
Kegiatan mengajar telah selesai. Misa bergegas menuju parkiran bersama Cesa untuk bersiap pulang. Saat ini keduanya sudah berada dalam mobil.
Mobil yang di tumpangi Misa sudah melaju melesat dengan kecepatan sedang di jalanan kota.
Tidak ada perbincangan di antara ke dua nya. Misa memilih diam dan sibuk memperhatikan pohon di jalanan yang di lewati nya, sedangkan Cesa lebih fokus menyetir menatap ke jalanan depan.
Di pikir-pikir hampir setengah tahun aku menikah dengan si singa. Perubahan sikapnya semakin berkembang, Dari awal sangat garang dan suka memperbudak. Namun sekarang berkembang jadi singa yang kadang mengaung gak jelas, tapi setelahnya berubah jadi lembut dan jinak. Memang pantas dia ku juluki singa bunglon dengan sikapnya yang sering berubah-ubah.
Hah... mau sampai kapan pernikahan palsu ini akan berlanjut. Ayah, bunda... maafkan Misa jika di suatu hari nanti Misa di ceraikan olehnya. Ayah jangan marah dan kecewa. Karena memang dari awal yang berniat mempermainkan pernikahan ini bukan Misa.
Tidak berselang lama.
Mobil yang di tumpangi Misa melaju lambat saat melewati gerbang yang menjulang tinggi. Pandangan Misa masih melihat ke arah luar jendela, sehingga pandangannya langsung menangkap apa yang sangat ia kenali dan sukai.
"Cesa berhenti sebentar di sini." Pinta Misa memberhentikan mobil di tengah pelataran rumah.
Cesa menurut menghentikan mobil tepat dekat taman.
"Ada apa Nona?" Tanya Cesa.
Misa membuka seat belt, lalu keluar dari mobil tanpa menjawab pertanyaan Cesa. Dia langsung berhambur ke taman bunga yang berada di tengah halaman dekat dengan kolam ikan.
Mata Misa berbinar bahagia bagai menemukan harta karun yang di carinya.
"Cesa ini kan anggrek hitam yang waktu di pameran itu kan?" Antusias gadis cantik itu, sembari tangannya terulur memegang kelopak bunga anggrek hitam yang mekar.
Cesa tersenyum dan mengangguk. "Benar Nona."
"Bundaa... saya tidak bermimpi kan Ces? Kenapa ada di taman ini? Dan kenapa saya baru menyadari nya?" Pertanyaan beruntun dari bibir Misa dengan berapi-api.
Cesa maju beberapa langkah agar lebih dekat dengan Misa. "Tidak Nona, ini nyata. Memang benar itu anggrek hitam yang Nona inginkan." Ucapnya menyakinkan.
Gadis cantik itu mengedarkan kembali pandangannya ke sekitar. Dan benar taman itu sudah di kelilingi berbagai macam tanaman anggrek dengan berbagai warna sehingga tampak seperti ladang bunga anggrek.
Senyuman kebahagiaan di bibir Misa tidak pernah surut. Dia terus mengembangkan senyumannya itu menandakan rasa bahagia yang meluap-luap.
"Sejak kapan taman ini di sulap menjadi taman anggrek sedang waktu hari libur aku bersantai di gazebo itu. Apa mungkin karena aku tidak terlalu melihat sekitar jadi tidak menyadari nya." Gumam pelan Misa hingga hanya terdengar olehnya saja.
"Nona Romisa." Panggil Cesa menyadarkan Misa yang sedang menatap takjub pada sekumpulan anggrek.
Misa menoleh cepat, dengan kedua pipi merona. "Ah, iya Cesa. Maaf saking senengnya saya jadi melamun."
Cesa tersenyum tenang. "Nona, akan mengambil anggrek hitam ini?" Cesa menunjuk anggrek hitam di bawahnya.
Misa mengernyitkan alis bingung. "Ma-maksudnya? Anggrek ini kan sudah di sini?"
"iya Nona. Maksud saya Nona ingin merawatnya di dalam kamar?"
"Hah!" Mata Misa langsung berbinar saat mendengar kata merawat. "Benarkah bisa?"
__ADS_1
Cesa mengangguk mantap mengiyakan.
Namun raut wajah Misa seketika berubah muram, saat mengingat Arga. "Tapi Cesa, apa suami saya tidak akan marah jika membawa tanaman hidup ke dalam kamar?"
Cesa tersenyum lagi lalu menggeleng pelan. "Biar saya siapkan di kamar Nona di dekat jendela kamar."
"Kamu yakin?" Dengan tatapan ragu.
"Yakin Nona, saya akan mengurus anggrek ini untuk berpindah ke kamar. Dan silahkan Nona kembali ke dalam." Ujar Cesa meyakinkan.
"Baiklah Cesa, saya... saya ke dalam dulu untuk bersiap. Mohon bantuannya yaah, dan terimakasih." Kata Misa lalu berbalik melangkah pergi dengan ceria dan senyuman masih terus mengembang di bibirnya.
"Nona tidak tahu saja. Padahal tuan sendiri menyuruh saya untuk menunjuk Nona agar bisa merawat anggrek itu di kamar nya." Gumamnya pelan menatap kepergian Misa.
*****
Setelah dari taman Misa langsung masuk ke kamar mandi membersihkan diri dan setelahnya ia melaksanakan shalat ashar dan mengaji.
Setelah cukup lama Misa melantunkan ayat-ayat suci, dia keluar dari ruang ganti yang pandangannya langsung bersirobok menangkap bunga yang di sukai nya.
"Anggrek hitam!" Antusias Misa berbinar bahagia. Berhambur ke arahnya.
Pot Bunga anggrek itu di lapisi vas kaca yang transparan telah terpampang di dekat jendela di atas meja bunga, sangat indah dan elegan.
"Ternyata Cesa telah memindahkan," gumam Misa pelan sembari mengamati dan menyentuh anggrek itu.
Arga memasuki kamar lalu mengunci nya.
Setelah mendapat notifikasi di ponsel Tang yang mendapati foto Misa berbinar bahagia dengan hadiah darinya. Dia langsung meminta Sekertaris Tang mengantar pulang karena ketidak sabarannya yang ingin melihat langsung senyuman bahagia Misa.
"Anggrek... oh anggrek, bertumbuhlah dengan baik." Senandung Misa masih berdiri mengamati, menghirup aroma wangi bunga anggrek itu sehingga ia tidak menyadari kedatangan Arga yang sudah berdiri di belakangnya.
Grep.
Arga memeluk tubuh gadis mungil itu dari belakang.
"Astagfirullah." Terlonjak Misa dan hendak berbalik. Namun...
Sreet... grep.
Arga semakin merapatkan diri dan memeluknya erat sehingga gadis itu tidak dapat bergerak atau pun menengok.
Apakah ini Syila? Tapi... Misa memiringkan kepala agar bisa mengendus aroma tubuh orang yang memeluknya. Bau parfum nya bukan farfum Asyila. Lalu siapa ini?
Misa melirik lengan yang melingkar di perut juga bahu.
Singa!
Mata nya melebar saat melihat tangan kekar berotot. Seketika jantungnya berpacu cepat dengan badan mulai bergetar menciptakan rona merah di kedua pipi.
__ADS_1
"Sua-sua-miku sudah pulang?" Terbata Misa gugup.
Arga tidak menjawabnya, ia merundukkan kepala mencium aroma wangi rambut Misa.
"Sua-suamiku, anu-"
"Kau suka?" Arga memotong ucapan Misa, ia bersuara tepat di telinga gadis itu.
Misa semakin bergetar dengan panas menjalar di sekujur tubuhnya. Suka apa? Jelas aku tidak suka di peluk seperti ini.
Misa bungkam karena lidahnya terasa kelu, dan tidak tahu apa yang di maksud Arga.
"Anggrek nya, kau suka?" Arga meletakkan kepalanya di atas kepala Misa.
"Hmm. Suka." Celetuk Misa mengangguk semangat.
"Dan maaf anggreknya aku bawa ke kamar." Lanjutnya dengan nada penuh kehati-hatian.
Arga mengangguk kecil sehingga dagu nya sedikit terbentur di pucuk kepala gadis itu.
"Ma-makasih." Kata Misa pelan.
Sreet.
Pria tampan itu membalikkan badan Misa sehingga saling berhadapan, ia membuka kerudung Misa dan melemparkannya ke atas sofa.
Kemudian Arga memegang dagu gadis cantik itu dengan jemarinya untuk di dongakkan ke arahnya. "Ada imbalan nya."
"Mak... sud suamiku?" tanya Misa dengan mata melebar waspada.
Arga tersenyum miring, kedua tangannya beralih menangkup wajah Misa dengan lembut. Perlahan ia mendekatkan wajah nya ke wajah Misa hingga mengikis jarak di antaranya hendak menempelkan bibirnya ke bibir merah gadis cantik itu.
Dia... dia mau melakukan itu lagi? Refleks Misa menutup mata nya sangat rapat sehingga terlihat kerutan di sekitar mata.
Arga menahan senyuman geli di bibirnya, saat melihat wajah Misa. Dia menggemaskan sekali...
Pletakk.
Dengan sengaja dia menjentikkan jari di kening Misa.
"Aww...," Ringis Misa mengerjap dan mengusap keningnya yang terasa panas.
Arga terkekeh bahagia karena berhasil menjahili Misa.
"Siapkan air hangat," titahnya, berbalik berlalu menuju ruang ganti meninggalkan Misa yang tertunduk malu.
Dasar singaa... senang sekali mengerjai ku. Mengusap keningnya, dan menepuk kedua pipi yang terasa panas memerah bagai tomat.
BERSAMBUNG...
__ADS_1