
Setelah Arga membersihkan diri nya, ia menghampiri Misa yang terduduk di sofa ruang tv, tampak gadis cantik itu tengah sibuk dengan buku nilai para murid.
Arga mengelus lembut rambut panjang Misa sehingga gadis itu menoleh bingung.
"Ke-kenapa suamiku?"
"Romisa, aku akan ke bawah dulu. Jika kau sudah mengantuk tidur lah duluan. Ingat jangan sampai ketiduran di sofa lagi." Ucap Arga masih mengelus lembut rambut panjang itu.
Manggut-manggut cepat. "I-iya suamiku." Jawab Misa lalu tersenyum manis.
Cup.
Arga mengecup kening lembut Misa cukup lama, kemudian setelah puas dia bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Romisa yang terlihat bengong dengan mata tidak berkedip menatap kepergian nya.
Klik.
Pintu kamar itu tertutup menandakan Arga telah keluar. Segera Misa berbalik menghadap meja, sebelah tangannya terangkat dan terkepal di depan dada.
"Yesss! Akhirnya aku bebas. Aku terselamatkan. Terimakasih tuhaan. Terimakasih Ayah, bunda." Oceh Misa kegirangan dengan suara cukup keras.
"Ekhem. Ekhem." Suara deheman cukup keras dari arah belakang sofa tempat Misa duduk.
"Eh." Terpaku Misa seketika terdiam dengan mata melebar waspada.
Suara apa itu? Buk-bukan nya si singa udah keluar?
"Bebas." Suara pria tedengar tegas nan tajam.
Kedua mata Misa semakin melebar terkejut tak berkedip. Benar! Itu suara si singa!
Dan dengan gerakan pelan dan kaku Misa menolehkan kepala nya ke arah belakang sofa. Seketika senyuman kikuk cengengesan menampilkan deretan giginya.
"Eh, sua-sua-miku. Anu-anu... itu... sekolah akan di liburkan sebentar lagi. Jadi bebas nggak ngajar... yaah nggak ngajar," terbata Misa mencari alasan sembari jemari menggaruk pipi yang tak gatal.
Arga setengah memutari sofa menghampiri berdiri di hadapan Romisa. Hah... ia menghela napas pelan mengeluarkan kedua tangan dari saku celana. Kamudian tubuhnya setengah membungkuk untuk mensejajari menatap wajah cantik itu, dia meraih dagu Misa agar tatapan Misa mendongak ke arahnya.
"Kau berkata bebas, dan selamat." Ucap Arga.
Kedua tangan Misa mencengkram kuat sisi sofa dengan sorot mata gugup.
"I-i-iya se-selamat... selam-"
__ADS_1
Cup.
Arga mengecup bibir merah Misa sekilas sehingga menghentikan ucapannya.
Masih mencengkram dagu Misa, ia memberikan tatapan peringatan dengan seringaian kecil di bibir. "Ingat syarat yang kau ajukan Romisa, jangan senang dulu untuk malam ini." Ucap Arga dan kembali mengecup bibir merah itu sekilas.
Setelahnya, dia menegakkan kembali punggungnya dengan kedua tangan di masukkan kedalam saku. Sejenak ia memberikan elusan lembut di puncuk kepala Misa lalu melangkah pergi berlalu menuju pintu keluar. Dan...
Klik.
Pintu kamar itu tertutup rapat dengan kali ini Arga benar keluar kamar.
"Huh... huh... huh." Misa mengatur napas nya yang tertahan selama beberapa menit tadi, sembari sebelah tangan menepuk pelan dadanya.
"Apa katanya tadi? Ayah, Bunda... bebaskan Misa dari situasi seperti ini. Rasanya sekarang aku ingin bersembunyi di lubang semut saja." Gumamnya pelan dengan kedua tangan mencengkram cukup kuat rambut panjangnya.
"Aw, aw... sakit juga ternyata di jambak seperti ini." Mengusap kulit kepala dengan sekitar hidung mengernyit nyeri.
*****
Di Ruang Kerja.
Arga berjalan menuju ruangan kerja, yang di mana di ruangan itu sudah ada Egi dan sekertaris Tang terduduk di sofa.
Ketika Arga memasuki ruangan kerja, sekertaris Tang bangkit dari duduknya memberikan hormat dengan setengah membungkukkan badan.
"Tuan."
Arga menduduki sofa tunggal bersebrangan dengan Egi, sedangkan sekertaris Tang berdiri tegap di samping sofa yang di duduki Arga.
"Tang. Duduk lah," titah Arga.
"Baik tuan." Tang duduk di sofa panjang yang menjadi penengah di antara kedua nya.
Egi menatap tajam ke arah pria di sebrang.
"Santai lah Dek, jangan terburu seperti itu." Ucap Arga dengan nada ironi di selingi senyuman kecil.
"Ada apa Kakak meminta Egi kemari?" tanya Egi dingin.
Arga menyilangkan kaki dengan sebelah lengan bersender ke lengan kursi. "Aku hanya ingin kau mengaku kalah." Kata Arga tegas.
__ADS_1
"Sebelum aku mendengar dari bibir Misa bahwa dia tidak mencintai ku. Aku tidak akan mundur." Sahut Egi tak kalah tegas.
Arga menyeriangai melirik ke arah lain sekilas, lalu kembali menatap tajam ke arah depan. "Ingatlah Dek, Romisa sudah menjadi milik ku. Dia istri sah. Dan Kakak ipar mu." Ucapnya menegaskan.
"Cih!" Egi berdecih kesal." Tapi Kakak masih belum mengisi hati nya. Jadi Egi masih berhak merebut dia dari Kakak." Kekeh pria tampan itu masih teguh dengan keinginan.
Arga menatap amat tajam. "Kau tidak akan bisa merebut nya Dek. Karena sampai kapan pun Kakak tidak akan melepaskan nya." Dengan nada memperingati.
Egi tersenyum kecil namun sinis. "Kita lihat saja nanti. Bukannya kita sudah sepakat. Jika Misa mengatakan bahwa dia tidak mencintai Kakak tapi mencintai ku. Maka Kakak harus bersiap untuk melepaskan nya dengan suka rela."
Arga menepukkan jemari tangan ke ujung lengan sofa. "Kakak mengatakan itu. Karena Kakak dulu belum menyadari perasaan Kakak terhadap Romisa. Tapi untuk sekarang Kakak tidak akan membiarkan mu lagi Egi. Romisa adalah istri ku dan itu mutlak!" tegas Arga mulai tersulut emosi nya.
"Ck." Egi berdecak seiring membuang muka. Kemudian ia kembali menatap serius nan tajam. "Lihat saja nanti Kak. Siapa yang di pilih Misa. Dan saat itu juga Kakak harus merelakan dia untuk ku." Penegasannya lalu ia bangkit dari duduk nya.
Egi berbalik melangkah ke arah pintu keluar bersiap meninggalkan ruangan kerja. Dan ketika kaki nya sudah hampir sampai ambang pintu, sejenak dia menolehkan kembali kepala nya ke arah Arga yang masih duduk di sofa dengan tatapan tajam.
"Aku lebih mengenal Misa, selama tiga tahun. Dan Kakak baru mengenal nya. Kira-kira siapa kepastian yang akan di pilih oleh Misa. Sudah tentu Kakak akan tahu." Penekanan Egi lalu...
Blam.
Dia menutup pintu cukup kasar, dan benar-benar pergi meninggalkan ruangan kerja.
Sepeninggalan Egi.
Hah... Arga menghembuskan napas kasar.
"Dasar anak itu," gumam Arga lalu ia melirik sekertaris Tang yang sedari tadi hanya diam jadi pengamat dari kedua nya.
"Tang."
"Iya tuan." Jawab Tang menolehkan kepala ke samping kanan.
"Kau sudah lihat, betapa keras kepala nya adik ku. Sepertinya pengasingan itu harus di lakukan untuk dia." Kata Arga sambil menyenderkan kepala ke senderan sofa.
"Iya tuan benar, karena hanya itu jalan satu-satunya untuk membuat tuan Egi menjauh dari Nona Romisa."
"Baiklah Tang, kau boleh pulang. Istirahat lah." Arga beranjak dari duduk nya kemudian ia berjalan meninggalkan ruangan kerja.
Hah... Tang menghembuskan napas panjang, dengan kepala menggeleng pelan.
Cinta segiempat. Siapa kira-kira yang akan Nona Romisa pilih? Semoga saja tuan yang akan di pilih nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....