ucap Arga dan bangkit dari duduk nya.


Tang menoleh pada arga. "Baik tuan," ucap nya.


"Ya sudah. Aku ke kamar untuk melihat istriku. Kau ke meja makan duluan," titah Arga yang di balas anggukkan kepala oleh Tang.


Arga beranjak meninggalkan ruang kerja, untuk menuju kamar misa.


----------


Arga telah sampai di pintu kembar kamar nya dan masuk ke dalam kamar, yang langsung di sambut cesa yang sedari tadi terduduk di sofa yang tidak jauh dari ranjang misa.

__ADS_1


"Tuan," ucap Cesa lalu berdiri dan menunduk hormat.


Arga melewati cesa dan berjalan mendekati ranjang.


"Apakah romisa tidak terbangun selama aku meninggalkan nya?" tanya Arga yang sudah berdiri di samping ranjang, dan sambil terus mengamati wajah misa yang tertidur pulas di balik selimut di atas ranjang.


"Tidak tuan, sejak tuan pergi sampai sekarang nona masih tertidur."


Arga mengangguk pelan lalu duduk di samping tubuh misa yang terbaring.


Cesa yang seakan mengerti. "Saya permisi tuan," ucap nya lalu menunduk hormat dan meninggalkan misa dan arga di dalam kamar.


Dengan gerakan pelan dan hati hati, arga mengusap lembut wajah misa memeriksa dahi misa untuk mengukur suhu nya. "Syukurlah, dia tidak apa apa," gumam Arga.


Arga mendekatkan wajah nya pada wajah misa


"Romisa.. bangunlah," gumam Arga pelan di dekat telinga misa.


"Eeemm..." igau Misa menggeliat membalikkan badan nya sehingga membelakangi arga.


Arga terkekeh pelan melihat tingkah misa yang menurut nya menggemaskan.


Lalu arga kembali mendekati misa dan mengecup sebelah pipi misa. "Romisa... istriku. Bangunlah," ucap Arga di dekat telinga misa sambil tangan nya mengusap pelan puncuk kepala misa.


"Aku.. masih ngantuk," igau Misa pelan dan lagi lagi misa menggeliatkan badan nya sehingga menghadap arga.


Arga tertawa pelan lalu mengusap pipi misa yang berisi. Kenapa kau sangat menggemaskan sekali romisa pikir arga.


"Romisa..sudah waktunya makan siang. Bangunlah," ucap Arga masih mengusap lembut pipi misa.


"Singaa...bisakah kau diam," gumam Misa pelan namun jelas.


Arga mengernyitkan alis nya heran.


Apakah dia sedang mimpi bermain dengan singa hewan favorit nya. Ini tidak bisa di diamkan, aku harus membangunkan nya.


Arga semakin gencar menggoda misa dan memangku kepala misa dengan gerakan hati hati agar berada di lengan nya.


"Romisa..istriku. Bangunlah," ucap Arga menciumi bagian wajah misa dari hidung, pipi, kening dan terakhir bibir.


Dan hal itu berhasil mengusik mimpi indah misa. "Haish.. singa bisakah kau jangan mengganggu ku! Aku masih ngantuk," gerutu Misa pelan dengan mata masih terpejam.


Ternyata benar romisa sedang bermimpi dengan hewan favorit nya. Kau tidak boleh bermimpi dengan siapa pun atau hewan favorit mu. Yg seharusnya ada dalam mimpi mu itu hanya suami mu. Romisa..


Arga kembali menciumi wajah misa, dan terakhir mengecup kedua mata misa sehingga misa mau tidak mau mengerjapkan mata nya.


"Singaa!" teriak Misa dengan suara serak nya sebab baru terbangun dari tidur nya.


"Romisa. Aku suamimu. Kenapa kau memanggil singa?" ucap Arga setelah melihat misa membuka mata nya namun misa masih mengerjapkan mata nya cepat.


Aku keceplosan. Bagaimana ini, dia tidak curiga kan.


Melihat misa masih terdiam menatap nya, arga membangunkan misa agar terduduk.


"Bangunlah romisa..sudah waktu dzuhur dan makan siang," ucap Arga sambil menangkup kedua sisi wajah misa.


Misa mengangguk pelan dalam tangkupan tangan arga, membuat arga terkekeh karena menurut nya wajah misa sangat imut dan menggemaskan jika baru bangun tidur.


"Ya sudah aku tunggu kau di ruang makan, siap siap lah," ucap Arga lalu mengecup kening misa.


Misa hanya menjawab nya dengan anggukan kepala pelan.


Arga melepaskan tangkupan tangan di wajah misa, lalu beranjak dari ranjang dan berbalik meninggalkan misa yang masih terbengong.


Setelah melihat arga hilang di balik pintu. Misa menghembuskan napas nya lega sambil memegang dada nya.


"Syukurlah dia tidak curiga dan tidak bertanya. Kenapa aku bisa keceplosan sih..haish, lebih baik aku membersihkan diri dan shalat dzuhur dulu baru ke meja makan," gerutu Misa sambil beranjak dari ranjang nya untuk menuju kamar mandi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2