
Sementara Arga di kantor.
"Tuan, Nona sudah berangkat ke rumah lama untuk bertemu dengan teman mengajarnya" ucap Tang yang berdiri di hadapan meja kerja Arga.
Arga mengangguk mengiyakan dan tetap fokus pada layar laptop.
"Dan Tuan. Nona berangkat menaiki motor tuan Egi" ucap Tang kembali membuat Arga menoleh padanya dan menatap dengan tatapan tajam.
Seakan Tang mengetahui apa yang di pikirkan Arga. "Nona berangkat bersama Cesa, Tuan. Namun menggunakan motor Tuan Egi" jelas Tang tp Arga masih saja menatap nya tajam.
"Kenapa pengawalnya membiarkan Romisa menaiki motor, kalau terjadi apa apa dengan istriku bagaimana hah" teriak Arga kesal.
Sekertaris Tang menunduk."Maaf Tuan, tp itu permintaan Nona yang ingin menaiki motor."
Arga masih menatap Tang dengan tatapan tajam."Aku ingin menjemput istriku sekarang Tang" tegas Arga dan menutup laptop yang ada di hadapan nya dengan kasar
"Tuan, jika Tuan menjemput Nona sekarang apa tidak terlalu terburu buru. Nona baru saja bertemu dengan teman nya. Bagaimana jika menjemputnya nanti setelah Adzan ashar" tutur Tang memberikan usul.
Arga menghembuskan napas kasar."Baiklah, biarkan saja dulu. Aku ingin melihat aktivitas Romisa di sana. Mana berikan laporan nya padaku" pinta Arga.
Tang berjalan mendekat ke meja Arga lalu meletakkan ponsel ke atas meja."Laporan mengenai kegiatan Nona selama disana ada di dalam ponsel ini Tuan" ucapnya.
Arga mengangguk mengerti lalu mengambil ponsel Tang dan mulai melihat gambar Misa di dalam layar ponsel Tang."Ingatkan aku setelah shalat ashar aku ingin menjemput Romisa" tegas Arga yang di balas anggukkan kepala oleh Tang.
Lalu Sekertaris Tang menunduk hormat dan berlalu menuju ruangan nya kembali.
--------
Di rumah Misa.
Semua yang berada di pekarangan rumah sibuk memanggang dan menyiapkan menu lainnya untuk makan bersama.
Cesa dan Rina sedang memanggang ayam sedang Misa menemani bi Sum membuat sambel dan camilan lainnya di teras rumah.
"Bibi jika bibi akan ke mari suka naik apa" tanya Misa sambil mengupas bawang merah.
Bi Sum yang sedang mengupas kulit mangga muda menoleh sejenak."naik ojek Neng, soalnya agak jauh sih jaraknya" ucapnya.
"Bibi maaf sebelumnya, Misa dengar dari bi Ita bibi tinggal di kota ini menyewa rumah. Apakah itu benar?" tanya Misa dengan kehati hatian takut bi Sum tersinggung.
Bi Sum mengangguk pelan."Iya Neng, soalnya rumah asli bibi kan di padang. Bibi kemari merantau bersama anak bungsu, yaa maklum lah neng. Bibi ini janda tua yang tidak punya apa apa" ucapnya lalu tersenyum.
Misa menatap hangat."Huusss.. jangan merendah begitu tidak baik bii.. dan maaf Misa bukan bermaksud menyinggung, tp bagaimana jika bibi tinggal saja di rumah Misa?" ucap misa lembut membuat bi Sum menghentikan kegiatan nya.
"Tp Neng, anak bibi masih sekolah di bangku SMP."
"Sekolah anak bibi jauh tidak jika jaraknya dari sini?" tanya Misa.
"Tidak sih Neng, malah lebih dekat" balas bi Sum dan tersenyum.
"Nah, jika begitu. tinggal disini saja yah. Biar bibi nggak usah pulang pergi lagi jika merawat rumah misa" tutur Misa dengan nada tenang.
Bi Sum menatap Misa sendu lalu mengusap lembut punggung tangan Misa."Neng, bibi takut ada barang berharga yang hilang punya Neng, juga bibi nggak enak sama pak Reno" tolak bi Sum.
Misa membalas mengusap lembut punggung tangan bi Sum."Bibi..di rumah ini tidak ada barang berharga, hanya sebuah foto keluarga Misa itulah barang berharga nya Misa. Dan soal paman Reno biar Misa yang mengatakannya, toh rumah ini kan rumah Misa bukan punya paman Reno. Jadi jangan sungkan sama Misa, yang terpenting bagi Misa, bibi mau merawat rumah ini dengan baik itu sudah cukup. Jadi pindahlah kemari yah" tutur Misa lembut.
Bi Sum mengangguk pelan lalu memeluk Misa. "Terimakasih Neng, selain membiayai sekolah anak bibi, Neng bahkan menyuruh bibi tinggal di sini. Semoga Neng selalu bahagia juga lahiran nya nanti lancar ya Neng" ucapnya.
"Iya bi amiin" jawab Misa sambil membalas pelukan bi Sum.
Adzan ashar telah berkumandang. Rina dan Cesa menghampiri Misa.
"Kita shalat dulu yuk. Nanti lanjutin" ucap Rina yang di anggukki oleh ketiga nya.
--------
Setelah melaksanakan Shalat ashar berjamaah yang di imami oleh bi Sum. mereka berempat kembali ke tugas masing masing, dan Misa duduk kembali di atas karpet yang sudah di bentangkan di teras rumah lalu mulai meracik membuat sambal.
Cesa dan Rina telah selesai memanggang ayam dan ikut bergabung bersama Misa dan Bi sum yang duduk di karpet.
"Sudah selesai manggang nya Rin?" tanya Misa sambil mengiris bawang merah.
"Sudah dong..kita kan ahlinya. ya kan Cesa" balas Rina lalu mengambil kentang goreng dan mencoelkan nya pada sambal tomat yang di buat Misa.
"Nona mau membuat apa itu?" melihat Misa yang sibuk dengan bumbu bumbu dapur.
"Sambal kecap, kan enak nya ayam panggang itu di cocol sama sambal kecap" ucapnya.
__ADS_1
Cesa mengangguk pelan dan ikutan mengambil kentang goreng.
Sedang bi Sum mengiris buah mangga dengan ukuran memanjang kecil.
Bruumm... suara mobil berhenti di depan pagar Misa.
Seketika Rina dan Cesa yang sedang santai memakan kentang goreng menoleh ke arah suara.
Dari dalam mobil mewah turunlah pria gagah berjas yang membuka kan pintu penumpang yang memunculkan seorang pria tampan dan gagah keluar dari mobil.
Rina yang melihat kedua pria tampan dan gagah sedang berjalan ke arah mereka bibir nya menganga mata nya membulat kaget."Mis...miss....itu..itu.." gagap Rina dan hendak berteriak namun Cesa dengan sigap menutup mulut Rina dan mengisyaratkan menempelkan telunjuk di bibirnya, agar Rina diam dan akhirnya Rina menurut. Namun masih menatap kaget dan terpesona pada kedua pria yang kini sudah berdiri di belakang Misa.
Sedang Misa yang posisi duduk nya membelakangi pagar rumah tidak menyadari kedatangan kedua pria tersebut karena sibuk meracik sambal kecap dan membuat sambal mangga.
Begitu pun dengan bi Sum sama belum menyadari kedua pria karena sibuk mengiris mangga.
"Bibi mangga nya sudah siap belum?" tanya Misa sambil menyiapkan bumbu bumbu ke atas cobek untuk sambal mangga.
"Bentar lagi Neng, ini tinggal satu buah lagi yang belum bibi iris" jawabnya dan fokus pada buah mangga.
Misa mengulek sambal untuk mangga, dan Arga yang melihat itu mengeratkan gigi nya dan menatap tajam ke arah Cesa yang sudah terpaku.
Arga hendak mendekati Misa namun Tang dengan sigap memegang lengan Arga dan memberikan isyarat mata seakan berkata 'sebentar dulu Tuan, Nona belum menyadari kita' Arga menghela napasnya dan akhirnya mengurungkan niatan nya untuk mendekati Misa yang sedang mengulek.
"Sini bi mangga nya biar Misa yang meraciknya" pinta Misa sambil mengambil irisan mangga lalu membalurnya dengan sambal yang di buat.
"Cesa, Rina. kenapa kalian diam saja dari tadi.. apa kalian tertidur?" tanya Misa sambil fokus ke racikan sambal.
"Ti...tidak Nona" gagap Cesa karena masih takut di tatap tajam oleh arga.
"Rinaa" panggil Misa
Namun Rina tidak menjawab karena bibirnya masih di bekap oleh Cesa juga masih di liputi rasa kaget menatap kedua pria di belakang Misa.
"Rinaa. Kenapa kamu diam saja, jadi sepi nih suasana nya" ucap Misa lagi dan menyelesaikan membuat sambal mangga dan sekarang beralih membuat sambal kecap.
Dan Rina masih tidak menjawab pertanyaan Misa. Karena penasaran Misa mengangkat pandangannya dan menatap Cesa yang membekap bibir Rina dan Rina yang menatap ke arah nya.
Alis Misa berkerut heran."Cesa kenapa kamu membekap bibir Rina? kasihan Rina bisa habis napas" tegur Misa.
Cesa menurunkan tangannya yang membuat Rina bernapas lega."Maaf Nona, anu..anu.." gagap Cesa canggung.
"Misaa ada pangeran ganteng...ya tuhaaan mimpi apa aku ini..aku ingin dandan dulu sebentar muka ku pasti kucel karena habis memanggang ayam..tunggu...tunggu sebentar..." celoteh Rina sibuk lalu berlari ke dalam rumah.
Misa menatap Cesa bingung."Ada apa dengan Rina? pangeran ganteng maksud nya apa?" tanya Misa heran.
"Neng, apakah itu suami Neng?" ucap bi Sum menatap ke arah belakang Misa.
Dengan gerakan kaku Misa menoleh ke arah pandang bi Sum."Suamiku" celetuk Misa kaget dan terpaku.
Arga berjalan mendekati Misa lalu mengecup puncuk kepala Misa."Iya Romisa, ini suamimu. kenapa ekspresi mu begitu. apa kau tidak senang jika suamimu kemari?" tanya Arga pelan setelah dirinya duduk di samping Misa.
Pantas saja Rina sampai heboh begitu. dia kan fans nya s singa.
Misa menggelengkan kepala nya pelan.
"Apa itu artinya, apa kau keberatan aku di sini Romisa?" tanya Arga kembali sambil mengusap sisi wajah Misa.
Misa tersenyum."Ah, tidak suamiku. aku senang kau datang kemari. tp bagaimana bisa suamiku tahu rumah lama ku?" heran Misa.
"Romisa tidak ada yang tidak tahu semua tentang mu oleh ku" tutur Arga kembali mengecup kening Misa.
"Tuan...silahkan duduk di sini" ucap Tang menunjuk ke kursi teras membuat kedua nya menoleh pada Tang.
"Tidak, aku ingin duduk bersama istriku" balas Arga dan merangkulkan sebelah lengannya ke pinggang Misa.
Misa seakan tersadar di tatap heran oleh bi Sum memasang senyuman manis nya."Ini suami saya bi" ucap Misa.
Bi Sum tersenyum."Iya Neng, tidak salah tebakkan bibi. suami Neng sangat Tampan dan berwibawa" bisik bi Sum pelan ke arah Misa.
Rina telah kembali dari dalam dengan penampilan rapih dan bersih. Namun ketika tatapan nya melihat lengan Arga yang memeluk pinggang Misa juga duduk di samping Misa. membuat Rina kaku dan bingung.
"Mis..apakah...dia..dia.." terbata Rina sambil duduk kaku di samping Cesa.
Misa mengangguk pelan."Iya, ini suamiku, Rina" ucap Misa semakin membuat Rina membuka mulutnya lebar dan mata nya terbelalak terkejut.
"Suami mu..Arga putra apa itu benar mis?" kaget Rina sambil menutup mulutnya yang terbuka lebar.
__ADS_1
Misa mengangguk sebagai jawaban iya.
"Ya tuhaaan Misaaa. kenapa kau tidak bilang jika suami mu itu idola ku...Misaaa" teriak Rina membuat Arga dengan sigap menutup kedua telinga Misa dengan tangannya.
"Bisakah anda tidak berteriak seperti itu, kasihan istriku akan sakit telinga nya mendengar teriakan anda yang memekakkan telinga" tutur Arga dengan nada dingin ke arah Rina.
Rina kembali menutup mulutnya."Maaf Tuan, saya hanya kaget saja melihat idola saya ada di hadapan dan mendengar sahabat saya adalah istri anda. Seakan ini adalah mimpi" ucap Rina pelan karena malu.
Misa menatap Arga."Suamiku. ini sahabat ku Rina. Maaf memang dia sikap nya seperti itu jadi jangan marahi dia" ucap Misa tenang.
Arga mengangguk pelan dan kembali merapatkan diri nya pada Misa dengan merangkul pinggang Misa.
"Tuan, bolehkah saya meminta untuk berfoto bersama anda? saya sangat mengidolakan anda sejak dulu" pinta Rina dengan tatapan tidak lepas ke Arga.
Arga menatap tajam ke Rina sehingga membuat Rina menciut kaku.
"Maaf Rina suamiku orangnya tidak suka berfoto, jadi maaf yah" ucap Misa memberi alasan pada Rina.
Rina tersenyum kikuk."Iya tidak apa Mis. dengan melihat nya saja sudah membuatku bagaikan mimpi..bagaimana bisa kau menikah dengan pangeran misterius ini sih Mis. ya tuhaaan...ini bukan mimpi kan Ces" celoteh Rina lalu menoleh pada Cesa di samping nya.
"Ekhem. .ayam nya pasti akan dingin. bagaimana jika kita nikmati ayam nya sekarang" ucap Misa mengalihkan pembicaraan.
"Eh, iya neng..sini bibi siapkan untuk Neng dan Tuan Arga" ucap bi Sum mengambil piring.
Misa melirik Sekertaris Tang yang masih berdiri di belakang Arga menjadi pengamat di antara mereka.
"Sekertaris Tang mari bergabung dan duduk lah di samping Cesa" ajak Misa dan di akhiri senyuman di bibirnya.
Arga menangkup sebelah wajah Misa agar hanya menatap ke arah nya."Jangan melirik orang lain sedang aku ada di sisi mu Romisa" ucap Arga.
Haish...singa bisakah bersikap biasa jika di hadapan orang banyak seperti ini. aku malu.
-----------
Selesai mereka makan bersama. Misa berdiri bersama Rina dan bi Sum di teras depan rumah untuk berpamitan pulang. Sedang Arga menunggu nya di halaman dekat motor bersama Cesa dan Tang.
"Bibi maafkan Misa tidak bisa membantu membereskan bekas kekacauan yang Misa buat" ucap Misa sambil memegang kedua tangan bi Sum.
"Tidak apa Neng, soal membersihkan rumah ini sudah tugas bibi. Jadi Neng jangan merasa bersalah begitu" balasnya.
Misa mengangguk lalu beralih menatap Rina yang masih setia menatap Arga.
Misa melambaikan telapak tangannya di depan wajah Rina sehingga membuat Rina sadar dan tersenyum kikuk."Aku pulang yah Rin..kapan kapan kita bisa bertemu lagi" ucap Misa.
Rina merentangkan kedua tangannya memeluk Misa dan mencium kedua pipi gembil Misa. "Aku pasti akan kangen lagi sama kamu Misa... eh, Mis itu sekertaris nya ganteng juga bolehlah aku di kenalkan pada nya" gumam Rina dalam pelukan nya.
Misa melepaskan pelukan nya dan tertawa pelan. "Kamu tidak akan kuat dengan sikap kaku dan dingin nya Rin" jawab Misa membuat Rina mencebikkan bibir nya.
"Romisa..." panggil Arga.
Misa menoleh."Iya suamiku" jawabnya.
"Ya sudah aku pulang bi Sum. Rina...Assalamualaikum" pamit Misa dan berjalan mendekati Arga, Cesa dan Sekertaris Tang yang ada di halaman rumah.
"Walaikumsalam" jawab serempak Rina dan bi Sum.
Misa berdiri di hadapan Arga."Suamiku, aku ingin pulang nya naik motor lagi. bolehkah?" ucap Misa.
Arga mengusap puncuk kepala Misa
"Boleh asal denganku" ucapnya.
"Tp Cesa..." sanggah Misa namun terpotong.
"Pengawalmu biar bersama Tang naik mobil" ucap Arga yang di balas anggukkan kepala oleh Misa.
"Pakai ini Romisa" memakaikan semua perlengkapan yang sama saat Misa menaiki motor bersama Cesa. dan Misa menurut membiarkan Arga memakaikan semua nya pada tubuh Misa.
Selesai memakaikan perlengkapan pada badan Misa. Arga menangkup wajah Misa dan memberi nya kecupan di kening Misa."Baiklah mari berangkat" ucapnya sambil memakai helm lalu Arga menaiki motor.
"Kau bantu istriku menaiki motor" titah Arga pada Cesa yang langsung di turuti. Cesa membantu Misa menaiki motor nya dan duduk di kursi boncengan.
"Romisa peluklah aku" pinta Arga menarik kedua lengan Misa agar melingkar di perut nya.
Arga mengeluarkan motornya dari pekarangan Misa dan kini sudah berada di jalanan besar meninggalkan Cesa dan Tang yang masih berdiri di luar mobil.
Arga mulai melajukan motornya ke jalanan untuk bergabung bersama kendaraan lain dengan kecepatan sedang. Seketika Misa mempererat pelukan nya pada perut Arga dan menyenderkan kepala nya ke bahu Arga, membuat Arga tersenyum senang.
__ADS_1
Singaaa..melihat Rina begitu memuja mu tadi membuat ku takut jika kau akan di rebut wanita lain.
BERSAMBUNG...